Share

Delapan

Author: Na_Vya
last update Last Updated: 2024-11-03 22:52:54

Hampir tengah malam Ozkhan tiba di kediamannya. Ketika memasuki kamar, dia mendapati sang istri yang ternyata belum tidur. Numa sedang duduk bersandar di ranjang sambil menikmati segelas red wine.

Melihat sang suami yang ternyata pulang, Numa pun tersenyum senang. Perempuan yang malam itu mengenakan piyama tidur sutra berwarna merah lantas buru-buru meletakkan gelasnya ke atas nakas.

Numa hendak menghambur memeluk Ozkhan, tetapi hanya penolakan yang dia dapatkan. Bahkan sikap Ozkhan begitu dingin. "Aku merindukanmu, Ozkhan. Tidak bisakah kamu memberiku pelukan?"

Permintaan Numa ditanggapi dengkusan oleh Ozkhan. Sambil meloloskan kancing lengan kemeja, dia berkata, "Sejak kapan hubungan kita sehangat itu, Numa?"

Kedua telapak tangan Numa mengepal kuat di sisi tubuh. Dia berusaha mengendalikan diri agar tidak terbawa emosi. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya menghela napas panjang.

Numa pun baru sadar, jika rumah tangganya dengan Ozkhan memang tak pernah sehangat itu. Namun, dia ingin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    151~

    Semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan perkiraan Ozkhan. Lelaki itu rupanya sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Bahkan sebelum Shanum berniat membantu mengurus sekolah Gul. Mulai dari dokumen dari pihak mempelai wanita, dan persetujuan orang tua. Mulai hari ini, dia dan Shanum telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan mereka tinggal melakukan pemberkatan di gereja saat Ozkhan kembali dari Dubai. Tentunya, dengan pesta meriah dan mewah. Kendati pernikahan ini merupakan pernikahan kali kedua untuk mereka. Baik dari Shanum maupun Ozkhan. Namun, pria itu berniat menciptakan momen yang tak terlupakan bagi Shanum saat di pesta nanti. "Silakan disimpan salinan dokumen ini. Jangan sampai hilang." Petugas pria memberikan berkas salinan kepada sepasang pengantin baru itu. "Nanti, Anda bisa kembali lagi ke sini untuk memperbarui setelah melakukan pemberkatan." "Baik. Terima kasih." Ozkhan mengambil berkas tersebut, lalu menyerahkannya ke Shanum. "Simpanlah." Sha

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    150~

    "Kamu suka dasinya?" tanya Shanum setelah memasangkan dasi pemberiannya pada Ozkhan, yang pagi ini hendak berangkat ke kantor. Wanita itu juga sudah terlihat cantik dan rapi karena hari ini dia berencana hendak ke rumah sakit. "Apa pun itu asal kamu yang memberi, aku pasti suka. Terima kasih, Sayang." Ozkhan mengecup kening Shanum begitu lama. Kemudian mengusap pipi wanitanya dan berkata lagi, "Nanti siang aku akan menjemputmu di rumah sakit." "Menjemputku?" Ozkhan mengangguk, kedua tangannya tak mau diam. Direngkuhnya pinggang Shanum, ditatapnya lekat-lekat wajah cantik yang hingga detik ini mampu membuatnya makin terpikat. "Kamu yakin sudah siap melepas alat pencegah kehamilan yang ada di rahimmu?" Semalam, Shanum sempat memberitahu Ozkhan perihal kesiapannya untuk melepas alat pencegah kehamilan yang selama ini terpasang di rahimnya. Keputusan tersebut diambil oleh Shanum semata-mata untuk membalas kebaikan Ozkhan padanya selama ini. Pria itu menginginkan anak darinya. Ten

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    149~

    Selesai makan malam, Elis dan Sira membereskan meja, sedangkan Shanum dan Ozkhan naik ke kamar bersama Gul, karena gadis kecil itu meminta ditemani sebentar. Shanum membantu Gul membersihkan diri, dan menggosok gigi. Ritual sebelum tidur yang sudah menjadi kebiasaan. Sambil menunggu sang ayah yang hendak mandi terlebih dulu, dan berganti baju, baru setelah itu kembali menyusul bergabung. "Gul, ada yang bibi mau tanyakan padamu," ujar Shanum setelah memakaikan selimut untuk Gul yang sudah berbaring di tempat tidur. Wanita itu duduk di tepi, sambil mengusap-usap puncak kepala Gul. "Bibi mau tanya apa?" Gul menguap, usapan di puncak kepala membuatnya mengantuk. Sebelumnya, Shanum sudah memikirkan hal ini baik-baik. Karenanya, dia merasa perlu bertanya pada anak ini, supaya tidak menimbulkan salah paham. "Kira-kira, Gul ingin kembali ke sekolah, tidak?" Manik Shanum memerhatikan raut Gul yang seketika berubah. Mungkin, rasa kantuk gadis kecil itu pergi seketika. Terlihat je

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    148~

    [Saya sudah mengantongi bukti-bukti kejahatan tuan Ahmed. Kamu tidak perlu khawatir lagi, Shanum.] Antara percaya dan tidak, perasaan Shanum saat ini sulit untuk dijelaskan. Alhasil, dia pun merasa penasaran. Dari mana Malik mendapat semua bukti itu. "Kira-kira dari mana tuan Malik mendapatkan bukti-bukti itu?" Shanum mencoba menerka-nerka sendiri, sebab ragu untuk bertanya pada Malik. "Tuan Malik itu pengacara hebat, mungkin dia mendapat bukti-bukti itu dari orang suruhannya. Tapi... Bagaimana bisa secepat itu dia mendapatkannya?" Suara deru mesin mobil terdengar dari luar jendela kamar, membuat perhatian Shanum teralihkan. "Ozkhan?" Wanita itu bergegas meletakkan ponselnya ke atas nakas, niat membalas pesan Malik pun terlupakan. Shanum berlari ke depan kaca rias sekadar menelisik penampilannya sebentar. Riasannya sudah sempurna, tanpa perlu dipoles lagi. Selanjutnya, Shanum pergi dari kamar dan turun untuk menyambut Ozkhan. Baru menuruni beberapa anak tangga, maniknya sudah

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    147~

    Sekembalinya dari sesi terapi, raut Shanum terlihat berbeda. Sorot kekhawatiran tak lagi nampak di sepasang bola matanya yang bulat. Beban di pundak seolah ikut pergi bersama dengan kegamangan yang sejak beberapa hari ini menggelayut di hati. Shanum kini telah begitu yakin dengan keputusan dan pilihannya. Semua yang telah dia lalui bersama dengan Ozkhan selama ini tidak akan berakhir sia-sia. Shanum mungkin salah satu dari sekian banyak wanita di dunia ini yang beruntung. Dicintai dan sangat dilindungi merupakan hal yang sangat berarti baginya. Ozkhan tidak pernah ragu maupun goyah untuk selalu berada di sisinya. Berkat Sherin, Shanum kini menyadari betapa dia begitu mengandalkan Ozkhan dalam hidupnya. Tanpa Ozkhan, Shanum bukan siapa-siapa. Tanpa lelaki itu, hidup Shanum kemungkinan sudah berantakan dan hancur. Karena suasana hatinya sedang senang, Shanum ingin membuatkan sesuatu di hari spesial Ozkhan. Di perjalanan tadi, dia sempat mampir ke swalayan untuk membeli bahan-ba

  • Pemuas Hasrat Tuan Atasan    146~

    Shanum menarik panjang napasnya setelah berhasil meluapkan isi hatinya pada Sherin. Wanita itu terlihat sedih, seakan kebaikan Ozkhan selama ini padanya sangat membebani. Bukannya dia tidak bersyukur atas segala cinta dan perhatian yang dilimpahkan oleh Ozkhan. "Apa sebaiknya aku pergi saja dari hidupnya?" Suara itu terdengar sangat putus asa, sehingga Shanum melontarkan kalimat yang tidak seharusnya. Dia menunduk, menekuri keputusan yang tiba-tiba muncul di kepala. "Kalau kamu pergi menjauh darinya, yang ada hatimu makin tersiksa, Shanum," kata Sherin mengutarakan pendapatnya. Terlihat jelas, jika saat ini Shanum sedang bingung dengan perasaannya sendiri. "Aku yakin, kamu tidak benar-benar ingin pergi darinya. Karena kamu sangat mencintainya, Shanum. Kamu tidak bisa hidup tanpa pria itu. Begitu pun sebaliknya." Hati Shanum tercubit dengan ucapan Sherin yang dengan mudah menebak perasaannya saat ini. Pandangan Shanum beralih pada Sherin, sudut bibirnya berkedut, dan sorot matan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status