分享

209. PPPN

作者: Callme_Tata
last update publish date: 2026-06-28 18:33:54

Di depan rumah sakit, di sanalah kini Tuan Arya berada. Sepasang matanya menatap ke arah area parkiran, menunggu seseorang datang.

Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah memasuki area parkiran rumah sakit tersebut, membuat pria paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis.

Dari dalam mobil mewah tersebut, turunlah Ares, asisten pribadi Tuan Arya yang selama ini membantunya mengurus seluruh pekerjaannya.

"Maaf sudah membuat Tuan menunggu lama, saya tadi kejebak macet," kata Ares yang menghampiri bo
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   210. PPPN

    "Perempuan aneh, tiba-tiba nangis, tiba-tiba lembut, tiba-tiba marah. Gak jelas kamu!"Dikatakan tidak jelas, sepasang mata Rain semakin melotot. Rasa kesal di hatinya pun semakin bertambah. Rasanya ingin sekali ia membogem wajah kekasihnya itu demi meluapkan kekesalannya.Namun, ia masih cukup waras untuk tidak memukul dan membalas orang yang sedang sakit dan tidak berdaya seperti Satria."Aku emang gak jelas dan aneh. Mau apa kamu? Hah!" kata Rain berkacak pinggang, sedangkan matanya masih saja melotot. "Udahlah, aku males ngeladenin kamu!" lanjutnya sembari berbalik dan melangkah keluar dari ruangan VVIP tersebut.Melihat Rain pergi dengan wajah kesal, Satria yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu pun tersenyum kecil. Lalu, ia beringsut perlahan dan merebahkan tubuhnya.Rain yang keluar dari ruangan tersebut langsung menghampiri Bu Yohana dan yang lainnya. Dengan kesal, wanita hamil itu mendaratkan bokongnya di kursi tunggu dan menyandarkan punggungnya."Ada apa, Rain? Kok mu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   209. PPPN

    Di depan rumah sakit, di sanalah kini Tuan Arya berada. Sepasang matanya menatap ke arah area parkiran, menunggu seseorang datang.Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah memasuki area parkiran rumah sakit tersebut, membuat pria paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis.Dari dalam mobil mewah tersebut, turunlah Ares, asisten pribadi Tuan Arya yang selama ini membantunya mengurus seluruh pekerjaannya."Maaf sudah membuat Tuan menunggu lama, saya tadi kejebak macet," kata Ares yang menghampiri bos besarnya itu.Pria berusia sekitar tiga puluh tahunan itu meminta maaf kepada Tuan Arya yang sudah cukup lama menunggunya di depan gedung rumah sakit tersebut."Gak apa-apa, saya juga lagi gak terburu-buru," kata Tuan Arya, menimpali perkataan Ares dengan santai seraya tersenyum.Mendengar perkataan bosnya, Ares menganggukkan kepala dan membalas senyuman pria paruh baya itu."Begini, Res. Saya memanggil kamu datang kemari karena ingin meminta kamu melakukan hal yang sangat penting."Tuan Arya

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   208. PPPN

    "Secara fisik, kondisi pasien saat ini sudah mulai stabil dan membaik. Tapi ada hal yang perlu saya sampaikan—"Dokter yang saat ini berdiri di hadapan Tuan Arya dan yang lainnya, menjeda kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan sebelum menjelaskan kondisi Satria saat ini pada keluarganya.Sepasang mata Dokter pria paruh baya itu menatap Tuan Arya dan yang lainnya bergantian, "Berdasarkan respons dan hasil pemeriksaan sementara, besar kemungkinan pasien mengalami generalized amnesia atau yang biasa disebut amnesia global. Kondisi seperti ini menyebabkan hampir seluruh ingatan masa lalunya hilang."Degh!Tubuh Rain menegang, dadanya terasa begitu sesak. Air matanya yang hampir surut, kini kembali menetes tanpa diminta, membasahi pipinya yang mulus."Maksud Dokter, Satria bener-bener gak ingat apa pun?" tanya wanita hamil itu dengan suaranya yang lirih dan bergetar.Dokter menghela napas pelan dan mengangguk, "Benar, untuk saat ini, pasien bisa saja t

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   207. PPPN

    Satria yang baru saja bangun dari komanya terlihat diam tanpa ekspresi. Hanya sepasang matanya saja yang berkedip dan terbuka sayu.Kini, pemuda itu duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya yang penuh luka begitu pucat seperti mayat hidup."Sayang, akhirnya kamu sadar. Aku senang banget!" Rain yang merasa senang tersenyum sambil memeluk tubuh sang kekasih.Namun, Satria yang dipeluk dan diajak berbicara tetap tak memberikan reaksi. Pemuda itu tetap diam, tak merespons perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya."Kamu tahu gak? Aku, Ibu, Papa, dan yang lainnya cemas banget sama keadaan kamu," lanjut Rain dengan suara bergetar menahan tangis.Satria yang dipeluk memejamkan matanya sesaat dan mengembuskan napas pelan. Ia mengepalkan kedua tangannya yang terasa lemah, lalu mendorong tubuh Rain yang memeluknya."Lepaskan saya!"Mendengar perkataan Satria dan juga penolakannya, Rain terkejut bukan main. Spontan wanita hamil itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang kekasih."S

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   206. PPPN

    "Walaupun ketemu aku secara langsung, jawabannya tetep sama, Mas. Aku gak akan mengizinkan siapa pun buat ketemu anakku untuk saat ini, termasuk kakakku sendiri!"Degh!Kalimat bernada santai tetapi terdengar serius milik Tuan Arya yang baru saja kembali, membuat Tuan Seno langsung menoleh ke arah sumber suara.Melihat wajah adiknya yang terlihat datar, Tuan Seno menghela napas pelan. Di hadapan adiknya itu, ia pun memaksakan senyumannya dan melangkah mendekat."Ar, gimana keadaan anakmu? Mas dan Diana ke sini, mau lihat keadaannya," kata Tuan Seno. Perkataannya yang semula bernada tinggi terhadap Pak Anjas, kini bernada rendah dan santai.Di hadapan adiknya, pria paruh baya itu tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan sikap sombong dan kasar yang semula ia tunjukkan."Iya, Ar. Katanya anak kamu yang hilang udah ketemu, jadi kami bela-belain ke sini buat jenguk!" sambung Diana dengan sudut bibir tersungging.Melihat wajah kakak dan iparnya, Tuan Arya menghela napas pelan. Jelas sekali j

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   205. PPPN

    "Argh... anakku, tolong anakku. Jangan biarkan dia kenapa-kenapa! Tolong selamatkan Narendra-ku!"Nyonya Laras yang terduduk di lantai, menjerit histeris sambil memegangi kepalanya. Wanita paruh baya itu menangis, meminta tolong agar putranya diselamatkan.Terkejut, Tuan Arya segera merengkuh dan memeluk tubuh istrinya. Ia berusaha menenangkan sang istri yang panik ketakutan."Laras, tenang... jangan panik kayak gini. Anak kita baik-baik aja dan sekarang lagi dalam masa pemulihan," kata Tuan Arya sembari mengusap punggung istrinya yang bergetar."Aku gak mau kehilangan Naren. Anakku gak boleh mati kayak Mas Beni... jangan sampai mereka nyakitin anak kita lagi!" kata Nyonya Laras.Degh!Mendengar perkataan Nyonya Laras yang menyebut nama 'BENI', Tuan Arya semakin terkejut. Dalam hati ia berpikir, apakah kesadaran istrinya sudah membaik dan kembali?"Mas, ada apa? Mbak Laras kenapa?"Pak Anjas dan Bu Karina yang ikut terkejut, memasuki ruangan rawat tersebut. Pasangan suami istri itu me

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   137. PPPN

    "Egh, ugh... ampun, Sayang. Aku gak bisa napas!" Satria berusaha menarik wajahnya yang didesalkan Rain ke belahan dadanya. Rasanya sesak lantaran kesulitan bernapas. Kecemburuan Rain benar-benar sudah sampai tahap level dewa. Tak terima Satria mengatakan jika payudaranya agak lebih kecil dari Dew

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   136. PPPN

    "Huwa... Sayang. Aku tadi hampir dilecehin di cafe dan dibilangin anjing pemuas ranjang!" Satria yang sejak tadi diam dan cemberut, tiba-tiba berbalik badan. Ia menghambur ke pelukan Rain dan mengadu seperti anak kecil. Degh! Kaget Rain melihat tingkah Satria dan mendengar aduanya. Siapa ora

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   135. PPPN

    "Cowok sialan, brengsek!" Dewi yang berada di cafe, tak henti-hentinya mengumpat kasar. Kesal karena gagal lagi mendekati Satria yang ternyata begitu sulit ditaklukkan. Mencoba cara halus untuk menaklukan pemuda itu, tetapi kegagalan yang didapatkan oleh Dewi. Bahkan pada saat itu, ia sudah ha

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   134. PPPN

    Di bawah hujan rintik-rintik yang membasahi kawasan kota di sore hari itu, Satria yang kesal pada Dewi lantaran sudah bersikap lancang dan juga membuat darahnya mendidih, keluar dari cafe, melangkah menuju posisi motornya terparkir. Pemuda gigolo privat itu menyalakan mesin motornya dan mengendara

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status