Share

Bab 2

Penulis: Yuranda
Setelah beristirahat selama dua hari di akhir pekan, pada hari Senin Teresa datang ke kantor tepat waktu. Dia menangani pekerjaannya seperti biasa, lalu memberi tahu Alex bahwa akan segera ada rapat.

Saat berjalan ke arah kantor, dia melihat Felly melalui celah pintu yang setengah terbuka.

Felly duduk di pangkuan Alex, menyuapinya biskuit yang sudah dia makan setengah.

Pria yang biasanya sangat menjaga kebersihan itu tersenyum lalu memakannya, bahkan mengecup jari-jarinya dengan mesra. Dia berkata dengan suara lembut, "Kemarin kamu bilang ingin makan dessert dari tempat ini. Tadi pagi aku sengaja antre tiga jam untuk beli. Gimana rasanya?"

"Enak sekali, sama seperti dulu, manis tapi nggak bikin enek. Dulu kamu sering pergi jauh-jauh untuk belikan buatku. Sekarang kamu sudah jadi presdir perusahaan, kenapa masih pergi sendiri? Tinggal suruh sekretaris saja."

Alex memijat pergelangan kakinya dengan lembut, sorot matanya penuh kasih sayang. "Hal yang berhubungan denganmu, aku ingin mengerjakannya sendiri. Aku nggak ingin menyerahkannya pada orang lain."

Wajah Felly dipenuhi senyum manis. Dia merangkul Alex lebih dulu dan menciumnya.

Alex pun memeluknya kembali dan memperdalam ciuman itu, lalu tenggelam di dalamnya tanpa mampu melepaskan diri.

Melihat pemandangan itu, napas Teresa terasa terhenti, rasa perih dan asam menyebar di dadanya. Dia menggenggam jari-jarinya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih, telapak tangannya terluka dan berdarah.

Waktu berlalu detik demi detik, rapat hampir dimulai.

Teresa menenangkan diri, lalu mengangkat tangan dan mengetuk pintu. "Pak Alex, rapat akan segera dimulai."

Mendengar suaranya, Alex sedikit tertegun. Dia baru hendak berdiri, tetapi ditarik kembali oleh Felly. "Aku nggak ingin kamu pergi. Temani aku sebentar lagi, ya."

Melihatnya bersikap manja, hati Alex langsung melembut. "Tunda rapat dua jam."

Proyek yang akan dibahas dalam rapat ini menyangkut kerja sama beberapa grup besar di Kota Sarvan dan sangat penting bagi perkembangan perusahaan ke depannya.

Teresa tahu betul betapa pentingnya Ffelly, tetapi tetap tak bisa menahan diri untuk mengingatkan, "Para presdir dari tiga perusahaan sudah menunggu di ruang rapat ...."

"Aduh, Alex, sekretarismu ini menyebalkan sekali, nggak tahu membaca situasi!"

Mendengar keluhan Felly, raut wajah Alex ikut mengeras. "Aku sudah bilang, tunda dua jam. Pekerjaan apa pun nggak ada yang lebih penting dari Felly!"

Dada Teresa terasa sesak dan napasnya pun agak sulit. Namun pada akhirnya, dia hanya menutup pintu dan berbalik pergi tanpa sepatah kata pun.

Semua orang di industri ini tahu, Alex adalah seorang maniak kerja.

Tak peduli seberapa sibuk urusan pribadinya, bahkan setelah baru saja menjalani operasi, dia tetap akan bekerja sambil menahan sakit hingga semua urusan selesai. Menunda rapat sepenting ini hanya karena beberapa kata manja, dengan risiko menyinggung para mitra kerja sama, ini adalah pertama kalinya terjadi.

Apakah dia memang secinta itu terhadap Felly?

Teresa menundukkan pandangan matanya yang meredup. Dia memaksakan diri untuk menata emosi, lalu masuk ke ruang rapat untuk menyampaikan permintaan maaf kepada para direktur.

Keluarga Fransiskus memiliki pengaruh besar. Meski para presdir itu tidak puas, mereka tidak berani membicarakan Alex secara langsung, sehingga seluruh amarah dilampiaskan kepadanya.

Teresa tidak berani membantah, hanya bisa menunduk dan menerima omelan serta makian.

Dua jam penuh dia bertahan dengan paksa, Alex akhirnya datang juga. Dengan kaki yang pegal dan mati rasa, Teresa keluar dari ruang rapat, tetapi kembali dipanggil oleh Felly.

"Kamu Teresa, ya? Kata Alex, kopi buatanmu enak. Aku lihat semua orang di kantor sudah cukup lelah, kamu siapkan satu cangkir untuk masing-masing, ya. Punyaku pakai es tanpa gula."

Teresa tahu, Felly bersikap sewenang-wenang karena mengandalkan kasih sayang Alex. Dia tidak berani menolak, sehingga terpaksa berjalan menuju ruang teh.

Butuh dua jam penuh baginya untuk menyiapkan lebih dari 400 cangkir kopi, lalu satu per satu dia antarkan keluar.

Namun baru satu tegukan pertama, ekspresi Felly langsung berubah. Dia mengangkat cangkir itu dan melemparkannya. Gelas mug yang keras menghantam dahi Teresa hingga robek dan berdarah. Penampilannya tampak begitu mengerikan.

Teresa mengerang tertahan, wajahnya langsung mengerut kesakitan. Sambil menutup lukanya, dia terjatuh ke lantai.

Felly masih belum puas melampiaskan amarah. Dia kembali meraih cangkir-cangkir kopi dan terus melemparkannya ke arah Teresa.

Seluruh tubuh Teresa dipenuhi lebam biru keunguan, sementara pecahan keramik menggores kulitnya, meninggalkan garis-garis luka berdarah. Cairan kopi berwarna cokelat menyiram seluruh tubuh Teresa hingga basah kuyup, bercampur dengan darah merah pekat yang menetes ke lantai.

Rasa sakitnya luar biasa, tetapi dia hanya bisa meringkuk sambil melindungi kepala dan dadanya.

Kantor mendadak sunyi senyap. Tidak seorang pun berani maju menegur. Semua menjauh, hanya berani menonton Felly meluapkan amarahnya dari kejauhan.

Tak lama kemudian, keributan yang cukup besar ini menarik perhatian Alex hingga dia keluar. Melihat lantai yang berantakan dan Teresa yang tergeletak penuh luka, keningnya langsung berkerut.

"Ada apa ini?"

Begitu melihatnya, Felly segera memasang wajah menyedihkan. "Alex, aku suruh sekretarismu buatin kopi. Aku sedang haid, tapi dia malah tambahin es ke dalam cangkir. Perutku jadi sangat sakit."

Melihat mata Felly yang memerah, ekspresi Alex seketika menjadi suram.

"Kamu sudah mengikutiku empat tahun, tapi hal sesederhana ini saja nggak bisa kamu kerjakan dengan benar? Atau kamu memang punya masalah dengan Felly dan sengaja menargetkannya?"

Teresa mengangkat wajahnya yang pucat dan hendak menjelaskan, tetapi dia sama sekali tidak diberi kesempatan berbicara. Alex langsung memanggil asistennya.

"Teresa melanggar peraturan perusahaan. Potong gaji bulan ini dan bonus kuartal, umumkan ke seluruh perusahaan, dan minta dia melakukan evaluasi diri pada rapat besar minggu depan."

Setelah itu, Alex melepas jasnya, lalu menggendong Felly dan pergi begitu saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 23

    Setahun kemudian, Ivy menerima pesan singkat dari Teresa. Sahabatnya akan menikah dan mengundangnya menjadi pendamping pengantin!Ivy begitu senang sampai tak bisa menahan diri. Dia langsung mengesampingkan semua pekerjaannya dan membeli tiket untuk terbang ke sana. Tentu saja, Alex juga mengetahui kabar ini dari adiknya.Tangannya membeku sejenak, lalu dia menundukkan pandangan, berpura-pura tidak peduli saat bertanya, "Cepat sekali sudah mau nikah?"Selama setahun ini, dia sering mengetahui kabar terbaru Teresa dari adiknya, juga tahu bahwa Teresa memiliki seorang pacar yang sangat mencintainya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Teresa akan segera menikah.Tak jelas perasaan apa yang ada di hatinya. Alex hanya merasa pandangannya menjadi kabur, tak bisa melihat jelas tulisan di bawah pena. Dia mendengar suara Teresa dari ponsel Ivy yang disetel pengeras suara. Terdengar lembut dan hangat."Ya, memang sudah saatnya nikah. Aku akhirnya bertemu orang yang cocok dan nggak ingin menunggu l

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 22

    Selama periode ini, Felly disiksa dengan sangat menyedihkan. Dia tidak makan dengan cukup dan tidak tidur dengan layak. Semua hal yang dulu pernah dia lakukan pada Teresa kini kembali menimpanya berlipat ganda.Di ruang bawah tanah, dia gemetar ketakutan. Saat melihat pintu terbuka dan cahaya masuk, dia sempat tidak bereaksi, sampai Alex melangkah masuk. Barulah dia tersadar, lalu merangkak cepat dan memeluknya erat seperti melihat jerami penyelamat."Alex, aku salah! Maafkan aku! Aku nggak akan pernah lagi mengganggumu dan Teresa! Aku akan pergi sejauh mungkin, nggak akan lagi mengganggu kalian. Lepaskan aku! Aku benar-benar tahu aku salah!"Sambil memohon, wanita itu menangis tersedu-sedu. Keadaannya tampak sangat menyedihkan.Alex tidak berbicara. Dia menatap wajah itu dengan saksama. Kemurnian dan kecantikannya telah hilang, yang tersisa hanyalah hasrat dan keserakahan tanpa akhir. Mengapa dirinya bisa kehilangan orang terpenting demi wanita seperti ini?Memikirkan hal itu membuat

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 21

    Tak lama kemudian, Ivy datang. Begitu menerima telepon dari Teresa, dia langsung bergegas ke sana. Sudah sebulan mereka tidak bertemu. Begitu Ivy tiba, dia langsung menerjang ke pelukan sahabatnya."Ivy!"Ekspresi Teresa pun melunak. Dia memeluk Ivy."Ivy, kamu datang."Mereka duduk bersama dan berbincang sebentar. Saat tiba waktunya berpisah, Ivy tak kuasa merasa bersalah."Maaf, aku seharusnya nggak luluh dan membiarkan kakakku mencarimu. Aku malah merepotkanmu dengan begitu banyak masalah."Teresa mencubit pipinya pelan. "Nggak apa-apa. Meskipun kamu nggak bilang apa-apa, Alex tetap akan mencari cara sendiri. Daripada sakit berkepanjangan, lebih baik sakit sebentar dan semuanya diperjelas."Meskipun begitu, Ivy tetap merasa sangat tidak enak hati. Dia sendiri tidak menyangka kakaknya bisa segila itu sampai nekat kehujanan semalaman tanpa peduli nyawanya. Dia menoleh ke arah Alex yang tidak jauh dari mereka. Alex menatap ke arah mereka dengan penuh kerinduan tertahan.Akhirnya, Ivy t

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 20

    Dia terus duduk terpaku di kafe itu. Hingga tempat itu tutup, barulah dia pergi.Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya dipenuhi rasa sakit. Justru karena itulah, dia semakin jelas menyadari betapa pentingnya Teresa baginya. Dia benar-benar telah kehilangan Teresa!Seandainya Felly tidak kembali .... Seandainya dia lebih cepat menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Teresa .... Seandainya dia tidak mengecewakan Teresa ....Kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya melintas di benak Alex, tetapi dia sudah tidak memiliki jalan untuk kembali.Dengan perasaan linglung, dia berjalan di jalanan luar negeri. Tiba-tiba, kilat menyambar, disusul hujan deras. Orang-orang di jalan berlarian pulang untuk berteduh, tetapi Alex tidak tahu harus pergi ke mana.Dia berjalan di tengah hujan sambil melafalkan nama Teresa. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dengan penuh harap, dia mengambil ponselnya. Pesan dari Ivy.[ Kak, pulanglah. ]Menatap kalimat itu,

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 19

    Tempat yang mereka sepakati adalah sebuah kafe. Saat Alex mendorong pintu dan masuk, lonceng angin berbunyi pelan. Begitu melangkah ke dalam, dia langsung melihat Teresa yang duduk di sudut.Baru satu bulan tidak bertemu, tetapi rasanya seperti setahun penuh penderitaan. Hingga saat ini, ketika akhirnya benar-benar melihatnya, Alex justru diliputi perasaan linglung. Teresa berubah banyak.Saat masih di sisinya, karena berstatus sebagai sekretaris, pakaian yang paling sering dia kenakan adalah busana kerja. Bahkan setelah pulang kantor, meskipun mereka melakukan berbagai hal di rumah, Teresa selalu memberinya kesan serius.Namun sekarang, dia mengenakan pakaian kasual. Rambutnya disanggul, memperlihatkan lehernya yang putih dan ramping. Pemandangan itu membuat Alex merasa seolah-olah kembali ke masa lalu, saat awal-awal Teresa yang masih polos diam-diam menyukainya.Dia terdiam beberapa saat sebelum melangkah mendekat, lalu menyapa sambil tersenyum, "Teresa, sudah lama nggak ketemu."Al

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 18

    Ivy mengirim pesan kepada Teresa, tetapi karena ada selisih beberapa jam antara dalam negeri dan luar negeri, Ivy menyarankan agar Alex pulang lebih dulu. Katanya, begitu ada kabar, dia pasti akan segera memberi tahu. Namun, Alex sama sekali tidak mau pergi.Dia bersikeras tinggal di tempat tinggal adiknya, tidur di sofa. Sedikit saja ada suara, dia langsung terbangun, berharap itu adalah pesan dari Teresa.Baru pada malam hari keesokan harinya, Ivy menerima balasan.[ Oke, aku akan bertemu dengannya. ]Hanya beberapa kata singkat, tetapi itu sudah membawa harapan besar bagi Alex. Teresa masih mau menemuinya! Itu berarti masih ada kemungkinan di antara mereka!Dengan perasaan berdebar penuh kegembiraan, Alex tidak sabar membeli tiket pesawat paling cepat. Ivy menariknya, mengerutkan kening tanda tidak setuju."Kak, istirahatlah satu hari dulu baru berangkat. Kamu sudah beberapa hari nggak istirahat, 'kan? Karena Teresa sudah bilang mau bertemu, dia pasti nggak akan ingkar janji."Alex

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status