Share

Bab 7

Penulis: Yuranda
"Nggak bisa. Harus antar Felly ke rumah sakit duluan. Aku sama sekali nggak boleh biarkan dia celaka. Nggak ada yang lebih penting dari keselamatannya!"

Teriakan Alex yang panik dan tak berdaya itu pun menjadi suara terakhir yang didengar Teresa sebelum benar-benar kehilangan kesadaran. Kegelapan tanpa batas menelannya sepenuhnya. Teresa merasa seolah-olah dia mengalami mimpi buruk yang sangat panjang.

Saat terbangun, dia membuka mata dan langsung melihat Ivy dengan mata merah dan sembap.

"Teresa, aku baru pulang saja langsung dengar kamu mengalami kecelakaan sampai dirawat di rumah sakit. Dokter bilang kamu mengalami pendarahan hebat, hampir nggak bisa diselamatkan. Aku benar-benar ketakutan!"

Begitu melihat Ivy, semua rasa terpendam di hati Teresa langsung meluap. Matanya memerah dan dia tak kuasa lagi memeluk Ivy dengan erat.

"Jangan takut, aku baik-baik saja ...."

Entah berapa lama mereka saling berpelukan, sampai akhirnya Ivy menuangkan segelas air dan menyuapinya minum. Teringat pesan dokter, dia pun mulai mengajak bicara hal-hal ringan.

"Beberapa tahun ini kamu bahagia nggak hidup di sini? Kakakku nggak pernah menindasmu, 'kan? Bukannya kamu sempat punya pacar? Kapan mau dikenalkan sama aku? Aku harus memeriksanya baik-baik. Kalau dia nggak memperlakukanmu dengan baik, aku nggak akan setuju kalian bersama."

Ekspresi Teresa langsung membeku.

"Pak Alex memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan dengan jelas. Dia nggak pernah menindasku. Soal pacar ... kami sudah putus."

Ivy tidak menyangka putusnya secepat itu. Takut Teresa sedih, dia segera menenangkannya, "Nggak apa-apa. Putus ya putus saja, yang berikutnya pasti lebih baik. Aku kenal banyak pria tampan, nanti semuanya aku kenalkan padamu!"

Belum sempat kalimat itu selesai, pintu ruang rawat didorong terbuka. Alex masuk dengan wajah muram. "Kenalin siapa? Nggak boleh. Pria-pria yang kamu kenal itu kebanyakan playboy, nggak ada satu pun yang cocok."

Mendengar dia langsung menolak begitu saja, Ivy langsung manyun.

"Playboy apaan. Kak, jangan asal bicara, dong. Mereka cuma pernah pacaran dua tiga kali saja. Kamu kira semua orang sekeras kamu, sampai setia menggantungkan hidup di satu orang seperti Felly? Lagian, aku mau mengenalkan pacar untuk sahabatku sendiri, kenapa Kakak ikut-ikut mengatur?"

Mendengar ucapannya, amarah Alex langsung naik dan nada bicaranya terdengar kesal. "Sudah kubilang, nggak boleh yah nggak boleh. Urusan perasaan nggak bisa dipaksakan. Jangan asal menjodohkan orang."

Benar, perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Sayangnya, Teresa butuh waktu empat tahun untuk benar-benar memahami hal itu. Dia tersenyum tipis, lalu menarik tangan Ivy dan menatap Alex dengan tenang.

"Ivy cuma bercanda. Ada urusan apa Pak Alex kemari?"

Melihat dia tampak baik-baik saja, Alex sedikit menghela napas.

Secara naluriah dia ingin berkata bahwa dia datang untuk melihat keadaan Teresa, tetapi saat kata-kata itu hampir terucap, maknanya jadi berubah.

"Nggak apa-apa. Ivy dengar kamu mengalami kecelakaan, begitu turun dari pesawat langsung ke rumah sakit. Aku kemari untuk mengajaknya pulang, sekalian menjengukmu."

"Sudah, Kak. Nanti malam aku pulang sendiri. Teresa terluka separah ini, kamu nggak boleh lagi memberinya pekerjaan apa pun."

Usai berkata demikian, Ivy langsung mendorong Alex keluar dari kamar.

Kini hanya tersisa mereka berdua. Ivy kembali membela Alex.

"Kamu jangan lihat kakakku galak begitu. Sebenarnya dia sangat peduli padamu. Kata perawat, kemarin nyawamu benar-benar di ujung tanduk. Kakakku yang mengerahkan seluruh kota untuk mencari darah yang cocok supaya kamu bisa diselamatkan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 23

    Setahun kemudian, Ivy menerima pesan singkat dari Teresa. Sahabatnya akan menikah dan mengundangnya menjadi pendamping pengantin!Ivy begitu senang sampai tak bisa menahan diri. Dia langsung mengesampingkan semua pekerjaannya dan membeli tiket untuk terbang ke sana. Tentu saja, Alex juga mengetahui kabar ini dari adiknya.Tangannya membeku sejenak, lalu dia menundukkan pandangan, berpura-pura tidak peduli saat bertanya, "Cepat sekali sudah mau nikah?"Selama setahun ini, dia sering mengetahui kabar terbaru Teresa dari adiknya, juga tahu bahwa Teresa memiliki seorang pacar yang sangat mencintainya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Teresa akan segera menikah.Tak jelas perasaan apa yang ada di hatinya. Alex hanya merasa pandangannya menjadi kabur, tak bisa melihat jelas tulisan di bawah pena. Dia mendengar suara Teresa dari ponsel Ivy yang disetel pengeras suara. Terdengar lembut dan hangat."Ya, memang sudah saatnya nikah. Aku akhirnya bertemu orang yang cocok dan nggak ingin menunggu l

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 22

    Selama periode ini, Felly disiksa dengan sangat menyedihkan. Dia tidak makan dengan cukup dan tidak tidur dengan layak. Semua hal yang dulu pernah dia lakukan pada Teresa kini kembali menimpanya berlipat ganda.Di ruang bawah tanah, dia gemetar ketakutan. Saat melihat pintu terbuka dan cahaya masuk, dia sempat tidak bereaksi, sampai Alex melangkah masuk. Barulah dia tersadar, lalu merangkak cepat dan memeluknya erat seperti melihat jerami penyelamat."Alex, aku salah! Maafkan aku! Aku nggak akan pernah lagi mengganggumu dan Teresa! Aku akan pergi sejauh mungkin, nggak akan lagi mengganggu kalian. Lepaskan aku! Aku benar-benar tahu aku salah!"Sambil memohon, wanita itu menangis tersedu-sedu. Keadaannya tampak sangat menyedihkan.Alex tidak berbicara. Dia menatap wajah itu dengan saksama. Kemurnian dan kecantikannya telah hilang, yang tersisa hanyalah hasrat dan keserakahan tanpa akhir. Mengapa dirinya bisa kehilangan orang terpenting demi wanita seperti ini?Memikirkan hal itu membuat

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 21

    Tak lama kemudian, Ivy datang. Begitu menerima telepon dari Teresa, dia langsung bergegas ke sana. Sudah sebulan mereka tidak bertemu. Begitu Ivy tiba, dia langsung menerjang ke pelukan sahabatnya."Ivy!"Ekspresi Teresa pun melunak. Dia memeluk Ivy."Ivy, kamu datang."Mereka duduk bersama dan berbincang sebentar. Saat tiba waktunya berpisah, Ivy tak kuasa merasa bersalah."Maaf, aku seharusnya nggak luluh dan membiarkan kakakku mencarimu. Aku malah merepotkanmu dengan begitu banyak masalah."Teresa mencubit pipinya pelan. "Nggak apa-apa. Meskipun kamu nggak bilang apa-apa, Alex tetap akan mencari cara sendiri. Daripada sakit berkepanjangan, lebih baik sakit sebentar dan semuanya diperjelas."Meskipun begitu, Ivy tetap merasa sangat tidak enak hati. Dia sendiri tidak menyangka kakaknya bisa segila itu sampai nekat kehujanan semalaman tanpa peduli nyawanya. Dia menoleh ke arah Alex yang tidak jauh dari mereka. Alex menatap ke arah mereka dengan penuh kerinduan tertahan.Akhirnya, Ivy t

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 20

    Dia terus duduk terpaku di kafe itu. Hingga tempat itu tutup, barulah dia pergi.Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya dipenuhi rasa sakit. Justru karena itulah, dia semakin jelas menyadari betapa pentingnya Teresa baginya. Dia benar-benar telah kehilangan Teresa!Seandainya Felly tidak kembali .... Seandainya dia lebih cepat menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Teresa .... Seandainya dia tidak mengecewakan Teresa ....Kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya melintas di benak Alex, tetapi dia sudah tidak memiliki jalan untuk kembali.Dengan perasaan linglung, dia berjalan di jalanan luar negeri. Tiba-tiba, kilat menyambar, disusul hujan deras. Orang-orang di jalan berlarian pulang untuk berteduh, tetapi Alex tidak tahu harus pergi ke mana.Dia berjalan di tengah hujan sambil melafalkan nama Teresa. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dengan penuh harap, dia mengambil ponselnya. Pesan dari Ivy.[ Kak, pulanglah. ]Menatap kalimat itu,

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 19

    Tempat yang mereka sepakati adalah sebuah kafe. Saat Alex mendorong pintu dan masuk, lonceng angin berbunyi pelan. Begitu melangkah ke dalam, dia langsung melihat Teresa yang duduk di sudut.Baru satu bulan tidak bertemu, tetapi rasanya seperti setahun penuh penderitaan. Hingga saat ini, ketika akhirnya benar-benar melihatnya, Alex justru diliputi perasaan linglung. Teresa berubah banyak.Saat masih di sisinya, karena berstatus sebagai sekretaris, pakaian yang paling sering dia kenakan adalah busana kerja. Bahkan setelah pulang kantor, meskipun mereka melakukan berbagai hal di rumah, Teresa selalu memberinya kesan serius.Namun sekarang, dia mengenakan pakaian kasual. Rambutnya disanggul, memperlihatkan lehernya yang putih dan ramping. Pemandangan itu membuat Alex merasa seolah-olah kembali ke masa lalu, saat awal-awal Teresa yang masih polos diam-diam menyukainya.Dia terdiam beberapa saat sebelum melangkah mendekat, lalu menyapa sambil tersenyum, "Teresa, sudah lama nggak ketemu."Al

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 18

    Ivy mengirim pesan kepada Teresa, tetapi karena ada selisih beberapa jam antara dalam negeri dan luar negeri, Ivy menyarankan agar Alex pulang lebih dulu. Katanya, begitu ada kabar, dia pasti akan segera memberi tahu. Namun, Alex sama sekali tidak mau pergi.Dia bersikeras tinggal di tempat tinggal adiknya, tidur di sofa. Sedikit saja ada suara, dia langsung terbangun, berharap itu adalah pesan dari Teresa.Baru pada malam hari keesokan harinya, Ivy menerima balasan.[ Oke, aku akan bertemu dengannya. ]Hanya beberapa kata singkat, tetapi itu sudah membawa harapan besar bagi Alex. Teresa masih mau menemuinya! Itu berarti masih ada kemungkinan di antara mereka!Dengan perasaan berdebar penuh kegembiraan, Alex tidak sabar membeli tiket pesawat paling cepat. Ivy menariknya, mengerutkan kening tanda tidak setuju."Kak, istirahatlah satu hari dulu baru berangkat. Kamu sudah beberapa hari nggak istirahat, 'kan? Karena Teresa sudah bilang mau bertemu, dia pasti nggak akan ingkar janji."Alex

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status