Home / Pendekar / Pendekar Golok Naga Biru / Bab 49 Ruang Tanpa Waktu

Share

Bab 49 Ruang Tanpa Waktu

Author: Haryadi
last update Last Updated: 2026-02-03 09:55:04

Tanpa membuang waktu keesokan paginya mereka berempat. Dipa,Kanaka, Pariga dan Anjani beranagkat ke Gunung Tangkuban Perahu untuk menemui Nyi Wiwara. Dengan menggunakan ilmu meringakan tubuh perjalanan akan lebih cepat walaupun sedikit menguras tenaga dalam mereka.

Mereka tiba dikaki gunung Tangkuban Perahu menjelang malam. Dan akhirnya mereka sepakat untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya. Menjelang matahari terbit kabutpun masih tebal ketika mereka berempat memulai perjalannnya kembali.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 49 Ruang Tanpa Waktu

    Tanpa membuang waktu keesokan paginya mereka berempat. Dipa,Kanaka, Pariga dan Anjani beranagkat ke Gunung Tangkuban Perahu untuk menemui Nyi Wiwara. Dengan menggunakan ilmu meringakan tubuh perjalanan akan lebih cepat walaupun sedikit menguras tenaga dalam mereka.Mereka tiba dikaki gunung Tangkuban Perahu menjelang malam. Dan akhirnya mereka sepakat untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya. Menjelang matahari terbit kabutpun masih tebal ketika mereka berempat memulai perjalannnya kembali.Tepat di puncak Gunung Tangkuban Perahu, disebuah tanah lapang yang cukup asri dengan rumah kayu yang sederhana, nampak kepulan asap tipis membumbung dari cerobong asap yang terdapat dibagian belakang rumah itu. Pepohonan rimbun yang ada disekitar tanah lapang itu semakin membuat suasana yang cukup nyaman untuk orang yang tinggal disana dengan udara sejuk khas pegunungan.Dipa dan ketiga rekannya tiba dipelataran rumah kayu itu tepat tengah hari."Tempat yang cukup nyaman." Anjani bergumam.Kem

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 48 Dunia Tanpa Malam

    Dipa masih terkapar diatas tanah setelah bentrokan itu. Kanaka dan Pariga akhirnya membawa Dipa ke salah satu bangunan yang belum hancur untuk dilalukan pengobatan. Golok Naga Biru masih tergelak di atas tanah tidak ada yang sanggup memindahkannya.Begitupun dengan Serongpati akhirnya tewas setelah terluka cukup parah karena pedang Turangga. Jiwa Anjani begitu terguncang karena tewasnya Serongpati apalagi setelah mendapat kabar bahwa neneknya ibu dari Serongpati pun tewas oleh Turangga.Anggota Kelompok Kuda Hitam pun menyerah kepada golongan putih dan untuk sementara dikumpulkan di salah satu bangunan dengan penjagaan ketat. Anjani ditahan diruangan terpisah namun tetap dalam pengawasan.Diruang pengobatan. Dipa tak sadarkan diri seharian penuh namun kekuatan tubuhnya tetap bekerja menyembuhkan luka luka yang dia alami. Dialam bawah sadarnya dia duduk berhadapan dengan Antamarta naga biru yang bersemayam ditubuhnya."Anta kau tahu mengenai lima orang yang menyerang dan menculik Wira

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 47 Lima Panglima

    Serongpati membuka matanya perlahan. Tampak seseorang berdiri membelakanginya dengan gagah dan menggenggam Golok Naga Biru."Anak muda kenapa kau menyelamatkanku?"Ucap Serongpati. Anjani berlari menghampiri Serongpati dan Dipa."Nona tolong bawa ayahmu menjauh." Ucap Dipa kepada Anjani. Anjani mengangguk dan membawa Serongpati kearah pepohonan yang masih utuh."Sial, sudah dua kali kau menghalangiku bocah.Bukankah kau hendak memusnahkan Kelompok Kuda Hitam? Lantas kenapa kau menghalangiku membunuh Serongpati?"Ucap Turangga."Aku memang benci akan Kelompok Kuda Hitam, namun aku lebih benci pengkhianat." Balas Dipa."Hahahaha..kau tidak tahu akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa kau tandingi anak muda apabila kau berani menghalangiku. Bagi bangsa kami Serongpati hanya alat untuk tujuan kami. Dia sudah terikat perjanjian yang tidak bisa dia batalkan." Ucap Turangga."Uhuuukk..uhhukk." Turangga terbatuk dan memuntahkan darah yang berwarna hitam.Dia jatuh berlutut, tangan kananny

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 46 Pertarungan Puncak 5 – Pengkhianatan

    Dipa dan Serongpati mencoba berdiri dengan menopang ke senjatanya masing masing. Napas mereka tersengal sengal dengan darah yang dari mulut. Bentrokan itu bukan saja mengakibatkan ledakan yang memekakan telinga namun membuat luka dalam.Kerusakan diarea pertarungan pun semakin parah. Seluruh tembok benteng gerbang utara hancur. Beberapa orang bahkan menjadi korban karena riak energi dari pertarungan itu."Hahahaha..sungguh aku tak menyangka pertarungan kita sampai sejauh ini."Ucap Serongpati sambil mencoba berdiri.Kanaka dan Pariga memperhatikan Dipa dari kejauhan."Pariga perlukah kita kesana untuk membantunya?"Tanya Kanaka."Kalian jangan mendekat kesini."Satu suara menggema dalam kepala Kanaka dan Pariga. Rupanya Dipa sempat melirik ke arah mereka dan tahu akan maksud mereka untuk ikut dalam pertarungan dan mengirimkan suara jarak jauh.Kanaka dan Pariga kemudian terdiam tidak ingin menggangu pertarungan Dipa.Disisi lain Wira dan Wulan pun telah tiba di gerbang utara. Segera mere

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 45 Pertarungan Puncak 4

    Dipa berdiri dengan tegak dengan menggengam erat Golok Naga Biru ditangan kanannya. Matanya yang tajam berwarna kebiruan menatap ke arah Serongpati yang sedang melayang diudara."Dipa kali ini kau akan menghadapi lawan dengan tingkat yang berbeda, berkonsentrasilah. Mungkin nanti saat yang tepat untuk mengeluarkan apa yang telah kuajarkan padamu." Ucap Antamarta."Jadi kau rupanya yang diceritakan Turangga. Menarik."Ucap Serongpati.Serongpati turun perlahan, pandangan matanya tidak lepas dari Dipa yang masih tegak dihadapannya. Dia menurunkan tekanan tenaga dalamnya sebagai pertanda bahwa dia tidak membahayakan tapi tentu saja Dipa tetap waspada. Namun itu kesempatan untuk golongan putih untuk memulihkan diri dari tekanan tenaga dalam Serongpati. Sebagian menjauh dari Dipa dan Serongpati karena tahu selanjutnya akan terjadi pertarungan hebat yang belum pernah mereka saksikan."Kenapa kau melakukan semua ini? Kau tahu banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban karena kelompokmu?"

  • Pendekar Golok Naga Biru   Bab 44 Pertarungan Puncak 3

    Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status