Share

137. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-05-24 14:44:44

"Egh, ugh... ampun, Sayang. Aku gak bisa napas!"

Satria berusaha menarik wajahnya yang didesalkan Rain ke belahan dadanya. Rasanya sesak lantaran kesulitan bernapas.

Kecemburuan Rain benar-benar sudah sampai tahap level dewa. Tak terima Satria mengatakan jika payudaranya agak lebih kecil dari Dewi, ia justru memaksa sang kekasih berondongnya untuk menyusu.

"Sialan, gara-gara punya Dewi yang brutal, kamu tega nolak aku!" kata Rain dengan ekspresi wajahnya yang semakin memerah.

Tangan wanita
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   154. PPPN

    "Astaga, Satria... kenapa keadaan kamu bisa kayak gini? Siapa yang udah mukulin kamu?" Bu Yohana yang kursi rodanya di dorong oleh Atika, berbicara dengan suaranya yang agak keras. Ekspresi cemasnya terlihat begitu jelek dan lucu. Mendengar suara bernada cemas milik ibunya, Satria meringis sambil menepuk jidatnya. Benar kan, ibunya benar-benar datang. "Kenapa bisa kayak gini? Bilang sama Ibu, apa yang udah kamu lakuin di luaran sana? Kamu bikin masalah?" kata Bu Yohana yang kini sudah dekat dengan ranjang pasien putranya. Rain yang duduk di kursi samping ranjang, segera beranjak dan meletakkan piring berisi sarapan untuk Satria ke atas nakas. Ia melipir, membiarkan wanita separuh baya itu mendekati putranya. Ditanya oleh ibunya, Satria memaksakan senyumannya. "Aku gak apa-apa kok, Bu. Cuman memar dikit doang, jadi Ibu gak usah khawatir dan panik!" katanya dengan suaranya yang soft dan menenangkan. Bu Yohana menghela napas pelan. Tangannya terulur, menyentuh dan mengusap lembut p

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   153. PPPN

    "Kalau dibandingin antara kamu dan Rain, jauh jelas lebih baik Rain kemana-mana dong, Wi!" Mendengar perkataan Andrean, wajah Dewi seketika berubah memerah. Tak suka mendengar perkataan pria itu yang mengatakan jika Rain jauh lebih baik darinya. Wanita bertubuh seksi dan payudara besar brutal itu mendengus keras, menunjukkan ekspresi tak senangnya. Menyadari perubahan ekspresi wajah Dewi, pun menghela napas pelan. Batinnya, gawat jika wanita binal itu tak mau melayaninya lagi. Tak ingin kehilangan mainan barunya, Andrean pun segera mengeratkan pelukannya pada tubuh sintal Dewi. "Aku baru kenal sama kamu sehari loh, belum lama. Makanya aku bilang Rain jauh lebih baik, karena dia pernah ngelayanin aku dalam waktu yang gak singkat. Tapi— kalau urusan ranjang, kamu jauh lebih hebat dari dia yang kaku dan dan gak asik!" Kali ini, Dewi yang sempat kesal langsung mengulum senyum. Ia menoleh dan menatap Andrean yang sedang merayunya. "Beneran aku lebih hebat dari dia di atas ranjang?"

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   152. PPPN

    Di sisi lain, Andrean yang dicurigai sebagai dalang penganiayaan terhadap Satria, masih berada di apartemen Dewi. Sejak tadi, pria itu bergumul di atas ranjang bersama Dewi yang memiliki tubuh seksi dan payudara brutal. Di atas tubuh Andrean yang telanjang bulat, Dewi bergerak maju mundur memompa dengan gerakan yang cepat dan liar, hingga membuat batangan tegang pria itu keluar masuk dari lubang apem tembemnya. Plok, plok! Apem tembem Andrean dan Dewi terus beradu, menimbulkan bunyi gesekkan yang amat keras, memenuhi seantero kamar tersebut. Tubuh pasangan ilegal yang baru saling mengenal itu dibanjiri oleh keringat. Hawa dingin AC ruangan tersebut sama sekali tidak berfungsi bagi mereka. "Ahh, ternyata kamu jago banget di atas ranjang, Wi. Baru kali ini aku ngerasain seks yang bener-bener enak," kata Andrean. Bibirnya meracau, sedangkan tangannya meremas bokong Dewi yang sedikit menukik ke atas. Mendapatkan pujian dari Andrean, Dewi yang memang begitu haus validasi itu terseny

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   151. PPPN

    "Berhenti!" Suara lantang yang terdengar, membuat para preman bayaran tersebut menghentikan aksi brutal mereka.Spontan, mereka menatap ke arah sumber suara. Di mana beberapa orang berbadan kekar turun dari sebuah mobil dan menghampiri mereka. Pak Hendra yang berada di samping mobil, mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh. Lalu memilih untuk kembali memasuki mobil tersebut dan bersembunyi. "Sial, harusnya bocah itu berhasil disingkirkan. Tapi orang-orang itu malah datang dan ikut campur!" Pak Hendra mengumpat kesal sambil duduk di kursi samping kemudi mobil mewah milik Rain tersebut.Di dalam mobil tersebut, pria separuh baya itu memasang wajah yang amat syok dan ketakutan agar Satria tidak curiga sedikitpun padanya. Sedangkan di pinggiran seberang jalan, para preman bayaran yang mengeroyok Satria dengan brutal, berusaha melarikan diri dari tempat tersebut. Namun, para pria yang berpenampilan seperti bodyguard khusus itu segera melumpuhkan mereka dan tidak membiark

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   150. PPPN

    Di apartemen, Rian dibuat semakin kesal oleh Satria yang mengirimkan pesan jika ia akan segera pulang. Tetapi sudah setengah jam berlalu, tak juga terlihat batang hidungnya."Ckk... kemana sih? Katanya sebentar lagi pulang, tapi sampe sekarang belum juga nongol!" kata Rain menggerutu sebal sambil menjatuhkan bokongnya di atas ranjang kamar dengan gerakan yang kasar.Curiga Satria melalukan hal-hal buruk di luaran sana, Rain pun memutuskan untuk menghubungi nomer kekasihnya itu.Berulang kali menghubungi, tetapi tak mendapatkan jawaban dari seberang telepon. Padahal, panggilan tersebut berdering, menunjukkan jika nomer Satria aktif."Astaga, gak di angkat. Jangan-jangan Satria beneran macem-macem di luaran sana?" gumam Rain dengan bibir cemberut. Rasa kesal wanita itu bertambah. Kecurigaan merayap di hatinya dan pikiran jelek menyerang otaknya. Rain berpikir jika Satria pasti bersenang-senang di luaran sana bersama wanita lain. Penasaran di mana posisi Satria berada saat ini, Rain m

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   149. PPPN

    "Hei bocah, keluar sekarang juga atau gue hancurin mobil lu!" Suara keras dan lantang bernada ancaman itu sukses membuat kalimat Satria terjeda. Mendengar ancaman dari preman yang menghadangnya, wajah pemuda gigolo privat itu langsung memerah. Tanpa ragu, tangan Satria bergerak pada tuas pintu dan hendak keluar menghampiri para preman yang berjumlah lima orang tersebut. Namun, Pak Hendra menahan lengannya dan mencegah. Ia yang memasang ekspresi takutnya, tak mengizinkan Satria keluar dari mobil tersebut untuk menghampiri para preman. "Jangan, Sat. Bahaya, mereka jumlahnya lima orang. Kita gak tahu apa motif mereka, barangkali mereka itu begal dan jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kita kira," kata Pak Hendra. Suaranya pelan, terdengar panik dan gugup. Satria menggeleng seraya melepaskan tangan Pak Hendra yang menahan lengannya. "Diem di dalem sini juga percuma, Pak. Dari pada nunggu mereka ngamuk, mending samperin sekarang!" kata Satria, menimpali perkataan pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status