Share

Bab 6

Penulis: Sangkarachan
last update Tanggal publikasi: 2026-10-16 17:49:41

Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang.

‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka.

Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini.

Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang.

‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri.

Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat.

"Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah.

"Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal akan ditransfer sore ini."

Anggota rapat mengangguk patuh. Namun sebelum pembubaran penuh, Asgakar melirik tajam ke arah Samuel.

"Untukmu, Samuel," suara Asgakar bergetar dingin, menyita perhatian seluruh isi ruangan.

"Posisimu resmi diturunkan menjadi karyawan biasa di bagian pengadaan barang. Penggantimu akan diputuskan oleh pihak HRD berdasarkan kinerja anggota yang memang layak."

Kasak-kusuk langsung terdengar. Tak ada yang menyangka Samuel akan dijatuhkan seketika itu juga.

Grania sempat melirik sekilas ke arah Samuel, tetapi kepalanya yang berdenyut hebat memaksa dirinya bergegas melangkah keluar menuju klinik kantor.

Samuel yang dihantam rasa malu dan dendam tentu saja tidak terima. Melihat Grania berjalan sendirian di koridor, ia langsung mengejarnya.

"Tunggu, Grania!"

Greb!

Samuel mencekal lengan Grania dengan kasar. Sorot matanya tajam dan penuh amarah.

Cengkeraman itu seketika memicu reaksi panik pada tubuh Grania. Perutnya bergejolak hebat, rasa mual dahsyat kembali menyerang hingga napasnya tersengal.

"Pak... Pak Samuel, tolong lepaskan..." ringis Grania pucat pasi. "Tolong menjauh dari saya!"

Bugh!

Sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahang Samuel hingga pria itu tersungkur ke lantai.

"Agh!"

Samuel memegangi pipinya yang berdenyut. Saat ia mendongak berniat memaki pelakunya, matanya membelalak lebar.

Asgakar berdiri menjulang di sana dengan tatapan membunuh.

Tanpa membuang waktu, Asgakar merengkuh bahu Grania, menopang tubuh gadis itu yang hampir ambruk.

Anehnya, alih-alih mual, Grania justru merasa napasnya perlahan stabil saat bersandar pada tubuh Asgakar.

"Tuan... Asgakar?" gumam Samuel ketakutan.

"Rupanya diturunkan menjadi karyawan biasa belum cukup membuatmu belajar dari kesalahan, Samuel," sindir Asgakar dingin.

"Bu-bukan begitu, Tuan! Saya hanya ingin berbicara dengan Grania!" Samuel membela diri.

"Dan dia jelas-jelas menolakmu, tapi kamu memaksanya."

Mata Samuel menyipit heran saat menyadari satu hal, Grania yang biasanya mual hebat jika disentuh pria, kini justru tampak tenang saat dipapah oleh Asgakar.

Galaxy yang menyusul di belakang Asgakar langsung menangkap keanehan tatapan Samuel. Ia memberi kode pada Asgakar untuk segera membawa Grania pergi dari sana.

"Tunggu, Tuan! Kenapa Anda membawa Grania? Dia bawahan saya—"

"Kamu lupa kalau baru saja turun jabatan, Samuel?" potong Galaxy tegas.

"Dan mulai hari ini, kamu dipecat. Ambil sisa gajimu di bagian HRD. Jangan lupa tunggakan mu di kantor juga harus dilunasi."

Tanpa memedulikan Samuel yang mematung pias, Galaxy bergegas menyusul Asgakar ke klinik.

Di klinik kantor, dokter segera memeriksa kondisi Grania yang terbaring lemah.

"Nona Grania mengalami dehidrasi parah dan kurang gizi," terang dokter pada Asgakar.

"Asam lambungnya juga naik. Sepertinya ia terlalu sering lembur dan lupa makan beberapa hari terakhir."

Dokter menyerahkan secarik resep. "Ini resep obat dan vitaminnya. Setelah siuman, pastikan dia beristirahat dan meminum obatnya secara teratur."

Asgakar menerima resep itu. Setelah dokter keluar, ia berdiri mematung di samping brankar, menatap wajah polos Grania yang tertidur lelap.

Satu hal mengusik pikirannya. Ia baru saja memangku dan memapah Grania sampai ke klinik, tetapi kulitnya tidak ruam sama sekali. Tubuhnya baik-baik saja.

‘Jadi benar... cuma dia satu-satunya wanita yang tidak memicu alergi di tubuhku,’ batin Asgakar kagum. ‘Dan ajaibnya, dia malah tertidur pulas tanpa merasa mual sedikit pun saat bersentuhan denganku.’

"Ehem! Jadi semuanya sudah makin jelas, kan?"

Asgakar terlonjak dan refleks menendang kaki Galaxy yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu.

"Aduh! Sialan, sakit, As!" umpat Galaxy sambil meringis.

"Siapa suruh kamu muncul seperti hantu!" balas Asgakar gusar. Ia melempar resep obat Grania ke dada Galaxy.

"Minta orang belikan obat ini sekarang. Setelah itu kita kembali ke ruangan. Tidak enak kalau dilihat karyawan lain."

Galaxy mengangguk paham. Mereka berdua segera meninggalkan area klinik agar tidak menimbulkan rumor di kantor.

**

Beberapa jam berlalu. Grania perlahan membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sepi.

"Jam berapa sekarang?" gumamnya serak.

Grania melirik jam dinding dan seketika terperanjat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore!

"Aku pingsan selama itu?!"

Seorang dokter wanita melangkah mendekat sambil tersenyum. "Akhirnya kamu bangun juga. Pingsanmu agak lama karena pengaruh obat pereda nyeri yang saya berikan tadi."

Dokter itu menyerahkan sebuah kantong berisi obat. "Ini obat dan vitamin milikmu. Sudah dibelikan tadi. Jangan terlambat makan lagi, ya. Kamu sudah boleh pulang sekarang."

Grania mengucapkan terima kasih berkali-kali. Dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan, ia melangkah keluar dari klinik untuk mengambil tasnya di meja kerja lama.

Namun, saat melewati koridor lift khusus pimpinan, langkahnya terhenti. Asgakar baru saja keluar dari ruangan dan melangkah ke arahnya.

Gadis itu refleks menundukkan kepala dalam-dalam. Tatapan dingin dan aura dominan sang CEO selalu sukses membuatnya menciut.

Melihat tingkah Grania, sudut bibir Asgakar terangkat tipis. ‘Lucu sekali kalau sedang takut,’ batinnya.

"Kenapa menunduk? Kamu takut padaku?" tanya Asgakar santai.

Grania panik dan mendongak gagap. "A-ah, tidak... Bukan begitu, Tuan. Saya cuma..."

Grania menahan napas saat Asgakar justru memajukan langkahnya hingga jarak mereka terkikis habis. Pria itu sedikit membungkuk, berbisik tepat di samping telinga Grania.

"Mencium ku saja berani... kenapa menatap mataku tidak berani?"

Tubuh Grania mematung seketika. Muka gadis itu memerah padam. Karena terlalu terkejut, Grania refleks menolehkan kepalanya—

Cup!

Bibir Grania kembali menempel tepat di atas bibir Asgakar.

Waktu seolah berhenti seketika. Mata Grania membelalak lebar, sementara Asgakar ikut terpaku di tempatnya.

Memerlukan waktu dua detik bagi Grania untuk menyadari situasi horor tersebut. Gadis itu langsung mundur tiga langkah dengan wajah merah padam bagai kepiting rebus.

"Ma-maafkan saya, Tuan! Saya benar-benar tidak sengaja!" jerit Grania panik seraya membungkukkan badan berkali-kali.

Tanpa menunggu balasan, Grania berbalik dan berlari kencang menuju tangga darurat.

Asgakar berdiri mematung di koridor sepi. Ia menyentuh bibirnya perlahan, lalu menempelkan telapak tangannya di dada kirinya sendiri. Debaran kencang bertalu-talu menghantam dadanya.

‘Benar-benar tidak alergi…’ batin Asgakar heran. ‘Tapi kenapa jantungku malah berdetak kencang sekali? Apa aku mendadak kena penyakit jantung?’

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 8

    Hari ini perkejaan Grania lebih sibuk dari pada sebelumnya karena proposal kerjanya dan semua yang di butuhkan langsung di ACC oleh Asgakar. Tak hanya itu, Grania juga di minta memeriksa kebutuhan untuk praktek di lapangan. Asgakar yang tak sengaja melihat Grania masih berada di ruangannya pun mendelik. "Jangan sampai kamu pingsan lagi dan menyusahkan banyak orang karena kamu telat makan siang lagi!" Grania yang semula fokus dengan berkas di depan nya mengangkat kepalanya. Sontak dia langsung berdiri ketika melihat Asgakar ada di depan ruangannya. "Tu-tuan Asgakar...." "Sejak kapan Tuan di sana?" "Kenapa memangnya? Aku hanya lewat, bukan ingin mengganggumu." Galaxy yang ada di belakangnya menahan tawa dengan alasan Asgakar. Sementara dia tahu sendiri jika Asgakar penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Grania. Setelah mengatakan itu, Asgakar pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Grania yang melihat itu tentu saja kembali bingung. "D

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 7

    Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat. "Ya ampun!" Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 6

    Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 5

    Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 4

    Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 3

    Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar. Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.Grania hanya ingin bersembunyi.Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang."Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya."Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja."Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Gala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status