เข้าสู่ระบบSinar mata Pendekar Kera Sakti semakin menyiratkan rasa bingung dan khawatir. Walau dia telah mengerahkan sebagian besar kekuatan tenaga dalamnya, batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' tetap tak mau keluar dari perutnya. Tentu saja Baraka tak mau menambah kekuatan tenaga dalamnya sampai ke puncak karena kalau hal itu dilakukan, justru perutnya lah yang akan jebol! Dan, hanya kematianlah akibatnya!
"Ratu Perut Bumi! Ratu Perut Bumi!" seru Baraka, menyebut nama orang yang telah
Raja Maut kerahkan tenaganya dengan tangan membuka ke atas membentuk cakar pada jari-jarinya. Tangan itu segera menyentak ke sana-sini dengan cepat, kemudian berhenti di pertengahan dada. Seluruh jarinya menggenggam kecuali jari tengah dari kedua tangan. Jari tengah itu saling merapat, kemudian dengan kaki menghentak ke bumi, kedua tangan yang jari tengahnya saling merapat lurus itu menyentak ke depan.Suuut...!Selarik sinar biru tanpa putus melesat dari ujung kedua jari tengah itu. Sinar itu semakin jauh semakin melebar dan membesar, hingga akhirnya menghantam tubuh Rara Santika. Namun dalam jarak dua langkah sebelum mencapai tubuh perempuan montok itu, sinar biru tersebut telah pecah menyebar dan menimbulkan ledakan yang amat dahsyat.Blegaaaarrr...!Air sungai meluap seketika, tanah bagaikan dihentak gelombang dari kedalaman bumi. Batu-batuan terpental, ada yang pecah seketika, ada pula yang hanyut terbawa arus sungai. Pepohonan tumbang beberapa bagia
Suara tua si Raja Maut masih terdengar cukup lantang, wajahnya kelihatan memancarkan kemarahan cukup besar, ia berseru kembali kepada Rara Santika, "Gundik Sakti, mata tuaku ini tak bisa ditipu oleh kelicikanmu! Aku masih cukup jelas mengenalimu sebagai orang yang membawa lari muridku; Sri Murti, dan menjadikannya sebagai tumbal tiga purnama yang lalu! Sekarang aku menuntut balas atas kematian muridku itu, juga atas kematian para tumbal lainnya!""Jika kau masih bersikeras untuk mengadu kesaktian denganku, aku pun akan melayanimu dengan senang hati, Monyet Tua!" seru perempuan itu dengan keras dan berkesan kasar, ia segera dekati Baraka yang sedang bingung dalam mengambil sikap dan berbisik lirih, "Menjauhlah sedikit, biar kubereskan dulu si monyet tua ini! Jangan ikut campur, karena dia berilmu lumayan tinggi.""Mengapa... mengapa ia bersikeras menganggapmu sebagai Gundik Sakti, Santika?""Itulah kebodohannya. Kebodohan itu harus dibantai agar tidak menular kep
Perempuan itu maju selangkah lagi hingga jaraknya tinggal satu langkah dari depan Baraka. Bibirnya yang menggemaskan sunggingkan senyum menggoda, matanya mengerling sambil berucap kata, "Jangan buang-buang waktu. Setelah kulakukan pengobatan untuk menawarkan racun di tubuhku, kita akan punya banyak waktu untuk merajut keindahan di ruang bawah reruntuhan biara itu, Baraka."Kling...! Mata kiri perempuan itu berkerling lagi.Jantung Baraka bagaikan dibetot. Kaget namun segera merasakan keindahan mengalir di setiap aliran darahnya. Rasa indah itu telah menimbulkan perasaan kagum dan bahagia yang menguasai jiwa. Senyum pemuda dari Lembah Kera itu pun segera mengembang mempesona hati lawan jenisnya."Kita harus cepat sampai ke tempat kita semalam, lalu kita lewatkan saat-saat indah di sana."Baraka menjawab dengan debaran hati penuh rasa suka cita tiada terkira. Bahkan tangannya berani mencubit dagu perempuan cantik itu tanpa canggung lagi."Akan kuberi
Begitu kata-kata Dewa Racun yang sempat terngiang di telinga Baraka. Untuk meyakinkan kebenaran tentang racun yang mengenal leher Rara Santika, Baraka pun segera ajukan pertanyaan ketika Rara Santika mulai meraih lengannya dan minta diantar kembali ke reruntuhan biara."Perasaan apa yang kau alami ketika serangan itu mengenaimu?""Hmmm... perasaan takut. Takut sekali. Melihat batu saja takut. Tapi, ah... sudahlah. Perasaan itu sekarang sudah tak ada lagi padaku. Mengapa harus kau hiraukan?""Karena rasa takut yang timbul itulah ciri khusus pada penderita 'Racun Simalakama'. Kau akan mati, Santika!""Tidak mungkin. Kau akan lihat sendiri hasilnya setelah kulakukan semadi di ruang bawah reruntuhan biara itu! Antarkan aku ke sana. Temanilah aku, Baraka,"Rara Santika bernada manja dengan suaranya yang masih sedikit parau. Baraka menganggap perubahan suara parau itu akibat dari terkena racun tersebut."Hei, mengapa tak kau cari penyerangmu itu!
"Tak ada orang yang kutemukan di sana," ujar Baraka sambil mendekat. "Kenapa kau terpekik, Santika?""Orang itu menyerangku lagi," ucapnya dengan suara agak parau."Ada apa dengan lehermu?" Baraka curiga, kemudian menarik tangan Rara Santika yang sedang mengusap-usap leher. Dahi Baraka segera berkerut melihat noda hitam membekas jelas di leher kiri Rara Santika."Kau... oh, lehermu terluka, Santika!""Membekas merah?""Membekas hitam, bagaikan hangus terbakar!""Oh, celaka...!" ia tampak tegang. "Besarkah noda hitam ini?""Sebesar kacang tanah.""Keparat orang itu! Ia menyerangku dengan sesuatu yang tak sempat kulihat. Mungkin seberkas sinar, mungkin pula sebuah benda kecil. Tapi... rasanya napasku makin lama semakin sesak.""Bahaya sekali ini, Santika!" gumam Baraka bernada cemas. "Biar kubantu obati agar noda hitam itu hilang.""Tidak, jangan..."“Tapi...," Baraka terbungkam seketika. Noda hitam yan
Sindiran itu tak dihiraukan oleh Rara Santika. Dalam benak perempuan cantik itu sudah dipenuhi oleh kecamuk yang menegangkan, sehingga ia bagaikan kehilangan selera bercinta, bagaikan tak memiliki hasrat untuk bermesraan, ia pandangi Baraka dengan sorot pandangan mata cukup tajam. Baraka jadi salah tingkah sendiri."Berarti semalam ia telah datang ke tempat kita, Baraka. Semalam ia telah... telah merenggut kehangatanmu ketika kau tidur dengan nyenyak.""Dia atau kau?" pancing Baraka dengan kalem."Dia!" sentak Rara Santika dengan jengkel, karena ia malu jika dituduh merenggut kehangatan Baraka pada saat si tampan tertidur. "Aku tidak pernah lakukan hal seperti itu. Jangan rendahkan diriku, Baraka!""Mengapa aroma wangimu masih tertinggal di kulit tubuhku?""Sumina juga mempunyai keringat beraroma wangi seperti yang kumiliki. Ketika kami masih berusia delapan hari, kami dimandikan oleh Ayah di Telaga Seribu Bunga, sebelum telaga itu kering akibat ke
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







