LOGINDewa Geli terus berjalan menuruni Puncak Kupu-kupu. Sebentar-sebentar dia menoleh ke belakang seperti ada sesuatu yang dikhawatirkannya. Saat mencapai pertengahan bukit, Dewa Geli menghentikan langkah. Sekujur tubuhnya amat lemah dan tak bertenaga. Wajahnya pun terlihat memucat karena dia merasa seluruh tenaganya telah hilang entah ke mana.
Perlahan-lahan sepasang kaki Dewa Geli menekuk. Lalu, dia jatuh terduduk. Kain baju yang dikenakannya basah kuyup oleh cairan keringat yang terus keluar, padahal hawa udara cukup dingin menusuk.
Bocah yang pernah tinggal di kerajaan siluman itu masih mencoba untuk tertawa. Tapi, tawanya kali ini terdengar sengau dan sama sekali tak menyiratkan kegembiraan. Apa yang terjadi?
"Apa yang ku khawatirkan telah terjadi kini. Pukulan 'Sihir Penjerat Arwah' telah membuatku lumpuh...," gumam Dewa Geli dengan tatapan kosong.
"Untung saja aku dapat mengelabuhi perempuan jahat itu. Dia tidak tahu kalau ilmu pukulannya mampu menembu
"Kenapa Kertapaksi dan Karto Dupak tidak mati di tangan Penguasa Teluk Neraka?""Mereka belum bertemu Penguasa Teluk Neraka. Coba kalau Kertapaksi bertemu dengan Penguasa Teluk Neraka, pasti dihajar habis oleh Penguasa Teluk Neraka itu.""Lalu, apa hubungannya denganku? Mengapa Kertapaksi dan Karto Dupak menyangka aku adalah kekasihnya Muria Wardani?""Mungkin kau memang kekasihnya? Mana kutahu!""Sumpah setan tujuh warna, aku bukan kekasihnya! Aku tidak kenal sama Muria Wardani.""Betul?""Yaah... masa' kau belum percaya juga. Aku toh sudah bersumpah! Mau sumpah apa lagi? Sumpah biar mati disambar lalat. Boleh!"Telaga Sunyi tertawa kecil. "Lelaki mana saja memang paling berani kalau disuruh bersumpah. Buat lelaki, sumpah adalah bunga bibir.""Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak kenal dengan Muria Wardani.""Bagaimana kalau kutemukan dengan Muria Wardani. Berani?""Berani!" jawab Baraka bersemangat.
"Hmmm... sedikit," jawab Baraka tetap membiarkan keningnya diusap oleh jari-jari lentik itu. Telaga Sunyi memeriksa lebih teliti lagi dengan cara memandang lebih dekat karena cahaya kurang terang. Keadaan itu membuat Baraka dapat memperhatikan kehalusan kulit wajah dan kecantikan yang alami lebih jelas lagi."Cepat sekali pulihnya?" ucap Telaga Sunyi lirih, saat berkata begitu wajahnya tepat di depan Baraka."Berkat pertolonganmu, luka separah apa pun dapat sembuh dengan cepat.""Aku tak banyak membantu dalam hal ini," kata Telaga Sunyi sambil matanya menatap Baraka.Jari-jari tangannya masih merayapi pipi pemuda tampan itu, tapi bukan untuk memeriksa luka yang pulih kembali. Jari-jari itu bergerak pelan merayap ke bibir Baraka, kemudian mulut Baraka pun menangkap jari itu. Menggigitnya pelan, dan sang gadis gemetar sekujur tubuhnya."Jangan. Jangan, Baraka...," ucapnya lirih sekali ketika jari itu tak mau dilepaskan oleh mulut Baraka.Wajah
"Jurus pukulan keparat! Memang benar apa kata Guru, jurus pukulan 'Inti Bara' sulit dijinakkan, sulit disembuhkan, dan karenanya Guru berpesan agar aku pun tidak sembarangan dalam menggunakan jurus pukulan 'Inti Bara'. Tetapi si keparat Aryani itu mengumbar jurus ini seenaknya saja! Pantas kalau dia dinyatakan sebagai murid murtad yang tak pernah mau ikuti peraturan perguruan," ucap Telaga Sunyi sebagai ungkapan rasa kesalnya, ia tampak kebingungan menghadapi luka-luka Pendekar Kera Sakti.Duduknya di atas batu samping Baraka yang tingginya hanya sebetis kurang. Suaranya sering bercampur dengan desah penyesalan dan kesedihan."Sayang sekali Guru belum turunkan Ilmu 'Penyerap Luka' seperti yang sudah diajarkan kepada Dewi Gapit Mesra itu. Kalau saja Ilmu 'Penyerap Luka' sudah kumiliki, maka menghadapi keadaan Baraka seperti ini bukan hal yang sulit lagi bagiku."Ucapan lirih itu masih sempat didengar oleh Pendekar Kera Sakti secara samar-samar. Dengan susah payah
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga Sunyi yang baru saja berdiri. Namun pedang Telaga Sunyi menangkisnya dengan cepat.Trang... duaaar...!Tubuh Telaga Sunyi terpelanting hingga memutar. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk melayangkan tendangannya hingga kepala Dewi Gapit Mesra tersabet kaki Telaga Sunyi dengan keras.Plook...!Wuuut...! Tubuh Dewi Gapit Mesra terlempar ke samping. Jatuh dengan pundak membentur pohon cukup keras.Duurr...! Pohon pun bergetar sebagai tanda bahwa benturan itu mempunyai tenaga dalam cukup tinggi.Tab, tab, tab, tab...!Telaga Sunyi berjungkir balik di tanah dengan lincah dan cepat, tahu-tahu tubuhnya melayang dan mendarat di tanah datar tak jauh dar
Dees...!"Aaahg...!" Pendekar Kera Sakti tersentak dan mengejang, kemudian limbung ke kiri dan jatuh.Bruuk...!"Barakaaa...!" pekik Telaga Sunyi yang terlambat menyambar tubuh Pendekar Kera Sakti.Gadis itu menjadi tegang melihat Pendekar Kera Sakti mengerang dengan wajah mulai membiru. Napas ditahan kuat-kuat untuk imbangi rasa panas yang membakar bagian dalam tubuhnya, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika diseret ke bawah pohon oleh Telaga Sunyi."Barakaaa...! Ada apa? Kenapa kau!"Tentu saja Telaga Sunyi bertanya demikian karena ia tidak melihat datangnya sinar hijau. Tahu-tahu ia dikejutkan dengan gerakan Baraka yang berkelebat ke arah belakangnya dan sebelum rasa kaget itu lenyap ia sudah temukan Baraka jatuh terhempas ke tanah."Ad... ada orang yang... yang ingin menyerangmu!" ucap Baraka dengan suara berat dan susah karena tenggorokannya mulai terasa panas, terlalu sakit untuk keluarkan suara.Telaga Sunyi makin membelala
"Sudah, angkat dan naikkan ke kudamu!" sentak temannya yang bersenjata trisula kembar di pinggangnya.Pendekar Kera Sakti menggumam sendiri, "Kurang apa aku mengalah padanya? Tapi dasar orang bodoh, sudah diakui kehebatannya masih saja mau lukai diriku! Yah, akibatnya tanggung sendirilah! Bukan salahku, kan!"Baraka lompat turun dari atas pohon tanpa timbulkan suara. Ia memandang ke arah kepergian lawannya yang sudah tidak kelihatan itu. Ia membatin kata, "Ternyata jurus 'Tenaga Matahari Merah'-ku tadi masih cukup tangguh. Eh, tapi... ngomong-ngomong si Telaga Sunyi tadi ke mana!"Baraka celangak-celinguk mencarinya. Tiba-tiba yang dicari sudah muncul di belakangnya dan langsung menyapa mengagetkan Baraka,"Apakah kau mencariku, Pendekar Tampan?""Ah, kau...! Kukira kau diculik setan hutan sini!""Setannya takut sama kamu!" jawab Telaga Sunyi sambil tersenyum. Kejap berikut senyuman itu hilang.Telaga Sunyi mengajak teruskan langkah m







