LOGINBeberapa bulan kemudian …. Cahaya senja membias indah di langit kota. Lembut dan keemasan, seolah langit pun ikut merayakan hari bahagia itu. Di sebuah gedung pernikahan yang elegan namun sederhana, Nada berdiri anggun dalam balutan kebaya putih gading berhias payet, rambutnya ditata sanggul renda
“Astaga! Itu … itu kan Pak Gio? Guru kita, Ayu!” Nada menutup mulutnya dengan telapak tangan, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. Mata Ayu membelalak tak percaya. “Enggak mungkin. Dia kan di penjara! Kita lihat sendiri dia dibawa polisi waktu itu.” “Tenang. Jangan terburu-buru. Kita tunggu
Tepat lima hari sejak Daffa terbaring koma di rumah sakit, kabut tebal mulai turun pelan menutupi jalan-jalan kota. Malam menjelma menjadi sosok yang menakutkan, seolah ikut menyembunyikan sesuatu. Langit mendung, tanpa bintang, dan udara terasa lembab karena hujan yang baru saja reda. Jalanan tam
“Daffa!” Jerit Nada mengoyak keheningan malam. Ia mematung, matanya menatap shock dan tak percaya. Tubuh Daffa terhempas karena tabrakan keras oleh mobil itu. Kini tubuh malang tersebut tergeletak di aspal. Darah menggenang dari pelipis dan dada kirinya. Orang-orang mulai berkumpul. Lampu mobil-mo
Langit mendung menggantung rendah sore itu. Petir samar menggeram dari kejauhan, seolah bumi pun tahu bahwa badai baru saja dimulai, bukan hanya di langit, tapi juga di hati manusia. Di dalam rumahnya yang kini terasa sempit meski luas, Hadi berjalan mondar-mandir dengan napas tersengal. Kertas anc
“Sialan!” geram pria paruh baya itu. Tangan Hadi masih menggenggam kertas lusuh yang tadi terlipat di bawah batu. Angin malam menerpa wajahnya yang penuh peluh, meski suhu udara di luar tidak panas sama sekali. Lampu jalan berkedip pelan di kejauhan, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang
“Terima kasih, Tuan.” Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu yang hangat. Interior rumah itu tidak banyak berubah, sofa mewah cokelat tua, karpet krem yang lembut, rak buku kayu jati, dan aroma teh hangat bercampur kue cokelat yang baru saja disajikan di meja. Tania duduk di ujung sofa, menyes
“Hey?” Daffa masih tersentak kaget. Wanita itu menciumi pundak Daffa berkali-kali, pelukan itu begitu dalam, seakan dirinya menemukan lantaran menyambung dua jiwa yang selama ini terpisah. “A-Apa ini?” kata Daffa terbata, perlahan mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi sedikit pun kekuatannya ta
Malam mulai menipis. Langit di atas perumahan itu gelap, tak berbintang, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Daun-daun bergesekan pelan dihembus angin, menciptakan suara lirih yang menyelimuti sunyi. Di tengah keheningan itu, sebuah mobil hitam dengan kap penyok dan lampu remuk perlahan mer
Begitu masuk, Daffa segera menyalakan mesin. Mesin meraung pelan, menyemburkan asap tipis dari knalpot. Ia menekan tombol lampu depan, dan sinar terang langsung menyapu pekarangan penginapan yang sepi. Tapi …. Daffa sempat melihat sesuatu. Dari sela tirai jendela lantai dua, dua pasang mata me







