Share

Bab 5

Penulis: Sangkarachan
last update Tanggal publikasi: 2026-09-13 12:08:27

Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania.

Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.

Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.

Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan.

Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.

Aroma parfum ini...

Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.

Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.

‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pagi itu... Tuan Asgakar?!’ pekik Grania dalam hati, panik setengah mati.

Jemari Grania meremas kotak makanan di tangannya. ‘Ya Tuhan, mati aku! Kenapa bisa orang setinggi Tuan Asgakar yang kutabrak?!’

Rasanya Grania ingin menghilang saat itu juga dari bumi.

Namun, suara Galaxy memecah keheningan, mengumumkan dimulainya presentasi ide proposal secara individu dari setiap anggota divisi pemasaran.

Grania buru-buru membuang sampahnya dan kembali duduk di kursinya.

Kemudian, satu per satu peserta rapat dipanggil untuk memaparkan konsep mereka.

Grania mencoba mengatur napasnya yang memburu, berusaha membuang rasa paniknya hingga namanya akhirnya dipanggil.

"Nona Grania, silakan maju ke depan untuk mempresentasikan proposal Anda."

Grania menarik napas dalam-dalam. ‘Ingat Nenek di kampung, Grania. Kamu butuh bonus ini,’ batinnya membakar semangat.

Dengan langkah mantap, Grania berdiri di depan layar proyektor. Ia menjelaskan strategi pemasaran yang sangat ramah anggaran namun berdampak luas, berfokus pada pendekatan edukasi kulit langsung kepada masyarakat ketimbang sekadar menyewa model mahal demi tren FOMO.

"Skincare tidak selalu cocok untuk semua orang hanya karena dipakai oleh figur publik terkenal," urai Grania dengan lugas dan penuh percaya diri. "Maka dari itu, promosi lapangan kita akan menyediakan pemeriksaan dokter kulit secara gratis agar konsumen membeli produk sesuai kebutuhan kulit mereka, bukan sekadar ikut-ikutan."

Penjelasan Grania begitu runut, realistis, dan tajam.

Sepanjang presentasi, pandangan Asgakar tak pernah teralih dari wajah gadis itu.

Prok! Prok! Prok!

Asgakar memulai tepuk tangan begitu Grania menutup presentasinya. Ide yang segar dan realistis itu jelas memikat hatinya secara profesional.

Melihat apresiasi tak biasa dari pimpinan tertinggi perusahaan, Samuel yang duduk di sudut ruangan mengetatkan rahangnya. Rasa iri dan tidak suka memercik di dadanya.

Setelah jeda evaluasi singkat, Galaxy kembali berdiri di depan ruangan untuk membacakan keputusan akhir.

"Terima kasih atas kerja keras semua peserta. Berdasarkan kriteria evaluasi, kami memutuskan untuk memilih proposal milik Nona Grania. Selamat untuk Nona Grania!" ujar Galaxy penuh semangat.

Tepuk tangan kembali membahana. Grania menutupi mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru.

‘Nenek... Grania berhasil!’

Galaxy melanjutkan, "Sebagai tindak lanjut, Nona Grania resmi dipindahkan ke tim utama yang dipimpin langsung oleh Tuan Asgakar. Mengenai bonus pembuatan proposal individu, dana akan langsung ditransfer ke rekening pribadi Nona Grania sore ini."

"Tunggu dulu!"

Suara interupsi memotong pengumuman Galaxy. Samuel berdiri dari kursinya dengan raut wajah tak terima.

Asgakar menatap Samuel dengan pandangan datar. "Ada masalah, Samuel?"

"Kenapa hanya Grania yang diangkat ke tim utama dan mendapatkan apresiasi sebesar itu?" protes Samuel lantang. "Kami bekerja sebagai tim! Sebagai Ketua Divisi Pemasaran, seharusnya saya juga diikutsertakan ke tim utama!"

Galaxy menghela napas, sementara Asgakar bersedekap tangan seraya menyandarkan punggungnya di kursi kepemimpinan.

"Samuel, Ketua Divisi Pemasaran Tiga," panggil Asgakar tenang, namun nadanya sarat akan intimidasi. "Apa kamu bahkan membaca ketentuan dan berkas pengajuan rapat hari ini?"

Samuel tertegun, bingung harus menjawab apa.

Asgakar tersenyum sinis. "Di dalam syarat rapat ini, tertera jelas bahwa proposal disusun dan diajukan secara individu, bukan atas nama tim. Itulah sebabnya seluruh anggotamu maju satu per satu mempresentasikan ide mereka sendiri."

Asgakar memajukan tubuhnya, menatap Samuel tajam. "Aku jadi ragu dengan kinerjamu. Apa kamu benar-benar memimpin divisi, atau selama ini kamu cuma menempelkan namamu pada hasil keringat anak buahmu?"

Wajah Samuel seketika pucat pasi. "Bu-bukan begitu, Tuan Asgakar! Saya hanya—"

"Semua anggotamu bekerja keras," potong Asgakar tegas. "Bahkan seluruh peserta rapat hari ini tetap mendapat kompensasi apresiasi senilai dua juta rupiah per orang dari perusahaan. Apa hal mendasar seperti ini saja kamu tidak paham, Samuel?"

Brak!

Asgakar melempar sebuah map dokumen tebal tepat ke hadapan Samuel.

"Itu evaluasi kinerjamu selama enam bulan terakhir," tandas Asgakar dingin. "Tidak ada satu pun pekerjaanmu yang beres, karena selama ini kamu hanya memanfaatkan hasil kerja timmu. Mulai hari ini, posisimu dievaluasi penuh!"

Asgakar kemudian berdiri dan melirik Grania yang masih terpaku. "Nona Grania, kemasi barang-barangmu di lantai bawah. Pindah ke ruang kerja tim utama di lantai teratas sekarang juga."

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 8

    Hari ini perkejaan Grania lebih sibuk dari pada sebelumnya karena proposal kerjanya dan semua yang di butuhkan langsung di ACC oleh Asgakar. Tak hanya itu, Grania juga di minta memeriksa kebutuhan untuk praktek di lapangan. Asgakar yang tak sengaja melihat Grania masih berada di ruangannya pun mendelik. "Jangan sampai kamu pingsan lagi dan menyusahkan banyak orang karena kamu telat makan siang lagi!" Grania yang semula fokus dengan berkas di depan nya mengangkat kepalanya. Sontak dia langsung berdiri ketika melihat Asgakar ada di depan ruangannya. "Tu-tuan Asgakar...." "Sejak kapan Tuan di sana?" "Kenapa memangnya? Aku hanya lewat, bukan ingin mengganggumu." Galaxy yang ada di belakangnya menahan tawa dengan alasan Asgakar. Sementara dia tahu sendiri jika Asgakar penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Grania. Setelah mengatakan itu, Asgakar pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Grania yang melihat itu tentu saja kembali bingung. "D

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 7

    Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat. "Ya ampun!" Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 6

    Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 5

    Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 4

    Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 3

    Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar. Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.Grania hanya ingin bersembunyi.Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang."Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya."Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja."Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Gala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status