分享

195. Raja Sihir

last update publish date: 2024-06-22 01:02:07

Dengan peluh bercucuran, tubuh Danyangsuli tergolek lemas di lantai gua. Sedikit malas dia rapikan lagi letak pakaiannya. Sementara, Sasak Padempuan yang telah mengenakan kembali pakaiannya langsung berdiri berkacak pinggang. Tatapannya pada Danyangsuli berubah sinis dan terlihat amat menghina.

"Tidakkah kau sadar bila satu peristiwa besar telah terjadi padamu, Suli?" ujar si pemuda.

Perlahan, Danyangsuli beringsut duduk. Dibalasnya tatapan Sasak Padempuan dengan segudang tanda

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pendekar Kera Sakti   1626. Part 4

    Kini tali penjerat leher sudah dikalungkan. Baraka tetap tenang tanpa lakukan pemberontakan apa pun, tanpa perasaan sedih sedikit pun. Mereka memandang dengan penuh rasa kagum, namun ada juga yang punya rasa tak suka menganggap Baraka bocah bodoh yang menjengkelkan hati."Hukuman gantung sebagai wakil si Tua Bangka segera dilaksanakan!" teriak ketua prajurit."Sattuuu... duaaa... tigaaa...!"Singa Parna tidak menarik bangku yang diinjak Baraka, melainkan menendangnya sebagai luapan kejengkelan hatinya tadi.Braakk...!Kaki bangku patah seketika setelah ditendang Singa Parna. Maka tubuh Baraka pun tergantung, lehernya terjerat tali gantungan.Seettt...!"Huuu...!" orang-orang menggumam puas."Mampuslah kau!" teriak yang jengkel."Selamat jalan, Bocah gila!" seru yang lain.Tua Bangka tertegun bengong melihat tubuh Baraka tergantung dengan kepala terkulai mata terpejam, tapi mulutnya tidak menganga. Baraka bahkan se

  • Pendekar Kera Sakti   1625. Part 3

    Si ketua prajurit keluarkan perintah kepada petugas penggantungan, "Singa Parna, hancurkan mulutnya!"Orang berbadan kekar tanpa baju yang ternyata bernama Singa Parna itu segera melayangkan pukulannya lurus ke mulut Baraka.Wuuuttt...!Baraka menghindar dengan meliukkan badan seperti kera yang ingin tumbang.Weesss...!Pukulan itu tidak mengenai sasaran. Baraka tetap di tempat. Ketika tegak kembali, kaki Singa Parna menyambutnya dengan tendangan lurus ke depan.Wuuttt...!Badan si tampan itu meliuk kembali bagaikan orang mabuk sempoyongan.Weesss...!Tendangan itu meleset kembali. Singa Parna menjadi tambah jengkel. Maka diserangnya Pendekar Kera Sakti dengan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi.Wuuutt, wuutt, wesss...! Wuuk, wukk, wuuss...!Tak ada satu pun serangan yang bisa kenai tubuh Pendekar Kera Sakti. Padahal kaki Baraka tidak bergeser sedikit pun, hanya badannya yang meliuk-liuk dengan cepat

  • Pendekar Kera Sakti   1624. Part 2

    "Saudara-saudara sekalian, hari ini saudara-saudara akan menjadi saksi keadilan Kanjeng Adipati kita dengan menyaksikan acara penggantungan atas diri si Tua Bangka ini. Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa Tua Bangka dijatuhi hukuman gantung karena mencoba memperkosa Gusti Ayu Trahsumuning, yaitu istri Kanjeng Adipati Janarsuma.""Setuju! Setuju! Gantung saja penjahat tak tahu kesusilaan itu!""Sebelum acara penggantungan dimulai, mari kita mengheningkan cipta sebentar untuk mendoakan semoga arwah Tua Bangka diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Berdoaaa... mulai!""Tunggu, tunggu...!" seru salah seorang. “Tidak usah didoakan. Arwah orang jahat biarkan saja masuk neraka!""Benar. Iya, benar tak usah didoakan!" sahut yang lain."Baiklah. Kalau begitu, hukuman gantung akan segera dimulai. Tapi sebelumnya, mari kita dengar kesan dan pesan dari orang yang akan kita gantung ini....""Aah... tak usah, tak usah...!" seru mereka. "Langsung gantung saja!

  • Pendekar Kera Sakti   1623. KAPAK KUBUR

    LEBIH dari dua puluh orang mengarak seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun. Kakek berbadan kurus dan mengenakan pakaian abu-abu itu dalam keadaan tubuhnya dililit tali, hingga kedua tangannya tak bisa bergerak. Lehernya dikalungi tambang lalu dituntun seperti menuntun kambing bandot."Gantung dia! Gantung saja! Ayo, gantung! Sekali gantung tetap gantung!" seru mereka bersahutan dengan hentak-hentakkan kepalan tangannya ke atas.Para pengarak itu bukan saja terdiri dari orang dewasa, malah ada yang masih remaja ikut-ikutan mengarak dan berteriak. Tapi yang menuntun kakek berambut putih pendek itu adalah seseorang yang berseragam keprajuritan, membawa pedang di pinggang. Sedangkan beberapa prajurit bertombak mengamankan daerah sekeliling. Dari ciri pakaiannya dapat diketahui bahwa mereka adalah prajurit-prajurit Kadipaten Balungan, adipatinya masih berusia sekitar lima puluh tahun kurang, bernama Adipati Janarsuma.Wajah tua yang digiring ke bukit tak seberapa tinggi itu tampak

  • Pendekar Kera Sakti   1622. Part 22

    "Karena dia menotokku, lalu dalam keadaan lemas tak berdaya dia ingin memperkosaku, Guru! Dia kejam dan jahat...!" Kismi akhirnya menangis karena tak tahan menderita sakit hati membayangkan peristiwa itu.Lalu, Ranggu Pura berseru kepada gurunya sendiri; Poci Dewa. "Guru, izinkan saya bertarung melawan Kunta Aji sekarang juga! Saya ingin beradu kejantanan dengannya demi kehormatan Cumbu Bayangan!"Kedua tokoh tua itu saling pandang dalam kebimbangan. Pendekar Kera Sakti segera memberi saran, "Rasa-rasanya tak perlu terjadi. Cukup para Guru yang saling menyadari bahwa permusuhan diantara dua perguruan yang berasal dari satu sumber ini tidak perlu terjadi lagi. Sebab jika kita saling bermusuhan, maka ada pihak lain yang akan memanfaatkan keadaan kita ini, untuk membuat kedua perguruan semakin hancur lebur. Dan kalau sudah begitu, yang berjaya adalah pihak perguruan lain, yang menderita dan menjadi korban adalah pihak kita sendiri.""Benar...!" ada orang berseru da

  • Pendekar Kera Sakti   1621. Part 21

    Blaarr... blegaar... blaang.... Duaar...!Dalam satu kesempatan, ketika mereka masih mengambang di udara tanpa pedulikan bumi dan alam yang bergetar, Buyut Gerang berhasil hantamkan pukulan telapak tangannya ke dada Poci Dewa. Sedangkan pihak Poci Dewa pun mendapat kesempatan menghantamkan tangannya yang menguncup ke ulu hati Buyut Gerang. Pukulan itu sama-sama timbulkan bunyi menggelegar secara bersamaan.Blegaarr...!Kedua tokoh tua tanpa pengikut itu sama-sama terpental dan jatuh bergulingguling. Napas mereka terengah-engah. Wajah mereka dicekam rasa sakit yang tetap dipertahankan kekuatannya. Buyut Gerang memuntahkan darah merah kental, rambutnya rontok sebagian karena pukulan Poci Dewa. Sedangkan lawannya pun mengalami hal yang serupa, rambut Poci Dewa rontok sebagian, bahkan yang semula berwarna putih sempat menjadi semburat hitam karena hangus terbakar oleh pukulan telapak tangan Buyut Gerang. Keduanya tak ada yang merasa kalah dan tak ada yang merasa lem

  • Pendekar Kera Sakti   1426. Part 13

    Slaap...! Dub! Ziing...!Benda itu dilemparkan ke arah pohon dan memantul cepat menuju kepala Teratai Kipas. Pantulan cahaya matahari pada benda pipih itu terlihat oleh mata Baraka yang memunggungi Nyai Sapu Lanang. Dengan cepat tangan Baraka menyentak ke arah benda tersebut.Wings.

    last update最後更新 : 2026-04-04
  • Pendekar Kera Sakti   1455. Part 19

    Bwweerrsss...!Claap...! Mahesa Sulung terbengong seketika, diam bagaikan patung dengan tangan hampa, tanpa pedang tanpa senjata apa pun. Pedang itu lenyap setelah ditiup oleh Baraka menggunakan Jurus ‘Tabir Ghaib’, untuk memberi peringatan kepada pihak Prabu Wiloka bahwa perta

    last update最後更新 : 2026-04-04
  • Pendekar Kera Sakti   1453. Part 17

    Melihat kedatangan Baraka didampingi empat prajurit, mereka menyangka keempat prajurit menemukan seorang mata-mata. Para prajurit lainnya segera bergerak cepat. Dalam waktu singkat mereka sudah mengurung Baraka dan keempat prajurit itu. Dua orang berbadan tinggi besar yang menjaga pintu gua meman

    last update最後更新 : 2026-04-04
  • Pendekar Kera Sakti   1466. Part 8

    Lalu, Baraka berkata, "Percayalah padaku, kalian sebentar lagi akan menjadi manusia tanpa raga! Kalian telah terkena kekuatan sakti dari Golok Setan yang dimiliki oleh Durjana Belang alias si Maling Sakti itu!"Roh Seribu Dewa menjadi gusar. "Tidak mungkin! Golok Setan dimiliki oleh Malaik

    last update最後更新 : 2026-04-04
更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status