LOGINTiga tahun menjalin hubungan, Grania mual dan muntah tiap disentuh oleh kekasihnya. Puncaknya, ia dicampakkan di pinggir jalan dan uang tabungannya dikuras habis untuk selingkuhan kekasihnya! Namun, sebuah insiden tabrakan di kantor mengubah segalanya. Grania tak sengaja mencium seorang pria asing. Anehnya... tak ada rasa mual sedikit pun! Siapa sangka, pria asing itu adalah Asgakar, CEO dingin yang alergi sentuhan wanita, tetapi justru kecanduan sentuhan Grania. "Pria lain membuatmu mual? Bagus. Berarti tubuhmu hanya milikku!" Follow IG : Sangkarachan
View More"Grania, aku nggak ngerti lagi sama kamu. Kenapa sih setiap aku ajakin ciuman kamu selalu kayak gitu? Kamu jijik sama aku, iya?!"
Grania tersentak mendengar nada bicara kekasihnya yang tiba-tiba meninggi. Kemarahan Senapati tampaknya tak lagi bisa terbendung karena Grania lagi-lagi menolak sentuhannya. Padahal mereka sudah berhubungan hampir tiga tahun, tapi sekalipun Senapati tak bisa menyentuh Grania lebih jauh. "Mas Sena, maafkan aku... tapi aku benar-benar langsung mual. Aku nggak tahu kenapa bisa sampai seperti ini," lirih Grania, tubuhnya gemetar halus. Ia juga tidak tahu mengapa setiap kali berdekatan dengan Senapati, perutnya langsung bergejolak hebat. Senapati mengembuskan napas kasar, memilih berbalik dan berjalan menuju pintu kontrakan Grania. "Sudahlah, aku pulang saja. Kamu bikin mood ku rusak! Jangan ganggu aku malam ini!" Blam! Senapati membanting pintu dengan keras. Grania meremas kedua tangannya dengan perasaan tak karuan. Selama tiga tahun bersama, hubungan mereka memang hampa dari sentuhan fisik. Grania tak berani membantah atau mengejar Senapati. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan kekasihnya sendiri. "Maafkan aku... aku benar-benar nggak tahu kenapa selalu begini," bisik Grania pada ruangan yang kini mendadak sunyi. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengusap air mata yang menetes di pipinya. Terpikir olehnya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Tapi apa yang harus dia katakan? Bahwa dirinya mual setiap kali bersentuhan dengan kekasihnya sendiri? “Aku pasti akan disangka gila,” gumam Grania sambil menghela napas panjang. Keesokan paginya, Grania berangkat kerja dengan pikiran yang terus melayang. Beberapa rekan yang menyapanya hanya ia tanggapi seadanya. Begitu tiba di meja kerja, ia sama sekali tak bisa fokus. Biasanya, meski kesal, Senapati akan tetap menghubunginya. Tapi hari ini tidak ada sama sekali. Matanya tertuju pada cincin lamaran dari Senapati yang melingkar di jari manisnya. "Mas Sena pasti masih marah sama aku." Bukan cuma sikap Senapati, bayangan keluarga pria itu pun turut membayangi pikirannya. Keluarga Senapati tak pernah menyukainya karena Grania hanya gadis sebatang kara dan karyawan biasa. Meski sudah cukup lama berpacaran, bahkan Senapati sudah melamarnya, rasanya tak ada perkembangan apa pun. Hubungan mereka terus berjalan di tempat. Merasa kepalanya makin pusing, Grania memilih pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Di depan cermin, ia menatap pantulan wajahnya yang sendu dengan mata sembab. Wajahnya polos tanpa polesan makeup berlebih. Hanya bedak bayi yang biasa ia sapukan tipis-tipis. "Aku harus bagaimana?" bisiknya pada cermin. Setelah membasuh wajah dengan air dingin, Grania berbalik untuk keluar. Namun, baru beberapa langkah melewati pintu toilet, tubuhnya bertabrakan keras dengan seseorang. Bruk! Cup! Mata Grania membola seketika. Bibirnya mendarat tepat di atas bibir pria yang tak sengaja ditabraknya. “....” Beberapa detik berlalu dalam kecanggungan. Grania terlalu syok sampai-sampai tubuhnya kaku, tak segera bangkit dari posisi menindih pria tersebut. Begitu kesadarannya kembali, Grania panik dan secepat kilat bangkit berdiri. "Ma-maafkan saya! Tadi benar-benar nggak sengaja!" Grania membungkukkan badan berkali-kali tanpa berani mendongak. Ia terlalu takut jika orang yang ditabraknya adalah atasan galak atau seseorang yang akan memarahinya. Namun… hening. Tak ada jawaban. Setelah beberapa saat merasa tak ada pergerakan, Grania perlahan memberanikan diri mengangkat kepalanya. Lorong itu sudah kosong melompong. “Loh? Kok nggak ada?” Grania celingukan mencari keberadaan pria tadi, namun lorong sepi seolah tak pernah terjadi apa-apa. "Padahal jelas-jelas tadi ada orang..." Grania baru saja berniat melangkah kembali ke mejanya, tapi mendadak langkahnya terhenti. Jarinya perlahan bergerak menyentuh bibirnya sendiri. Matanya perlahan membelalak lebar saat sebuah kesadaran menghantamnya. "Tunggu, sepertinya ada yang aneh." Gadis itu tertegun. Ia mengingat kembali detik-detik saat bibirnya bersentuhan dengan bibir pria asing tadi. "Kok aku nggak mual?" bisiknya tak percaya. “Kenapa aku merasa biasa aja?!” Padahal kalau Senapati mendekat sedikit saja, ia langsung merasa mual dan mau muntah?! Dada Grania berdebar kencang, kepalanya mendadak berdenyut memikirkan keanehan ini. Siapa … pria itu sebenarnya? Sementara itu, di sebuah ruang rapat di dalam gedung pencakar langit itu, seorang lelaki yang mengenakan setelan jas mahal tampak tidak fokus pada presentasi peserta rapat di hadapannya. Pikirannya melayang, pada seorang gadis, atau lebih tepatnya pada bibir ranum yang belum lama meninggalkan jejak di bibirnya sendiri. Pria itu mengusap bibirnya dengan jemari. ‘Aneh,’ gumamnya dalam hati. Mengapa ia tidak merasa mual dengan kontak fisik itu to be continuedGrania yang masih membungkuk bingung karena tak lagi mendengar suara Asgakar. Ia langsung berdiri tegak kembali. "Kok nggak ada?" Mendadak Grania kebingungan mencari Asgakar. Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "Ia lucu sekali jika panik." Asgakar tak sengaja meliha
Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka
Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag
Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.