LOGINAwalnya Mu Zehuai adalah murid paling berbakat di sebuah Sekte Bulan Misterius. Hingga suatu ketika, terjadi sebuah tragedi yang melenyapkan Sekte Bulan Misterius dalam semalam. Dalam tragedi itu, Mu Zehuai berhasil selamat. Akan tetapi, muncul sebuah fitnah yang menuduh dirinya adalah dalang yang memusnahkan sektenya sendiri. Karena tuduhan itu, Mu Zehuai pun diburu oleh serikat sekte dunia persilatan. Dalam pelariannya, Mu Zehuai tanpa sengaja menemukan sebuah kitab kuno yang menuliskan ajaran sesat dan dapat meningkatkan basis kultivasi dalam sekejap. Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah Mu Zehuai mampu membersihkan namanya, ataukah dia lebih memilih untuk menjadi yang terkuat di dunia persilatan?
View More"Di sana!"
"Kejar!" Di tengah hamparan rumput yang membentang luas, padang rumput Simalai, sebuah padang rumput terluas di Benua Tingyan, Negara Aoyin. Tampak seorang remaja laki-laki berpakaian compang-camping berlari tergopoh-gopoh. Dia mengerahkan segenap jiwa dan raga, demi menghindari kejaran para pendekar yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Mentari hampir terbenam. Semburat cahaya jingga bersinar di ufuk barat, sedangkan pemuda itu terus menerjang hamparan rumput ilalang, tak peduli sayatan tajam yang menggores kulitnya. Tubuhnya basah kuyup bagai sedang mandi keringat. Deru napasnya tak beraturan disertai peluh yang kian bercucuran membasahi pelipis dan sekujur tubuhnya. "Tangkap dan bunuh dia!" "Jangan biarkan dia sampai lolos!" Sekitar puluhan orang mengejar di belakang, mereka adalah murid dari berbagai sekte aliran lurus yang memiliki tingkat bela diri terendah. Andaikan dihadapkan oleh seorang ahli, pemuda itu pasti sudah lama mati mengenaskan. Hosh ... Hosh ... Hosh ... Tenaga dalamnya terkuras habis. Energi sejatinya terluka parah, sedangkan kekuatan fisiknya mulai melemah. Tubuhnya dipenuhi memar, luka dan noda darah sisa pertarungan sengitnya melawan para murid sekte itu. Keputusasaan mulai menggerogoti harapannya. Dia ingin selamat. Dia tidak boleh mati. Dia ingin tetap bertahan hidup. Namun, mengapa takdir seolah enggan berpihak kepadanya? Nyawanya digadai-gadai. Bagi siapa pun yang berhasil membunuhnya, maka akan diberi imbalan yang cukup untuk membangun sebuah sekte berukuran setara istana. "Selama 15 tahun hidup, ada harinya aku baru tahu kalau ternyata nyawaku seberharga itu. Sebenarnya demi apa? Kenapa? Siapa dalang di balik semua ini?" Dalam hatinya bertanya-tanya heran, berharap sebuah keajaiban memberinya secercah jawaban. Tidak, jika mungkin di dunia ini ada yang namanya keajaiban, dia lebih berharap keajaiban itu dapat menyelamatkan dirinya dari kejaran orang-orang dari dunia persilatan. Pria remaja itu bernama Mu Zehuai— seorang murid paling berbakat di Sekte Bulan Misterius. Sebuah sekte ternama di Benua Tingyan. Namanya pernah melambung tinggi hingga mendatangkan para penantang yang meneriakkan tatangan duel hanya demi memperebutkan posisi bergengsi yang dimilikinya. Namun, reputasi yang dia bangun selama ini lenyap hanya dalam semalam. Mu Zehuai dicap sebagai pengkhianat dan ancaman bagi dunia persilatan. Lukisan wajahnya dipajang sepanjang jalan dan memungkinkan siapa pun untuk mengenalinya. Duak! Tinju si tangan besi mendarat keras menghantam dada Mu Zehuai hingga tubuhnya terhempas jauh sekitar 10 meter ke belakang. "Arrgghhh!" Mu Zehuai mengerang kesakitan, lalu jatuh terjerembab. Kehilangan keseimbangan atas tubuhnya yang lemah dan terluka parah. Di tengah pengejaran, tiba-tiba hadir satu sosok yang berhasil mencegat di depan seraya melayangkan pukulan fatal. Mu Zehuai memalingkan kepalanya ke samping dan memuntahkan darah jantungnya yang terluka. "Och!" Darah berwarna merah pekat menyembur dari mulutnya, seketika mengubah warna rumput yang terciprat. "Mu Zehuai, hari ini kau pasti mati!" ujar Tang Huang— murid Balai Baja Hitam yang berhasil memberi pukulan fatal kepada Mu Zehuai. Sorot matanya tajam menghunus. "Juih!" Mu Zehuai meludah, sama sekali tidak gentar oleh perkataan Tang Huang. "Konyol! Tang Huang, tidak kusangka ternyata kau si mata duitan yang tergiur oleh harta." Mu Zehuai menatap remeh orang di hadapannya. Langkah kaki Tang Huang perlahan mengikis jarak, menghampiri Mu Zehuai yang terkapar lemah di hamparan rerumputan. Setelah berdiri dekat dengannya, Tang Huang menginjakkan kakinya di atas dada Mu Zehuai seraya menekannya dengan kuat. Matanya terbelalak, sorot matanya mengandung kebencian mendalam. "Kau salah. Aku tidak peduli seberapa banyak hadiah memenggal kepalamu itu. Tapi ... membunuh pengkhianat sepertimu adalah suatu kehormatan bagiku dan Balai Baja Hitam!" cetus Tang Huang. Semua yang dia katakan terdengar tulus tanpa kepalsuan. Sungguh kejujuran yang menyakitkan. Mu Zehuai merasa sesak di dada, tetapi sesak yang saat ini dia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit hati tatkala diinjak oleh sahabatnya sendiri. Ternyata manusia sepertinya tidak layak diberikan ketulusan. Tatapan Mu Zehuai menghunus tajam, auranya menggelap. "Bagus, Tang Huang! Sekarang kau tampak seperti manusia paling berprinsip yang tega mengesampingkan hubungan persahabatan demi sebuah prestasi gemilang," sindir Mu Zehuai. "Omong Kosong! Kau saja yang terlalu bodoh. Apa kau pikir, selama ini aku mau berteman dengan si pencari perhatian sepertimu? Mengingat kita pernah berteman saja sudah membuatku jijik!" sarkas Tang Huang. Lidahnya setajam pisau yang mengiris jantung tipis-tipis. Kalimat yang dia ucapkan terdengar sangat menyayat hati. Jika yang mengatakannya adalah orang asing, hati Mu Zehuai tidak akan tergerus sedikit pun. Akan tetapi, dia adalah Tang Huang, seorang sahabat yang pernah sangat dia hargai di dunia ini. "Hahaha!" Gelak tawa meledak. Mendengar pernyataan Tang Huang yang menggelitik sungguh membuatnya merasa konyol. "Ternyata seperti itu. Baiklah, aku mengerti. Kalau kau memang merasa jijik, muntahkan saja. Siapa tahu kau memang sedang hamil," ejeknya. "Kau!" Tang Huang menggeram. Giginya gerahamnya berderak. Siapakah yang tidak marah jika pria normal diejek sedang hamil? Tentu saja, amarahnya pasti akan bergejolak luar biasa. Tang Huang yang telah dikendalikan emosi akhirnya melayangkan tinjunya, bersiap untuk memberi pukulan perpisahan terakhir kepada Mu Zehuai yang pernah menjadi sahabat karibnya. Namun di detik-detik terakhir, tiba-tiba sebuah panah melesat ke arahnya. Cring! Tang Huang reflek menepis panah itu menggunakan tangan besinya. "Berikan dia padaku!" cetus seorang pemuda yang memegang sebuah busur berwarna emas dengan ukiran naga. Pemuda itu datang membawa sekelompok prajurit dari pemerintahan yang mengikuti di belakangnya. Yang jelas, alasan dia mencegah Tang Huang membunuh Mu Zehuai bukanlah alasan dramatis semacam hendak menyelamatkannya. "Busur naga emas? Kau ... Zhang Ruling, putra Adipati Zhang Lin," tebak Tang Huang. Zhang Ruling menurunkan busurnya lantas menjawab, "Benar. Itu aku. Karena kau sudah tahu siapa aku, jadi tinggalkan anak itu. Dia harus kubawa ke Ibu Kota," cetusnya. "Kenapa?" tanya Tang Huang. Zhang Ruling mengulas senyum semirik. "Urusan pemerintahan bukanlah hal yang perlu dicampuri oleh orang rendahan dari dunia persilatan seperti kalian," balasnya dengan sikap arogan. Mata tajam Tang Huang menyipit. Tangannya terkepal karena merasa tersinggung dilabeli rendahan. "Baiklah. Kalau begitu, mohon Tuan Zhang memberi pencerahan. Jika Anda berhasil mengalahkan orang dunia persilatan rendahan sepertiku, maka Anda boleh membawanya pergi. Tapi jika Anda gagal, maka izinkan Balai Baja Hitam untuk turut andil dalam urusan pemerintahan. Bagaimana?" Tang Huang memberinya sebuah tantangan. Dia ingin bertaruh. Suasana menegang. Mereke saling melempar tatapan sengit penuh siasat licik. "Atas dasar apa orang rendahan sepertimu melakukan tawar-menawar kepadaku?" balas Zhang Ruling meremehkan. Tang Huang menghela napas. "Kalau begitu, Tuan muda Zhang ... maaf menyinggung!" Siap menantang Zhang Ruling. "Sial! Semuanya, bunuh dia!" Para prajurit maju menyerang. "Bunuh!" Suaranya bergemuruh bagaikan petir yang menggelegar. Demi berebut dengan Zhang Ruling, Tang Huang pada akhirnya terpaksa memeranginya, meski sebenarnya dia paham bahwa melukai orang dari pemerintahan adalah sebuah kejahatan serius yang bisa memenggal 9 generasi keluarganya. 'Baguslah. Ini adalah kesempatan emas untukku,' batin Mu Zehuai. Mu Zehuai berencana memanfaatkan kecauan ini sebagai kesempatan untuknya melarikan diri. Tatkala dua sosok penting itu tengah bertarung mati-matian, Mu Zehuai yang sejak tadi pura-pura pingsan segera bangkit dan melarikan diri. "Sial! Jangan harap bisa lari!" Whoosh .... Jleb! Anak panah melesat secepat angin, lalu menancap di bahu kiri Mu Zehuai. Kekuatan tangan si pemanah sangatlah kuat, hingga anak panah itu berhasil menembus keluar dan melubangi bahu Mu Zehuai."2 hari lagi bulan purnama. Aku harus mulai mengekstrak mawar-mawar china ini untuk dijadikan minyak wangi," ucap Yue Ji sembari memandangi bunga mawar yang tumbuh subur di halaman kediamannya di sekte iblis Kerajaan Darah.Sebagai seorang master kultivator tingkat tinggi, Yue Ji mendapat perlakuan istimewa atas prestasi yang dia capai untuk sekte iblis Kerajaan Darah. Oleh sebab itu, ia memiliki rumah atau kediaman pribadi yang cukup luas dan dihiasi dengan halaman untuknya menanam mawar china yang dijadikan sebagai senjata mautnya ketika dia bertarung.Yue Ji menanami halaman rumahnya dengan berbagai macam tanaman mawar yang beragam. Namun, yang paling dia rawat dengan sepenuh hati adalah mawar china, karena hanya mawar china yang memiliki efek paling tinggi untuk dijadikan senjata kultivasinya."Yue Ji." Seseorang menyerukan namanya hingga membuat Yue Ji reflek menoleh ke arah sumber suara.Tatkala Yue Ji mendapati sosok yang menyerukan namanya, ia pun mengernyitkan kedua alisnya s
"Dasar pengecut!" hardik Li Jing, sang kakak seperguruan pertama.Mulutnya yang terbungkam rapat sejak tadi, kini langsung menyemburkan kata-kata menohok. Matanya menghunus ke arah Yi Xuan, pembawaannya tenang, tetapi cukup mengintimidasi lawan. Giliran Yi Xuan terbungkam seribu bahasa. Kakak seperguruan pertama telah bicara, dia tidak berani membantah lebih jauh. Wajahnya tertunduk takut, sekaligus merasa bersalah. "Saudara sekalian, ayo kita pergi," himbau Li Jing, membubarkan para murid yang masih berkumpul di aula. Beberapa murid mengikuti Li Jing, sisanya tetap mematung di tempat. Di halaman sekte, para pengikut Li Jing mulai penasaran. Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan Li Jing? Apakah benar dia akan menagih nyawa terhadap Yue Ji? Salah seorang murid akhirnya angkat bicara. "Kakak pertama, haruskah kita berdiam seperti ini? Sekte Angin Phoenix tidak bisa ditindas semena-mena!" geramnya. Wajahnya tampak kusut karena dikendalikan emosi. Li Jing tenggelam dalam keheni
Sekte Angin Phoenix, Kota Emas Cahaya. Di dalam sebuah aula diskusi, tampak para murid yang sedang berkumpul membicarakan masalah yang menimpa sekte. Kegaduhan menguasai ruangan, menambah kesan gelap ruangan yang hanya bertemankan cahaya lilin meremang. Wajah mereka ditekuk masam, memancarkan kebencian yang tak pernah padam bagaikan api abadi berkobar tatkala menatap 5 jenazah terbaring dibungkus kain putih sekujur tubuhnya. Mereka tak lain adalah murid Sekte Angin Phoenix yang baru saja dipulangkan ke sekte. "Tidak bisa dibiarkan! semakin hari, wanita iblis itu semakin kurang ajar. Berani sekali mereka membunuh murid-murid sekte kita!" cetus salah seorang pemuda yang tak lain berasal dari sekte Xu Feng. "Benar, kita harus membalaskan dendam saudara-saudara kami!" sambung yang lain. "Jadi, bagaimana dengan keputusan sekte? apa mereka mengizinkan kita pergi melawan Yue Ji?" tanyanya. Kreeek ... Terdengar suara pintu yang didorong dari luar ruangan. Kemudian, muncullah seorang
"Malam ini, aku menerima laporan bahwa Kediaman Hakim Chu sedang dikepung oleh orang asing. Kupikir tikus dari mana, ternyata ...." Ucapannya menggantung disengaja. Tatapan bengisnya langsung melirik Mu Zehuai, menatap remeh seolah menganggap segala yang ada di hadapannya terlalu mudah diinjak di bawah kakinya. "Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Aku tanya, di mana Tuan Hakim Chu? Kalian sudah membunuhnya? Benar, bukan?" Zhang Ruling mengalihkan topik, menuding langsung dengan asumsi sepihak darinya. Senyum semirik menambah keculasan yang terpapar di wajahnya. Dituduh sedemikian rupa, Mu Zehuai tetap memasang sikap tenang bagaikan air mengalir. Mu Zehuai membalas tuduhan itu dengan senyuman tipis. Wajah dan tatapannya tetap datar dan dingin. Badai pun takkan mudah menghoyahkan keteguhan sikapnya. "Aku tidak mengerti apa maksud Jendral Muda. Zhang Ruling, sepertinya kau salah paham. Malam ini, Chu Ling Long secara pribadi mengundang kami untuk bertamu ke rumahnya. Apa ada yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews