MasukLERENG perbukitan yang terjal menjadi ajang pertarungan. Dua tokoh sakti berusia enam puluh ke atas saling beradu kekuatan ilmu mereka. Entah sudah berapa lama pertarungan itu berlangsung, yang jelas sudah banyak pohon yang tumbang dan bongkahan batu pun berhamburan karena menjadi korban salah sasaran jurus-jurus mereka. Dua tokoh sakti itu sama-sama kenakan jubah berlengan panjang, yang satu berwarna merah, yang satu berwarna abu-abu. Tokoh tua yang mengenakan jubah abu-abu dalam keadaan men
Jleeg...! Ia berdiri tegak menghadap ke arah datangnya sinar merah tadi."Keluar kau. Setan! Untuk apa bersembunyi di balik semak, karena aku dapat membunuhmu dari sini sekarang juga!"Wuuuuusss...!Sesosok tubuh melompat dari balik semak. Orang itu bersalto dua kali di udara, lalu dalam sekejap sudah berada di depan Rara Santika dalam jarak empat langkah. Baraka sempat terbelalak kaget melihat kehadiran orang tersebut, sebab ia merasa kenal dengan tokoh yang baru saja muncul dari semak-semak."Jejak Setan...!" gumam Baraka pelan sekali. Lelaki bertampang seram yang mengenakan pakaian serba hitam itu berusia sekitar lima puluh tahun. Baraka belum lama ini berhadapan dengan si Jejak Setan, murid dari mendiang Nyai Pegat Raga. Sekalipun Jejak Setan bertubuh kekar, namun Baraka sempat membuatnya lari terbirit-birit ketika Baraka melindungi Resi Pakar Pantun yang nyaris ditumbangkan oleh si Jejak Setan.Untuk menyadap pembicaraan Jejak Setan dengan Rar
Menurut Rara Santika, tak jauh dari tempat itu ada sebuah desa. Di sana mereka bisa dapatkan makanan sebagai pengisi perut. Baraka segera mengajak Rara Santika untuk mencari kedai di desa tersebut."Kau saja yang ke sana," ujar Rara Santika. "Aku menunggumu di sini. Bawalah makanan kemari dan kita makan bersama di sini.""Mengapa kau tak mau pergi ke desa itu? Mengapa harus menunggu di sini?" tanya Baraka bernada curiga.Rara Santika tidak langsung menjawab, melainkan diam termenung beberapa saat. Setelah Baraka mengulangi pertanyaannya, perempuan cantik itu pun akhirnya menjawab dengan suara lirih bernada duka, tubuhnya disandarkan di sebuah pohon yang menjulang tinggi."Kehadiranku di desa itu hanya akan menimbulkan masalah.""Masalah apa?" desak Baraka semakin ingin tahu."Kesalahpahaman."Perempuan itu menjawab pendek sambil menatap bola mata Pendekar Kera Sakti. Jaraknya yang hanya dua langkah itu membuat Baraka dapat rasakan get
“In..inikan”. ucap Baraka terputus saat melihat tempat dimana dia saat ini berada, karena sekarang Baraka tidak lagi berada diruangan bawah tanah, melainkan disebuah kamar yang sangat indah dan mewah.Belum lagi hilang rasa keheranan Baraka kenapa dirinya bisa berada ditempat itu. “Baraka”. kembali suara lembut itu didengarnya, kali ini terdengar begitu jelas ditelinganya dan suara itu berasal dari suatu tempat, segera pandangan Baraka mengarah keasal suara tersebut, dimana suara tersebut berasal dari sebuah tempat peraduan yang tampak telah ditutupi oleh sebuah tirai sutra, tapi cukup membuat pandangan Baraka terhalang untuk melihat sosok yang berada didalamnya, tapi ketajaman mata Baraka dapat melihat sesosok tubuh yang berada dibalik tirai itu.“Mendekatlah padaku Baraka”. kembali terdengar suara lembut itu dari balik tirai itu.Dengan tubuh dan kaki gemetar, akhirnya Baraka melangkah juga mendekat kearah tempat perad
Pendekar Kera Sakti masih jongkok di dekat api unggun kecil. Jarak api unggun dengan tempat Rara Santika berbaring hanya tiga jangkah. Tentu saja Baraka dapat memandang jelas kecantikan yang menggiurkan itu."Kurasa dia bukan perempuan sembarangan. Setidaknya keluarga seorang bangsawan atau saudagar kaya. Tubuh dan kecantikannya sangat terawat. Kulitnya putih bersih, perhiasannya lengkap, jari-jarinya lentik berkuku runcing rapi menandakan setiap hari terjaga perawatannya. Belum lagi..., hei gelang itu!"Baraka berkerut dahi menemukan kejanggalan yang mengherankan. Jantung pun berdetak-detak ketika matanya memandang ke arah gelang yang dikenakan tangan kanan Rara Santika."Gelang itu... oh, gelang itu bermata merah delima berbutir-butir. Bukankah tangan yang kulihat terjulur dari dalam tandu hitam saat menyerahkan dan menerima cawan tadi adalah tangan yang bergelang merah delima berbutir-butir. Ya, aku yakin tangan itulah yang keluar dari tandu hitam saat memint
"Kita harus mencari tempat meneduh," kata Baraka, tak jadi meletakkan tubuh Rara Santika di bawah pohon rindang. Perempuan itu berkata dengan nada masih menahan rasa sakit."Seingatku, di tepian sungai ini ada reruntuhan biara bekas milik Perguruan Bangau Hitam yang telah hancur. Kurasa di sana ada tempat untuk meneduh sementara, Baraka. Bawalah aku ke sana!""Ke mana arahnya, aku tak tahu!""Berjalanlah ke arah hulu sungai, jangan jauh dari tepiannya supaya kita tidak tersesat ke dalam hutan. Reruntuhan biara itu ada di tepian sungai ini."Pendekar Kera Sakti tak banyak pertimbangan lagi, segera bergerak ke arah hulu sungai. Ternyata reruntuhan bekas biara itu memang ada. Bangunan tersebut sudah tampak tua, dinding dan lantainya berlumut dan berwarna hitam. Atapnya sudah hancur, tampak hitam karena bekas terbakar. Sekalipun biara itu telah runtuh dan porak poranda, namun agaknya ada tempat yang bisa dipakai untuk berteduh.Tempat itu adalah sebuah
Lawan yang terkejut itu tak sempat lakukan gerakan apa-apa lagi, karena tangan kiri Hanu Yogan menghantam kuat ubun-ubun la wannya.Wuuut...! Praaak...!"Aaaaa...!" orang itu memekik keras-keras sambil melangkah limbung saat tubuh Hanu Yogan telah melesat dari pundaknya dan turun ke tanah. Kepala orang itu berlumuran darah, bukan hanya dari mulut dan telinga saja, melainkan dari pelipis dan tengkuk pun mengalir darah merah segar menandakan kepala itu retak. Biji matanya tersembul keluar nyaris terlepas dari kelopaknya. Hantaman bertenaga dalam di kepala membuat orang tersebut akhirnya tumbang dan tak bernyawa lagi."Hanu Yogan, kita cari si Gundik Sakti itu! Belum puas hatiku jika si Gundik Sakti belum mati seperti para pengawalnya ini. Pasti ia larikan diri dan masih berada di sekitar sini!" kata Dampak Yogan dengan mata berbinar-binar penuh nafsu untuk membunuh."Kita menyebar, Dampak Yogan," ujar Hanu Yogan."Jangan bunuh dulu si Gundik Sakti ji
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







