로그인Bu Tika tak langsung bergerak, ia ingin menikmati sensasi penyatuan dulu. Sambil menikmati sensasi penyatuan, Ia menundukkan kepalanya, lalu mencium bibir Joko dengan ganas.
Joko langsung menanggapi ~ dengan ciuman yang tak kalah ganas. Setelah di rasa cukup, Bu Tika menarik bibirnya dan mulai menggoyangkan pinggulnya. Baru saja goyangan itu di mulai, Joko sudah bisa merasakan rasa nikmat dari goyangan itu. "Ahhh... ahh, Bu... goyanJoko melajukan mobil itu dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai mesin mobil itu meraung cukup keras. Hanya dalam beberapa menit, Joko pun sampai di markas Darto.Dari luar markas pun, Joko dengan jelas mendengar suara keributan di dalam. Namun yang jelas terdengar, adalah suara tawa dan cacian. Wajah Joko tampak sangat dingin, matanya memerah karena amarahnya yang memuncak. Dia buru-buru turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam Markas.Sampai di dalam, Joko melihat Darto dan kelompoknya sudah dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka sedang di pukuli sambil di caci maki oleh para bawahan Juragan Rusdi. Joko meraih batang besi panjang yang tergeletak tidak jauh dari dirinya, lalu dia menerjang sambil berteriak keras."Para bajingan! Apa kalian inginku hancurkan!"Semua bawahan Juragan Rusdi menoleh ke arah datangnya suara. "Itu... itu dia! Dia si Joko!" teriak salah satu bawahan Juragan Rusdi yang mengenal Joko."Bagus... kau malah datang sendiri! Kita gak perlu cape mencar
Wanita itu bangkit perlahan, lalu mengeluarkan batang pria gemuk itu dari sangkarnya. Terlihat batang kecil itu sudah sangat tegak. Wanita itu berjongkok di atas batang itu, lalu memosisikan ujung batang itu di apemnya. Saat wanita itu hendak menurunkan tubuhnya, terdengar suara pintu di ketuk dan teriakan seorang pria dari luar ruangan tersebut.Tok... Tok... Tok"Juragan! Juragan!"Juragan Rusdi mengerutkan keningnya. "Ada apa sih, mengganggu saja," gerutunya.Wanita muda itu buru-buru turun dari tubuh Juragan Rusdi, lalu mengenakan pakaian tipisnya. Juragan Rusdi membenarkan celana sambil berterik. "Masuk!"Pintu terbuka dan seorang pria bertato yang wajahnya tampak babak belur masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat.Melihat pemandangan itu, kening Juragan Rusdi seketika berkerut erat."Kau kenapa?" tanya Juragan Rusdi.Pria itu berlutut di hadapan Juragan Rusdi. "Juragan... di-dia... si-si Joko itu, ternyata sangat kuat! Kami semua di kalahkan sama dia," ucap pria itu denga
Setelah semua selesai, mereka semua pun pergi dari rumah Doni. Joko, Sinta, dan Lana, pergi ke rumah Joko. Sementara Darto dan kelompoknya, langsung pulang ke markas. Setibanya di rumah, Joko duduk di sofa. "Akhirnya selesai juga," ucapnya dengan nada lega. Sinta tersenyum nakal, lalu dia duduk di pangkuan Joko dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Sayang, makasih yah. Karena kamu, aku bisa terlepas dari pria sialan itu," ucap Sinta dengan nada genit.Joko mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Kamu kan sudah jadi janda nih... gimana kalau kita rayakan," ucap Joko dengan ekspresi nakal. Satu tangannya mengelus paha Sinta dan tangan lainnya melingkar di pinggang Sinta."Mau ratakan gimana nih?" tanya Sinta sambil mengedipkan matanya.Lana mendekat, lalu memeluk tangan Joko."Tentu saja rayakan di ranjang! Iya gak sayang?" ujar Lana dengan nada menggoda."Nah, betul!" balas Joko."Ayo! Aku gak akan nolak! Mau sampai lemas pun, aku siap!" ucap Sinta sambil me
Darto masuk ke dalam sambil berkata. "Bang, dia ketangkap di warung Bu Sinta. Ternyata dia ada di sana sama beberapa bawahan Juragan Rusdi. Kayaknya dia mau nangkap Bu Sinta." "Hmm... gak kapok-kapok ternyata," ucap Joko dengan sorot mata sinis. "Hehe, tadi aku memukul dia terlalu keras! Jadi tangan sama kakinya patah!" balas Darto dengan nada riang. "Bagus! Dia pantas mendapatkannya!" bukan Joko yang menjawab, melainkan Lana. Melihat putranya yang tampak sangat menyedihkan itu, pasangan paruh baya itu buru-buru menghampirinya. Meski mereka merasa marah di dalam hatinya, tapi mereka tak punya sedikitpun keberanian buat memarahi Darto. "Dia masih sadar?" tanya Joko. "Masih!" balas Darto. Kemudian dia menatap Doni. "Bajingan, cepat jelaskan yang sebenarnya! Kalau nggak aku patahkan semua kali dan tanganmu," ancam Darto. Dengan suara lemah, Doni mulai menjelaskan semuanya. Dia tidak berani berbohong sedikit pun. Setelah babak belur seperti ini, dia tidak ingin menerima pukulan tam
Pasangan paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sama sekali tidak percaya sama sekali. "Ma-mana mungkin, Doni melakukan hal itu," ucap wanita paruh baya dengan nada sedikit meninggi."Iya. Mana mungkin putra saya melakukan hal sekeji itu. Walau dia orangnya pemalas, pengangguran, dia gak mungkin melakukan hal seperti itu!" tambah pria paruh baya itu dengan suara dalam dan dingin."Bu, saya semua ini, di katakan langsung sama Bu Sinta! Kalau gak percaya, silakan tanyakan saja!" ucap Pak RW dengan ekspresi sedikit muram."Sinta jelaskan sama mertuamu!" perintah Pak Tarman."Bu, Pak, yang di katakan Pak RW memang benar. Aku di jual buat bayar hutang sama Mas Doni. Kalau Joko gak menolongku, aku sudah di tiduri sama Juragan Rusdi!" Sinta menjelaskan dengan mata berkaca-kaca."Gak mungkin! Sinta... kamu pasti merekayasa semua ini," teriak wanita paruh baya itu dengan ekspresi marah. Dia berkacak pinggang, sambil menunjuk-nunjuk Sinta. "Kamu pasti mau menceraikan Doni kan? B
Beberapa saat kemudian, terlihat mobil sedan putih berhenti di depan rumah Joko. Sinta dan Lana, turun dari mobil itu. Saat melihat Sinta, para warga di sana biasa saja, karena mereka sudah mengenal, meski Sinta terlihat sangat cantik. Namun, saat melihat Lana, para warga itu tampak terpana. "Apa dia teman Joko?" "Cantik banget!" "Hei, aku kenal dia. Dia sekretaris desa!" ucap salah satu warga. "Apaaa? Dia... sekretaris desa?" para warga yang tidak mengenal merasa terkejut. Pak RW yang melihat Lana, buru-buru menyapa dengan sopan. "Nona Lana, itu ternyata anda," ucap Pak RW. Lana hanya menjawab dengan anggukan, lalu dia melangkah cepat menghampiri Joko. "Kamu gak apa-apa?" tanya Lana sambil melihat-lihat tubuh Joko. "Gak apa-apa, aku baik-baik saja!" balas Joko dengan nada santai. "Para sialan itu berani sekali menyentuh kamu!" gerutu Lana dengan ekspresi muram. "Jo, maaf yah! Gara-gara aku, kamu jadi di incar mereka," ucap Sinta dengan ekspresi lesu. "Gak apa-apa, santa
Melihat betapa kacaunya Ayu, Joko merasa lebih bersemangat. Dia mengisap puting itu dengan keras, sambil menjilatinya. "Ahh... ahh... Jo, enak banget, ahh... terus... ahhh... lebih keras, ahh..." racau Ayu. Joko secara bergantian mengisap kedua puting wanita itu. Bah
Joko menerjang ke arah pria itu, gerakannya lebih cepat dari pria itu sebelumnya. Pria itu terkejut, melihat Joko yang sudah berada di depannya. " Sial... kenapa cepat bangau!" ucapnya sambil mundur ke belakang. "Jangan harap bisa mundur!" ucap Joko sambil terus meng
Beberapa saat kemudian, Rita telah berhasil membuat Joko mencapai puncak. Karena hasratnya sudah mereda, Joko pun mengajak Rita untuk pulang.Mereka meninggalkan Restoran ~ pulang ke rumah kedua Rita. Setibanya di rumah, Joko dan Rita kembali ke kamar. Mereka tak lanjut bercinta, mereka lanjut menc
"A-aku gak salah lihat, kan?" ucap Joko sambil mengucek-ngucek matanya. Harga saham yang sebelumnya hanya seharga 108 rupiah, sekerang sudah 700 rupiah per lembarnya. "Ini benar... be-benar-benar naik!" teriak Joko setelah memastikan kalau dia tidak salah lihat. BRAKK! Joko menggebrak meja deng







