Share

Penantian yang Tak Kunjung Datang
Penantian yang Tak Kunjung Datang
Penulis: Yuranda

Bab 1

Penulis: Yuranda
"Bu Teresa, berkas pengunduran dirimu sudah disetujui oleh Pak Alex, tapi dia nggak sadar bahwa yang mengundurkan diri adalah kamu. Perlu aku ingatkan dia?"

Mendengar kabar dari telepon itu, Teresa perlahan menundukkan pandangan, "Nggak perlu. Biarkan saja seperti ini."

"Tapi kamu sudah empat tahun jadi sekretaris di sisi Pak Alex. Dia paling puas dengan kinerjamu dan juga paling nggak bisa lepas darimu. Soal pengunduran diri ini, apa kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya lagi?"

Bagian personalia membujuk dengan sabar, tetapi Teresa hanya tersenyum kecil.

"Di dunia ini nggak ada siapa pun yang benar-benar nggak bisa hidup tanpa orang lain. Kondisi tubuh orang tuaku kurang baik, aku juga masih harus pulang ke kampung halaman untuk dijodohkan dan menikah. Karena Alex sudah menyetujui permohonan ini, aku akan mengikuti alur serah terima pekerjaan. Sebulan lagi aku akan pergi. Maaf merepotkanmu."

Setelah telepon ditutup, Teresa kembali membereskan barang-barangnya. Dia sudah tinggal di vila ini selama tiga tahun. Barangnya tidak bisa dibilang sedikit, tetapi juga tidak banyak. Selain beberapa kebutuhan pokok, sisanya dia buang.

Melihat kamar yang perlahan menjadi kosong, dia sempat tertegun sesaat. Kenangan demi kenangan menghantamnya.

Delapan tahun lalu, Teresa adalah gadis kota kecil dengan latar belakang keluarga yang biasa. Dia diterima di Universitas Harper. Di sana, dia menjadi sahabat dekat Ivy, putri dari keluarga kaya ternama di Kota Sarvan.

Dua gadis dengan latar belakang keluarga yang sangat berbeda itu malah merasa sangat cocok. Mereka kuliah, makan, dan berbelanja. Hampir setiap hari mereka selalu bersama.

Perlahan-lahan, Teresa dibawa masuk ke lingkaran pergaulan Ivy. Dia mengenal keluarga Ivy dan tanpa sadar jatuh cinta pada kakaknya, Alex. Namun, perasaan itu dia pendam dalam hati dan tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Setelah lulus, Ivy pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Teresa tetap tinggal di Kota Sarvan. Dia mengirimkan lamaran kerja, lalu menjadi sekretaris Alex agar bisa sering bertemu dengannya.

Hingga suatu insiden terjadi, Alex diberi obat oleh seseorang.

Teresa baru hendak menghubungi rumah sakit, tetapi Alex yang sudah kehilangan kendali menekannya ke dinding, lalu terus-menerus menciuminya.

Setelah semalaman yang penuh kekacauan, dia melihat Alex duduk di dekat jendela saat terbangun. Wajahnya yang tegas tersembunyi di balik asap rokok. Penampilannya tampak tenang dan sepi.

Mendengar suara gerakan, dia menoleh dan hanya bertanya, "Kamu suka aku?"

Teresa refleks ingin menyangkal, tetapi Alex melanjutkan dengan nada datar.

"Setiap kali melihatku, kamu selalu tersipu. Kamu mengingat semua pantangan dan kesukaanku. Begitu lulus, kamu langsung datang melamar untuk menjadi sekretarisku ...."

"Jangan bilang padaku, semua itu cuma kebetulan." Dia mengucapkannya kata demi kata, membuat wajah Teresa memerah, entah karena malu atau karena rasa bersalah.

Dalam keheningan, dia tiba-tiba menyodorkan sebuah kartu.

"Semalam hanyalah sebuah kecelakaan. Aku punya orang yang aku sukai. Aku nggak akan membalas perasaanmu dan juga nggak bisa bertanggung jawab padamu. Aku dengar dari Ivy kalau latar belakang keluargamu biasa saja. Uang di kartu ini cukup untuk membuatmu hidup tanpa kekhawatiran seumur hidup. Lupakan semua ini."

Teresa tertegun mendengarnya. Saat itu juga dia teringat, Alex memang terus memanggil sebuah nama di atas ranjang semalam.

Felly. Felly.

Dalam cerita Ivy, Felly adalah cinta pertama Alex yang tak pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya.

Saking cintanya, meski mereka sudah putus dan wanita itu pergi ke luar negeri, bahkan berkali-kali terseret rumor dengan pria lain, Alex tetap bersikeras menunggunya pulang.

Teresa masih ingat, saat Ivy mengeluh dulu, dia pernah mengatakan satu kalimat.

"Keluarga kami ini paling dingin dan nggak berperasaan. Entah gimana ceritanya bisa muncul kakakku yang sesetia itu. Setelah menunggu bertahun-tahun, dia masih saja berkata bahwa semua pria itu hanya sekadar pengganti. Dia juga nggak mau sekadar mengalah."

Teresa sangat merasakan makna kalimat itu. Saat mengingatnya sekarang, entah dari mana datangnya keberanian, dia tiba-tiba memanggil Alex yang hendak keluar.

"Aku nggak mau uang. Aku hanya ingin kamu memberiku satu kesempatan. Alex, tolong cobalah bersamaku. Kalau dia nggak kembali, atau kalau suatu hari dia kembali tapi kamu masih belum bisa melepaskannya, saat itu aku akan pergi dengan sukarela."

Menghadapi tatapan matanya yang penuh cinta, Alex terdiam beberapa detik, lalu meninggalkan sepatah kalimat yang singkat sebelum pergi. "Terserah kamu."

Sejak saat itu, Teresa adalah sekretarisnya di siang hari, dan di malam hari dia adalah pasangan ranjang pribadinya.

Kantor, Maybach, dan jendela kaca vila mereka semua pernah menjadi saksi jejak-jejak kegilaan yang tak terhitung jumlahnya.

Empat tahun berlalu. Tidak ada seorang pun yang tahu hubungan tersembunyi di antara mereka dan Teresa pun menjalaninya dengan sepenuh hati. Hingga beberapa hari lalu saat ulang tahun Alex, Teresa menyiapkan banyak kejutan untuk merayakannya.

Namun, hingga lewat tengah malam, yang dia tunggu bukanlah kehadirannya, melainkan sebuah unggahan di media sosial.

[ Hadiah ulang tahun terbaik adalah sesuatu yang kembali setelah sempat hilang. ]

Alex, yang selama ini tak pernah mengunggah apa pun di media sosial, malah memajang sebuah foto dirinya berciuman dengan Felly di bawah langit penuh kembang api.

Begitu melihat foto itu, wajah Teresa langsung pucat dan dadanya terasa sesak. Dengan sisa harapan terakhir, dia menelepon Alex.

Namun, yang menjawab telepon adalah Felly. Setelah beberapa kali mengucap "halo" tanpa mendapat jawaban, barulah dia memanggil Alex. "Alex, siapa sih yang namanya Teresa ini? Dia meneleponmu tapi nggak bicara apa-apa."

Sesaat kemudian, suara Alex yang rendah dan datar terdengar lewat pengeras suara. "Orang yang nggak penting, nggak usah dipedulikan. Tidurlah lagi yang manis."

Pada saat itu juga, Teresa tahu, sudah waktunya dia mundur dari panggung ini. Dia membereskan barang-barangnya dan bersiap pergi, tetapi bertemu Alex di depan pintu.

Karena sebelumnya mereka tidur bersama hampir setiap hari, Teresa memang tinggal di vilanya demi mempermudah bertemu. Namun sekarang, dia tidak bisa tinggal lagi.

Melihat Teresa memeluk barang-barangnya, pandangan Alex sedikit mengeras, tetapi dia tidak menahannya. "Sudah dapat tempat tinggal?"

"Sudah. Masih apartemen sewaan yang lama. Aku sudah bicara sama pemiliknya, sewa satu bulan."

Mendengar hal itu, Alex mengernyit. "Satu bulan? Kenapa?"

Teresa baru hendak menjelaskan, tetapi Alex seolah tidak terlalu tertarik. Dengan suara berat, dia berkata, "Aku antar."

Teresa ingin menolak, tetapi Alex tetap bersikeras. "Saljunya terlalu lebat dan sudah terlalu malam. Kalau kamu kenapa-kenapa, Ivy akan sedih."

Teresa terpaksa naik ke mobil.

Dulu, mereka sudah melakukan begitu banyak hal gila di mobil ini. Namun sekarang, Teresa hampir tidak mengenalinya lagi. Di dalam mobil terdapat berbagai boneka lucu, sarung jok diganti motif Hello Kitty, camilan ada di mana-mana.

Teresa sulit membayangkan bahwa pria setegas dan sedingin ini bisa mendekorasi mobilnya menjadi seperti ini. Seolah menyadari tatapan Teresa, Alex memberi penjelasan singkat, "Felly suka hal-hal seperti ini."

Teresa memahami makna di balik kata-katanya. Setelah lama terdiam, dia baru menjawab dengan suara pelan, "Akhirnya kamu berhasil menunggunya kembali. Aku turut bahagia untukmu."

Alex tidak menyangka Teresa akan mengatakan hal itu. Sorot matanya sedikit meredup dan dia tidak berkata apa-apa lagi.

Di tengah perjalanan, Felly menelepon dan mengatakan ingin membuat manusia salju bersamanya. Alex menepi dan berniat segera pergi menemuinya, tetapi ketika melirik orang di sampingnya, dia kembali ragu.

Teresa tahu apa yang sedang dia pertimbangkan, lalu berinisiatif sendiri membuka pintu mobil. "Pak Alex, aku naik taksi saja."

Alex menggumamkan persetujuan, lalu turun membantu menurunkan barang-barangnya.

Tangannya terpeleset dan koper itu terjatuh ke tanah. Alex membungkuk. Melihat benda-benda yang berserakan di tanah di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya seketika menegang.

Surat-surat cinta yang ditulis dengan namanya tetapi tak pernah dikirim, foto-foto dirinya yang entah kapan diam-diam diambil, juga barang-barang yang pernah dia buang sembarangan lalu dipungut kembali dan disimpan dengan rapi.

Jantung Teresa berdegup keras. Dengan panik, dia memunguti semuanya.

"Maaf."

Alex tidak mengatakan apa pun. Dia naik ke mobil dan melaju pergi dengan cepat.

Teresa menunggu lama di tengah salju, tetapi tidak juga mendapatkan taksi. Dia berniat memeluk koper itu dan berjalan pulang, tetapi malah tertabrak sepeda listrik. Di betisnya tergores luka sepanjang lebih dari 20 sentimeter, darah mengalir membasahi salju.

Melihat kendaraan yang menabraknya melarikan diri, dia menahan napas karena sakit. Dia tergeletak di salju cukup lama dan tak mampu bangkit.

Setelah rasa sakitnya agak mereda, barulah dia berjalan tertatih-tatih menembus salju selama empat jam, hingga akhirnya tiba di apartemen sewaannya.

Usai membersihkan lukanya, dia membuka ponsel dan mendapati sebuah pesan dari Alex yang dikirim setelah dia pergi.

[ Ke depannya, jangan mencintai seseorang dengan sebodoh ini. Ada banyak pria di dunia ini. Jangan menggantungkan hidupmu di satu pria sepertiku. ]

Teresa menatap pesan itu sangat lama.

Saat hari mulai terang, dia turun ke bawah gedung dan menyalakan api, lalu membakar seluruh isi koper itu. Cinta yang telah membara tanpa henti di dalam tubuhnya selama delapan tahun pun ikut berubah menjadi abu.

Alex, aku akan menuruti keinginanmu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 23

    Setahun kemudian, Ivy menerima pesan singkat dari Teresa. Sahabatnya akan menikah dan mengundangnya menjadi pendamping pengantin!Ivy begitu senang sampai tak bisa menahan diri. Dia langsung mengesampingkan semua pekerjaannya dan membeli tiket untuk terbang ke sana. Tentu saja, Alex juga mengetahui kabar ini dari adiknya.Tangannya membeku sejenak, lalu dia menundukkan pandangan, berpura-pura tidak peduli saat bertanya, "Cepat sekali sudah mau nikah?"Selama setahun ini, dia sering mengetahui kabar terbaru Teresa dari adiknya, juga tahu bahwa Teresa memiliki seorang pacar yang sangat mencintainya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Teresa akan segera menikah.Tak jelas perasaan apa yang ada di hatinya. Alex hanya merasa pandangannya menjadi kabur, tak bisa melihat jelas tulisan di bawah pena. Dia mendengar suara Teresa dari ponsel Ivy yang disetel pengeras suara. Terdengar lembut dan hangat."Ya, memang sudah saatnya nikah. Aku akhirnya bertemu orang yang cocok dan nggak ingin menunggu l

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 22

    Selama periode ini, Felly disiksa dengan sangat menyedihkan. Dia tidak makan dengan cukup dan tidak tidur dengan layak. Semua hal yang dulu pernah dia lakukan pada Teresa kini kembali menimpanya berlipat ganda.Di ruang bawah tanah, dia gemetar ketakutan. Saat melihat pintu terbuka dan cahaya masuk, dia sempat tidak bereaksi, sampai Alex melangkah masuk. Barulah dia tersadar, lalu merangkak cepat dan memeluknya erat seperti melihat jerami penyelamat."Alex, aku salah! Maafkan aku! Aku nggak akan pernah lagi mengganggumu dan Teresa! Aku akan pergi sejauh mungkin, nggak akan lagi mengganggu kalian. Lepaskan aku! Aku benar-benar tahu aku salah!"Sambil memohon, wanita itu menangis tersedu-sedu. Keadaannya tampak sangat menyedihkan.Alex tidak berbicara. Dia menatap wajah itu dengan saksama. Kemurnian dan kecantikannya telah hilang, yang tersisa hanyalah hasrat dan keserakahan tanpa akhir. Mengapa dirinya bisa kehilangan orang terpenting demi wanita seperti ini?Memikirkan hal itu membuat

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 21

    Tak lama kemudian, Ivy datang. Begitu menerima telepon dari Teresa, dia langsung bergegas ke sana. Sudah sebulan mereka tidak bertemu. Begitu Ivy tiba, dia langsung menerjang ke pelukan sahabatnya."Ivy!"Ekspresi Teresa pun melunak. Dia memeluk Ivy."Ivy, kamu datang."Mereka duduk bersama dan berbincang sebentar. Saat tiba waktunya berpisah, Ivy tak kuasa merasa bersalah."Maaf, aku seharusnya nggak luluh dan membiarkan kakakku mencarimu. Aku malah merepotkanmu dengan begitu banyak masalah."Teresa mencubit pipinya pelan. "Nggak apa-apa. Meskipun kamu nggak bilang apa-apa, Alex tetap akan mencari cara sendiri. Daripada sakit berkepanjangan, lebih baik sakit sebentar dan semuanya diperjelas."Meskipun begitu, Ivy tetap merasa sangat tidak enak hati. Dia sendiri tidak menyangka kakaknya bisa segila itu sampai nekat kehujanan semalaman tanpa peduli nyawanya. Dia menoleh ke arah Alex yang tidak jauh dari mereka. Alex menatap ke arah mereka dengan penuh kerinduan tertahan.Akhirnya, Ivy t

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 20

    Dia terus duduk terpaku di kafe itu. Hingga tempat itu tutup, barulah dia pergi.Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya dipenuhi rasa sakit. Justru karena itulah, dia semakin jelas menyadari betapa pentingnya Teresa baginya. Dia benar-benar telah kehilangan Teresa!Seandainya Felly tidak kembali .... Seandainya dia lebih cepat menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Teresa .... Seandainya dia tidak mengecewakan Teresa ....Kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya melintas di benak Alex, tetapi dia sudah tidak memiliki jalan untuk kembali.Dengan perasaan linglung, dia berjalan di jalanan luar negeri. Tiba-tiba, kilat menyambar, disusul hujan deras. Orang-orang di jalan berlarian pulang untuk berteduh, tetapi Alex tidak tahu harus pergi ke mana.Dia berjalan di tengah hujan sambil melafalkan nama Teresa. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dengan penuh harap, dia mengambil ponselnya. Pesan dari Ivy.[ Kak, pulanglah. ]Menatap kalimat itu,

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 19

    Tempat yang mereka sepakati adalah sebuah kafe. Saat Alex mendorong pintu dan masuk, lonceng angin berbunyi pelan. Begitu melangkah ke dalam, dia langsung melihat Teresa yang duduk di sudut.Baru satu bulan tidak bertemu, tetapi rasanya seperti setahun penuh penderitaan. Hingga saat ini, ketika akhirnya benar-benar melihatnya, Alex justru diliputi perasaan linglung. Teresa berubah banyak.Saat masih di sisinya, karena berstatus sebagai sekretaris, pakaian yang paling sering dia kenakan adalah busana kerja. Bahkan setelah pulang kantor, meskipun mereka melakukan berbagai hal di rumah, Teresa selalu memberinya kesan serius.Namun sekarang, dia mengenakan pakaian kasual. Rambutnya disanggul, memperlihatkan lehernya yang putih dan ramping. Pemandangan itu membuat Alex merasa seolah-olah kembali ke masa lalu, saat awal-awal Teresa yang masih polos diam-diam menyukainya.Dia terdiam beberapa saat sebelum melangkah mendekat, lalu menyapa sambil tersenyum, "Teresa, sudah lama nggak ketemu."Al

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 18

    Ivy mengirim pesan kepada Teresa, tetapi karena ada selisih beberapa jam antara dalam negeri dan luar negeri, Ivy menyarankan agar Alex pulang lebih dulu. Katanya, begitu ada kabar, dia pasti akan segera memberi tahu. Namun, Alex sama sekali tidak mau pergi.Dia bersikeras tinggal di tempat tinggal adiknya, tidur di sofa. Sedikit saja ada suara, dia langsung terbangun, berharap itu adalah pesan dari Teresa.Baru pada malam hari keesokan harinya, Ivy menerima balasan.[ Oke, aku akan bertemu dengannya. ]Hanya beberapa kata singkat, tetapi itu sudah membawa harapan besar bagi Alex. Teresa masih mau menemuinya! Itu berarti masih ada kemungkinan di antara mereka!Dengan perasaan berdebar penuh kegembiraan, Alex tidak sabar membeli tiket pesawat paling cepat. Ivy menariknya, mengerutkan kening tanda tidak setuju."Kak, istirahatlah satu hari dulu baru berangkat. Kamu sudah beberapa hari nggak istirahat, 'kan? Karena Teresa sudah bilang mau bertemu, dia pasti nggak akan ingkar janji."Alex

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status