LOGIN
Di masa perang dunia ke-2, Kekaisaran Matahari adalah adalah sebuah kekaisaran yang memiliki kekuasaan yang sangat besar dan disegani. Kekuasaannya hampir melingkupi seluruh Asia. Termasuk Jawa Dwipa.
DI SUATU MALAM.
“Aku pemenangnya.. Malagha akan menjadi istriku!” kata Kazikage dengan lantang hingga membahana ditempat itu. Wajah-wajah ditempat itu tampak berubah pucat, bahkan wajah Malagha lebih pucat lagi. Kazikage seakan tak memperdulikan hal itu, lalu berbalik kearah sebaliknya dan menatap semua orang yang ada ditempat itu.
“Atau masih ada yang ingin melawanku, silahkan maju!” bentak Kazikage dengan keras kearah semua orang yang ada ditempat itu, tapi tak ada seorangpun yang terlihat mau menanggapi tantangan Kazikage. Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari tersebut.
“Selain Pangeran Anggoro Wardana, kalian semua tak pantas untuk mendapatkan hormatku. Kalian semua adalah pesakitan dari Asia!” kata Kazikage dengan penuh kesombongan.
Mendengar kata-kata pesakitan dari Asia yang dilontarkan oleh Kazikage, tentu saja membuat amarah setiap orang yang ada ditempat itu, termasuk Pangeran Anggoro Wardana, tapi untuk melawan Kazikage, tentu mereka harus berfikir ribuan kali, mereka hanya bisa menerima penghinaan itu dari orang yang menumpang di negeri mereka.
Melihat tak ada yang menanggapi ucapannya, bibir Kazikage semakin tersenyum sinis.
“Benar-benar orang pengecut!” desis Kazikage dengan sinis seraya kembali berbalik kearah Malagha kembali.
“Ha ha ha...!” Sebuah suara tawa yang begitu keras terdengar membahana ditempat itu, mengejutkan semua orang. Bahkan Kazikage yang tadinya ingin melangkah pergi. Mengurungkan niatnya. Sebelum dia membalik tubuhnya.
“Hanya seorang pendatang dinegeri ini, sudah berani bertingkah! Apakah tidak tahu rasa malu?!” kembali terdengar suara itu menggema ditempat itu. Telinga Kazikage langsung memerah mendengar hal itu, dengan cepat tubuhnya berbalik. Belasan tombak dihadapannya, terlihat orang-orang yang berkumpul ditempat itu telah menyingkir secara teratur hingga memperlihatkan seseorang yang berdiri dengan gagahnya. Ia mengenakan caping yang menutupi wajahnya. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut rompi berwarna merah dan bersisik keemasan tanpa lengan sehingga rajah naga emas melingkar yang ada dilengan kirinya yang kekar terlihat semakin menambah kejantanan pemuda itu. Juga mengenakan celana bersisik berwarna hitam keperakan. Di kedua tangannya tampak tersampir 10 gelang emas yang tersusun rapi disepanjang lengannya.
“Baraka...” Sebuah nama keluar dengan lembut dari bibir seorang gadis berparas jelita. Namanya Malagha. Malagha adalah seorang gadis keturunan timur tengah yang bermukim di Tanah Jawa. Wajah cantiknya. Bibir merah, indah merekahnya terlihat tersenyum, rupanya dia mengenali sosok pemuda yang mengenakan penutup disetengah wajahnya itu. Karena memang. Sosok itu adalah sosok Baraka yang kini sudah melangkah ke hadapan Kazikage. Walau sedikit cemas, tapi Malagha yakin, Baraka bisa mengalahkan Kazikage, karena Malagha tahu, bagaimana hebatnya Baraka setelah cukup lama mengenal Baraka.
Kazikage mengerutkan keningnya melihat sosok dihadapannya.
“Sebagai seorang tamu di negeri ini, seharusnya kau tahu adat. Apa orangtuamu tak mengajarkan adab kepadamu, hai! orang asing?! Atau kau ingin ku gebuk pantatmu untuk kembali ke negerimu!” ucapan sinis keluar dibibir Baraka saat dia mengatakan hal itu.
Kata-kata Baraka membuat orang-orang yang ada ditempat itu hampir saja tak kuat menahan tawa, tapi sebagian lagi sampai tak bisa berkata apa-apa.
“Benar-benar cari mati dia...”
“Tamat dah... tamat dah riwayatnya”
“Dasar gendeng! Apa dia tidak tahu, siapa lawan yang ada dihadapannya saat ini...!”
Terdengar kasak-kasak beberapa orang diberbagai tempat yang rata-rata mengatakan betapa konyolnya Baraka yang berani mempromokasi Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari tersebut.
Pada awalnya, Baraka memang tak ingin terlibat dalam masalah ini, tapi begitu mendengar kata-kata Kazikage yang sangat mengusik rasa cinta tanah airnya. Jiwa kependekaran Baraka bergejolak.
Sementara itu, Kazikage yang memerah wajahnya. Masih berusaha menahan dirinya dan melihat sosok yang ada dihadapannya dengan penuh selidik.
“Siapa kau?!” tanyanya dengan dingin.
“Aku?! Huh! Kau tak pantas untuk mengetahui namaku.. Oh tidak, bahkan kau tak layak!” kata Baraka dengan jumawanya. Hingga lagi-lagi membuat wajah Kazikage mengkelam hitam. Amarah benar-benar telah mencapai otaknya.
Wusshh...!
Tiba-tiba saja sosok Kazikage sudah berkelebat kedepan dengan sangat cepatnya, semua harus menahan nafas melihat hal itu.
“Mati dah, mati tuh si anak!” kata salah seorang penonton tak kuat untuk melihat nasib Baraka.
“Modar.. modar dah!” sahut yang lain ikut-ikutan menutup mata, karena tak kuat melihat hasil akhirnya.
Gemuruh suara terdengar menyayangkan nasib Baraka yang akan kelar sebentar lagi. Tapi semua pendapat itu terpatahkan, wajah-wajah ditempat itu berubah seperti baru saja tersambar petir. Bagaimana tidak? Sosok Kazikage yang tadi berkelebat cepat kearah Baraka untuk melayangkan serangannya, tiba-tiba saja berhenti tepat 1 tombak dihadapan Baraka.
Kazikage berhenti karena saat ini, tepat didepan matanya, tersodor sebuah seruling berhulu Naga yang jika Kazikage tidak menghentikan langkahnya, matanya sudah pasti akan tertusuk oleh senjata itu.
Untuk pertama kalinya, wajah Kazikage berubah, keringat dingin mengucur dari wajahnya. Kazikage memperhatikan senjata lawan yang ada didepan matanya itu. Sekali lihat saja, dia tahu kalau senjata itu bukan senjata biasa. Sementara Baraka masih berdiri santainya mengacungkan ujung suling pusakanya yang bernama Suling Naga Krishna itu kearah lawannya.
Dalam jarak sedekat ini, Kazikage dapat melihat sosok yang ada dihadapannya dengan lebih jelas. Kazikage dengan cepat menggerakkan tangannya untuk menepis suling didepan matanya itu, tapi tiba-tiba saja Suling mustika itu sudah ditarik oleh Baraka dengan cepat, selanjutnya kembali Suling mustika itu berada tepat didepan kedua matanya. Dan ini membuat kedua mata Kazikage berkedut.
Pencarian mereka dilakukan hingga beberapa saat lamanya. Namun agaknya tak satu pun temukan orang yang dicurigai telah lakukan pembunuhan terhadap beberapa pengawal tandu itu. Tepat di sebuah karang bertebing batu, secara tak sengaja mereka berkumpul kembali dari berbagai arah."Tak ada yang bisa ku lacak," kata Tembang Selayang."Aku pun tak menemukan apa-apa," kata Pendekar Kera Sakti.Sang Resi diam sebentar, kemudian setelah pandangi keadaan sekeliling, ia berkata dengan suara pelan mirip orang menggumam. "Gundik Sakti yang lakukan pembunuhan itu! Pasti dia orangnya.""Mengapa dia lakukan terhadap para pengawalnya sendiri? Mengapa tidak ia lakukan terhadap diri kita?" tanya Tembang Selayang bernada menyanggah pendapat Resi Pakar Pantun."Gundik Sakti merasa kecewa terhadap para pengawalnya yang tak mampu tumbangkan diriku," ujar sang Resi. "Ia merasa sia-sia punya pengawal seperti mereka, lalu merasa lebih baik membuang mereka ke neraka!"
"Benar-benar kosong? Kau tidak bohong?""Bohong," jawabnya pendek dan menjengkelkan.Ploook...! Wajah orang itu dihantam keras-keras oleh pangkal telapak tangan Tembang Selayang, hingga terpental beberapa langkah jauhnya. Tapi orang itu tetap bengong seperti tak pernah mengalami apa-apa.Pengawal yang satu juga direnggut Tembang Selayang, mata gadis itu pancarkan kemarahan lebih tajam lagi. Ia menggertak dengan suara keras, tanpa mengejutkan dan tanpa memancing perhatian para pengawal lainnya yang keadaannya seperti orang linglung itu."Di mana perempuan bejat itu! Jawab...!""Bejat!" jawab orang tersebut dengan agak keras."Kuhabisi masa hidupmu kalau kau main-main denganku. Jawab dengan benar atau kuhabisi masa hidupmu, hah!""Hiduuup...! Hiduuuupp...!" orang itu justru bersorak.Tembang Selayang jengkel sekali dan dihantamnya dada orang itu.Buuuhg...! Wuuuus...! Brruk...!Orang itu jatuh terpuruk tanpa tenaga.
Kemudian gadis berkulit kuning langsat itu maju selangkah dan berseru tertuju pada tandu hitam yang masih tertutup kain hitam tak bergerak sedikit pun sejak tadi. Tandu itu diletakkan di tanah pada tempat yang terbuka tanpa pelindung pohon ataupun semak. Keberadaannya seakan persis di tengah arena pertarungan. "Gundik Sakti, keluar kau dari tandumu! Kita masih punya perkara yang belum selesai!" sentak Tembang Selayang.Setelah ditunggu dua helaan napas tak ada jawaban dan tak ada gerakan apa pun dari tandu hitam itu, Tembang Selayang serukan kata kembali dengan nada marah."Sejak kapan kau jadi pengecut, Gundik Sakti! Keluarlah sekarang juga, kita selesaikan urusan lama kita di sini juga! Kita tentukan siapa yang berhak pergi ke neraka lebih dulu! Cepat keluar!"Tandu hitam tetap tak bergeming. Namun Tembang Selayang makin menjaga kewaspadaannya, karena ia tak ingin terjebak oleh serangan yang bisa muncul sewaktu-waktu dari dalam tandu. Sementara itu, Pendekar K
Gadis itu menatap mata Kadal Ginting dengan tak berkedip. Darah Kadal Ginting bagaikan mengalir cepat, jantung berdetak lamban, nyawanya terasa sedang disedot melalui tatapan mata itu. Rasa takut dan pasrah membuat bagian bawah Kadal Ginting menjadi basah; seluruh keringat mengalir ke paha dan betis bagai diperas dari pori-pori tubuhnya."Jangan main curang kau!" hardik gadis berjubah ungu yang usianya sekitar dua puluh empat tahun itu."Oh, hmmm... eeh... tid... tidak. Aku... aakk... aku tidak bermain curang. Aaaku... aku hanya bermain mata. Eh, bukan... maksudku... aku hanya mengintai pertarungan tuanku itu dari sini. Aku tidak bermaksud curang. Sungguh. Berani sumpah disambar kacang rebus, aku tidak bermaksud jahat, Nona... eh, Dewi..., eh, Bibi... eh, Nyai... eh, eh, eh, eh...." Kadal Ginting terengah-engah diburu rasa takut.Gadis berjubah ungu memandang ke pertarungan. Ternyata pertarungan telah berhenti, entah hanya sementara atau selamanya. Yang jelas, o
LANGIT yang semula cerah mulai dilapisi gumpalan awan hitam. Sinar mentari tak bisa menembus pancarkan suryanya ke bumi. Akibatnya alam bagaikan dirundung duka dan bumi seakan tak lagi punya daya. Dalam gugusan awan hitam itu sesekali tampak percikan cahaya biru yang berkerilap menghantam awan tanpa mega. Kilatan cahaya biru sering kelihatan berusaha menjilat pucuk-pucuk cemara bagai mencari kesempatan untuk menghantam ujung sebuah gunung. Gelegar suara petir pun menggema serasa ingin menelan seluruh suara yang ada di permukaan bumi. Namun pekik pertarungan di kaki gunung itu masih saja tak mau kalah dengan suara petir yang mengguntur di sana-sini.Pekik pertarungan itu terlontar dari mulut orang-orang pengusung tandu ber warna hitam. Empat pengawal utamanya maju serentak menyerang tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun lebih, mengenakan pakaian model biksu ber warna abu-abu, rambutnya beruban tipis berkesan botak bagian tengahnya. Tokoh tua yang berjenggot dan berkumi
Baraka tak mau buang-buang waktu lagi. Ia segera lepaskan pukulan ‘Tapak Dewa Kayangan’ dari telapak tangannya. Sinar putih perak menghantam lapisan sinar hijau bening.Claaap...! Blegaaar...!Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja mengguncang bumi namun membuat langit menjadi mendung seakan ingin runtuh. Baraka terlempar dalam satu sentakan gelombang ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya bergulingguling dan hidung serta telinganya melelehkan darah kental. Ia segera bangkit bersama murkanya."Hiaaat...!" Pendekar Kera Sakti melompat ke udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia yang sudah termakan nafsu amarah pun tak ingin tanggung-tanggung lagi. Maka Pemuda dari lembah kera tak ingin membuang-buang waktu, segera dikerahkannya pukulan andalan Eyang Jaya Dwipa, Ilmu ‘Angin Es dan Api’.Maka begitu tenaga dalamnya dikerahkan, kedua telapak tangannya berubah menjadi berk
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai







