Mag-log in"Aku baik-baik saja, Ayah~ Aku tidak mau diinfus lagi!" Nadine menggeliat sebal dalam pelukan ayahnya. Sedangkan Neo sibuk memijat betis sang kakak yang sejak tadi mengeluh pegal-pegal di tangan dan kaki."Diinfus saja lah! Tidak usah drama. Tadi siang saja Kakak menangis-nangis sambil minta dipeluk seperti anak kecil. Sok-sok'an tidak mau berobat!" Bocah yang mendadak jadi tukang pijit gratisan itu memaki setengah meledek.Bumi yang mendengar ocehan anak bungsunya sontak melotot penuh peringatan pada Neo. Hingga bocah itu berakhir merengut sebal karena terus disalahkan.Gawat! Posisinya sebagai anak kesayangan Bumi jadi terancam sejak kepulangan Nadine. Dia bahkan langsung jadi babu dalam sehari."Pijit saja yang benar! Anak kecil dilarang ikut campur!" cerca Nadine malah semakin sok karena merasa dibela ayahnya. "Sudah sudah! Jangan bertengkar!" tegur Bumi melerai kedua anaknya yang rupanya banyak beradu mulut setelah bertemu."Ayah mau ambilkan makanan untukmu dulu." Pria tua itu
Nadine berjalan keluar kamar mandi sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Area jahitan di tengkuknya terasa seperti tertarik dan kebas. Apalagi setiap kali ia menggerakkan kepala atau bicara.Ini semua salah Lingga. Pria itu yang memaksanya untuk meledak saat Nadine sebenarnya tidak punya tenaga untuk marah."Aku tidak salah. Dia yang menyebalkan, makanya aku mengusirnya ...." Perempuan itu menggerutu sambil naik ke kasur. Mengabaikan deru halus mesin mobil sang jaksa yang terdengar kian jauh. Tanda bahwa pria itu benar-benar sudah pergi.Meski setelah hening melingkupi dan perempuan itu berbaring menyamping menghadap pintu kamar mandi, rasa bersalah tetap menderanya. Bohong kalau Nadine bilang dia tidak ingin bermanja-manja pada sang kekasih.Di saat seperti ini, Nadine justru ingin tidur dipeluk Lingga. Perempuan itu ingin mengadu bahwa kepalanya sakit, sekujur tubuhnya juga lemas dan sakit. Nadine ingin merengek dan mengeluhkan banyak hal pada sang kekasih.Tapi rasanya
Lingga terpaku menatap kekasihnya yang kini menangis sesenggukan. Tepat di depan matanya.Dan menyadari alasan perempuan itu menangis begitu sesak adalah karena dirinya ... lidah Lingga menjadi kelu. Seluruh omelan yang sudah tertahan di ujung lidah seolah menguap entah ke mana.Berganti jadi perasaan bersalah yang pekat. "Nana ... Nana--maafkan aku ...." "Aku salah, tolong maafkan aku ...."Lingga meracau terbata sambil berusaha menarik tubuh kekasihnya dalam rangkuman lengan. Berniat menenangkan perempuan itu yang menangis semakin keras.Namun, Nadine lagi-lagi menolak untuk dipeluk."Jangan menyentuhku! Aku membencimu!" Perempuan itu berseru tegas sambil memundurkan tubuh. Hingga Lingga tidak lagi bisa menjangkaunya. "Tidak ... tidak--jangan bilang begitu. Aku salah, kamu boleh marah. Tapi tolong maafkan aku ...." Lingga memohon penuh sesal sambil tetap berusaha meraih tangan kekasihnya. Namun, perempuan itu bahkan merangkak turun dari ranjang."Pergi! Aku tidak mau bicara den
"Mereka menginap atas izinku. Jadi jangan marahi teman-temanku!" Nadine menegur Lingga tegas saat pria itu terus menatap tajam dua pria yang berdiri kikuk di belakangnya. Lingga yang merasa sang kekasih tidak berada di pihaknya, sontak bangkit berdiri dan menatap mereka lebih sengit."Aku sudah di sini, jadi kalian tidak perlu menjaga kekasihku lagi. Pulanglah!" Sang jaksa bahkan mengusir dua penyidik senior itu terang-terangan.Rion dan Genta dengan cepat mengangguk kemudian hendak mengangkut barang-barang yang tertinggal. Namun, Lingga kembali menunjuk sampah yang berserakan di atas meja."Bersihkan juga sampah kalian!" titah Lingga bossy.Hingga Nadine menarik pelan lengan kekasihnya sebal. "Pak! Itu juga bekas makanku!" Namun, Lingga justru tidak menggubris perempuan itu. Sang jaksa bahkan menunjuk bekas makanan yang terjatuh di lantai sela meja dan sofa."Ck, kalian tidak perlu melakukannya!" decak Nadine jengkel sambil ikut berjongkok memungut bekas bungkus chiki di dekat kaki
"Sial ... aku ketiduran."Lingga mengusap wajah bangun tidurnya kasar. Pria itu menatap kamar rawat yang lampunya bahkan belum dimatikan. Ibunya tampak terlelap di brankar pasien. Sedang jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi."Loh, kenapa dia tidur di sini?!" Sang jaksa bahkan berjengit terkejut begitu menunduk karena merasakan pahanya yang keram dan berat. Ada Lengkara yang menyandarkan kepala di pangkuannya sebagai bantal tidur.Entah kapan juga perempuan itu mengambil kesempatan untuk menempelinya. Karena sepertinya Lingga orang yang paling awal terlelap. Setelah malam sebelumnya ia menggunakan waktu beristirahat untuk bercinta dengan kekasihnya, paginya Lingga harus menjaga Rengganis yang memang cukup rewel saat sakit.Sambil segera memindahkan kepala Lengkara dari pangkuannya dan meletakkannya asal ke sofa, Lingga buru-buru berdiri dan mengenakan jaketnya. Dia ingat sudah bilang akan segera kembali pada kekasihnya. Nana-nya pasti menunggu. Tapi Lingga malah enak-enakan te
"NADIIINE!"Perempuan yang baru turun dari mobil sambil dibantu Rion itu hanya mengernyit heran. Tentu saja karena mendapati kehadiran rekan kerjanya yang lain yang menyambut di luar gerbang rumah.Kenapa Genta tiba-tiba sudah ada di sini?"Tadi dia mau menjengukmu ke rumah sakit, jadi aku bilang kita di perjalanan pulang. Makanya dia menunggu di sini." Rion pun menjelaskan sebelum Nadine mengutarakan keheranannya.Perempuan itu sontak mengangguk-angguk. Kemudian membiarkan dua penyidik senior itu kini menggandengnya di kedua sisi lengan. Rion bahkan membukakan pintu gerbang rumah Nadine setelah perempuan itu memberitahu letak kunci."Kenapa kamu kembali ke rumah selarut ini? Kenapa dokter bisa mengizinkanmu pulang?!" Pria berambut ikal itu langsung menyerang dengan pertanyaan.Rion menepuk pantat Genta. Kemudian melirik Nadine yang juga ikut menatapnya, seolah minta bantuan untuk meladeni penyidik ceriwis itu."Jangan banyak tanya sekarang! Kawanmu sedang sakit, biarkan dia istirahat







