Mag-log in"Entah mengapa, mereka sepertinya tidak bermaksud membunuhku," tutur Mei Lie setelah menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka.
"Jadi, mayat-mayat yang kemarin kutemui, adalah mayat para pengawal kapal ayah Nona?" tanya Baraka berusaha memastikan.
"Tidak semuanya. Pengawal kami hanya sepuluh orang. Selebihnya adalah begundal orang yang kudengar bernama Wasesa," jawab Mei Lie menegaskan, membuat mata pemuda itu membelalak mendengar nama Wasesa kembali diucapkan oleh seseora
Lodang Balak kian garang. Pedangnya ditusukkan di depan, dan mata Baraka yang masih terpejam itu berhasil merasakan angin padat menghampirinya. Dengan cepat ia melompat bersalto ke udara.Wuuss...! Lalu dalam keadaan berjungkir balik di udara pedangnya berkelebat membabat lawan.Wuuuttt...! Craasss...!"Aahg...!" terdengar pekik tertahan si Lodang Balak.Punggungnya robek digores ujung pedang. Baraka berdiri tegak, kini ia membuka mata memandang lawannya yang menyeringai dengan berang. Sekalipun dada Baraka tampak membiru bekas pukulan tadi, namun ia masih kelihatan gagah, mampu berdiri dengan tegar."Kau sudah terluka, Lodang Balak! Kau harus mundur sesuai peraturan yang kita sepakati tadi.""Setan bangsat...! Tak ada kata mundur selama aku masih mampu berdiri! Heaaatt...!"Baraka memegang pedang dengan kedua tangan. Salah satu jurus ‘Pedang Kilat Buana’ dipergunakan. ‘Kilat Pembawa Maut’Zlaapp...!
Lodang Balak semakin kaget melihat kenyataan itu. Akhirnya ia melompat turun dari atas kudanya dan berseru dengan suara serak. "Bangsat! Kau telah bunuh murid andalanku, Perempuan lacur! Kuhancurkan pula ragamu sekarang juga, heeeaaahhh...!"Tangan kanannya menyentak ke depan. Tak ada sinar yang keluar, tapi tiba-tiba tubuh Salju Kelana sudah dibungkus oleh kilatan-kilatan cahaya biru yang mengelilinginya. Semakin lama semakin rapat hingga tubuh Salju Kelana nyaris terjerat kilatan-kilatan sinar biru yang saling memercikkan api dan letupan kecil itu.Claappp...!Sinar berwarna kebiru-biruan keluar dari tangan Baraka yang saling merapat dan disentakkan ke depan. Sinar berwarna kebiru-biruan itu berkelok-kelok bagai lidah petir menghantam kilatan-kilatan cahaya biru yang hampir menjerat dan menghancurkan tubuh Salju Kelana.Blaarr...!Salju Kelana terlempar melambung ke udara dan jatuh dalam keadaan tak bisa menjaga keseimbangan.Buuuhgg...!
"Siapa pun dirimu, Perempuan ganjen... aku tetap tidak akan pandang bulu! Jika kau menghalangi langkahku untuk membalas dendam kepada Ratu Jiwandani, kau pun akan kehilangan kepala, Perempuan ganjen! Jadi kusarankan kau tak perlu berlagak menjadi jagoan di depanku. Lodang Balak tak pernah segan memenggal kepala perempuan secantik apa pun!""Turun dari kudamu dan buktikan sesumbarmu itu!" sentak Salju Kelana dengan berani."Ha, ha, ha, ha...! Jangan melawanku kau, Gadis ingusan! Sebaiknya kau melawan muridku saja."Lodang Balak yang berusia sekitar empat puluh tahun itu menengok ke kiri, seorang berpakaian abu-abu berkepala gundul dipandanginya. Lalu ia berseru kepada orang yang berusia sekitar tiga puluh tahun dan bertubuh kekar tanpa kenakan baju itu."Balada, turun dan mainkan kepunyaanmu di depan perempuan itu!"Orang gundul yang bernama Balada itu segera melompat dari punggung kudanya. Wuuttt...!Lompatannya cukup tinggi, hingga ia bisa
SEORANG prajurit bernama Pinasih datang menghadap sang Ratu dalam keadaan wajah memar dan lengan tergores luka yang masih berdarah. Kedatangan Pinasih membuat sang Ratu menjadi tersentak bangun dari tempat duduknya. Yang lain pun memandang Pinasih dengan tegang, terutama Kinanti.“Pinasih, apa yang terjadi?!” sambil Kinanti menyambar tubuh Pinasih yang nyaris rubuh karena luka-lukanya.Baraka memandang dengan dahi berkerut. Salju Kelana mendekati Baraka dan berbisik, “Ada sesuatu yang tak beres.”Baraka hanya menggumam lirih. Lalu mereka menyimak penjelasan dari Pinasih yang menjadi salah satu petugas penjaga perbatasan.“Sisa orang-orang Pulau Teluh datang, Gusti Ratu!” Pinasih bicara dengan terengah-engah. “Mereka dipimpin oleh Lodang Balak, adik dari Penguasa Pulau Teluh yang telah berhasil dibunuh oleh Demit Lanang itu”“Lodang Balak..?!” Salju Kelana menggumam dengan nada heran. &ldqu
Kinanti akhirnya berkata, "Baiklah. Salju Kelana boleh ikut tapi tidak boleh mencampuri pembicaraanmu dengan sang Ratu!""Aku hanya akan mengawasinya!" kata Salju Kelana bernada ketus."Tampaknya kau takut kehilangan Pendekar Kera Sakti, Salju Kelana?""Memang!" jawab Salju Kelana dengan tegas, tanpa basa-basi sedikitpun.Kinanti hanya mencibir sinis. Saat mereka melangkah menuju Lembah Birawa, Kinanti sempat ceritakan masalah sebenarnya kepada Salju Kelana. Cerita itu meluncur dari mulut Kinanti setelah Salju Kelana menceritakan pengalaman mesranya dengan Baraka ketika di dalam gua dan ketika duduk di depan Baraka yang mandi dalam keadaan polos karena menyangka Salju Kelana buta, padahal tidak. Kinanti sempat terkikik geli mendengar cerita itu. Sedangkan Pendekar Kera Sakti sengaja sedikit menjauh supaya tidak terlalu merasa malu membayangkan kebodohannya didepan Salju Kelana yang kala itu berpura-pura masih buta.Bahkan Baraka berusaha mengalihka
Bagaimanapun juga Baraka lebih memilih Salju Kelana daripada Kinanti, seandainya ia dipaksa harus memilih. Sebab Salju Kelana yang mirip sekali dengan Hyun Jelita itu telah berhasil mendapat 'kapling' di tepi hati Pendekar Kera Sakti. Andai saja Hyun Jelita tidak ada, pasti Salju Kelana yang menjadi pilihan utama bagi hati pemuda dari Lembah Kera itu."Baraka akan kubawa menemui Ratu Jiwandani." kata Kinanti saat ditanya Salju Kelana tentang tujuan mereka. Kinanti menyambung kata, "Ada persoalan yang akan diselesaikan Baraka sana!""Tidak boleh!" tegas Salju Kelana."Apa hakmu melarang Baraka datang ke istana Lembah Birawa!" hardik Kinanti."Dia punya urusan sendiri denganku secara pribadi!""Peduli amat dengan urusanmu, aku lebih dulu menemukan Baraka!""Aku kenal dia lebih dulu dari kau!""Persetan dengan perkenalanmu! Dia harus ku bawa ke Lembah Birawa!""Tidak boleh!" bentak Salju Kelana."Aku akan nekat membawanya!"
"Aku hanya memancing perhatian bagi orang-orang yang bernafsu memiliki pedang tersebut. Tentu saja bukan orang berilmu rendah yang menghendaki pedang itu, pasti orang berilmu tinggi. Lalu, aku bisa kenali orang-orang berilmu tinggi itu, dan bisa tahu apakah dia berpihak kepada Purnama Laras, atau
Kini melihat Baraka terkapar dengan erangan kecil, Setan Samudera sedikit heran dan menyangka kekuatan Baraka sebagai pendekar terkenal di rimba persilatan hanya sampai di situ saja. Setan Samudera tidak mau menyianyiakan waktu, ia bergegas ingin memaksa Baraka untuk serahkan Cambuk Getar Bumi. N
Delima Gusti perdengarkan suaranya yang bernada dingin itu, "Pembunuh budiman, ke mana pun kau lari kau tak akan bisa hilang dari pandanganku! Sebaiknya serahkan saja cambuk milik guruku itu!""Siapa gurumu itu? Raja Hantu Malam? O, bukan! Kau bukan murid Raja Hantu Malam," kata Baraka dal
"Justru aku mendampinginya untuk dapatkan cambuk itu!""Kalau begitu kau pun perlu mengetahui bahwa aku tidak memiliki cambuk itu!""Kau tak bisa bohongi kami!" katanya dengan dingin sekali."Aku berani bersumpah. Kusarankan urungkan niat itu, sebab cambuk tersebut telah terk