LOGINSuttt...! Dan dari tengah dahi si orang tua itu melesat sinar putih lurus bagaikan sebatang kawat baja yang menghantam ke arah dada Baraka.
Clappp...!
Baraka menangkisnya dengan suling ditangan. Kemudian sinar itu membalik dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.
Wesss...!
"Konyol!!" sentak si Poci Dewa sambil melompat bersalto ke arah samping. Sinar putihnya yang membalik akhirnya menghantam sebongkah batu besar jauh di belakang tempat berdirinya semula.
Bl
Suttt...! Dan dari tengah dahi si orang tua itu melesat sinar putih lurus bagaikan sebatang kawat baja yang menghantam ke arah dada Baraka.Clappp...!Baraka menangkisnya dengan suling ditangan. Kemudian sinar itu membalik dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.Wesss...!"Konyol!!" sentak si Poci Dewa sambil melompat bersalto ke arah samping. Sinar putihnya yang membalik akhirnya menghantam sebongkah batu besar jauh di belakang tempat berdirinya semula.Blegarrr...!Batu besar itu pecah dan menghamburkan kerikil-kerikil ke udara jumlahnya hampir ribuan kerikil. Ketika salah satu kerikil sempat melesat jatuh di kaki Cumbu Bayangan, gadis itu terbelalak melihat batuan kerikil itu menjadi debu putih yang menggumpal. Sekali injak lenyap."Gila betul pemuda itu! Dia bisa membalikkan jurus berbahaya itu dan menambah kekuatannya. Padahal jika jurus itu tidak memantul balik, hanya akan membuat batu itu hancur menjadi serpihan kecil, tapi ti
"Wah, gadis itu bakal remuk nganggur kalau begitu caranya?" pikir si pengintai.Kemudian ia melesat keluar dari persembunyiannya.Zlappp...!Dalam sekejap ia sudah berada di depan Poci Dewa. Mata si Poci Dewa terkesiap memandang kemunculan seorang pemuda yang tidak diketahui dari mana datangnya. Pemuda itu berambut poni tak mengenakan ikat kepala. Bajunya rompi berwarna keemasan tanpa lengan. Di punggung lengannya terlihat rajah naga emas melingkar. Melihat ciri-ciri seperti itu, Poci Dewa langsung sadar akan siapa yang ada di depannya saat itu."Kau...!""Aku bukan kau. Aku Baraka, Eyang.""Iya, maksudku mau bilang; kau Pendekar Kera Sakti, mau apa menghadapku tanpa memberi kabar sebelumnya?""Bagaimana aku mau memberi kabar kepadamu, Eyang. Aku belum tahu siapa dirimu!""Aku yang berjuluk Poci Dewa! Aku tahu siapa kau, sebab aku kenal dengan gurumu; Setan Bodong itu.""O, jadi Eyang Poci sahabat guruku?""Benar.
SEBUAH pukulan membuat si gadis melayang tinggi dan tersangkut di dahan pohon. Jika bukan pula bertenaga dalam tinggi tak mungkin bisa membuat gadis itu nyangsang di pohon. Dan jika bukan si gadis punya lapisan tenaga dalam tebal, tentunya sudah hancur berkeping-keping, setidaknya jebol punggungnya. Seandainya ada yang melihat pertarungan tersebut, pasti akan mengatakan pertarungan itu adalah pertarungan tak seimbang. Yang dipukul gadis cantik berusia sekitar dua puluh satu tahun. Wajahnya masih imut-imut, penuh pancaran pesona muda belia. Sedangkan yang memukulnya tadi seorang lelaki berusia sekitar delapan puluh tahun lebih.Tokoh tua yang tubuh kurusnya dililit kain putih menyilang di pundak model biksu itu dikenal dengan nama Poci Dewa, karena dialah satu-satunya tokoh di dunia persilatan yang aliran silatnya menggunakan gerak-gerak seperti poci teh. Di padepokannya ia mempunyai aneka macam poci, bahkan ada yang berasal dari tanah Tiongkok.Poci Dewa selalu berpaka
"Keparat! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, hah! Terima ini jurusku yang bukan sekadar permainan anak kemarin sore. Hiaaah...!"Sang Ratu lepaskan pukulan bersinar biru bagaikan bola berekor.Wuusss...! Sinar biru itu keluar dari telapak tangannya yang dihantamkan ke arah Pendekar Kera Sakti. Maka sinar biru itu pun meluncur cepat ke arah sang Pendekar.Melihat kemunculan sinar biru itu, Baraka segera melepaskan pukulan 'Tapak Guntur ' yang memancarkan sinar biru terang.Claaap...!Sinar biru terang segera beradu dengan sinar biru di pertengahan jarak.Blaab...! Blegaaarr...!Cahaya ungu berkerilap dari hasil benturan dua sinar tadi. Ledakan menggelegar pun sempat mengguncang tanah lapang alun-alun, membuat orang-orang menjadi gaduh karena ketakutan. Namun di luar dugaan, ternyata sinar ungu itu menguncup dan membentuk gumpalan sinar biru lagi yang melesat ke arah Baraka.Wuuusss...!"Gila! Sinarnya masih utuh!" senta
Namun Baraka bagai tidak memainkan jurus sedikit pun. Ia hanya berjalan pelan mondar-mandir di depan sang Ratu sambil mata memandang dan bibir sunggingkan senyum. Senyum itu tetap merupakan 'Penakluk Hawa' yang membahayakan bagi perempuan mana pun juga."Bersiaplah, Kekasihku...!" geram sang Ratu sambil mengubah posisi kuda-kudanya, makin mendekat lagi."Seranglah aku jika kau perempuan yang gemar bercinta."Sang Ratu bagai ditantang kemesraannya. Untuk membuktikan kehebatan bercintanya, sang Ratu segera melepaskan serangan lebih dulu dengan satu lompatan kecil yang mencapai tanah depan Baraka"Hiiaah...!"Jleeeg ..! Lalu mereka beradu kecepatan tangan dalam memukul dan menangkis.Plak, plak, plak, plak, plak....Zlaaab...! Baraka bergerak melingkar hingga berada di belakang sang Ratu. Gerakan itu tak diketahui oleh sang Ratu karena Baraka menggunakan Jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan'-nya.Ketika perempuan itu
Perempuan yang kini menjadi wanita paling kerempeng seistana itu segera turun dari tandu. Dua pengawal mendampinginya di kanan-kiri. Kepalanya yang gundul tanpa selembar rambut dipayungi oleh seorang pembawa payung dari belakang. Ratu Sukma Semimpi segera mendekati Baraka dengan pandangan mata yang berbinar-binar. Semakin dekat semakin mekar senyumnya menandakan kegembiraan hatinya saat itu."Selamat datang di Tanah Ratu, Pendekar Kera Sakti; Baraka!" sapa sang Ratu dengan penuh wibawa.Baraka membungkuk, memberikan hormat ala kadarnya. Karena ia diberi tahu oleh Putri Malu bahwa sang Ratu suka dengan hormat dan sanjungan."Salam hormatku untukmu, Gusti Ratu.""Terima kasih. Kau benar-benar lelaki yang pandai membuat hatiku bangga dan gembira."Baraka segera sunggingkan senyum. Hati sang Ratu bergetar melihat senyuman itu. Ia tak tahu bahwa Baraka telah gunakan jurus 'Penakluk Hawa' yang mampu membuat lawan kasmaran dan mau tak mau pasrah
Ningrum menyeruak keluar dari bawah air, rambut hitam panjangnya telah basah sempurna hingga membentuk sebuah caping legam di atas kepala. Air bening bagai memenuhi seraut wajah cantik memukau terus mengalir turun ke leher jenjang, meluncur cepat di atas sepasang bukit-bukit kenyal nan padat di d
Tepat ketika sosok berpakaian putih-putih itu mendarat, batang pohon randu itu tumbang dan jatuh berdebam ke tanah. Bumi bergetar hebat. Debu-debu kontan membubung tinggi memenuhi sekitarnya. Sedang Dewa Abadi tampak masih tegak di tempatnya. Sedikit pun juga tidak terpengaruh oleh keadaan di bel
“Kek...,” tegur Baraka setengah berbisik ketika telah berada di sisi orang tua berbaju putih itu. Baraka diam sebentar, sambil terus mengamati tindakan orang tua itu.“Kek...! Hey, Kakek,” ulang Baraka lebih keras.Tapi orang yang ditegur tetap saja mematung ta
"Cepat jawab pertanyaanku! Benarkah kau bergelar Pendekar Kera Sakti!" bentak Iblis Pocong garang.Baraka alias Pendekar Kera Sakti tenang saja, seperti tak mempedulikan kehadiran kedua orang tua itu."Kau ini bertanya pada siapa, Pak Tua," kata Baraka, kalem."Keparat! Aku bert







