Home / Pendekar / Pendekar Kera Sakti / 130. Kemampuan Baru

Share

130. Kemampuan Baru

last update Petsa ng paglalathala: 2024-05-31 01:03:27

"Mati kau!" seru Dua Iblis Dari Gunung Batur, bersamaan. Dengan wajah pucat, terpaksa Baraka menghentakkan kedua tangannya yang telah berubah warna. Karena tak mau menjatuhkan tangan maut, Baraka cuma mengeluarkan seperempat bagian tenaga dalamnya. Namun...

Wesss...!

Dari telapak tangan kiri Baraka melesat lidah-lidah api kuning keemasan yang menebarkan hawa panas luar biasa. Dan, dari telapak tangan kanannya, keluar lapisan salju berwarna putih berkilat. Lapisan salju itu meneb

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Kera Sakti   1634. Part 12

    "Ada kalanya manusia mengalami kelengahan, ada kalanya manusia menemukan masa kejayaannya. Sayang waktu aku melawan Branjang Kawat kelengahanku tercuri olehnya, sehingga ia hampir saja merenggut nyawaku kalau aku tak segera larikan diri.""O, begitu.. Jelasnya kau tak bisa unggul melawan Branjang Kawat. Begitu saja singkatnya."Baraka sengaja bicara dengan senyum seakan mengejek kekalahan gadis itu. Yang dilakukan oleh si gadis hanya tarik napas dan segera mengalihkan pembicaraan."Jelaskan apa maksudmu menghadang langkahku!""Aku ingin tahu namamu, Nona Cantik," jawab Baraka makin berkesan menggoda. Hati gadis itu agak jengkel dan berusaha ditahannya kuat-kuat."Untuk apa kau mengetahui namaku?""Karena aku mencurigaimu membawa lari ketiga sahabatku.""Kecurigaanmu tidak benar!""Itulah sebabnya aku ingin tahu namamu karena aku ingin meminta maaf padamu," bujuk Baraka dengan suaranya yang lembut dan punya daya pesona tersendir

  • Pendekar Kera Sakti   1633. Part 11

    Zlaapp...!"Pinang... jangan ikut mengejar! Nanti aku sendirian di sini!" Tua Bangka gemetar takut. Gerakan si pemilik sinar merah itu cukup cepat, atau memang Pendekar Kera Sakti salah arah dalam mengejarnya. Orang tersebut tak berhasil ditangkap oleh Pendekar Kera Sakti. Beberapa saat lamanya Baraka mencari orang itu ke beberapa arah, namun tetap tidak berhasil ditemukan."Agaknya aku sudah telanjur salah arah dalam mengejarnya. Sebaiknya aku segera kembali menemui Tua Bangka. Barangkali kakek ompong itu punya bayangan siapa kira-kira orang yang ingin membunuhnya itu."Namun alangkah terkejutnya Baraka begitu kembali ke tempat semula, ternyata Tua Bangka sudah tidak ada di tempat. Pinang Sari dan Darah Prabu juga tidak ada di tempat. Yang tinggal hanya mayat orang berompi hitam."Ke mana mereka perginya!" pikir Baraka sambil memandang ke sana-sini."Apakah orang yang kukejar tadi yang membawa pergi mereka? Oh, kalau begitu aku tertipu oleh pancin

  • Pendekar Kera Sakti   1632. Part 10

    "Matanya siapa?" sela Baraka menanggapi dengan santai juga."Mungkin mata kalian itulah yang dibohongi!" gerutu Tua Bangka.Darah Prabu dan Pinang Sari menjadi heran dan menampakkan wajah keraguannya. Akhirnya Darah Prabu berkata, "Aku perlu tanyakan kepada Guru tentang kebenaran pusaka itu. Ada atau tidak, dan benarkah Empu Tapak Rengat tidak mau memegang senjata pusaka lagi. Aku perlu jawaban dari Guru secepatnya.""Aku akan mendampingimu," kata Pinang Sari. "Aku juga perlu menceritakan kematian guruku kepada Resi Badranaya, sebab kudengar kabar dari seorang tokoh tua yang telah tiada; Resi Badranaya adalah kakak sepupu mendiang guruku."Baraka menyahut, "Kalau begitu aku akan ke Gunung Bunting untuk temui Empu Tapak Rengat. Akan kutanyakan kebenaran tentang pusaka itu juga.""Baiklah, kita berpisah untuk sementara waktu Baraka," kata Pinang Sari."Sepertinya kita akan jumpa lagi dalam peristiwa Kapak Kubur ini. Kita sama-sama mencari kete

  • Pendekar Kera Sakti   1631. Part 9

    "Begitukah menurutmu, Kek?" Darah Prabu tersenyum, segera memandang Baraka dan bertanya, "Apakah kau datang bersama kakekmu ini, Kang?""Aku bukan kakeknya Baraka!" potong Tua Bangka."Aku... aku adalah penasihatnya Pendekar Kera Sakti. Ya, penasihat pribadi!"Baraka melirik dengan sedikit bersungut-sungut. Tua Bangka tak enak hati, sehingga berkata kepada Darah Prabu, "Maksudnya, penasihat yang jarang sehat. He, he, he...!"Tiba-tiba gadis cantik itu berkerut dahi dan berkata pelan, “Tua Bangka, aku sepertinya pernah melihatmu sebelum ini.""O, ya! Di mana kau melihatku, Anak manis?""Entah. Aku lupa. Tapi aku merasa pernah melihatmu. Mungkin... mungkin dalam mimpi.""Memang dari muda aku sering menjadi impian para gadis," kata Tua Bangka dengan nada sombong, membuat Baraka mencibir geli."Apakah kau kenal dengan Papan Rayap tadi, Darah Prabu!" tanya Baraka mengalihkan pembicaraan.“Tidak. Aku tidak kenal de

  • Pendekar Kera Sakti   1630. Part 8

    Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi hijau matang. Suling Naga Krishna yang telah berwarna hijau matang dijulurkan lurus ke depan. Saat Baraka mengalirkan tenaga dalam, lubang-lubang yang ada di Suling Naga Krishna menyemburkan asap berwarna hijau."Wusss...!"Asap yang mengandung racun itu segera lenyap diterbangkan angin. Baraka menarik nafas lega, selanjutnya tinggal menyembuhkan luka Pinang Sari. Dengan satu sentakan tangan kanannya, jari tengah Baraka mengeras lurus dan dari ujung jari itu melesat sinar putih bening seperti kaca. Sinar itu menghantam pertengahan dada Pinang Sari. Aji Kristal Bening digunakan oleh Baraka.Clapp...!Dess...!Lebih dari lima helaan napas sinar bening mirip kaca itu dibiarkan menghantam tubuh Pinang Sari. Beberapa saat kemudian, tampak kulit tubuh yang terluka itu bergerak-gerak. Dari berubah warnanya sampai gerakannya membentuk kesatuan seperti semula.Trang, trang, tran

  • Pendekar Kera Sakti   1629. Part 7

    Wuuttt...! Brreett...!"Aaauh...!" Pinang Sari terpekik. Ulu hatinya bagaikan sedang dibedah oleh pedang lengkung itu. Ia segera tersentak mundur dan tergagap-gagap. Darah menyembur dari luka panjang tersebut.Brrukk...!Pinang Sari jatuh terjengkang, kini ia terkapar dengan tubuh menggigil. Rupanya pedang si Papan Rayap beracun ganas. Dalam waktu cukup singkat tubuh Pinang Sari mulai dikerumuni rayap yang muncul dari dalam tanah akibat mencium bau racun pedang yang bercampur dengan darah. Binatang putih kecil-kecil itu semakin banyak jumlahnya dan membuat Pinang Sari menjerit karena jijik."Katakan di mana kau simpan kapak itu! Lekas! Kalau tidak kau katakan, akan kubiarkan rayap-rayap itu menggerogoti tubuhnya hingga menjadi tulang belulang!"Namun sekelebat bayangan segera bergerak menerjang Papan Rayap.Bruuss...!Papan Rayap terpelanting dan jatuh dengan menyedihkan karena kepalanya bagaikan disambar kaki petir. Hampir saja ujung

  • Pendekar Kera Sakti   905. Part 18

    "Uuh uuh uuh...!" serigala itu pun berjalan pelan di depan Baraka. Seakan ia mengerti apa yang dimaksud kata-kata Pendekar Kera Sakti. Sambil melangkah, Pendekar Kera Sakti itu garuk-garuk pantatnya beberapa kali. Jalan Baraka terasa lambat. Serigala itu rupanya tak sabar, ia menggeram dengan mul

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Pendekar Kera Sakti   871. Part 6

    RATU Teluh Bumi merasa sangat beruntung dapat bertarung dengan Dayang Selatan. Bahkan kalah dalam pertarungan ternyata bukan berarti harus mati selamanya. Kalah dalam pertarungan mempunyai sisi baik tersendiri yang kadang tak disadari oleh si penderita kekalahan. Andai dia menang melawan Dayang S

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Pendekar Kera Sakti   893. Part 6

    "Jangan paksa aku!" nenek itu menghardik dengan suara tua yang gemetaran. Napasnya terengah-engah setelah itu."Jika begitu, lekaslah pergi dan carilah orang yang bernama Baraka itu ke tempat lain. Jangan di sini!""Kau mengusirku, Jejak Naga?""Ya. Karena kau mengganggu kete

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Pendekar Kera Sakti   887. Part 22

    Tetapi Ratu Teluh Bumi hanya diam, pandangi gerakan pedang Tangan Syiwa yang melangkah mengelilinginya. Napas segera ditarik dan ditahan di dada oleh Ratu Teluh Bumi, kemudian ia ucapkan kata, "Buntung tanganmu, Tangan Syiwa!"Blarr...!Petir memekik mengagetkan mereka. Dan semakin

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status