LOGIN"Tidak ada, Kang Pendekar! Ibu saya juga bilang belum lihat dia pulang."
"Wah, ke mana anak itu, ya?" gumam Baraka.
"Coba biar saya yang cari, Kang. Kang Pendekar diam di sini dulu."
Sabani sangat menghormati kedatangan Baraka, sehingga tak segan-segan bergerak cepat ke rumah teman-teman adiknya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan tangan hampa dan napas terengah-engah pertanda habis lari.
"Tidak ada, Kang! Semua rumah temannya sudah saya sambangi tapi Angon L
ENTAH siapa orangnya yang memasang jerat di hutan itu. Mungkin seorang pemburu rusa yang ingin menangkap binatang buruannya dengan cara memasang jerat di tanah. Jerat itu dihubungkan dengan pucuk dahan pohon tinggi yang lentur dan bisa dilengkungkan ke bawah. Jika kaki rusa masuk ke dalam lingkaran tambang dan menyamparnya, maka kaki rusa itu akan langsung terjerat tambang itu. Jika tambang tersentak, maka penyangga ujung dahan yang melengkung itu akan bergeser dan dahan itu akan naik ke atas. Lalu rusa yang terjerat akan tergantung kakinya.Namun agaknya sang rusa sudah hafal dengan polah tingkah para pemburu. Sang rusa tidak mau melewati bagian bawah pohon tersebut. Yang melewati pohon itu adalah seorang lelaki agak pendek bertubuh kurus, rambut pendek, usianya sekitar empat puluh tahun, ia mengenakan pakaian serba hijau seperti daun berjalan. Wajahnya bulat dengan kumis tipis di bawah hidung. Kumis itu yang membuat wajahnya menjadi lucu.Ketika ia berlari melewati p
"Terima kasih atas kepercayaanmu, Tabib Awan Putih," ujar Salju Kelana yang juga pernah berobat kepada Tabib Awan Putih."Baik, sekarang semua sudah tahu siapa aku!" seru Dewi Kipas Ayu. "Sekarang giliranku bertindak terang-terangan merenggut nyawa kedua tabib yang ada di sini! Hiaaaat...!"Wuuus...!Gerakannya seperti kapas terbang. Begitu cepat ia menyerang Tabib Awan Putih, sehingga sang tabib terkejut lalu sentakkan kakinya ke tanah, tubuh pun melenting ke atas dan ia hinggap di atas sebuah pohon tepi pantai. Ia berdiri di pucuk daun tanpa membuat daun itu bergerak sedikit pun."Kupaksa turun kau, Keparat!" teriak Dewi Kapas Ayu, kemudian ia lepaskan sinar biru menyebar lebar ke arah Tabib Awan Putih.Sraaaab...! Tabib Awan Putih mengadu ilmunya dengan mengeluarkan sinar putih perak dari ujung jarinya. Sinar itu kecil, dan tidak sebanding dengan sinar biru tersebut.Namun ketika bertabrakan menimbulkan ledakan yang menggelegar dahsyat da
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu, Ki Sanupati?" tanya Baraka bersikap menyelidik."Pendeta Jantung Dewa dan Pendeta Mata Lima adalah sahabat karibku, satu perguruan beda tingkatan. Jangan tanya tinggi mana tingkatan mereka dengan tingkatanku, aku tak mau menjawabnya!" sergah Tua Bangka yang agaknya merahasiakan soal tingkatannya itu."Jadi, secara tidak langsung sebenarnya Dewi Kapas Ayu adalah lawanku juga, karena rencongnya itu yang akan menandingi Kapak Kubur-ku!" kata Tua Bangka lagi."Kalau begitu, kita cari Dewi Kapas Ayu itu sebelum para tabib binasa oleh keganasan racun pada rencongnya!" kata Baraka penuh semangat. Ia bahkan memeluk Salju Kelana dari samping sebagai ungkapan rasa lega, bahwa pemilik rencong ternyata bukan gadis yang mirip Hyun Jelita itu."Tunggu sebentar," kata Tua Bangka dengan dahi berkerut seperti teringat sesuatu. "Ketika aku dikejar-kejar oleh orang kadipaten, aku sempat melihat ia bergerak ke arah timur. Tapi tak kupeduli
"Oo... pantas," Baraka manggut-manggut.Claaap...! Blegaar...!Dua orang itu gagal lagi menyerang dari jarak jauh. Akhirnya mereka bosan dan salah seorang berkata, "Sudah, tinggalkan saja dia! Kalau yang lain bertanya, bilang saja ia pergi entah ke mana. Larinya sangat cepat!"Baraka tersenyum mendengar ucapan lirih orang itu. Tapi ia segera memperhatikan Tua Bangka dan berkata, "Sebenarnya apa yang membuat Adipati Janarsuma bernafsu sekali ingin mendapatkan pusaka Kapak Kubur itu?""Dia ingin balas dendam kepada Gandapura, karena anak angkatnya yang tunggal itu diculik oleh orangnya Gandapura dan dimakannya. Kepalanya dipulangkan ke istana kadipaten. Jadi ia bernafsu sekali ingin dapatkan senjata yang dapat untuk melawan titisan raksasa itu, tanpa ia bercermin diri bahwa banyak kepala orang yang dipenggalnya pada saat ia melebarkan wilayah merebut kekuasaan para tumenggung. Kupikir anak angkatnya yang disantap Gandapura merupakan upah perbuatan kejinya s
Pendekar Kera Sakti diliputi kebimbangan yang meresahkan, sambil tetap membiarkan tubuhnya berdiri tegak diguyur air pancuran dengan segarnya. Sementara itu, Salju Kelana seakan ingin mendekat, ingin memandanginya lekat-lekat, namun gadis itu tak berani lakukan untuk melompat turun ke sungai. Barangkali takut terpeleset, atau ia merasa lebih suka duduk sambil membayangkan Baraka mandi.Yang jelas gadis itu segera berkata, "Sepertinya kau masih menuduhku sebagai pembunuh para tabib itu, Baraka. Setega itukah kau mencurigaiku!""Dari mana kau tahu kalau aku masih mencurigaimu?""Detak jantungmu sedikit lebih cepat dari biasanya. Benar, bukan?"Baraka tak berani menjawab. Ia bahkan semakin resah.-o0o-SEORANG lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar biru yang melingkar-lingkar. Pukulan itu terlepas dari telapak tangan kirinya dan menerjang dua orang penunggang kuda yang bersebelahan.S
"Bertahanlan sampai kita mencari daratan, Baraka ""Sekarang sudah sampai di darat. Aku jangan diseret terus!" geram Baraka bernada jengkel sambil menahan sakit."O, maaf. Aku tidak tahu kalau sudah sampai di darat. Kau sendiri mengapa masih memegangi tongkatku terus sehingga terseret-seret!"Baraka menggerutu tak jelas. Badannya terbungkus lumpur hitam berbau rumput. Namun ia tidak peduli dan segera menggulingkan tubuh beberapa kali dengan susah payah, lalu mencapai suling mustikanya.Baraka segera menyalurkan hawa ‘Kristal Bening’-nya tanpa mempedulikan dirinya tubuhnya yang masih diselimuti lumpur hitam. Ia tetap tidak peduli, yang penting mengobati luka dalamnya dulu dan rasa sakit di dada mulai berkurang.Baraka duduk di tanah bersandarkan pohon. Napasnya masih terengah-engah, walau rasa sakitnya semakin ringan. Ia tertegun membayangkan hampir mati terhisap lumpur hidup kalau tak ditolong oleh Salju Kelana.Gadis itu mencoba
Zuuubbb...!Sesuatu berkelebat ke arah Raja Kera Putih, membuat ucapan Raja Kera Putih terhenti. Benda yang bergerak cepat dari arah belakangnya itu segera dihindari dengan gerakan kepala membungkuk ke depan sambil berseru, "Awas...!"Dengan membungkuknya Raja Kera Putih, benda yang
Roh Seribu Dewa menjawab, "Melumpuhkan dirimu agar mau bicara!""Biar aku saja yang menghadapi!" kata Jelita Bule."Jangan! Ini urusanku!" kata Teratai Kipas agak pelan.Roh Seribu Dewa segera berkata, "Terlalu banyak berunding kalian ini! Heaaah...!"Sebuah pukulan ja
Benda bulat seperti telur burung diperhatikan dengan mata tak berkedip. Benda yang menurutnya adalah telur aneh itu berwarna kemerah-merahan dan berkulit bening. Cairan di dalamnya tampak berwarna merah seperti darah. Pendekar Kera Sakti mendekatkan telur itu ke wajahnya agar lebih jelas lagi dal
"Apa maksudmu mengganggu perjalananku, Resi Pakar Pantun?" tanya Baraka setelah memperkenalkan diri masing-masing."Tikar rombeng ditambal dengan ketan. Bau sedikit tapi berkesan. Tak ada lain kupunya tujuan. Kecuali mencari si Telur Dewa."Resi Pakar Pantun yang jarang mau lepas da







