Share

HIPOKRIT

Author: Kak Upe
last update Last Updated: 2024-12-04 09:32:32

Selayaknya pengantin baru, Gilea pun diboyong ke kediaman Bumi. Sepanjang perjalanan menuju rumah Bumi, tidak ada percakapan di antara mereka. Gilea yang masih terguncang enggan membuka pembicaraan, terlebih Bumi juga rasa-rasanya tidak ingin Gilea berbicara sedikit pun.

Begitu sampai di rumah Bumi, pria itu segera turun dari mobil dan meninggalkan Gilea begitu saja. Gilea terdiam sejenak sebelum mengikuti langkah Bumi. Begitu masuk, Bumi sudah menunggu di samping pintu.

Ia menatap tajam Gilea. Lalu..

BAAM!

Pintu besar itu ditutup dengan keras, suara gemanya memenuhi ruangan mewah yang luas.

Gilea tidak tahu harus berbuat apa. Kakinya seolah terpaku ke lantai, membuatnya hanya bisa berdiri di depan Bumi yang sedang melepas dasi dengan gerakan kasar.

Gilea tidak buta. Dia bisa melihat wajah tampan Bumi masih dipenuhi kemurkaan. Dan itu membuat tatapan Bumi semakin tajam seolah siap untuk menelannya kapan saja.

“Dengar baik-baik, Gilea. Aku hanya akan mengatakan ini sekali,” kata Bumi dengan nada rendah yang mengancam, “Kita hanya suami istri di atas kertas ini! Di luar itu, kita bukan suami istri. Jangan pernah berpikiran untuk memberi tahu siapa pun tentang pernikahan ini!” Peringat Bumi pada Gilea sambil melemparkan buku nikah mereka ke wajah Gilea.

Mata Gilea otomatis terpejam saat buku nikah tersebut menyapa kasar wajahnya. Perlahan Gilea menelan ludah, berusaha menahan air matanya yang mulai menggenang di kedua ujung matanya.

“Dan satu lagi! Kau jangan pernah berlagak sebagai nyonya di rumah ini. Ini rumah ku! Dan kau tidak ada bedanya dengan pelayan lainnya di rumah ini! Camkan itu!” Tekan Bumi memperjelas posisi Gilea sebenarnya di rumah nan besar tersebut.

Gilea menatap Bumi, air mata yang sedari tadi ditahannya akhir jatuh perlahan di kedua pipinya. “Ya Tuhan! Kenapa aku bisa terjebak dalam pernikahan dengan pria monster ini?!” gumam Gilea dalam hati, mengatup kedua bibirnya- menahan rasa sakit yang teramat dalam.

Setelah memuntahkan semua kata-kata kasarnya, Bumi berbalik kemudian berjalan pergi, meninggalkan Gilea sendirian di ruang tamu yang luas dan dingin.

Gilea masih berdiri di sana, tubuhnya gemetar. Rumah ini besar, indah, dan megah, tapi entah mengapa terasa begitu mencekam baginya.

Dengan sejuta perasaan yang sulit untuk diungkapkan, Gilea menghapus linangan air mata di kedua pipinya. Ia menatap Bumi yang terus naik tangga tanpa menoleh ke dirinya sedikit pun.

***

Gilea akhirnya duduk di sudut ruangan dengan tubuh yang lelah dan gemetar. Gaun pengantin putih yang telah kusut, tampak tak lagi memancarkan keanggunannya. Riasan wajahnya yang luntur akibat air mata membuat wajahnya tampak sangat menyedihkan.

Mata Gilea memandang kosong ke lantai. Sungguh! Saat ini ia tak tahu harus berbuat apa. Bumi sama sekali tidak memberi tahu di mana ia harus tidur. Tak mungkin ia masuk ke kamar pria itu. Bukankah di rumah ini dia adalah pembantu? Bagaimana mungkin seorang pembantu masuk dan tidur di kamar majikan? Sungguh tolol jika dia melakukannya!

Lantas, dimana dia harus tidur malam ini?

Gilea benar-benar terjebak dalam keruwetan di tengah kebisuan malam, hingga suara langkah tinggi sepatu stiletto terdengar menggema di lantai mewah ruang tamu.

Gilea mengangkat kepalanya perlahan. Di depan pintu, seorang wanita berdiri dengan anggun dan penuh kepercayaan diri. Wanita itu mengenakan gaun merah ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, rambut panjangnya yang bergelombang jatuh sempurna dan bibir merah menyala yang tampak begitu menonjol di bawah cahaya lampu kristal di ruangan itu. Sungguh sebuah gambaran kesempurnaan dan kesombongan dalam satu tubuh

Wanita cantik nan seksi tersebut melangkah masuk, pandangan matanya langsung tertuju pada Gilea yang masih duduk di lantai dengan raut wajah penuh kesedihan. Alisnya terangkat sinis dan bibirnya melengkung membentuk senyuman mengejek.

“Apa dia wanita yang baru saja kak Bumi nikahi? Sama sekali tidak berkelas,” kata wanita itu dengan nada penuh ejekan. Ia menatap Gilea dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan yang begitu merendahkan. “Kau pasti anak haram keluarga Wijaya, kan? Cih! Sungguh menjijikkan.” hinanya, padahal dia dan Gilea bahkan belum sempat berkenalan.

Gilea terpaku di tempat. Dia terlalu kaget, bahkan untuk sekedar merespons ucapan wanita asing tersebut.

Siapa wanita ini? Dan mengapa ia berbicara seolah mengenalnya? Hanya kata-kata itu yang mengisi kepala Gilea saat ini.

Tapi dengan pongah, wanita itu berjalan mendekat ke arah Gilea dengan langkanya yang lambat- bak seorang ratu yang sedang menilai pelayannya. Dan tanpa peringatan, wanita dari antah berantah tersebut melemparkan mantel bulunya ke arah Gilea dengan kasar. Mantel itu jatuh tepat di pangkuan Gilea.

“Taruh mantelku di tempatnya. Awas rusak!” perintah wanita itu seolah ia tahu kalau Gilea baru saja dinobatkan sebagai pembantu oleh Bumi.

Gilea hanya menatapnya, bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Dia masih dalam zona zonk yang tak berkesudahan.

Tapi naasnya, sikap diam Gilea malah membuat wanita itu mendengus kesal.

“Jangan berdiri seperti patung! Cepat lakukan apa yang kuperintahkan!” bentak wanita itu, suaranya menggema di seluruh ruangan.

Wanita tersebut lalu berjalan menuju sofa besar di tengah ruangan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa itu dengan gerakan angkuh, mengambil ponselnya, lalu mulai bermain-main dengan layar tanpa sedikit pun mengindahkan Gilea. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Cepat, ambilkan aku segelas air. Sekarang.”

Gilea yang memang tidak mengenal wanita ini tentunya tidak mau disuruh-suruh begitu saja. Jadi dia tetap diam bagaikan seonggok timun busuk di posisinya sambil memandangi wanita tersebut.

Wajah wanita di sofa itu semakin memerah. Ia bangkit berdiri dan mendekati Gilea lagi. Mulutnya terbuka, hendak mengeluarkan kata-kata pedas lagi sebelum tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari lantai atas.

Ia mendongak dan tersentak kaget ketika melihat Bumi keluar dari pintu terbuka. Ia menoleh kembali ke Gilea dan memasang wajah memelas.

“Kakak ipar, kenapa kau begitu kasar padaku? Aku hanya memintamu mengambilkan minum untukku. Aku sungguh tidak bermaksud lain.” Tiba-tiba saja kata-kata hardikan yang sedari tadi keluar dari mulut wanita antah berantah itu- kini berubah. Dan bak kelinci kecil yang tersakiti, dia mulai memainkan permainannya.

Gilea mengerutkan alis. Dia sama sekali belum memahami aturan permainan ini! Di saat otaknya berusaha mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, sayup-sayup telinganya mendengar derap langkah berat dari arah tangga.

Gilea melihat ke arah tangga, dan Bumi di anak tangga. Ia berdiri menatap Gilea tajam seolah-olah Gilea baru saja melakukan kesalahan yang sangat fatal.

“Apa yang kau lakukan ke adikku?” tanya Bumi dingin, membuat tubuh Gilea kembali menegang ketakutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Meli Cute
lanjut....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pemuas Hasrat Sang Presdir   Bab 230

    Pelabuhan itu gelap, hanya diterangi lampu sodium yang membuat bayangan bergerak seperti hantu di antara kontainer. Hujan sudah berhenti, menyisakan udara asin yang melekat di paru paru.Mobil hitam itu berhenti mendadak.Aluna terlempar ke depan, bonekanya jatuh ke lantai. Tangannya gemetar. Nafasnya pendek pendek.“Papa Daniel,” panggilnya lirih. Suaranya hampir hilang ditelan mesin.Pintu terbuka kasar. Salah satu anak buah Maria menariknya keluar.“Jangan,” bisik Aluna. “Aku baik baik saja. Aku janji.”Tidak ada yang menjawab.Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar cepat.Seseorang berlari.Seseorang yang tidak lagi peduli apakah ia hidup atau mati.Bumi muncul dari balik kontainer.Wajahnya basah oleh darah kering dan keringat. Kemejanya robek. Tangannya menggenggam pistol yang entah dari mana ia ambil. Nafasnya berat, tapi langkahnya mantap.“Hentikan,” katanya lantang.Dua pria menoleh. Terkejut. Tembakan terdengar.Peluru menghantam besi. Percikan api menyala singkat.Bumi b

  • Pemuas Hasrat Sang Presdir   Bab 229

    Hujan mengguyur dermaga seperti ingin menghapus jejak darah yang tertinggal di lantai gudang. Lampu polisi memantul ke permukaan air laut, menciptakan kilatan merah biru yang terasa terlalu terang bagi mata yang sudah kelelahan menangis.Elena sadar di atas tandu.Dada terasa sesak, kepalanya berdenyut hebat. Suara sirene masuk dan keluar dari kesadarannya seperti ombak. Tangannya bergerak panik, mencari sesuatu yang tidak ada di sana.“Anak anakku,” gumamnya lirih. “Di mana anak anakku.”Daniel menggenggam tangannya dengan erat. Wajahnya pucat. Matanya merah.“Elena,” katanya dengan suara bergetar. “Tenang dulu. Dengarkan aku.”Elena membuka mata penuh. Tatapannya liar, seperti binatang yang baru saja kehilangan sarangnya.“Di mana Aluna,” katanya cepat. “Daniel, di mana Aluna.”Daniel menunduk. Rahangnya mengencang. Ia tidak langsung menjawab, dan keheningan itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.Elena menjerit.Tubuhnya mencoba bangkit. Perawat menahan bahunya. Daniel ikut

  • Pemuas Hasrat Sang Presdir   BAB 228

    Tembakan itu memecah udara seperti kaca yang dilempar ke laut.Satu peluru menghantam tiang besi di dekat pintu, memercikkan api kecil dan serpihan karat. Anak buah Maria tersentak. Suara langkah kaki berhamburan. Gudang yang tadinya sunyi berubah menjadi kekacauan yang berdenyut.Daniel menahan tubuh Elena yang terkulai. Ia menekan dadanya agar tetap bernapas. Tangannya gemetar.“Elena,” bisiknya panik. “Bertahanlah.”Bumi sudah bergerak.Ia tidak berlari. Ia melangkah dengan kecepatan yang terukur, tubuhnya condong ke depan, tatapannya terkunci pada satu titik.Aluna.Anak itu ditarik kasar oleh salah satu pria. Kakinya hampir terseret. Tangannya terlepas dari udara kosong yang sebelumnya mencoba melindungi si kembar.“Papa Daniel,” teriak Aluna lagi. Suaranya pecah.Bumi tidak berpikir.Ia menghantam pria pertama dengan bahunya. Tubuh pria itu terlempar ke samping, menghantam peti besi dan jatuh dengan suara keras. Pisau yang dipegangnya terlepas.Pria kedua mengangkat senjata.Ter

  • Pemuas Hasrat Sang Presdir   BAB 227

    Gudang itu berbau besi dan air laut. Lampu kuning menggantung rendah, berkedip pelan seperti napas yang hampir habis. Suara ombak terdengar samar dari kejauhan, menghantam dermaga dengan ritme yang tidak peduli pada nyawa siapa pun.Elena berlari tanpa merasa kakinya menyentuh lantai. Napasnya terengah. Matanya hanya mencari satu hal.Anak anaknya.“Luca,” panggilnya dengan suara pecah.“Sofia.”Nama itu keluar seperti doa yang terlambat.Bumi tiba beberapa detik kemudian. Ia melihat pemandangan itu dalam satu tarikan napas.Maria berdiri di tengah gudang. Mantel gelapnya terbuka. Wajahnya tenang, hampir puas. Di belakangnya, dua pria berdiri berjaga. Di depan mereka, tiga anak kecil.Luca dan Sofia berpegangan erat. Wajah mereka pucat. Mata mereka mencari ibunya.Aluna berdiri sedikit di depan. Tubuhnya kecil, tapi punggungnya lurus. Tangannya terbentang samar, seolah ia benar benar percaya bisa melindungi mereka.“Elena,” kata Maria pelan. “Akhirnya.”Elena berhenti beberapa langkah

  • Pemuas Hasrat Sang Presdir   BAB 226

    Pagi datang dengan cara yang kejam di Osaka.Tidak ada transisi lembut dari malam ke siang. Tidak ada jeda untuk bernapas. Ketika Elena membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukan cahaya matahari, melainkan kehampaan.Tangannya menyentuh kasur di sisi kiri.Kosong.“Elena.”Suara Daniel terdengar dari ruang tengah. Nada suaranya salah. Terlalu rendah. Terlalu tertahan.Elena bangkit seketika. Jantungnya berdentum keras saat ia melihat ke ranjang.Luca tidak ada.Sofia tidak ada.Aluna tidak ada.“Daniel,” suaranya keluar seperti sobekan. “Di mana mereka.”Daniel berdiri di dekat meja. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti. Wajahnya pucat seperti tidak tidur semalam.“Kamera,” katanya pendek. “Aku lihat kamera.”Elena tidak mendengar kata berikutnya. Ia sudah berlari ke arah Daniel, merebut ponsel itu dengan tangan gemetar.Rekaman malam tadi muncul.Lorong hotel.Satu bayangan.Lalu dua.Pintu kamar terbuka.Daniel terlihat berusaha menahan.Sebuah tangan lain datang dari belak

  • Pemuas Hasrat Sang Presdir   BAB 225

    Lorong hotel yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang napas yang tegang. Lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang bergerak setiap kali seseorang melangkah. Di sisi barat lantai itu, dua sosok hitam bergerak cepat namun terukur. Mereka tidak terburu buru. Orang yang tahu apa yang mereka lakukan tidak pernah berlari.Staf keamanan Bumi muncul dari ujung lorong. Ia mengangkat tangan memberi isyarat pelan.“Berhenti,” ucapnya rendah.Salah satu sosok menoleh. Terlambat.Dalam hitungan detik, suasana pecah. Satu tangan menghantam. Tubuh terhuyung. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara keras. Hanya napas yang terputus dan tubuh yang terjatuh ke lantai berkarpet.Di penthouse, Bumi melihat semuanya lewat layar.“Naikkan level,” perintahnya singkat.Max sudah bergerak. “Tim tiga menuju lantai Elena. Kunci semua akses.”Namun orang orang Maria tidak datang untuk bertahan lama.Mereka datang untuk mengambil.***Di kamar Elena, detik terasa berjalan lebih lambat.Elena berd

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status