LOGINSEORANG prajurit bernama Pinasih datang menghadap sang Ratu dalam keadaan wajah memar dan lengan tergores luka yang masih berdarah. Kedatangan Pinasih membuat sang Ratu menjadi tersentak bangun dari tempat duduknya. Yang lain pun memandang Pinasih dengan tegang, terutama Kinanti.
“Pinasih, apa yang terjadi?!” sambil Kinanti menyambar tubuh Pinasih yang nyaris rubuh karena luka-lukanya.
Baraka memandang dengan dahi berkerut. Salju Kelana mendekati Baraka dan berbisik,
SEORANG prajurit bernama Pinasih datang menghadap sang Ratu dalam keadaan wajah memar dan lengan tergores luka yang masih berdarah. Kedatangan Pinasih membuat sang Ratu menjadi tersentak bangun dari tempat duduknya. Yang lain pun memandang Pinasih dengan tegang, terutama Kinanti.“Pinasih, apa yang terjadi?!” sambil Kinanti menyambar tubuh Pinasih yang nyaris rubuh karena luka-lukanya.Baraka memandang dengan dahi berkerut. Salju Kelana mendekati Baraka dan berbisik, “Ada sesuatu yang tak beres.”Baraka hanya menggumam lirih. Lalu mereka menyimak penjelasan dari Pinasih yang menjadi salah satu petugas penjaga perbatasan.“Sisa orang-orang Pulau Teluh datang, Gusti Ratu!” Pinasih bicara dengan terengah-engah. “Mereka dipimpin oleh Lodang Balak, adik dari Penguasa Pulau Teluh yang telah berhasil dibunuh oleh Demit Lanang itu”“Lodang Balak..?!” Salju Kelana menggumam dengan nada heran. &ldqu
Kinanti akhirnya berkata, "Baiklah. Salju Kelana boleh ikut tapi tidak boleh mencampuri pembicaraanmu dengan sang Ratu!""Aku hanya akan mengawasinya!" kata Salju Kelana bernada ketus."Tampaknya kau takut kehilangan Pendekar Kera Sakti, Salju Kelana?""Memang!" jawab Salju Kelana dengan tegas, tanpa basa-basi sedikitpun.Kinanti hanya mencibir sinis. Saat mereka melangkah menuju Lembah Birawa, Kinanti sempat ceritakan masalah sebenarnya kepada Salju Kelana. Cerita itu meluncur dari mulut Kinanti setelah Salju Kelana menceritakan pengalaman mesranya dengan Baraka ketika di dalam gua dan ketika duduk di depan Baraka yang mandi dalam keadaan polos karena menyangka Salju Kelana buta, padahal tidak. Kinanti sempat terkikik geli mendengar cerita itu. Sedangkan Pendekar Kera Sakti sengaja sedikit menjauh supaya tidak terlalu merasa malu membayangkan kebodohannya didepan Salju Kelana yang kala itu berpura-pura masih buta.Bahkan Baraka berusaha mengalihka
Bagaimanapun juga Baraka lebih memilih Salju Kelana daripada Kinanti, seandainya ia dipaksa harus memilih. Sebab Salju Kelana yang mirip sekali dengan Hyun Jelita itu telah berhasil mendapat 'kapling' di tepi hati Pendekar Kera Sakti. Andai saja Hyun Jelita tidak ada, pasti Salju Kelana yang menjadi pilihan utama bagi hati pemuda dari Lembah Kera itu."Baraka akan kubawa menemui Ratu Jiwandani." kata Kinanti saat ditanya Salju Kelana tentang tujuan mereka. Kinanti menyambung kata, "Ada persoalan yang akan diselesaikan Baraka sana!""Tidak boleh!" tegas Salju Kelana."Apa hakmu melarang Baraka datang ke istana Lembah Birawa!" hardik Kinanti."Dia punya urusan sendiri denganku secara pribadi!""Peduli amat dengan urusanmu, aku lebih dulu menemukan Baraka!""Aku kenal dia lebih dulu dari kau!""Persetan dengan perkenalanmu! Dia harus ku bawa ke Lembah Birawa!""Tidak boleh!" bentak Salju Kelana."Aku akan nekat membawanya!"
"Ya, aku yakin begitu. Seroja Putih terlibat bentrokan dengan Demit Lanang, hingga Demit Lanang keluarkan jurus andalannya. Sebab, Seroja Putih memang ilmunya lumayan tinggi. Hanya saja, apakah pertarungan itu dilakukan setelah Demit Lanang pergi dari Bukit Ranjang Setan tadi, atau sebelumnya, yaitu saat ia menuju ke Bukit Ranjang Setan untuk bertarung melawan adiknya sendiri."Rona duka terlihat jelas di wajah Kinanti. Baraka tak berani main-main. Bahkan sang Pendekar Kera Sakti menampakkan raut wajahnya yang ikut berduka atas kematian Seroja Putih itu.Kinanti segera mengambil pakaian tersebut bersama pedangnya. "Akan kutunjukkan kepada sang Ratu mengenai kekejaman Demit Lanang ini!" ucapnya lirih dan bergetar karena membendung tangis."Aku setuju dengan rencana itu. Nanti aku akan ikut memperkuat laporanmu kepada sang Ratu," kala Baraka dengan sikap tenang tapi dalam suasana hati ikut berkabung.Langkah mereka mulai dipercepat, karena nanti tak sabar i
"Ratu Jiwandani adalah perawan suci yang tak pernah dijamah oleh lelaki mana pun juga. Beliau mempunyai perjanjian dengan leluhurnya, bahwa apabila Lembah Birawa masih dalam ancaman bahaya orang-orang Pulau Teluh, sang Ratu tidak ingin menikah dengan pria mana pun. Hati Ratu Jiwandani akan terbuka untuk seorang pria jika Lembah Birawa tidak diganggu lagi oleh orang-orang Pulau Teluh. Sebab orang-orang Pulau Teluh selalu bermusuhan sejak Lembah Birawa dipegang oleh nenek buyutnya sang Ratu."Kinanti bicara dengan sungguh-sungguh, kedua tanganya ikut bergerak-gerak memperjelas keterangannya. Pendekar Kera Sakti tampak berminat sekali mengikuti cerita itu, hingga lebih banyak diam daripada mengajukan beberapa pertanyaan."Mulia Guru Teja Biru mempunyai syarat, apabila mereka berhasil menumbangkan Penguasa Pulau Teluh dan membebaskan Lembah Birawa dari gangguan orangorang pulau itu, maka sang Ratu harus bersedia dinikahi oleh Maha Guru Perguruan Darah Surga. Sang Ratu pun
"Hmmm... aku tahu, anak muda itu punya jurus lain dari yang lain!" gumam Hantu Sesat. "Jika dia yang kupukul, maka kau yang kesakitan, Setan Bejat. Jadi jika kau yang kupukul, maka dia yang akan kesakitan! Nih, rasakan pembalasanku, Pemuda pongah! Haaahh...! Heeeaahh...!"Plak, brrukk...! Prak, prak, plok, buk, buuhg...!"Aaauuuh...! Hentikan! Hentikan!" teriak Setan Bejat yang semakin kesakitan dihajar Hantu Sesat."Aku tahu yang berteriak kesakitan bukan kau, Setan Bejat, tapi si pongah itu! Rasakan pembalasan ini! Haaaeh...! Hiaaah...! Modar kau!"Wuuss...!Tubuh Setan Bejat akhirnya terlempar karena pukulan bertenaga dalam dari teman sendiri. Rahangnya retak dan pelipisnya memar membuat telinganya berdarah. Hantu Sesat kerutkan dahi pandangi Setan Bejat yang terkapar tak berdaya itu."Celaka! Aku hampir membunuh teman sendiri! Anak muda itu masih tetap tenang-tenang saja?"Hantu Sesat serba salah, tak tahu harus bagaimana melawan
Mendapat teguran itu, Kemuning cemberut. Lalu dengan sikap yang amat manja dan terkesan malu-malu, dia melangkah mendekati Baraka. Namun, diam-diam gadis berparas elok rupawan itu mengirim bisikan kepada Baraka dengan mempergunakan ilmu mengirim suara dari jarak jauh.“Baraka! Aku sed
PUCUK-PUCUK cemara melambai dalam senyuman, menyambut siraman sinar mentari sore hari. Aneka warna burung parkit berkicau riang bersama elusan sang bayu. Di antara jajaran manusia yang berdiri di tepi Telaga Bidadari, dua sosok bayangan berkelebat meninggalkan perahu yang mereka tumpangi.K
"Entah mengapa, mereka sepertinya tidak bermaksud membunuhku," tutur Mei Lie setelah menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka."Jadi, mayat-mayat yang kemarin kutemui, adalah mayat para pengawal kapal ayah Nona?" tanya Baraka berusaha memastikan."Tidak semuanya. Pengawal kami
"Jahanam kau, Sastrawan Jelek! Sudah tahu kenapa bertanya lagi!" sentak salah satu dari Empat Iblis Gundul yang mengenakan kalung perak. Namanya Surogentini. Sambil berkata, Surogentini menggerak-gerakkan goloknya seakan sedang mencacah wajah Sastrawan Berbudi. Sementara, ketiga teman Surogentini







