Share

03. Sebuah Cara

Author: LilyLembah03_
last update publish date: 2026-08-13 11:01:20

"Wali dari pasien Nadine Cendana?"

"Saya, Dok."

Dokter berkacamata yang baru saja membuka tirai langsung menoleh ke arah sosok pria yang berdiri tak jauh dari sana. Lingga dengan kemeja putihnya yang tergulung hingga siku langsung menatap Nadine begitu tirai terbuka sepenuhnya.

Nadine yang baru saja bangkit duduk setelah diperiksa sontak memalingkan wajah. Berusaha menghindar begitu tatap mereka bertemu sesaat tirai terbuka.

Menyadari situasi canggung di antara sang pasien dan walinya, dokter wanita itu sesaat melirik Nadine ragu, sebelum kemudian menatap Lingga serius.

"Mohon maaf sebelumnya. Apakah Anda pacar atau suami pasien?" tanya dokter itu sambil mempersilakan Lingga untuk duduk di kursi samping.

Mendengar pertanyaan sang dokter, Nadine menunduk sambil memainkan kuku jemari. Jantungnya berdegup kencang, jelas penasaran Lingga akan menjawab apa.

Apakah pria itu menganggap Nadine sebagai tetangga sekaligus teman masa kecilnya? Atau… bocah ingusan yang dulu pernah menyatakan cinta padanya dan ditolak mentah-mentah? Atau mungkin hanya sekedar rekan kerja?

Seperti apa Lintang Gaharu selama ini menganggapnya?

"Saya kakaknya."

Dan jawaban lugas itu tanpa sadar membuat dada Nadine terasa mencelos.

Ternyata pria itu tidak pernah berubah ....

"Baiklah." Dokter mengangguk pelan kemudian beralih pada Nadine yang masih enggan mendongak karena malu. "Sebelumnya, Anda sudah tahu bahwa Anda mengidap hiperprolaktinemia?"

Nadine mengangguk pelan. Apalagi begitu ekor matanya melirik Lingga yang kini menyorotnya lekat, pipi perempuan itu perlahan memanas.

"Masalahnya, kondisi Anda sudah jauh lebih berat dari riwayat pemeriksaan terakhir."

Nadine menggigit bibir bawahnya. Jari-jarinya saling meremas hingga memutih.

"Obat yang selama ini Anda konsumsi justru membuat keseimbangan hormon Anda semakin kacau. Kadar hormon prolaktin dalam tubuh Anda jauh di atas normal."

Lingga yang sejak tadi mendengarkan tanpa sadar mengernyit. "Prolaktin?"

"Itu hormon yang bertugas merangsang produksi ASI, Pak," perjelas dokter.

Kali ini, Lingga menatap dokter dengan alis yang kian bertaut heran.

"ASI?"

Hingga tatapan dokter kini beralih padanya. "Bapak belum mengetahui kondisi Adik Anda?"

Ruangan mendadak sunyi. Lingga berdeham pelan sebelum mengalihkan pandangan.

"Lanjutkan saja, Dok."

Di atas bed rumah sakit, Nadine hanya bisa menunduk semakin dalam. Panas di pipinya kini menjalar sampai telinga.

Rahasia paling memalukan yang selama ini mati-matian ia sembunyikan akhirnya terbongkar. Di depan orang yang seharusnya paling tidak boleh tahu.

Sekarang, Lingga pasti menganggap Nadine sebagai perempuan yang aneh.

"Sebelum saya lanjutkan, saya ingin memastikan satu hal." Dokter itu kembali menatap Nadine. "Apakah Anda sudah memiliki pasangan? Pacar atau suami?"

Nadine menggeleng pelan. "Tidak, Dok."

Raut dokter tersebut berubah semakin serius. "Baiklah. Saya bertanya karena biasanya pada kondisi seperti ini pasien memiliki seseorang yang bisa membantu."

Dan Nadine Cendana benar-benar tidak mau memperjelas jenis bantuan apa yang saat ini ia butuhkan.

"Berarti Anda biasanya mencoba mengurangi rasa penuh pada dada menggunakan alat pemompa ASI. Betul?" Dokter kembali melempar tanya.

Nadine mengangguk kecil. "Iya, Dok."

"Tetapi sekarang kulit di sekitar area puting dan areola Anda mengalami iritasi cukup berat. Dari hasil pemeriksaan, kemungkinan besar itu merupakan reaksi terhadap bahan silikon dan karet pada alat yang Anda gunakan."

Nadine mencebik kecil. Pantas saja akhir-akhir ini dadanya terasa perih dan sering lecet.

"Kalau Anda tetap menggunakan alat itu, lukanya bisa bertambah parah dan beresiko infeksi."

"Lalu saya harus bagaimana, Dok? Dada saya rasanya sakit sekali kalau sudah terlalu penuh." Nadine menyampaikan keluhannya sambil sesekali melirik Lingga yang masih terus memperhatikan.

"Kalau bisa, jangan gunakan alat pemompa ASI lagi."

"Tapi kalau tidak dikeluarkan, rasanya nyeri ...." Nadine mengadu cepat hingga tanpa sadar meremas ujung kemejanya.

"Bagaimana menjelaskannya, ya? Karena produksi ASI terus berlangsung sementara alat pemompa tidak bisa digunakan akibat alergi, satu-satunya yang paling efektif adalah pengosongan alami."

"Pengosongan alami?" Lingga yang sedari tadi diam menyimak akhirnya membuka suaranya.

"Iya, melalui hisapan langsung. Refleks alami manusia jauh lebih stabil dibanding alat. Selain mengurangi penumpukan ASI, cara itu juga akan membantu menormalkan tekanan di saluran ASI."

"Karena itu saya tadi menanyakan apakah Anda memiliki suami atau pasangan. Prosedur ini tidak bisa dilakukan sembarang orang."

Penjelasan santai dokter tersebut kali ini membuat Nadine mendelik terkejut. Semua penjelasan dokter terasa berputar di kepalanya yang seketika terserang pening.

Apakah ini artinya … seseorang harus melakukannya untuk Nadine?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   14. Saya Minta Maaf

    "Kamu masih pakai alat pemompa ASI?!" Dokter yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan menatap Nadine tidak percaya. Sedangkan perempuan di atas bed rumah sakit itu hanya mengangguk pelan."Setiap hari?" Dokter itu kembali melempar tanya."Iya, Dok." Dokter perempuan itu menghembuskan napas tajam. "Kulit kamu terlalu sensitif. Kalau pakai alat itu terus, lukanya bisa makin parah bahkan sampai iritasi dan berdarah. ”"Saya cuma—" Kalimat Nadine dengan cepat terpotong."Saya sudah pernah melarang kamu, kan?" sambar wanita tua itu dengan nada lebih ketus. "Iya.""Lalu kenapa masih menggunakan alat itu?" tekan sang dokter lebih tajam. "Kamu tahu alat itu bisa memperparah lukamu. Tapi kamu tetap menggunakannya."Nadine terdiam."Kalau lukanya sampai mengalami infeksi, kamu pikir yang repot siapa?" Pertanyaan itu terdengar semakin menyudutkan di telinga Nadine."Saya ....""Betul. Kamu." Dokter menegaskan."Ini bukan lecet biasa yang bisa kamu abaikan. Kulitmu sudah mengalami iritasi tapi

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   13. Kita Obati Lukamu

    Derap langkah nyaring membuat Nadine menegakkan tubuh. Perempuan yang sedari tadi menangis di dalam bilik toilet itu segera mengancingkan kemejanya.Apa suara kaki itu adalah milik Lingga? Tetapi bagaimana jika orang lain? "Nadine!"Panggilan tegas yang amat familiar itu menghentikan kegiatan Nadine. Tubuhnya yang sedari tadi menegang tanpa sadar sedikit rileks.Itu memang Lingga. BRAK!Pintu yang tiba-tiba dibuka dengan kasar sejenak mengejutkan Nadine. Hingga tubuh perempuan itu berjengit kecil. Sedangkan di ambang pintu toilet, Lingga berdiri dengan napas terengah. Tanda bahwa pria itu memang berlari ke sini.Tapi bagaimana sang jaksa bisa tiba secepat ini? Bukankah dia sedang berada di kantor?Setelah melihat Nadine, Lingga buru-buru masuk dan menutup pintu toilet. Sejenak, sang jaksa melirik Nadine dengan raut marah."Kenapa pintunya tidak dikunci?! Bagaimana jika ada yang masuk?" Lingga bertanya sedikit membentak."Maaf, Pak. Saya lupa ...." Membuat Nadine hanya bisa menunduk

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   12. Tunggu Saya

    "Loh, kamu sudah di sini?!" Nadine menoleh sejenak pada Genta yang baru tiba. Perempuan itu kemudian kembali fokus pada buku catatannya."Dari jam tujuh malah, hehe ...." Nadine menyengir sambil menunjukkan hasil begadangnya semalam."Lihat! Aku sudah cari daftar profesi yang biasanya kerja pakai pisau. Terus kumpulin data warga yang jualan di pasar dekat TKP. Sudah pilah mana yang masuk kriteria tersangka juga." Nadine menjelaskan antusias.Berbanding terbalik dengan Genta yang hanya bisa melongo terkejut."Kapan kamu cari semua ini?" Genta bertanya heran."Tadi malam. Aku susah tidur, jadi cari-cari informasi saja supaya ada kerjaan." Dan si penyidik senior hanya bisa menggeleng tidak habis pikir mendengar jawaban Nadine."Pantas saja Pak Lingga langsung minta kamu pegang kasusnya juga. Kamu memang seniat itu, ya ...." Pria berambut ikal itu berkomentar takjub.Nadine menanggapi pujian itu dengan tawa kecil. Mereka memulai penyelidikan di sekitar TKP. Setelahnya bertemu beberapa

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   11. Ingin Bertemu

    Begitu mobil Lingga menghilang di ujung jalan, Nadine masih berdiri di depan gerbang. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa menit lalu. Kemejanya yang basah. Dan Lingga yang melihatnya.Nadine menghembuskan napas panjang, lalu menunduk melihat bajunya sendiri. "Ya ampun ...."Wajahnya kembali terasa panas. Padahal Lingga sudah tahu kondisinya. Bahkan pria itu pernah membantunya menangani situasi memalukan ini, meski hanya sekali.Tetapi tetap saja, ada sesuatu yang memalukan dari kenyataan bahwa sang jaksa mengetahui rahasia paling memalukan dalam hidup Nadine. Ini perasaan yang Nadine kenali. Mungkin sejak 12 tahun lalu. Rasa rendah diri saat seorang pemuda 21 tahun menolak mentah-mentah pengakuan cintanya.Dan rupanya, orang yang membuat Nadine mengenali perasaan ini tidak pernah berubah.Masih Lingga. Selalu saja Lingga.Karena tidak mau memikirkannya lagi, Nadine buru-buru masuk ke rumah. Rasa tidak nyaman di dada kembali mengingatkan perempuan itu pada masalah yang sebenar

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   10. Sudah Waktunya

    "Nadine, Pak Lingga minta kamu ke ruangan."Perempuan dengan rambut terkepang satu itu mengangguk pelan. Setelah meletakkan tas di atas meja kerjanya, Nadine sedikit merapikan pakaian sebelum menghadap sang atasan."Bang Rion mana, Ta? Tumben belum datang." Nadine bertanya begitu melirik salah satu meja tim penyidik yang kosong."Katanya sih izin sakit." Pria berambut ikal itu menjawab."Kalau tidak dapat izin, berarti tidak boleh sakit?" Nadine berkelakar yang sontak membuat Genta terkikik geli."Bisa jadi. Karena bahkan kalau sekarat, kita tetap lebih takut dijemput Pak Lingga daripada malaikat maut." Pegawai senior itu menimpali sambil tertawa lebih berani.Ucapan yang tanpa sadar membuat kening Nadine berkerut tidak setuju.Lingga tidak semenyeramkan itu. Kemarin, dia bahkan meminta Galih untuk mengantarnya pulang. Padahal, dia sudah membicarakan hal buruk tentang sang jaksa di dalam hati."Genta."Dua petugas penyidik itu kompak menoleh. Di ambang pintu ruang pribadinya, Lingga b

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   09. Jangan Sampai Lecet

    Setelah Lingga dan dua penyidik lainnya meninggalkan TKP, Nadine segera melanjutkan penelusuran. Meski hari sudah menjelang sore, perempuan itu tidak peduli.Dia harus menepati ucapannya. Nadine tidak boleh pulang sebelum menemukan sesuatu yang layak untuk dilaporkan pada sang jaksa.Lagipula, Nadine sudah kehilangan teman masa kecilnya. Dia tidak mau kehilangan pekerjaan juga karena perasaan yang tidak perlu.Lingga sudah berubah menjadi pria yang tidak lagi perempuan itu kenali. Sosok penyayang yang dulu gemar mengantar-jemput Nadine ke mana-mana, kini menjelma jadi seorang jaksa yang galak dan dingin. Dia bahkan tidak ragu meninggalkan Nadine berkeliaran sendiri di tempat asing ini.Jika Lingga saja bisa berubah, kenapa Nadine tidak? Perempuan itu bukan lagi bocah SMP yang suka menggelendoti anak tetangga yang dulu ia panggil Kakak. Nadine bukan lagi gadis manja yang dulu gemar menangis dan minta es krim kepada Lingga. Sekarang, Nadine Cendana sudah dewasa. Lintang Gaharu tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status