เข้าสู่ระบบDengan gerakan cepat, Kazikage kali ini berusaha menangkap ujung Suling mustika itu, tapi lagi-lagi ia kecela, Suling mustika itu kembali di tarik oleh Baraka dengan cepat dan seketika itu pula Suling mustika itu kembali berada tepat di depan kedua mata Kazikage. Begitu seterusnya yang terjadi, berkali-kali Kazikage berusaha menepis atau menangkap Suling mustika didepan matanya itu, tapi selalu tidak terhasil.
Hal ini benar-benar sangat mengejutkan, Kazikage yang sangat membanggakan kecepatannya dibuat tidak berdaya didepan seorang pemuda yang masih sangat belia. Beberapa orang tak tahan untuk menahan senyum mereka melihat Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari telah berhasil dipermainkan didepan banyak orang.
Kazikage bukannya tidak menyadari akan rasa malunya saat ini. Maka tak ingin terjebak lebih lama. Kazikage melesat kearah sebelah kanan untuk melancarkan serangannya, tapi lagi-lagi langkah Kazikage terhenti saat Suling mustika lawannya kembali berada tepat didepan kedua matanya. Rupanya Baraka juga bertindak cepat untuk menahan serangan Kazikage.
Melihat serangannya gagal, Kazikage kembali bergerak cepat ke samping lainnya, tapi lagi-lagi ujung Suling mustika itu berada didepan kedua matanya. Begitu seterusnya, kemanapun Kazikage bergerak, Suling mustika Baraka selalu selangkah lebih dulu dari gerakannya.
Merasa selalu didahului lawannya, Kazikage langsung melompat mundur menjauh, tapi baru saja kedua kakinya menjejak tanah. Dengan gerakan yang sangat cepat, Kazikage melepas sandal kayunya. Hal ini juga dilakukan tadi saat menghadapi Pangeran Anggoro Wardana. Dengan melepas sandal kayunya, berarti Kazikage sudah serius menghadapi lawannya, kecepatannya meningkat dengan sangat tajam.
Lesatan tubuhnya bagaikan lesatan anak panah yang terlepas dari busurnya. Bahkan ;
Cring!
Kazikage melepas salah satu katana dipinggangnya dan melanjutkan serangannya kearah Baraka, tapi sayang yang menjadi lawan Kazikage adalah Baraka. Kecepatan yang dimiliki oleh Kazikage masih belum apa-apa dalam pandangan Baraka. Dengan ‘Mata Dewa Kayangan’ nya, Baraka dapat melihat dengan jelas semua gerakan yang dilakukan oleh Kazikage. Maka dengan gerakan tenang, Baraka mengibaskan Suling mustikanya.
Trang...!
Wajah Kazikage berubah saat serangannya berhasil di tangkis oleh lawannya, padahal dalam serangannya kali ini, Kazikage telah mengerahkan seluruh kecepatannya. Di tambah lagi, Kazikage hanya menggunakan satu katananya saja dalam menyerang, ini akan membuat kecepatannya jauh lebih cepat dari saat menggunakan 3 katana.
Kazikage mengerahkan salah satu jurus andalannya dengan menggunakan 1 katana.
“Ittouryuu Iai, Shishi Sonson” (Ilmu menghunus satu pedang: Nyanyian Singa).
Trangg...! Trangg...!! Trangg...!!!
Tapi dengan tenang, Baraka berhasil menangkis serangan Kazikage dengan Suling mustika ditangannya. Selanjutnya, keduanya bertarung dengan sengit, bahkan kecepatan keduanya tak bisa lagi dilihat dengan mata telanjang. Hanya bunga-bunga api berpijar yang terlihat dari beradunya kedua senjata.
Keringat dingin semakin membanjiri tubuh Kazikage, kali ini dia benar-benar menemukan lawan yang benar-benar merepotkan. Baraka sendiri, saat ini mampu mengimbangi serangan Kazikage dengan jurus ‘Kera Gila’. Tak heran, Kazikage sangat kewalahan menghadapinya.
Merasa serangannya selalu dipatahkan oleh lawannya, tak ada jalan lain bagi Kazikage selain melompat mundur. Kini dapat terlihat bagaimana sekujur tubuh Kazikage sudah dipenuhi keringat, nafasnya tersengal-sengal. Baraka sendiri terlihat masih tenang berdiri ditempatnya dengan senyum sinisnya.
“Hanya begitu saja kemampuanmu! Mana kecepatan yang kau banggakan tadi, Ha!” hardik Baraka dengan jumawa. Membuat wajah Kazikage semakin mengkelam penuh kemarahan. Pandangannya terlihat sangat tajam, kalau saja dengan matanya dia bisa membunuh Baraka. Mungkin Baraka sudah terbunuh ribuan kali.
Begitu marahnya dia, sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Sementara itu para penonton terlihat juga sangat sinis memandang kearah dirinya, bahkan terdengar beberapa celetukan nyelekit yang merendahkan harga dirinya sebagai Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari. Hal ini membuat kemarahan Kazikage semakin menjadi-jadi.
Sregg..! Sregg..!
Kazikage mencabut 2 katana lainnya, kini tiga katana sudah berada ditangannya, satu katana berada didalam cengkraman mulutnya.
Weerrr...!!
Dua pedang katana yang ada ditangan kanan dan kiri Kazikage kembail mengeluarkan cahaya hitam kelam yang kemudian membungkus kedua katana itu. Setelah cahaya hitam kelam itu hilang, kini kedua katana ditangan Kazikage telah berubah menjadi hitam metalik. Aura kematian terpancar kuat dari senjata ditangan Kazikage. Semua yang melihat bagaimana tadi, Kazikage berhasil mengalahkan Pangeran Anggoro Wardana dengan jurus itu, tak dapat untuk menahan nafas mereka karena tegangnya. Bahkan Malagha ditempatnya terlihat sangat khawatir.
Kazikage sendiri sudah menyatukan ujung gagang kedua katananya, lalu memutarkannya dengan cepat hingga membentuk satu pusaran pedang yang dahsyat.
Wussshhh...!
Dengan gerakan yang sangat cepat, Kazikage melesat kedepan.
“Santoryuu Ougi, Sanzen Sekai, Heaaa!”
Serangan pamungkas dikerahkan.
“Kau kira dengan jurus yang sama bisa mengalahkanku, jangan mimpi!” suara Baraka terdengar keras membahana, mencoba mengalahkan suara Kazikage dalam pengerahan jurusnya. Kazikage terkejut mendengar hal itu, tapi serangannya tetap dilancarkan dengan sekuat tenaganya, Kazikage yakin, dengan jurus pamungkasnya ini, tak ada yang bisa menang darinya. Karena jurus ini sudah bisa mengalahkan semua jago-jago yang menjadi lawannya. Pangeran Anggoro Wardana adalah salah satunya.
Tapi wajah serius diwajah Kazikage dalam melancarkan serangannya, tiba-tiba saja berubah saat melihat gelang-gelang yang ada di kedua lengan lawannya tampak melesat cepat kearahnya. Rupanya Baraka telah menggunakan Gelang Brahmananda-nya.
Begitu Baraka menghentakkan kedua tangannya kedepan. Wings... Wings... Wings... Wings... Wings...!
Ke-10 ‘Gelang Brahmananda' melesat kedepan dan menghantam putaran pedang serangan pamungkas Kazikage, bahkan yang lebih mengejutkan lagi. Gelang Brahmananda seperti memiliki nyawa sendiri. Bergerak sendiri melancarkan serangannya kearah Kazikage. Bukan hanya Kazikage yang sangat terkejut dengan hal ini, bahkan semua orang yang ada ditempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi ?
Di tempatnya berdiri, Baraka terlihat menggerakkan kedua tangannya untuk mengendalikan Gelang Brahmananda-nya, jurus ‘Hujan Cincin Bertaburan’ digelar. Hal ini membuat Kazikage kemudian terdesak mundur oleh karena hebatnya serangan Baraka. Serangan Santoryuu Ougi, Sanzen Sekainya gagal total.
Orang yang baru datang berwajah kembar dengan Rara Santika itu pandangi Baraka dengan tajam. Tapi sebelum ia bicara, Rara Santika lebih dulu dekati Baraka dan berkata. "Cantik sekali adik kembarku itu, bukan! Tapi sayang dia berada di jalan yang sesat! Perhatikan kesamaannya denganku. Bukankah hal yang pantas jika setiap orang menyangka diriku adalah Gundik Sakti! Padahal dialah orang yang selama ini berjuluk si Gundik Sakti.""Aku bukan Gundik Sakti!" seru perempuan yang baru datang itu. "Aku adalah Rara Santika! Kau jangan melemparkan dosa padaku, Sumina!" tudingnya kepada perempuan yang di samping Baraka.Perempuan itu hanya tersenyum sinis, lalu berkata kepada Baraka dengan nada manja, "Dia ketakutan kepada kita, sebab dia tahu jika kekuatan kita menjadi satu, dia akan hancur lebur dalam sekejap saja! Tapi, aku tak ingin kau ikut celaka. Kalau tubuhmu luka atau lecet sedikit saja, nanti masa bercumbu kita kurang hangat, Baraka. Sebaiknya kau menyisi dulu, biar kuha
Raja Maut kerahkan tenaganya dengan tangan membuka ke atas membentuk cakar pada jari-jarinya. Tangan itu segera menyentak ke sana-sini dengan cepat, kemudian berhenti di pertengahan dada. Seluruh jarinya menggenggam kecuali jari tengah dari kedua tangan. Jari tengah itu saling merapat, kemudian dengan kaki menghentak ke bumi, kedua tangan yang jari tengahnya saling merapat lurus itu menyentak ke depan.Suuut...!Selarik sinar biru tanpa putus melesat dari ujung kedua jari tengah itu. Sinar itu semakin jauh semakin melebar dan membesar, hingga akhirnya menghantam tubuh Rara Santika. Namun dalam jarak dua langkah sebelum mencapai tubuh perempuan montok itu, sinar biru tersebut telah pecah menyebar dan menimbulkan ledakan yang amat dahsyat.Blegaaaarrr...!Air sungai meluap seketika, tanah bagaikan dihentak gelombang dari kedalaman bumi. Batu-batuan terpental, ada yang pecah seketika, ada pula yang hanyut terbawa arus sungai. Pepohonan tumbang beberapa bagia
Suara tua si Raja Maut masih terdengar cukup lantang, wajahnya kelihatan memancarkan kemarahan cukup besar, ia berseru kembali kepada Rara Santika, "Gundik Sakti, mata tuaku ini tak bisa ditipu oleh kelicikanmu! Aku masih cukup jelas mengenalimu sebagai orang yang membawa lari muridku; Sri Murti, dan menjadikannya sebagai tumbal tiga purnama yang lalu! Sekarang aku menuntut balas atas kematian muridku itu, juga atas kematian para tumbal lainnya!""Jika kau masih bersikeras untuk mengadu kesaktian denganku, aku pun akan melayanimu dengan senang hati, Monyet Tua!" seru perempuan itu dengan keras dan berkesan kasar, ia segera dekati Baraka yang sedang bingung dalam mengambil sikap dan berbisik lirih, "Menjauhlah sedikit, biar kubereskan dulu si monyet tua ini! Jangan ikut campur, karena dia berilmu lumayan tinggi.""Mengapa... mengapa ia bersikeras menganggapmu sebagai Gundik Sakti, Santika?""Itulah kebodohannya. Kebodohan itu harus dibantai agar tidak menular kep
Perempuan itu maju selangkah lagi hingga jaraknya tinggal satu langkah dari depan Baraka. Bibirnya yang menggemaskan sunggingkan senyum menggoda, matanya mengerling sambil berucap kata, "Jangan buang-buang waktu. Setelah kulakukan pengobatan untuk menawarkan racun di tubuhku, kita akan punya banyak waktu untuk merajut keindahan di ruang bawah reruntuhan biara itu, Baraka."Kling...! Mata kiri perempuan itu berkerling lagi.Jantung Baraka bagaikan dibetot. Kaget namun segera merasakan keindahan mengalir di setiap aliran darahnya. Rasa indah itu telah menimbulkan perasaan kagum dan bahagia yang menguasai jiwa. Senyum pemuda dari Lembah Kera itu pun segera mengembang mempesona hati lawan jenisnya."Kita harus cepat sampai ke tempat kita semalam, lalu kita lewatkan saat-saat indah di sana."Baraka menjawab dengan debaran hati penuh rasa suka cita tiada terkira. Bahkan tangannya berani mencubit dagu perempuan cantik itu tanpa canggung lagi."Akan kuberi
Begitu kata-kata Dewa Racun yang sempat terngiang di telinga Baraka. Untuk meyakinkan kebenaran tentang racun yang mengenal leher Rara Santika, Baraka pun segera ajukan pertanyaan ketika Rara Santika mulai meraih lengannya dan minta diantar kembali ke reruntuhan biara."Perasaan apa yang kau alami ketika serangan itu mengenaimu?""Hmmm... perasaan takut. Takut sekali. Melihat batu saja takut. Tapi, ah... sudahlah. Perasaan itu sekarang sudah tak ada lagi padaku. Mengapa harus kau hiraukan?""Karena rasa takut yang timbul itulah ciri khusus pada penderita 'Racun Simalakama'. Kau akan mati, Santika!""Tidak mungkin. Kau akan lihat sendiri hasilnya setelah kulakukan semadi di ruang bawah reruntuhan biara itu! Antarkan aku ke sana. Temanilah aku, Baraka,"Rara Santika bernada manja dengan suaranya yang masih sedikit parau. Baraka menganggap perubahan suara parau itu akibat dari terkena racun tersebut."Hei, mengapa tak kau cari penyerangmu itu!
"Tak ada orang yang kutemukan di sana," ujar Baraka sambil mendekat. "Kenapa kau terpekik, Santika?""Orang itu menyerangku lagi," ucapnya dengan suara agak parau."Ada apa dengan lehermu?" Baraka curiga, kemudian menarik tangan Rara Santika yang sedang mengusap-usap leher. Dahi Baraka segera berkerut melihat noda hitam membekas jelas di leher kiri Rara Santika."Kau... oh, lehermu terluka, Santika!""Membekas merah?""Membekas hitam, bagaikan hangus terbakar!""Oh, celaka...!" ia tampak tegang. "Besarkah noda hitam ini?""Sebesar kacang tanah.""Keparat orang itu! Ia menyerangku dengan sesuatu yang tak sempat kulihat. Mungkin seberkas sinar, mungkin pula sebuah benda kecil. Tapi... rasanya napasku makin lama semakin sesak.""Bahaya sekali ini, Santika!" gumam Baraka bernada cemas. "Biar kubantu obati agar noda hitam itu hilang.""Tidak, jangan..."“Tapi...," Baraka terbungkam seketika. Noda hitam yan
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







