Share

Bab 7

Penulis: Sangkarachan
last update Tanggal publikasi: 2026-10-22 14:51:44

Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat.

"Ya ampun!"

Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu.

"Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini."

Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya.

Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali.

Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi.

Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana.

"Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania.

Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri.

Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya.

Asgakar.

"Ia lucu sekali jika panik."

Asgakar tak sengaja melihat Grania berjalan sendirian. Dan rasa penasarannya semakin membawanya ingin terus mengikuti wanita itu.

"Sepertinya hanya dia, wanita yang memang bisa bersentuhan dengan ku. Dan tadi ...ah....bibirnya ...."

Asgakar tanpa sadar menyentuh bibirnya kembali.

Sampai Grania menghilang di balik gang kecil menuju kontrakannya. Asgakar sempat berhenti lama, lalu beberapa menit kemudian dia melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.

#

Keesokan paginya, Grania berangkat dengan perasaan yang masih was-was. Ia takut jika Asgakar akan menuntut ganti rugi karena kejadian kemarin.

Grania langsung menuju ruangan barunya karena hari ini dia juga harus langsung menyiapkan materi baru terkait proyek baru itu.

"Grania, Asgakar memintamu langsung ke ruangannya. Ia ingin kamu menjelaskan langsung kepadanya tentang konsep yang lengkap dari proposal mu."

Tubuh Grania membeku, ia berkedip lucu. Pagi sekali Asgakar juga sudah menghubungi Galaxy untuk menyampaikan perintah itu.

"A-apa hanya aku sendiri Tuan Galaxy?"

"Ya, karena proposal yang di setujui adalah milikmu. Jadi kamu harus menjelaskan lebih detail sebelum nanti di share ke semua anggota."

Mendadak bahu Grania merosot. Ia menciut ketika harus berhadapan dengan Asgakar.

"Uh, ini semua demi Nenek. Ayo Grania, kamu pasti bisa!"

Grania langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Asgakar. Sementara sejak tadi Galaxy terus memperhatikan tingkah Grania.

'Setakut itu dia dengan Asgakar? Apa terjadi sesuatu yang lain?' batin Galaxy.

Di ruangan Asgakar, Grania melangkah perlahan. Terlihat Asgakar tengah sibuk dengan beberapa kertas di depannya.

Sejenak Grania memperhatikan wajah Asgakar.

'Pantas, banyak wanita yang tergila-gila padanya. Ternyata dia memang tampan.'

Plak ....

"Aduh."

Grania memukul pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya sendiri karena dia sempat mengagumi Asgakar.

"Kenapa kamu?"

Grania terlonjak kaget ketika mendengar suara Asgakar yang menegurnya.

"Ti-dak Tuan. Maaf, tadi Tuan Galaxy menyuruh saya kemari, karena Tuan Asgakar ingin membahas proposal kemarin."

"Hem ..."

Asgakar hanya mengangguk lalu dia menyuruh Grania duduk terlebih dahulu.

"Tunggu di sana, kurang sebentar lagi."

Grania duduk dengan ragu. Hati dan pikirannya tak tenang terlebih saat ini dia hanya berdua saja di rumahnya Asgakar.

Karena sibuk melamun, Grania tak sadar jika Asgakar sudah duduk di dekatnya.

"Aku hanya ingin membahas beberapa ide yang kamu sebutkan. Jadi aku akan mulai dari model yang akan kita gunakan."

Grania lagi-lagi terlonjak kaget.

"Astaga, sejak kapan Tuan di situ?"

Grania mengusap dadanya yang berdetak cepat.

"Kamu kebanyakan melamun, jangan bilang kamu memikirkan mantan kekasihmu itu."

Asgakar mendadak kesal mengingat itu.

"Saya tak punya mantan kekasih Tuan Asgakar."

Asgakar menyeringai, ia tahu jika Grania berbohong.

Asgakar mendekat ke arah Grania yang membuat Grania kembali panik.

"Jadi ciuman kemarin adalah ciuman pertama mu? Ah ralat, ciuman pertama dan keduamu dengan ku? Dan aku laki-laki pertama yang kamu cium?"

Wajah Grania berubah pias. Sementara Asgakar semakin mendekat ke arah Grania. Sorot matanya membuat Grania semakin tak karuan.

"I-itu, ciuman...."

Grania tak bisa menjawab apapun. Seketika otaknya kosong karena posisi Asgakar terlalu dekat dengan nya.

Tangan Grania bahkan menahan dada bidang Asgakar.

'Tunggu, aku nggak mual?'

Grania baru tersadar dengan apa yang terjadi. Dia mendorong tubuh Asgakar dengan kuat sampai Asgakar yang tak siap terjengkang ke belakang.

Bruk....

"Aw..."

Asgakar merintih yang membuat Grania semakin panik.

"Astaga...."

"Tuan maaf, saya tidak sengaja."

Grania spontan membantu Asgakar untuk bangun, tapi di saat Grania ingin menjauh Asgakar menahan pinggang wanita itu.

"Tanggung jawab, Nona Grania."

"Dua kali kamu mencium ku, dan sekarang kamu berani mendorongku."

Mata Grania membola, mendadak dia semakin ketakutan karena Asgakar meminta pertanggungjawaban nya.

"Tanggung jawab, tapi kemarin saya tak sengaja."

Asgakar menyeringai, dia menekan tubuh Grania semakin mendekat ke arahnya.

Melihat wajah Grania yang panik membuat Asgakar menikmatinya. Lalu tak lama dia melepaskan pelukan nya pada Grania.

"Kembali bekerja."

"Ruangan mu ada di depan ruangan Galaxy. Dan mulai hari ini siapkan semuanya. Jika kamu menginginkan model, segera katakan dan kita akan menyeleksi beberapa yang cocok."

Asgakar meninggalkan Grania yang masih syok di tempatnya. Sementara Asgakar kembali duduk dan memeriksa lembaran proposal itu.

Karena tak kunjung mendapat jawaban, Asgakar mendongak. Dia melihat Grania yang berdiri seperti patung.

"Kenapa kamu berdiri di sana, cepat kemari dan jelaskan padaku beberapa hal yang lainnya."

Grania tersentak, dia buru-buru kembali duduk dan kali ini dia memilih menjauh dari Asgakar.

Asgakar tak mempermasalahkan itu, ia fokus dengan pekerjaan nya. Dan hampir satu jam berlalu barulah mereka selesai membahas semua nya.

"Kamu bisa kembali ke ruangan mu."

Grania sontak langsung berdiri dan pergi dari sana. Sementara Asgakar langsung melonggarkan dasinya.

"Tak hanya bisa bersentuhan dengannya, tapi malah merasakan yang lain."

"Sialan, ini malah bikin aku yang gila!"

Asgakar semakin bingung dengan reaksi tubuhnya.

"Jadi, udah semakin yakin kalau cuma dia yang bisa jadi pasangan mu?"

Mata Asgakar yang semula terpejam langsung terbuka. Dia melihat Galaxy yang sudah berdiri tak jauh darinya.

"Dan hebatnya bukan hanya sentuhanya yang tak bermasalah dengan ku. Tapi juga sepertinya aku bisa hidup dengan normal setelah ini."

"Merasakan sentuhan wanita? Iya kan?"

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 8

    Hari ini perkejaan Grania lebih sibuk dari pada sebelumnya karena proposal kerjanya dan semua yang di butuhkan langsung di ACC oleh Asgakar. Tak hanya itu, Grania juga di minta memeriksa kebutuhan untuk praktek di lapangan. Asgakar yang tak sengaja melihat Grania masih berada di ruangannya pun mendelik. "Jangan sampai kamu pingsan lagi dan menyusahkan banyak orang karena kamu telat makan siang lagi!" Grania yang semula fokus dengan berkas di depan nya mengangkat kepalanya. Sontak dia langsung berdiri ketika melihat Asgakar ada di depan ruangannya. "Tu-tuan Asgakar...." "Sejak kapan Tuan di sana?" "Kenapa memangnya? Aku hanya lewat, bukan ingin mengganggumu." Galaxy yang ada di belakangnya menahan tawa dengan alasan Asgakar. Sementara dia tahu sendiri jika Asgakar penasaran dengan apa yang di kerjakan oleh Grania. Setelah mengatakan itu, Asgakar pergi begitu saja dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Grania yang melihat itu tentu saja kembali bingung. "D

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 7

    Sesaat setelah Grania kabur dari hadapan Asgakar barulah dia tersadar akan sesuatu. Napasnya masih tersengal ketika dia berlari melewati tangga darurat. "Ya ampun!" Ia mulai panik karena ternyata Asgakar ingat dengan kejadian itu. "Aduh, gimana nanti kalau aku di pecat karena lancang? Aku masih butuh pekerjaan ini." Grania mendadak panik, tapi saat ini ia tak bisa melakukan apapun karena Asgakar juga sudah tak terlihat batang hidungnya. Setelah di rasa dia lebih tenang, dia melanjutkan langkahnya kembali. Grania pasrah, dia menuju biliknya merapikan mejanya lalu memilih untuk pulang. Di kantor juga sudah sepi. Saat dalam perjalan pulang, pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. "Duh, Grania bodoh sekali. Kenapa harus Tuan Asgakar?!" rutuk Grania. Ia memukul kepalanya karena kesal dengan dirinya sendiri. Sementara itu, tanpa Grania sadari ada seorang yang sejak tadi memperhatikan nya bahkan ketika Grania berjalan pulang ke arah kontrakan nya. Asgakar. "

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 6

    Samuel terduduk di kursinya dengan wajah pias. Tak satu pun kata mampu keluar dari mulutnya saat seluruh borok kinerjanya dikuliti habis-habisan oleh Asgakar di depan semua orang. ‘Siapa yang mengadukan semua ini?!’ batin Samuel murka. Di sisi lain meja, Grania masih terpaku. Ia tak menyangka proposal buatannya bisa menang dan dihargai setinggi ini. Namun, belum sempat rasa haru memenuhinya, rasa pening dahsyat mendadak kembali memukul kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. ‘Jangan kambuh sekarang, tolong…’ batin Grania memohon pada tubuhnya sendiri. Melihat kondisi Grania yang tampak hampir ambruk, Galaxy segera mengambil alih kendali rapat. "Nona Grania, sepertinya Anda sedang kurang sehat," kata Galaxy ramah. "Segeralah ke klinik perusahaan untuk beristirahat. Rapat hari ini sudah selesai. Mengenai detail proposal Anda, kita akan bahas besok setelah kondisi Anda membaik. Bagi anggota yang lain, silakan kembali ke ruangan masing-masing. Bonus pembuatan proposal aka

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 5

    Semua peserta rapat menikmati sarapan mereka dengan cepat, termasuk Grania. Khasiat obat dan ramuan herbal hangat yang terselip di mejanya bekerja cukup efektif. Rasa pening dan mual yang menyiksanya perlahan-lahan mereda.Di ujung meja utama, Asgakar duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Grania. Di sampingnya, Galaxy sibuk merapikan dokumen evaluasi yang akan mereka gunakan untuk menilai proposal Samuel dan timnya.Saat Grania berdiri untuk membuang sampah, tercium aroma parfum maskulin beraroma kayu cendana dari arah meja pimpinan. Tubuh Grania seketika membeku. Ingatannya berputar cepat ke kejadian kemarin pagi di depan toilet.Aroma parfum ini...Grania memberanikan diri mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan mata tajam Asgakar terkunci padanya. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat samar terbit di bibir pria itu.Mata Grania membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sebuah fakta menghantam kesadarannya.‘Ja-jadi... pria yang kutabrak dan kucium kemarin pag

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 4

    Semalaman Grania menangis hingga ketiduran di lantai. Ketika fajar menyingsing, ia mendesis kesakitan saat mencoba menegakkan tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa kaku, dan kepalanya berdenyut hebat serasa mau pecah.Drrt... Drrt...Ponsel Grania bergetar. Ia meraih benda itu dan membaca pesan singkat di grup divisi:[Rapat penting pagi ini akan dipimpin langsung oleh jajaran direksi, termasuk Tuan Muda Asgakar dan asistennya. Jika divisi pemasaran berhasil mempresentasikan hasil kerja dengan baik dan disetujui, seluruh anggota tim akan mendapatkan bonus besar.]Grania memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memproses kabar itu."Bonus..." gumamnya lirih dengan suara serak. "Uang tabunganku dicuri Mas Sena... Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kumpulkan uang lagi dari nol untuk rumah Nenek. Aku nggak boleh izin hari ini."Ia memaksakan diri berdiri. Setelah meredakan denyut di kepalanya sejenak, Grania bergegas mandi dan bersiap. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat

  • Penawar Rahasia Sang Presdir   Bab 3

    Dengan tubuh lemas dan pandangan kabur oleh air mata, Grania berusaha menopang dirinya sendiri untuk bangkit dari trotoar. Tatapan aneh dan bisik-bisik orang di sekitar membuatnya malu luar biasa. Ia mengusap air matanya dan mempercepat langkah menuju kontrakan kecilnya.Grania hanya ingin bersembunyi.Di seberang jalan, Asgakar masih berdiri mematung di dekat mobilnya. Matanya menajam menatap punggung Grania yang perlahan menghilang di balik kegelapan gang."Ada ya laki-laki model begitu," gumam Asgakar dingin, mengepalkan tangannya."Laki-laki model bagaimana maksudmu, Boss?"Asgakar terlonjak kaget. Ia menoleh gusar pada pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Sialan, Gal! Bikin kaget saja!"Galaxy—sahabat karib sekaligus asisten pribadinya—hanya terkekeh santai. Sebagai satu-satunya orang yang tahu luar dalam kehidupan Asgakar, Galaxy memang biasa bersikap agak lancang jika sedang berdua saja."Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi ngomel sendiri sambil melamun," tanya Gala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status