LOGINLima kuda berhenti di depan Rangka Cula. Orang berpakaian ungu itu menghentikan kudanya sejajar dengan pengawalnya yang bersenjata pedang di punggung, sedangkan dua pengawal yang bersenjata tombak dan panah di punggung, mengenakan pakaian putih-putih itu, tetap mengambil posisi di belakang mereka bertiga. Matanya memandang ke belakang, ke samping dan sekeliling, penuh pangawasan ketat.
Orang berpakaian ungu itu segera berkata kepada Rangka Cula, "Kaukah yang bernama Rangka Cula?"
<Baraka tersenyum mendengar gertakan orang berkumis tipis itu. Dengan tetap tenang ia bicara kepada si kumis tipis."Apa salahnya hingga kalian ingin membantainya!""Dia telah membunuh guru kami dua hari yang lalu! Tak ada cara lain menebus kesalahannya kecuali dengan membantainya!""Hmmm... siapa guru kalian itu?"Seorang yang berambut pendek berseru dari samping kiri Baraka, "Tanyakan sendiri kepada perempuan biadab itu. Dia pasti mengenal nama Tabib Parang Windul""Oh, jadi Tabib Parang Windu terbunuh juga!" gumam Salju Kelana dengan nada terperanjat."Jangan berpura-pura tidak tahu kau, Iblis! Menurut saksi mata kaulah yang membunuh Guru dengan menggunakan sebuah rencong. Kau taburkan racun dalam tubuh guru kami hingga jiwanya tak tertolong lagi.""Benar-benar biadab kau, Betina!" seru si baju merah."Heaaat...!"Orang berbaju merah langsung menyerang Salju Kelana dengan satu lompatan cepat. Parangnya ditebaskan ke ar
Senyumnya kian mekar, hingga lesung pipitnya membuat detak jantung Baraka semakin bertambah keras. Agar tak terlalu hanyut dalam kemesraan yang ada, Pendekar Kera Sakti segera alihkan pikirannya ke masalah tiga orang yang memaksa Salju Kelana agar menyerahkan Rencong Iblis tadi."Siapa mereka bertiga tadi, Salju Kelana?""Mereka murid-muridnya Tabib Lumbung Jagat," jawab Salju Kelana setelah bangkit dan duduk di depan Baraka. Ia mencari-cari tongkat kecilnya, dan Baraka mengambilkannya.Salju Kelana berkata lagi, "Tabib Lumbung Jagat tewas karena racun. Seseorang mengetahui pertemuan Tabib Lumbung Jagat dengan perempuan berjubah putih dan berwajah cantik. Maka para muridnya menyangka akulah perempuan itu. Mereka juga mendengar kabar tentang Rencong Iblis yang sedang mencari tumbal tujuh belas tabib. Aku sudah mencoba menjelaskan bahwa aku tidak mempunyai Rencong Iblis, tapi mereka tetap tidak percaya dan menuntutku agar menyerahkan rencong itu untuk membalas den
Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai kulit wajah pucat si gadis menjadi mulai tampak segar kembali. Tubuhnya terasa mulai menghangat. Degup jantung gadis itu diperiksa dengan cara menempelkan telinga ke dada sang gadis. Ternyata sudah mulai bekerja seperti biasanya. Hanya jantung Baraka yang masih berdetak-detak cepat, terutama setelah telinganya menempel di dada sang gadis dan dada itu terasa memberikan kehangatan tersendiri bagi Baraka. Dada sekal dan montok itu akhirnya ditinggalkan oleh telinga Baraka, karena ia takut ketagihan ingin menempelkan telinga di dada itu terus."Dia mulai bernapas dengan lancar," pikirnya sambil pandangi si gadis. "Matanya mulai bergerak-gerak ingin membuka. Oh, syukurlah. Dia tertolong. Tapi... tapi agaknya perlu kuminumkan wedang rendaman suling mustikaku biar mempercepat penyembuhannya."Baraka mengambil mencoba menuangkan wedang ke mulut Salju Kelana. Tetapi mulut itu tak bisa terbuka lebar. Wedang itu akan mengguyur wajah Salju K
"Sudah kukatakan, ancaman apa pun yang akan kalian pakai, aku tetap tidak akan serahkan Rencong Iblis itu. Sebab memang aku tidak memilikinya!" kata Salju Kelana dengan suara bernada dingin. Tongkat kecilnya diketuk-ketukkan di tanah, menunjukkan sikap penuh waspada. Ia siap menyambut serangan lawan kapan saja datangnya.Si kurus berteriak, "Danuyuda, gunakan jurus 'Jala Geni', heeeaaat...!"Orang berbadan kurus itu menyentakkan tangannya ke depan, demikian pula temannya yang bernama Danuyuda itu. Lalu dari tengah telapak tangan mereka keluar lima larik sinar yang masing-masing tertuju ke arah Salju Kelana.Zraaab...!Salju Kelana diam sejenak, bagaikan tak menyadari datangnya lima larik sinar dari kanan dan kiri. Namun tiba-tiba tubuh gadis itu memutar cepat dalam satu sentakan putar. Mungkin lebih dari tujuh putaran dalam sekali sentak. Dan putaran itu memancarkan sinar hijau, menyebar ke sekelilingnya.Blegaarrr...!Sepuluh larik sinar me
Setelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Kera Sakti sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya Pemuda dari lembah kera itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.Esoknya, ketika Baraka terbangun, ia menjadi sangat terkejut melihat Salju Kelana sudah tidak ada disampingnya. Bahkan di sekitar dalam gua itu pun tidak ada. Baraka cemaskan diri gadis cantik itu. Ia bergegas keluar dari gua."Kemana dia...! Sekadar buang air di tempat tersembunyi atau memang sengaja meninggalkan diriku!" pikir Baraka sambil-matanya memandang ke sana-sini.Wuuut, wuuuut...!Baraka melompat dari batu ke batu mencapai tempat yang lebih tinggi. Mata pun menyapu seluruh alam sekelilingnya."I
"Bagaimana kalau ternyata di perjalanan aku bertemu dengan utusan itu?""Jangan ganggu dia, nanti kau mati di tangannya!""Sebaiknya aku tak perlu mengganggu dia saja, ya? Biar aku tak mati di tangannya. Soalnya kalau mati di tangan orang seperti itu tidak terhormat.""Memang yang kukatakan tadi begitu! Kau jangan ganggu dia biar kau tak mati!" tegas Baraka agak menyentak-nyentak karena jengkel dengan ketulian Hantu Laut."Kita berpisah dulu, Hantu Laut.""Baraka, kusarankan kita berpisah saja sekarang.""Baru saja aku bilang begitu, Budeg!" bentak Baraka makin jengkel. Hantu Laut hanya mengguman dan manggut-manggut tanpa raut muka orang bersalah.Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hampir sehari semalam. Pendekar Kera Sakti sengaja tidak gunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan' yang mampu mempercepat perjalanan, karena takut kalau Salju Kelana tertinggal dan tak mengerti arah. Sebab itu mereka terpaksa bermalam di
"Mengapa dia dijatuhi hukuman gantung, Pak tua?" tanya Ratna Pamegat lagi kepada orang tua yang sejak tadi berdiri di bawah pohon menunggu iring-iringan itu lewat di depannya."Pendekar Kera Sakti memperkosa istri Ki Lurah Pogo. Pengadilan memutuskan ia harus digantung, supaya rakyat di de
Pemuda yang dijatuhkan dari pundaknya itu segera diangkat oleh Ratna Pamegat, lalu dibawanya lari lagi. Namun beberapa langkah ia melesat, tiba-tiba kembali tiga orang menghadangnya dengan senjata masing-masing di tangan. Wajah ketiga orang itu memancarkan nafsu membunuh. Ratna Pamegat yang belum
Bruss...!Tulang Neraka seperti diseruduk tiga banteng yang mengamuk. Tubuh Tulang Neraka terpental lebih dari lima tombak jauhnya. Ketika ia jatuh dalam keadaan miring, ia sempat melihat sesosok manusia muda berbaju keemasan.Pemuda itu segera menghampiri Arum Kafan. Mengangkat kep
Semuanya terjadi dengan sangat pelan. Tetapi kejap berikutnya, terdengar suara kasar, brukk...! Itu suara tubuh Ratu Teluh Bumi yang dilemparkan ke arah belakang oleh orang yang sedang semadi itu."Uhhg...! Monyet...!" maki Ratu Teluh Bumi dalam hati.Perempuan itu tidak mati. Perem







