Masuk
Sepuluh langkah lagi melewati orang tersebut. Tiba tiba terdengar suara sember dan serak.
"Cukup sampai disitu langkahmu Tirtayasa, letakan benda yang kau bawa dan pergilah agar kau bisa meneruskan hidupmu." Orang itu tertawa kemudian berdiri.
"Benda apa yang kisanak maksud?". Jawab Tirtayasa dengan tenang.
"Jangan banyak berkilah Tirtayasa, kami diperintahkan ketua kami Kuda Hitam untuk merebut benda apa saja yang kau bawa.Sebaiknya kau letakan dan pergi dari sini" Tegas orang di depan Tirtayasa.
"Tentu saja hal itu tidak dapat aku lakukan kisanak. Apalagi aku tidak tahu barang yang kau maksud." Tirtayasa menimpali.
"Kau akan menyesal Tirtayasa telah berurusan dengan Bayangan Setan". Setelah berkata orang itu bersiul dan munculah dua orang dari balik pohon bersenjatakan tongkat yang sama dengan Bayangan Setan. Langsung menyerang Tirtayasa dibagian kaki dan kepala.
Tirtayasa yang sudah waspada sejak awal segara mundur untuk menghindari serangan dari orang orang Bayangan Setan.Tapi dua orang itu langsung memburu dengan serangan beruntun. Tapi nampaknya dua orang itu masih jauh dibawah Tirtayasa yang merupakan Ketua Perguruan Golok Khayangan.
Sampai satu waktu Tirtayasa berhasil memukul dada salah satu dari dua orang penyerang sampai terlempar kebelakang sekitar dua tombak. Dan satu orang lagi terkena tendangan di perut hingga tersungkur dan meringis menahan sakit.
Tampak darah mengucur dari mulut mereka menandakan ada luka dalam akibat pukulan dan tendangan yang dilancarkan Tirtayasa.
"Kalian mundurlah,biar aku yang menghadapi tua bangka itu."Teriak Ketua Bayangan Setan kepada dua orang bawahan nya.
Bayangan Setan kemudian meningkatkan tenaga dalamnya hal ini membuat kerikil disekitar Bayangan Setan bergetar. Selain untuk meningkatkan tenaga tempur nya hal ini dimaksudkan untuk mengintimidasi lawan.
Tapi Tirtayasa bukan pendekar kemarin sore. Dia adalah ketua dari perguruan aliran putih yang paling kuat saat ini di wilayah utara tanah Pasundan.
"Apakah hanya itu kemampuanmu Bayangan Setan?" Ucap Tirtayasa sambil tersenyum.
"Diam kau tua bangka." Teriak Bayangan Setan sambil menyerang Tirtayasa. Suara tongkat kepala singa menderu menyerang ke arah kepala dan tubuh Tirtayasa.
Tirtayasa berhasil mengelak dengan kaki mundur selangkah.Tidak cukup disitu setelah berhasil menghindar serangan dari Bayangan Setan. Tirtayasa mencoba untuk menyapu kaki Bayangan Setan. Bayangan Setan langsung berjumpalitan ke belakang kemudian menggenjot kaki ketika menyentuh tanah kembali menyerang Tirtayasa.
"Jurus Tongkat Setan Menggedor Batu Karang."
Tongkat Bayangan Setan yang pada awal nya hanya satu, sekarang tampak seperti tiga tongkat yang mengarah kepala, tubuh dan kaki Tirtayasa. Inilah keunggulan jurus dari Bayangan Setan, pendekar biasa akan kesulitan menentukan tongkat mana yang asli.
"Jurus murahan Bayangan Setan. Hahaha" kata Tirtayasa sambil memutar tangan searah jarus jam.Terlihat seperti perisai keemasan menahan datangnya tongkat Bayangan Setan.
"Blarr"
Beradunya perisai dan dengan senjata Bayangan Setan mengeluarkan suara ledakan yang cukup besar. Gelombang energi seperti riak air terjadi akibat benturan itu. kerikil berhamburan menjauhi keduanya.
Dua orang pembantu Bayangan Setan yang berada sekitar tempat pertarungan itu terkena imbas dari gelombang energi itu, bagaimana tidak tenaga dalam mereka masih belum cukup besar untuk bertahan dan mengakibatkan tubuh mereka ikut terdorong kebelakang dan berhenti setelah membentur pohon yang cukup besar.
"Tak kusangka tua bangka ini berada sekitar dua tingkat diatasku. " guman Bayangan Setan seraya menarik tongkatnya yang tadi berbenturan dengan perisai emas milik Tirtayasa.
"Jangan dulu besar kepala Tirtayasa karena kau berhasil menahan jurusku. Rasakan ini. Hiyaaa!!" Bayangan Setan melesat dengan kecepatan luar biasa.
Tiba tiba Bayangan Setan berada di belakang Tirtayasa. Hal ini tentu saja tidak luput dari penglihatan Tiryasaya yang memang kemampuan diatas Bayangan Setan.
Ketika tongkat hampir mengenai punggungnya. Dalam sekejap Tirtayasa berbalik dan berhasil memegang kepala tongkat. Bayangan Setan kaget tidak menyangka bahwa serangannya akan dengan mudah dimentahkan oleh Tirtayasa. Dia mencoba menarik tongkatnya tapi tidak bisa seakan akan tertancap di batu.
Tirtayasa menyeringai.
"Cukup Bayangan Setan. Aku tidak cukup banyak waktu untuk bermain main." Ucap Tirtayasa kemudian menarik tongkat Bayangan Setan sehingga dia ikut tertarik.
"Bukk". "Aakhh."
Suara tendangan kaki Tirtayasa yang disertai tenaga dalam mengenai dada Bayangan Setan kemudian disertai teriakan nya tubuhnya ikut terlempar empat tombak kebelakang. Napasnya terasa sesak dan pandangan nya sedikit nanar. Dua bawahan Bayangan Setan pun cukup kaget yang sedari tadi melihat kejadian itu dan hanya bisa menelan ludah saja.
"Kalian berdua jangan bengong saja, bodoh. Bantu aku menghabisi tua bangka ini. Gunakan Jurus Setan Menggempur. Bayangan Setan beserta kedua anak buahnya segera mengepung Tirtayasa dari ketiga arah. Inilah jurus yang diciptakan oleh Bayangan Setan. Jurus ini memusatkan lawan berada ditengah-tengah agar tidak dapat melarikan diri pada saat diserang.
Hiyyaa!
Orang sebelah kanan menyerang kaki Tirtayasa dapat dielakan dengan mudah, kemudian disusul serangan bawahan Bayangan Setan sebelah kiri mengarah kepala Tirtayasa.
Tidak sampai disitu Bayangan Setan pun menyerang dari depan. Jual beli serangan pun terjadi tapi tidak ada serangan dari Bayangan Setan dan bawahanya yang mengenai Tirtayasa.
"Cukup sampai disini Bayangan Setan" berkata Tirtayasa. Kemudian dia melenting keatas kemudian bersalto dan menukik bermaksud mengeluarkan Jurus Naga Biru Menggetarkan Bumi.
Dengan telapak tangan kanannya kebawah dan mengerahkan setengah dari tenaga dalam nya membuat ketiga lawan tidak bisa bergerak sama sekali seperti ditahan dengan himpitan tenaga yang besar.
"Kenapa aku tidak bisa bergerak" Berkata Bayangan Setan dalam hati. Dengan wajah pucat ketiga nya hanya pasrah menerima Ajian yang dikeluarkan oleh Tirtayasa.
Ketika tangan kanan Tirtayasa sejengkal lagi mengenai tanah. Tanah di sekitar nya terasa bergetar dan gelombang energi keluar dari tubuh Tirtayasa mengarah pada ketiga lawannya.
Akh!
Ketiga lawannya terlempar kebelakang sejauh sepuluh tombak dan tergeletak diatas tanah. Nampak hanya Bayangan Setan yang masih bernapas tersengal sengal. Dua bawahannya nampak tak bergerak mati terkena gelombang energi yang dilepaskan Tirtayasa.
Uhukk!
Darah segar keluar dari mulut Bayangan Setan. Dengan samar dia melihat Tirtayasa melangkah mendekatinya.
"Bunuh saja aku Tirtayasa" Berkata Bayangan Setan.
"Tidak, aku tidak mempunyai urusan apapun denganmu Bayangan Setan" Tirtayasa menimpali sambil berdiri di samping Bayangan Setan.
"Tolong bunuh saja aku, Ketua Kuda Hitam tidak akan membiarkan aku hidup setelah kegagalan ini. Dia senang menyiksa anak buahnya ketika gagal menjalankan tugas yang dia berikan. uhhukk!"
Tirtayasa kemudian berbalik dan melesat meninggalkan Bayangan Setan yang terbaring di tanah dengan darah yang keluar dari mulutnya. Dia tahu lambat laun orang itu akan mati, entah diserang binatang buas atau mati dibunuh anak buah Kuda Hitam yang tersebar di segala penjuru.
Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan
Adilasa dan Adimana melepaskan jubahnya yang sejak awal dia kenakan.Brukk! Brukk!Suara ketika jubah itu jatuh ke tanah yang tampaknya cukup berat. Mereka berdua menyerang Dipa dengan peningkatan kecepatan yang luar biasa."Hhhhmmm..kecepatan mereka meningkat dan pola serangannya lebih berbahaya dari sebelumnya." Batin Dipa.Dia meningkatkan tenaga dalam ke jurus Mata Naganya. Kedua mata Dipa semakin menampakan sinar kebiruan. Dan ini tidak luput dari perhatian Mata Geni dan Anjani."Hhhmmm..jadi begitu cara kerja jurusnya itu. Membekukan lawan tanpa sadar memperlambat gerakannya. Tapi kenapa dia menahan diri? padahal sudah sejak tadi dia dapat mengalahkan mereka berdua." Batin Mata Geni.Mata Geni melirik ke arah Anjani yang memperhatikan terus setiap gerakan pemuda itu."Ternyata pemuda itu tidak hanya memiliki tenaga dalam tinggi tapi cerdas dalam melihat keadaan. Dia pasti tahu Nona Anjani memperhatikan setiap gerakannya untuk mencari kelemahannya kemudian melaporkannya kepada ke
Dipa melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah gerbang utara diikuti oleh Tirtayasa dan golongan putih lainnya."Kakek berhati hatilah, jauh didepan sana ada ratusan orang sedang menyamarkan diri diantara pepohonan." Suara Dipa terngiang dalam kepala Tirtayasa.Tirtayasa yang mendapat pesan rahasia dari Dipa segera membari tanda kepada yang lain untuk lebih waspada. Dan benar saja dalam jarak 100 langkah dari arah depan mereka berseliweran berbagai senjata rahasia dari mulai pisau kecil, jarum bahkan senjata aneh berbentuk segitiga yang setiap ujungnya tajam.Dipa yang berada paling depan berdiri tegak di salah satu dahan pohon yang cukup besar kemudian mengeluarkan jurus Tiupan Naga sehingga senjata senjata itu pun luluh lantak sebelum mengenainya. Namun tidak semua golongan putih bisa selamat, beberapa puluh orang tumbang karena terkena senjata itu.Tiba tiba dari arah depan meluncur dua bola cahaya sebesar kerbau kearah Dipa."Yang lain menjauhlah." Teriak Dipa Anggara.Blaar!Bla
Gerbang selatan.Panglima Chendala dan Panglima Warangan berkelebat cepat ke arah gerbang selatan yang saat ini tengah terjadi pertarungan. Keduanya langsung mengamuk membabat lawan tanpa ampun. Sepasang Serigala Perak, Wira dan Wulan melihat keadaan itu langsung mencoba melesat ke arah Panglima Warangan mencegah agar tidak jatuh korban terlalu banyak dari golongan putih.Trang! Trang!Pedang Wira dan Wulan menangkis pedang besar dari Panglima Warangan. Ketiga terlempar kebelakang beberapa langkah namun masih bisa berdiri kokoh. Parit kecil tebentuk karena kaki mereka yang terseret akibat benturan itu."Wulan berhati hatilah, tenaga dalam orang ini setingkat dengan guru."Ucap Wira kepada saudara kembaranya.Wulan menganguk dengan tegas."Ayo anak kecil mari kita bermain lagi,hahaha." Panglima Warangan meremehkan.Wulan yang mendengar itu mendengus kesal kemudian memberi isyarat ke Wira untuk menyerang kembali.Pertarungan Sepasang Serigala Perak dan Panglima Warangan berlangsung sengi
Kanaka dan Lota terlempar menjauh dari area pertarungan karena ledakan akibat pertarungan Saksana dan Pariga.Kanaka berdiri sambil menepuk nepuk bajunya yang penuh dengan debu begitupun dengan Lota."Nampaknya banteng gendut itu mendapatkan lawan yang kuat, namun pancaran energinya masih terasa tanda dia baik baik saja." Batin Kanaka. Dia melihat kearah Lota yang sedang menatapnya dengan tajam."Ayo pak tua kita lanjutkan pertarungan kita."Ucap Kanaka dengan memberi tanda untuk maju dengan tangan kanannya.Lota yang cukup mengerti dengan apa yang Kanaka lakukan,naik pitam karena mendapat tantangan.Lota menggereng dan kedua tangan Lota membentuk cakar beruang. Asap hitam tipis keluar dari setiap jari yang membentuk cakar.Kanaka menyeringai dia pun tidak mau kalah, disalurkan tenaga dalamnya. Asap kekuningan mulai keluar dari setiap cakarnya."Goarrr!" Kanaka mengereng.Seolah ada aba aba kedua serempak maju dengan cakar yang dilambari oleh tenaga dalam. Sabetan demi sabetan mengenai
Dua bayangan besar melesat ke arah gerbang timur markas Kelompok Kuda Hitam diikuti oleh para pendekar golongan putih. Dengan senjata besarnya yang dibawa dipundaknya tidak berpengaruh besar terhadap gerakan cepatnya. Tidak berapa lama mereka tiba di gerbang timur markas kelompok Kuda Hitam.Saksana dan Pariga berdiri sejauh 100 langkah dari gerbang timur.Bumm!Bumm!Dua gada besar di turunkan dari pundak mereka, tanah sedikit bergetar karenanya.Didepan gerbang berdiri tiga orang tinggi besar dari Kelompok Kuda Hitam. Dua orang memakai jubah panjang dengan membawa tameng di tangan kirinya dan pedang besar ditangan kanannya. Satu orang lagi yang berdiri ditengah dengan memakai jubah dari bulu beruang hitam dan kepalanya ditutup oleh kulit kepala beruang yang sudah dikeringkan oleh bahan tertentu."Kalian kesini hanya mengantarkan nyawa,hahahah." Ucap orang yang memakai jubah dari kulit beruang yang bernama Lota."Guru apakah mengerti apa yang diucapkan orang itu?"Tanya Pariga kepada S







