LOGIN
“Paksa dia masuk ke kamar! Apa pun yang terjadi, Gilea yang akan menikah hari ini!” Suara tajam Maghdalena-Ibu Gilea meledak di ruangan itu, menyambar telinga Gilea bagaikan petir.
Tubuh Gilea membeku di tengah-tengah ruang keluarga yang dipenuhi ketegangan. Gaun pengantin putih yang belum selesai dijahit sempurna menggantung longgar di tubuhnya, seolah menggambarkan bagaimana hatinya yang hancur tak mampu menopang dirinya lagi.
“Mi, Gilea mohon! Jangan lakukan ini pada Gilea!” isak Gilea, memegang tangan ibunya dengan erat.
“Gilea tidak mengenalnya, Mi! Gilea bahkan tidak tahu siapa dia! Kenapa Gilea harus menikah dengan pria asing itu?” derai air mata berjatuhan mengiringi suaranya yang gemetar.
Maghdalena menepis tangan Gilea dengan kasar, tatapannya tajam, menusuk hingga ke tulang.
"Maria kabur, Gilea!" Suaranya bergetar, penuh amarah. "Apa salahnya kalau kali ini kamu yang berkorban?! Jangan cuma jadi beban keluarga!"
Gilea mundur setengah langkah, napasnya tercekat.
"Asal kamu tahu Gilea! Mami dan Papi juga tidak punya pilihan lain! Kalau pernikahan ini sampai batal, kita hancur!" cecar Maghdalena mendekat, semakin menyudutkan Gilea. "Apa kamu tega melihat Mami dan Papi dihina?! Dimaki?! Apa kamu tega, Gilea?!"
Kata-kata itu menghujam tanpa belas kasih ke dalam hati Gilea, menggiringnya menuju sebuah kesimpulan sepihak—kehancuran keluarga Wijaya adalah mutlak kesalahannya.
Gilea mengalihkan pandangannya menutupi pilu hati yang terus menghujam yang membuat air mata tak henti mengalir di pipinya. Semua dorongan untuk membantah perkataan sang ibu, hanya bisa tertahan di dalam ujung lidah Gilea yang terasa kelu.
"Kamu jangan lupa Gilea! Kalau bukan karena putriku Maria, kamu sudah lama mati! Maria sudah menyumbangkan satu ginjalnya untukmu.” Ujarnya lagi, dengan tatapan penuh tuntutan.
"Mi, Gilea sangat berterima kasih dengan kak Maria. Gilea sangat menghargai apa yang kak Maria lakukan. Tapi menikah? Ini bukan hal kecil, Mi.. Gilea mohon, tolong jangan paksa Gilea." Mohon Gilea dengan sangat.
"Ooh, jadi hidup dengan satu ginjal adalah hal kecil? Iya?! Begitu maksudmu? Dasar anak tidak tahu diuntung!! Kamu tidak ada bedanya dengan mendiang ibumu yang pelacur itu, Gilea!" Cecar Maghdalena, yang dengan gongnya membawa-bawa mendiang ibu Gilea dalam pembicaraan ini.
Tangan Gilea mengepal. Bergetar kuat menahan emosi yang tiba-tiba tersulut karena satu kalimat celaan yang dilontarkan oleh Maghdalena.
"Mami boleh maki Gilea, tapi jangan bawa mendiang ibu Gilea." ucap Gilea dengan suara yang bergetar hebat. “Dia-“ ucap Gilea terputus karena auman sang ayah yang menyela perkataannya.
"Gilea cukup!!" Adi yang sedari tadi duduk diam dengan wajah keras dan ekspresi dingin, akhirnya angkat bicara.
“Berapa kali papi katakan padamu! Kamu tidak boleh membantah kata-kata Mami mu!! Sekarang papi tidak ingin mendengar perdebatan lagi! Entah kamu suka ataupun tidak, pernikahan ini tetap akan terjadi. Bumi sudah menunggu di altar dan kita tidak akan membiarkan keluarga kita dipermalukan hanya karena perasaan mu yang tidak penting itu.” Ujar sang ayah tanpa melihat sedikitpun ke arah Gilea.
Seketika itu juga, Gilea merasa lututnya melemas. Nafasnya terasa berat. Seolah saat ini dadanya dihimpit beban berat yang tak terlihat.
Gilea memandang kedua orang tuanya dengan tatapan yang penuh luka.
“Pi, Gilea ini anak Papi. Teganya papi menjual Gilea hari ini." Ucap Gilea lirih, suaranya nyaris tidak terdengar.
Maghdalena yang sedari awal memang tidak peduli dengan apa yang Gilea rasakan, sama sekali tidak terenyuh dengan kata-kata azimat yang Gilea lontarkan. Dengan wajah cuek, dia memilih tidak menjawab, dan hanya menatap Gilea dengan tatapan dingin.
Sedangkan Adi Wijaya- ayah Gilea, tidak ada bedanya dengan sang istri. Seolah semua permasalahan telah selesai, dengan tanpa beban dia menepuk bahu istrinya sebelum melontarkan kata-kata terakhirnya. “Persiapkan Gilea, sayang. Dia akan menikah dalam satu jam. Kamu juga jangan lupa untuk bersiap-siap."
***
Dunia berputar terlalu cepat. Dalam sekejap, Gilea sudah berdiri di altar dengan jantung berdegup kencang, seolah siap untuk meledak kapan saja.
Ingin lari? Mustahil. Kaki Gilea bagai tertanam di lantai marmer yang beku. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah bertahan—menghadapi pria di hadapannya yang memandangnya dengan tatapan dingin penuh kebencian.
Jemari Gilea yang dingin menggenggam erat buket bunga di tangannya, tetapi sayangnya hal tersebut tidak mampu mengurangi rasa takut yang mencengkram hatinya.
Di depan Gilea saat ini, Nathan Aldian Bumi Wicaksono, pria asing yang akan menjadi suaminya, berdiri dengan wajah gelap dan mata yang menatapnya tajam.
“Ini istrimu, Bumi,” pendeta itu berkata, suaranya penuh formalitas.
Bumi diam, membuat udara semakin menusuk. Bahkan kebisuan Bumi membuat Gilea bisa merasakan kebencian yang memancar darinya, begitu jelas, begitu nyata.
Gilea hanya bisa menelan perlahan salivanya. Sungguh! Ketegangan di udara terasa begitu tebal baginya, hingga membuatnya hampir tidak bisa bernapas rasanya.
“Jadi ini rencana keluargamu?” Bumi akhirnya bersuara, suaranya serendah salju yang jatuh, tapi setiap kata terasa seperti pisau.
Gilea menunduk, bibirnya tergigit kuat hingga nyaris berdarah. “M-maaf… Kami tidak menyangka semuanya akan begini,” bisiknya, suaranya hampir hilang tertiup angin dingin.
“Tidak menyangka?” Ucap Bumi menggantung, kemudian menyeringai, napasnya mengembun di udara yang beku. “Jangan berpura-pura bodoh. Kau tahu persis apa yang terjadi.”
Gilea tersentak dan hendak membela dirinya. Namun sebelum ia bisa memberikan pembelaan, pendeta kembali mendekat, melanjutkan ritual yang tak diinginkan keduanya.
“Gilea Wijaya, apakah kau menerima Nathan Aldian Bumi Wicaksono sebagai suamimu yang sah?”
Gilea menutup mata, udara yang ia hirup terasa membeku di paru-parunya. Suara ibunya bergema dalam benak: "Kalau kau menolak, keluarga kita hancur. Berkorbanlah!"
“Ya… saya terima,” jawabnya, dengan hati yang hancur.
Bumi mengernyit, lalu mengucapkan sumpah pernikahan dengan nada datar—setiap kata bagaikan paku yang menancap di peti mati yang dipersiapkan bagi Gilea. Bahkan saat cincin bertahta berlian itu melingkar di jarinya, Gilea tahu: ini bukan akhir, tapi awal neraka di hidupnya.
“Jangan pernah menyesali pernikahan ini, Gilea Wijaya.” Bisik Bumi kemudian mencium Gilea di hadapan pendeta.
Hari hari setelah kontrak ditandatangani berjalan tanpa dentuman besar. Tidak ada kunjungan mendadak, tidak ada pengawasan di sudut lorong, atau tidak ada kehadiran yang mengintai dari kejauhan seperti yang Elena takutkan. Hanya email, panggilan singkat, dan jadwal yang disampaikan melalui Max kemudian diteruskan oleh Daniel.Seolah Bumi benar benar menghormati syarat yang telah Elena tetapkan.Atau jangan-jangan, ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat.Tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang pasti, selama beberapa minggu itu, Elena kembali bekerja dengan ritme yang teratur. Studio, cat, kanvas dan anak anak adalah lingkaran kecilnya. Ia tidak pernah merasa aman sepenuhnya namun paling tidak, saat ini cukup tenang dan memberikan masa untuknya menghela napas dengan tidak tergesa.Daniel sering terlihat berdiri di balkon pada malam hari, merokok pelan sambil mengawasi pintu masuk hotel dari jauh. Ia tidak pernah berkata ia was was. Tetapi Elena tahu. Mereka sama sama tidak bisa benar be
Elena memejamkan mata sejenak. Kertas kontrak terhampar di hadapannya.Ia menatapnya lama, lebih lama daripada yang ingin ia akui.Setelah itu ia berdiri, berjalan ke balkon perlahan. Udara dingin masuk, menusuk kulit namun entah mengapa malah membawa sedikit ketenangan.Daniel menyusulnya, berhenti satu langkah tepat di belakang. Mereka berdua memandang kota yang masih sibuk di bawah sana.“Kau yakin?” suara Daniel nyaris berbisik.Elena mengangguk pelan. Bukan jawaban pasti, hanya tanda bahwa ia sedang mencoba tegar.“Kalau aku kabur lagi,” katanya, menatap jauh ke lampu-lampu kota, “kita tidak akan pernah sampai ke tempat yang aman.”Daniel diam. Wajahnya menegang, bukan karena tidak setuju, tapi karena ia paham lebih dalam dari siapapun.Elena kembali menatap anak-anaknya yang masih tidur. Luca menarik selimut hingga pipinya tertutup sebagian. Sofia memeluk bonekanya erat, seolah dunia benar-benar sesederhana tidur dan bangun lagi.Hati Elena terasa seperti kain yang diremas kasar
Untuk waktu yang terasa seperti berabad-abad, Elena tetap berdiri mematung. Ruangan VIP tiba-tiba tampak terlalu sempit, terlalu padat oleh bayangan seseorang yang bahkan setelah pergi pun tetap memenuhi udara — seolah dinding masih memantulkan suaranya, lantai masih menyimpan jejak langkahnya, dan udara masih mengingat napasnya.Bumi sudah tidak berada di dalam ruangan, tapi kehadiran seolah tidak pernah pergi.Ia meremas ujung meja hingga jarinya memutih. Napasnya naik turun cepat—bukan panik, tapi keterpurukan yang terjaga. Setelah apa yang dia lewati, dia tahu bahwa dirinya bukan wanita yang mudah runtuh. Tapi hari ini… hari ini ia harus berdiri di atas bumi yang terasa kembali retak.Dengan langkah perlahan namun mantap, ia menunduk mengambil map hitam itu. Jari jemarinya menyentuh permukaan kulit sintetis yang dingin, namun rasanya seperti menyentuh bara.Ini bukan kontrak seni, pikirnya.Ini tali. Dan aku ujungnya.Namun ia menyelipkan map itu ke dalam tas sebelum pikirannya be
Elena tidak langsung berbicara. Ia menatap map itu lama, seperti menatap jantung dirinya yang tergeletak tanpa pelindung. Lima juta euro bukan angka sembarangan. Nilai yang cukup untuk membeli keamanan, masa depan kedua anaknya.Namun justru karena itu, tawaran ini berbahaya. Bumi tidak pernah memberi tanpa perhitungan.Jika ia menaruh lima juta di meja sejak awal percakapan, maka harga sebenarnya jauh lebih tinggi.Ia mengangkat wajah perlahan, menatap Bumi seolah berusaha membaca niat di balik pupil gelapnya. Tapi tatapan pria itu seperti danau hitam malam hari—jernih di permukaan namun menutup dalam yang tidak diketahui siapa pun.“Angka yang sangat besar untuk seorang seniman baru seperti saya,” suara Elena lembut tapi mengandung pisau halus. “Terlalu besar untuk hanya disebut kerja sama promosi.”“Nilainya sepadan,” jawab Bumi tenang. “Dunia butuh nama baru. Dan aku? Aku butuh wajah baru. Lalu kau? Kau butuh panggung lebih luas. Kita bisa saling menguntungkan.”Tidak ada getaran
Keesokan harinya...Max bahkan belum sempat melepas sabuk pengaman ketika Bumi sudah berdiri, menjejak lantai jet pribadi yang baru saja mendarat di Roma.“Kita langsung ke galeri,” ucapnya datar.“Bos, pamerannya sudah selesai. Senimannya mungkin sudah—”“Aku tidak bertanya apakah pamerannya selesai.” Tatapan Bumi menusuk, membuat kalimat Max terputus di tenggorokannya. “Aku bertanya, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke sana.”Max menelan ludah. “Dua puluh menit.”“Lima belas.”Nada suara itu jelas tidak menerima tawar-menawar.***Gilea—atau Elena Rossi, nama yang sudah melekat lima tahun terakhir—bersandar di dinding koridor belakang galeri. Deretan lukisan abstraknya baru saja diturunkan dari dinding utama, dibungkus satu per satu. Ruangan besar yang tadi ramai tepuk tangan dan pujian, kini perlahan kembali menjadi ruang kosong berbau cat dan debu.Ia mengusap pelipis. Kepalanya nyut-nyutan sejak Max muncul di antara kerumunan kemaren, memperkenalkan dirinya sebag
Sementara Gilea memulai kehidupan baru di Eropa, lima tahun terakhir menjadi neraka bagi Bumi Wicaksono.Mansion megah yang dulu dipenuhi tawa dan kehidupan, kini sunyi bagai kuburan. Bumi menghabiskan hari-harinya di ruang kerja, dikelilingi botol minuman keras dan asap rokok. Foto Gilea yang terpasang di mana-mana menjadi pengingat akan apa yang telah hilang dari hidupnya."Bee, ini laporan kuartal terakhir." Damian meletakkan setumpuk dokumen di meja Bumi. "Performa perusahaan stabil, tapi kita kehilangan beberapa proyek besar karena...""Urus saja sendiri," potong Bumi dengan suara parau. "Aku tidak peduli."Damian menghela napas. Ini sudah menjadi pemandangan biasa selama lima tahun terakhir. Setelah "kematian" Gilea, Bumi seperti kehilangan jiwa. Perusahaan yang dulu dibanggakannya, kini hanya dijalankan oleh Damian dan Vino.Di sudut ruangan, Maria duduk diam memperhatikan. Selama lima tahun ini, dia adalah satu-satunya yang tetap tinggal di mansion. Bahkan Rene sudah menyerah







