LOGINSeakan takdir tak mau membuatnya bahagia, perintah sang Mama itu pun membuatnya kembali ketakutan. Nampak sekali bahwa sepasang mata bulat itu ingin menangis.
View MorePagi ini aku menggantikan Ibu berbelanja sayur di Mpok Atik, tukang jual sayur keliling di kampung kami, biasanya wanita paruh baya itu akan mangkal di dekat musholla dan dikerumuni ibu-ibu.
"Eh, Nduk Nirmala, tumben keluar?" sapa Mpok Atik begitu aku tiba di depan gerobak sayurnya. "Iya nih, Mpok, aku gantiin Ibu, soalnya Ibu lagi jagain Romi." Romi, adikku yang baru kelas enam SD itu dilanda demam sejak semalam, ia rewel sekali, jadi terpaksa ibu harus selalu berada di sampingnya. Seperti biasa, tak lama kemudian para ibu-ibu mulai berkumpul dan kalau sudah kumpul begini pasti ada saja yang akan mereka katakan tentang aku. "Tumben kelihatan Nak Nirmala ini, biasanya kan selalu mengurung diri di rumah." Itu Bik Diah, ibu-ibu yang rumahnya berseberangan dengan rumahku. Jujur saja, aku tak terlalu suka dengan sifat dan sikapnya, ia selalu repot mengurus urusan orang lain, ada saja yang akan ia komentari, membuatku jengkel. "Iya nih, Bik Diah." Demi kesopanan, aku menjawab ala kadarnya saja. "Masih betah sendiri, Nirma?" tanya Bik Diah lagi. Aku sengaja tak menjawab pertanyaan tersebut. Bukan bermaksud untuk bersikap tak sopan, tapi pertanyaan itu sudah Bik Diah lontarkan lusinan kali dan ia selalu bertanya ketika di tempat yang ramai. Berbeda waktu kami berpapasan berdua saja, ia bahkan tak mau repot-repot menyapa. "Padahal Kamu sama Mina seumuran loh, Nirma. Sementara Mina sudah nenikah sejak lama, Kamunya masih gini-gini aja, harusnya Kamu ambil contoh dari dia. Nih ya, kemarin saja aku baru berkunjung ke kota, bahagia sekali dia, aku sebagai Ibu turut bahagia lihatnya. Sekarang saja Mina sama Viki lagi di sini, katanya Mina kangen dengan suasana kampung, biasalah orang kota, haha." "Buk Diah beruntung sekali, ya, punya menantu dari kota, mana orang kaya." "Aku ndak seberuntung Buk Diah, anakku Santi cuman menikah sama pemuda kampung sebelah." Buk Tuti mengeluh, sementara Bik Diah terlihat bangga karena menjadi pusat perhatian. "Jangan begitu, Buk Tuti, siapa yang ndak tahu kalau menantumu itu juragan tembakau, sekali panen bisa puluhan juta untungnya," kata salah satu ibu-ibu yang ikut belanja, aku tak ingat namanya siapa. Buk Tuti kelihatan tersipu, tapi ia tak menyangkal sama sekali. "Tapi Arman ndak sekaya Viki yang jadi direktur di kota." Direktur konon, bah! Aku cuma bisa mencibir dalam hati. Kalau memang betul seperti yang digembar-gemborkan oleh Bik Diah kalau suaminya Mina adalah seorang direktur di kota dan kaya raya, dia dan istrinya tak mungkin setiap bulan datang ke kampung untuk ngangkut gabah. Semalam saja, aku mendengar suara ribut-ribut yang asalnya dari rumah Bik Diah, ternyata setelah kuintip, seperti biasa, Mas Viki akan mengangkut sekarung gabah pada malam hari, mungkin takut ketahuan orang kali, ya, kalau mereka beraksi di siang hari. "Kenapa jadi membicarakan anak saya, Ibu-Ibu, hidup Mina kan sudah terjamin, saya ini khawatirnya sama Nirmala loh, sudah umur segini tapi belum ketemu jodoh juga." Semua mata ibu-ibu itu menatap padaku. "Ndak perlu terburu-buru, Nduk Nirma, yang penting bisa dapat jodoh yang baik dan bertanggung jawab." Mpok Atik tersenyum simpul dan membelaku. "Ya bagaimana mau dapat jodoh kalau terus mengurung diri di dalam rumah, sekali-sekali keluar dong buat jalan-jalan, Nirmala, atau kerja merantau ke kota, siapa tahu jodohnya ada di sana." Buk Tuti menyikut lenganku pelan. Aku tersenyum. "Aku di rumah saja, Buk Tuti, bantuin Ibu ngurus sawah, kasihan kalau kutinggal ke kota." Bapakku meninggal tiga tahun yang lalu, jadi hanya ada aku, Ibu, dan Romi di rumah. Beberapa kali memang aku pernah izin ke Ibu untuk mencari kerja di kota, hitung-hitung membantu keuangan keluarga juga, tapi kata Ibu tak perlu, karena hasil panen keluarga kami alhamdulillah setiap tahun selalu lebih dari cukup. "Siapa yang akan bantu Ibu di sawah dan mengurus pekerjaan rumah kalau sedang sakit, Nak. Ndak perlu jauh-jauh kerja di kota, kalau tekun bertani pasti hasilnya juga memuaskan, lagi pula sejak dulu keluarga kita ini akarnya ya petani, tidak cocok sama kehidupan kota," kelakar Ibu dulu, waktu aku minta izin untuk ikut Mina bekerja sebagai buruh pabrik di kota. Akhirnya Mina pergi sendiri ke kota dan bertemu dengan suaminya yang sekarang, Mas Viki. "Makanya cepat cari jodoh, Nirma, supaya ada yang bisa bantu-bantu Kamu sama Buk Tami. Kamu harus nyontoh sama Mina, meski sudah menikah sama direktur, dia tetap ndak lupa sama ibunya sendiri di kampung," kata Bik Diah bangga. Sekilas memang kata-katanya terdengar peduli, tapi aku tahu maksud dia yang sebenarnya, Bik Diah ingin aku terlihat menyedihkan karena tak kunjung bertemu jodoh padahal sudah umur dua puluh enam tahun. "Jangan terlalu pilih-pilih juga, Nirma, kalau mau dapat suami yang kaya seperti Viki memang susah," ujar Bik Diah lagi. "Iya, Santi saja menikah dengan anak petani, ya walaupun hasil tembakaunya lumayan, siih," timpal Buk Tuti cekikikan. Aku mencibir dalam hati, banyak sekali unek-unek yang ingin kukatakan pada mereka, tapi mengingat nasihat Ibu untuk selalu hormat pada yang lebih tua dan tak menabur perselisihan dengan orang lain, maka aku berhenti. "Bukannya aku mau pilih-pilih, Buk Tuti, tapi memang belum dikasih jodoh saja sama Allah," kataku. "Jangan cuma bisa pasrah, Nirma, jodoh itu perlu diusahakan, kalau ada yang tertarik juga jangan terlalu pilih-pilih, kudengar Hasan dari kampung sebelah menaruh hati padamu dan pernah datang melamar, kenapa ndak diterima saja." Bik Diah tersenyum sambil memilah kangkung dagangan Mpok Atik, kalau dilihat-lihat kasihan juga kangkung itu, terlalu sering dibolak-balik sampai hampir berceceran. "Apa karena dia anak petani dan sawahnya kecil, jadi Kamu ndak mau, Nirma?" tanya Bik Diah lagi. Astagfirullahaladzim, kotor sekali hati wanita ini. Padahal siapa yang tak tahu si Hasan yang rumahnya di dekat gunung itu, duda itu adalah pria berkarakter bengkok dari desa sebelah, kerjaannya sehari-hari cuma minum-minum dan berjudi di pasar, makanya ditinggal minggat sama istri dan anaknya, siapa juga yang betah berumah tangga dengan pria tak bertanggung jawab seperti itu. Hasan memang pernah datang melamar, namun langsung ditolak oleh Ibu. Aku juga tak seputus asa itu dalam hal mencari pasangan. "Aku ndak pernah menolak Hasan karena dia cuma anak petani, Bik Diah, tapi siapa yang ndak tahu reputasi dia? Kayaknya ndak mungkin ada gadis yang mau menikah sama laki-laki pengangguran dan suka berbuat onar itu." Aku mendelik kesal. "Lagi pula ndak ada yang salah sama anak petani, justru aku lebih suka kalau calon suamiku sama-sama dari keluarga petani, kan bagus kalau hasil bertaninya banyak, jadinya ndak perlu ngerepotin ibu mertuaku nanti. Kan malu kalau masih minta gabah sama mertua." Aku tahu kalau Bik Diah sepertinya menangkap sindiranku. Ia mendelik dan tersipu. Giliran balik disindir saja langsung marah "Bilang saja ndak laku," bisik Bik Diah pada Buk Tuti dan mereka berdua cekikikan lagi. "Bukan ndak laku, Bik, tapi kayak yang dibilang Mpok Atik, aku ndak perlu terburu-buru. Jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang ngatur, ndak perlu dipusingin." Sambil mengambil sekresek hati ayam, aku senyum ke arah Mpok Atik. "Ini berapa, Mpok?" tanyaku. "Hati ayam 35 ribu setengah kilo, Nduk." "Walaupun sudah ada yang ngatur, tapi perlu dicari juga, Nirma," kata Bik Diah. Aku mengabaikannya. "Kalau jagung sama bayamnya berapa, Mpok?" tanyaku. "Jagung tiga ribu, bayam seikat dua ribu." "Anak ini dikasih tahu sama orang tua malah ndak dipedulikan, pantas ndak ada yang mau, sudah berumur gitu tapi ndak laku-laku, perawan tua." Bik Diah dan Buk Tuti cekikikan lagi. Aku menaruh hati ayam, jagung, dan bayam yang tadi kuambil, sambil tersenyum dan berhadapan langsung dengan kedua wanita itu. "Memangnya kenapa kalau aku ndak laku-laku, lagian aku ndak numpang makan di rumah Kalian, kan? Juga, beras ibuku di rumah masih banyak untuk kuhabiskan!" Bersambung.Selamat membaca ❤💔Semenjak kejadian tiga bulan lalu, Diana semakin tak punya semangat hidup. Waktu yang ia habiskan di sekolah, hanya dikerjakan di kelas termasuk istirahat makan siang. Diana bahkan kerap absen dari kegiatan OSIS dan ekskul menggambar. Berangkat sekolah juga wajahnya tak pernah terlihat cerah, aura kelam lebih terpancar. Membuat Tino, Putri, dan Lia ---yang tak peduli pada Diana--- dibuat penasaran dengan perubahan Diana akhir-akhir ini. Tapi tidak ada secuil hal yang Lia lakukan. Gadis itu benar-benar memusuhi Diana.Berbeda jauh dengan Lia, Tino dan Putri malah kian gencar mendekati Diana. Ia ingin, temannya itu melepas kesedihan. Keduanya tak henti-hentinya mencari topik gurauan agar Diana mau menunjukkan senyumannya pada mereka. Tapi nihil, Putri dan Tino hanya bisa menerima wajah datar Diana, dan sesekali fake smile yang terbit dari bibir perempuan chuby itu.Sian
Masih sama dengan suasana pagi yang dingin dan mendung, siang ini langit menyisakan hawa dinginnya. Karena para guru Ibu Pertiwi tak kelar-kelar dengan hal berbau rapat. Hal itu membuat siswa-siswi SMP, maupun anak didik SMA dipulangkan lebih awal.Bunyi bel pulang sekolah itupun sudah terdengar sejak lima menit lalu. Kini Diana tengah berada di dalam angkot bersama Lia. Gadis berkucir satu itu memilih duduk berseberangan dengan teman pertamanya, karena si Lia masih saja bersikap acuh tak acuh.Setiap Diana ingin mengajak ngobrol di kantin atau kelas, Lia selalu saja punya cara untuk menolak dan membuang muka tanpa mendengar perkataan Diana sampai tuntas. Bahkan saat mereka pulang dan berada di dalam angkot, Lia masih saja diam. Akibatnya, sampai sekarang ini masih tak ada obrolan di dalam mobil pengantar orang-orang pekerja dan anak-anak sekolahan itu."Pulang duluan ya, Li..." pamitnya masih berusaha mencari topik pembicara
Selamat membaca ❤💔Guyuran hujan di sekolah Ibu Pertiwi pagi ini, membuat proses belajar mengajar diundur satu jam dari bel masuk seperti biasa. Selain karena hujan deras, alasan lainnya adalah seluruh guru masih terlibat rapat dengan ketua yayasan. Para murid yang datang dan berlarian bahkan masih bisa dihitung dengan jari. Satu anak yang sudah menempatkan diri di ruang kelas dengan menopang dagu dan datang tepat waktu seperti hari-hari biasa. Pikirannya sedari dua minggu belakangan ini terus saja terganggu."Ngalamun, Na?" tanya seseorang bervolume kencang saat melewati bangku yang ditempati gadis itu. "Ngomong-ngomong, cuaca gini enak banget buat maen futsal, loooh." dengan kedua mata terpejam seakan benar-benar membayangkan serunya bermain futsal di tengah lapangan sambil mandi air hujan. Hidungnya ikut menghirup napas dalam-dalam, khas orang yang tengah menikmati alam. "Waaah... Enak bener..." Tino mulai mendramatisir.
"Diana!" panggil Tino sebelum orang yang ia sebut namanya menghilang dalam beberapa kali jalan. Tubuh Diana refleks berbalik agar matanya bertemu dengan milik sang ketua kelas. Sambil berjalan menghampiri Diana, Tino berbicara lagi, "masuk OSIS yok, Na! Jadi anggota OSIS.""Hah! Nggak-nggak! Ngapain? Yang pantes gabung banyak, No! Nggak mau ah... Maaf." sambil memutar tubuh, melanjutkan perjalanannya.Tapi cekalan dan suara Tino lagi-lagi berhasil membuat gadis yang nampak kelelehan itu berhenti, Tino berdiri di sampingnya. "Sambil jalan aja." keduanya lantas mengayunkan kaki. "Aku ngerasa kamu itu kreatif, Na... Coba kalo kamu gabung, kamu bisa nuangin ide-ide kamu ke acara-acara OSIS nanti, apa kamu mau gabung jadi kandidat calon ketua OSIS?"Matanya sukses membelalak mendengar penawaran terakhir Tino. "Apaan sih?! Jadi anggota aja ogah mana ini jadi kandidat! Sangat tidak setuju!" sahutnya menggebu-gebu. "Udah ya... Aku ma
"Bakso, opor ayam, sop ayam, soto ayam, nasi rames, nasgor, nasi kucing, nasi ayam pedes, nasi ayam kecap, nasi ayam goyeng atau bakar, ayam geprek..." menarik napas sebentar lalu dihembuskan perlahan dan kembali melanjutkan, "...kwetiau rebus, kwetiau goyeng, mi rebus, apa mi goyeng?"
Selamat membaca ❤💔Raja timur mulai menampakkan wujudnya. Sinar terangnya memancar sampai hampir ke seluruh kamar gadis yang tengah mengurung diri dalam kain tebal. Beberapa menit kemudian ia mulai terganggu dengan cahaya yang sedikit menusuk di wajah
Gadis yang menggendong tas ransel merah itu tampak merasa cemas. Kentara sekali dari wajah lelah nan pucatnya itu. Pikirannya entah kenapa melayang jauh, membayangkan sosok kedua orangtuanya. Tak banyak yang menyita rasa gugup Diana sejak di kelas sampai siang hari ini, selain perkataan
Matahari yang terbit pagi ini menemani perempuan berseragam kotak-kotak merah dengan bawahan rok warna putih susu. Dengan degupan jantung yang ada di atas normal, Diana berjalan di lantai dasar bangunan yang cukup besar untuk menampung ratusan murid itu. Tujuan pertama Diana hari ini su
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore