LOGIN"Sekarang, antarkan aku ke hadapan Pendekar Kera Sakti dan Setan Bodong," pinta Setan Selaksa Wajah, keringat masih berlelehan di sekujur tubuhnya.
Bidadari Alam Kelam tak menjawab. Wanita cantik itu sibuk merapikan pakaiannya.
"Aku sudah menuruti apa maumu. Bergegaslah kau keluarkan ilmu 'Tabir Pengirim Raga', Manisku Bidadari Alam Kelam...," desak Setan Selaksa Wajah.
"Hmmm.... Kupikir..., ada baiknya bila kau tinggal di sini selama dua hari...," sahut Bidadari Alam Kel
Baraka tak mau buang-buang waktu lagi. Ia segera lepaskan pukulan ‘Tapak Dewa Kayangan’ dari telapak tangannya. Sinar putih perak menghantam lapisan sinar hijau bening.Claaap...! Blegaaar...!Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja mengguncang bumi namun membuat langit menjadi mendung seakan ingin runtuh. Baraka terlempar dalam satu sentakan gelombang ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya bergulingguling dan hidung serta telinganya melelehkan darah kental. Ia segera bangkit bersama murkanya."Hiaaat...!" Pendekar Kera Sakti melompat ke udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia yang sudah termakan nafsu amarah pun tak ingin tanggung-tanggung lagi. Maka Pemuda dari lembah kera tak ingin membuang-buang waktu, segera dikerahkannya pukulan andalan Eyang Jaya Dwipa, Ilmu ‘Angin Es dan Api’.Maka begitu tenaga dalamnya dikerahkan, kedua telapak tangannya berubah menjadi berk
Selama ini Baraka selalu gagal menumbangkan Siluman Selaksa Nyawa, karena tokoh yang tak pernah punya perubahan air muka itu bukan saja keji tapi juga licik dan licin bagaikan belut. Kesaktiannya sangat tinggi, namun jika berhadapan dengan Baraka selalu melarikan diri sebelum berhasil ditumbangkan.Dengan Sabuk Gempur Jagat di tangan kirinya, apakah kali ini ia akan lolos dari incaran Baraka"Pantas kalau si Tulang Naga mampus, ternyata orang yang merebut sabuk itu adalah Siluman Selaksa Nyawa!" gumam Resi Pakar Pantun tepat di seberang telinga Kinanti. Gadis itu hanya diam dan tak berani berbuat banyak karena ia pernah mendengar kekejaman dan kesaktian Siluman Selaksa Nyawa."Jubah Kapur, kita selesaikan persoalan lama sekarang juga!" ujar Siluman Selaksa Nyawa dengan suara datar berkesan dingin. "Kelancanganmu tak bisa kuampuni lagi, dan sekarang kau harus menebusnya! Jika tadi aku hanya menguji kesaktianmu, sekarang aku ingin mencopot nyawamu!"S
"Tapi, mengapa bisa ada di sini?""Jangan-jangan dibuang oleh si Tulang Naga karena ia sudah tidak membutuhkan senjata itu lagi. Sabuk Gempur Jagat lebih dahsyat dari senjata itu," ucap Kinanti sambil pandangi tetesan darah dan mulai melangkah lagi mengikuti tetesan darah yang ada di rerumputan.Langkah gadis berjubah kuning gading itu mendahului mereka sejauh lima tindak. Lalu terdengar suaranya berseru dengan nada terkejut, "Ada mayat!""Hahh... mayat...! Hiii...!" Kadal Ginting merapatkan tubuh ke badan sang Resi."Apa-apaan kau ini!" sang Resi mendorong tubuh Kadal Ginting hingga jatuh terduduk."Kasar sekali Eyang padaku.""Keringatmu bau bangkai. Aku tak mau pakaianku terkena aroma bangkai seperti keringatmu!" sang Resi menggerutu sambil melangkah dekati Kinanti.Baraka berdiri di dekat mayat seorang lelaki berbadan kurus, berjubah abu-abu, rambut putih panjang tanpa ikat kepala. Orang itu terluka parah bagian punggungnya. Berlu
"Benar. Tapi Tulang Naga seorang pendendam dan ia masih punya dendam kesumat kepada Ki Galak Gantung. Bukankah kakaknya dulu dibunuh oleh Ki Galak Gantung?""Aha, pikiran yang bagus itu, Baraka! Baru sekarang terpikirkan olehku tentang dendam si Tulang Naga kepada Galak Gantung, bahkan bisa jadi ia juga mendendam kepada gurumu; Setan Bodong.""Itu yang kucemaskan, Resi. Karena aku harus segera menyusul si Tulang Naga sebelum ia mengamuk di Bukit Wangi.... Sebab ratuku ada di sana!" sahut Kinanti."Kalau begitu....""Sayur lodeh buat rebus angkin, mertua gawat berurat kawat. Perut lapar masih bisa disumpal angin, tapi nyawa sahabat tak bisa dibiarkan lewat."Baraka menimpali dengan pantunnya, "Sayur lodeh di dalam mangkuk, ambil garam sekarung tuang semua...."Baraka diam berpikir, lalu sang Resi bertanya, "Apa artinya?""Artinya, sayur lodeh itu pasti asin sekali!"Kinanti tertawa geli hingga terkikik-kikik. Baru sekarang Barak
Bleggaar...!Sinar biru yang berbalik arah itu menghantam dinding batu besar. Batu itu meledak dan hancur menjadi bongkahan sebesar kepalan tangan.Brrruus...!Pecahan batu besar itu menjatuhi tubuh Jejak Setan. Sebagian pecahan itu ada yang menuju ke tempat Baraka, dan hampir kenai kepala Kinanti. Namun sebagian besar pecahan batu itu menghambur ke arah tubuh Jejak Setan. Tak ayal lagi Jejak Setan berteriak kesakitan karena dihujani batu dalam keadaan terkapar akibat terbanting tadi."Kau pikir enak dapat hujan batu!" seru Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria, lalu ia terkekeh-kekeh sendiri.Jejak Setan mengerang kesakitan dan berusaha untuk bangkit. Tapi hatinya sempat berkecamuk sendiri bernada penuh gerutu."Iblis dari mana anak muda itu! Pukulanku bisa dibuat seperti ini! Bangsat! Pakar Pantun mendapat dukungan setangguh ini, bisa-bisa aku mati tanpa hasil jika nekat melawan anak muda itu! Sebaiknya aku melarikan diri dulu, sembuhkan lu
"Bangsat!" geramnya sambil berusaha bangkit. Hatinya pun berkata, "Siapa yang ikut campur ini! Tenaganya luar biasa besarnya. Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin bisa melemparkan tubuhku sekeras tadi!"Ternyata terjangan itu dilakukan oleh Pendekar Kera Sakti yang menggunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan'. Kecepatan geraknya tak bisa dilihat mata lagi, dan berkekuatan melebihi angin badai. Jika Baraka tidak lekas bergerak maka leher Resi Pakar Pantun akan patah dan nyawa sang Resi pun akan melambai-lambai di udara, di luar raganya.Kinanti ikut tampil menghadang Jejak Setan ketika Baraka mengobati sang Resi. Melihat kecantikan Kinanti, mata Jejak Setan jadi melebar dan berusaha untuk bangkit tegak, seakan ingin tunjukkan keperkasaan dan kegagahannya. Ia mencoba menghardik Kinanti dengan suara serak."Siapa kau, Manis! Apa perlumu ikut campur urusan ini dengan pemuda gelandangan itu, hah!""Aku tidak ikut campur urusanmu," ujar Kinant
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







