Home / Pendekar / Pendekar Kera Sakti / 101. Mencari Jalan Keluar

Share

101. Mencari Jalan Keluar

last update publish date: 2024-05-22 01:02:45

Dan tiga tarikan napas kemudian, apa yang dikhawatirkan Baraka benar-benar menjadi kenyataan. Makhluk-makhluk gundul bertangan dan berkaki pendek menerjang dari segala jurusan!

Suara hiruk-pikuk terdengar memekakkan gendang telinga. Sambil menyerang, makhluk-makhluk berbentuk bulat seperti bola itu mengeluarkan suara geram aneh yang mirip lolongan serigala.

Mereka berusaha membenturkan tubuh mereka yang nyaris hanya berupa kepala ke dada Baraka ataupun Kemuning. Jangan dikira be

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Kera Sakti   1695. Part 2

    Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut. Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Kera Sakti. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak mudah itu. Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."Pendekar Kera Sakti semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?""Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.Baraka

  • Pendekar Kera Sakti   1694. TULANG NAGA

    SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan sara. Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini, siapa pun yang lewat di hamparan puing-puing hitam itu akan merinding bulu kuduknya. Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda tampan berambut poni tanpa ikat kepala. Pemuda yang kenakan rompi tanpa lengan itu pandangi tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas kekejian yang telah melanda tempat tersebut.Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu mempunyai sepasang mata tajam berwarna biru yang kala itu tak mampu berkedip karena terperangah menyaksikan keadaan sekitarnya. Pemuda yang dikenal dengan nama Baraka alias si Pendekar Kera Sakti."Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Kera Sakti membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan sekali. Di sana-sini bergelimpan

  • Pendekar Kera Sakti   1693. Part 23

    Dua penjaga sedang bicara dengan kelengahan yang menguntungkan Salju Kelana. Perempuan berjubah putih itu segera lepaskan jurus 'Darah Beku' berupa sinar bintik-bintik putih seperti serbuk beling yang melesat dari ujung jari telunjuk dan jari tengah yang merapat.Class...! Srrubb...!Kedua penjaga itu tetap berdiri dengan keadaan saat bicara. Tapi mereka sudah tidak bisa bergerak lagi. Bahkan berkedip pun tak bisa. Darahnya membeku dan lama-lama kulit tubuhnya mengeluarkan busa salju. Seorang penjaga lain menghampiri orang yang telah dibungkus salju samar-samar itu. Ia menyangka kedua temannya masih bisa diajak bicara."Hei, kalian ini jaga kok malah ngobrol? Kalau ada bahaya bagaimana! Lho...! Lho...".!"Saat orang itu bingung melihat keadaan kedua temannya, Salju Kelana cepat lepaskan jurus 'Darah Beku' kembali.Class...! Maka orang itu pun bernasib sama dengan kedua temannya.Sementara itu, Kinanti bergerak makin mendekati pintu belakang

  • Pendekar Kera Sakti   1692. Part 22

    "Calon Istriku," sahut Baraka, kemudian menceritakan secara singkat tentang Hyun Jelita yang merupakan perempuan yang sudah ditakdirkan menjadi istrinya oleh garis perjalanan hidup mereka. Salju Kelana tundukkan kepala dan merasa sedih."Tapi selama kau belum mendapatkan seorang suami, aku tetap akan mendampingimu. Karena wajahmu persis sekali dengan Hyun Jelita. Kita memang bisa bersama-sama, tapi tidak bisa bersatu dalam kemesraan abadi."Salju Kelana menarik napas berusaha menenangkan gemuruh yang ada di hatinya, ia tidak bicara apa pun, sampai Kinanti akhirnya datang sambil menenteng seorang lelaki agak pendek berpakaian biru, badannya agak gemuk dan rambutnya pendek mengenakan ikat kepala biru juga."Aku tak tahu murid siapa dia, tapi kutemukan dalam keadaan mengintip kalian berdua," kata Kinanti sambil melemparkan tubuh itu bagai melemparkan sarung basah.Brruk...!Baraka memandang dengan dahi berkerut heran. "Bagus Sepasar...!" gumamnya liri

  • Pendekar Kera Sakti   1691. Part 21

    Dengan sikap baik, Baraka mengembalikan ikat kepala mereka. Permusuhan pun mereda, bahkan Brada bertanya kepada Pendekar Kera Sakti,"Urusan apa kau ada di sini bersama dua kekasihmu itu?"Salju Kelana dan Kinanti tersenyum masam. Baraka justru tertawa tanpa suara. Tapi ia segera menjelaskan perkara sebenarnya, dituturkan dengan sejelas-jelasnya, sehingga ketiga orang yang berjuluk Tiga Malaikat Batu itu menggumam lirih."Kami pun ada persoalan dengan Demit Lanang. Delapan murid kami dilenyapkan dengan sinar 'Bintara Jingga'-nya itu. Terlepas dia tahu itu murid kami atau tidak, tapi kami akan menuntut balas atas kematian delapan murid kami.""Kita sama-sama kehilangan buronan," kata Baraka. "Tapi aku yakin dalam waktu tak lama dapat menemukan di mana Demit Lanang bersembunyi.""Kita berlomba," kata Brada. "Siapa yang menemukan Demit Lanang lebih dulu, dia yang berhak membunuhnya!""Asal Ratu Jiwandani jangan sampai cedera oleh serangan

  • Pendekar Kera Sakti   1690. Part 20

    Mereka sama-sama memakai ikat kepala dari kain merah. Pakaian mereka rata-rata berwarna gelap. Satu orang memakai jubah berlengan panjang warna abu-abu, satu lagi mengenakan jubah tak berlengan warna hitam, dan yang satu lagi mengenakan jubah belahan samping warna hijau tua. Jubah belahan samping itu seperti kain yang dilubangi untuk masuk kepala, tanpa ada bentuk dan potongan model apa pun."Celaka! Rupanya mereka yang membuat Demit Lanang buru-buru pindah dari tempat ini!" bisik Kinanti kepada Pendekar Kera Sakti. Bisikan itu juga didengar oleh Salju Kelana."Siapa mereka itu, Kinanti?""Mereka musuh utama Maha Guru Teja Biru yang dikenal dengan nama: Tiga Malaikat Batu.""Aku baru mendengar julukan itu," bisik Salju Kelana."Mereka adalah; Denawa, Sogar, dan Brada. Mereka orang-orang Teluk Sangar, ilmunya tinggi-tinggi, kebal senjata dan tak mampu ditembus sinar apa pun. Barangkali Demit Lanang sudah mengetahui rencana kedatangan mereka, sehingg

  • Pendekar Kera Sakti   1015. Part 10

    "Aha...! Pedang Wukir Kencana ada di tanganmu, Baraka! Oooh...ho ho ho...! Pucuk dicinta ulam tiba! Itu yang kucari-cari!""Barangkali kematian yang kau cari, bukan pedang ini, Nini!""Dengar Cah bagus kayak tikus...! Pedang itu adalah milik guruku, dan hanya murid-muridnya yang ber

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Pendekar Kera Sakti   651. Part 14

    "Aku hanya ingin melihat, siapa orang yang menyerang Tapak Baja dari tempat persembunyiannya! Karena saat aku hendak membawamu pergi, Tapak Baja sedang terdesak oleh serangan berilmu tinggi," ucap Pendekar Kera Sakti.“Tak perlu. Tak perlu, Baraka! Sebaiknya kita tinggalkan saja merek

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Pendekar Kera Sakti   573. Part 13

    Sementara Baraka melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang.Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tia

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Pendekar Kera Sakti   322. Part 2

    Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.Dalam terpaan lembut hawa pagi,

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status