LOGIN"Sedikit banyak, aku bisa merasakan apa yang tengah kau rasakan saat ini, Baraka...," ujar Danyangsuli, penuh kesungguhan.
"Jangan heran jika kau melihat keadaanku jadi seperti ini. Ini semua terjadi karena kebodohan dan kecerobohanku...."
"Kau yang membebaskan aku?" tanya Baraka.
"Ya," jawab Danyangsuli.
"Lalu..., kenapa kau terluka? Dan, siapa yang melukaimu? Bancakluka? Bancakdulina?" tanya Baraka lagi, agak tergagap. Iba juga hatinya melihat Danyangsuli yang te
"Keparat! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, hah! Terima ini jurusku yang bukan sekadar permainan anak kemarin sore. Hiaaah...!"Sang Ratu lepaskan pukulan bersinar biru bagaikan bola berekor.Wuusss...! Sinar biru itu keluar dari telapak tangannya yang dihantamkan ke arah Pendekar Kera Sakti. Maka sinar biru itu pun meluncur cepat ke arah sang Pendekar.Melihat kemunculan sinar biru itu, Baraka segera melepaskan pukulan 'Tapak Guntur ' yang memancarkan sinar biru terang.Claaap...!Sinar biru terang segera beradu dengan sinar biru di pertengahan jarak.Blaab...! Blegaaarr...!Cahaya ungu berkerilap dari hasil benturan dua sinar tadi. Ledakan menggelegar pun sempat mengguncang tanah lapang alun-alun, membuat orang-orang menjadi gaduh karena ketakutan. Namun di luar dugaan, ternyata sinar ungu itu menguncup dan membentuk gumpalan sinar biru lagi yang melesat ke arah Baraka.Wuuusss...!"Gila! Sinarnya masih utuh!" senta
Namun Baraka bagai tidak memainkan jurus sedikit pun. Ia hanya berjalan pelan mondar-mandir di depan sang Ratu sambil mata memandang dan bibir sunggingkan senyum. Senyum itu tetap merupakan 'Penakluk Hawa' yang membahayakan bagi perempuan mana pun juga."Bersiaplah, Kekasihku...!" geram sang Ratu sambil mengubah posisi kuda-kudanya, makin mendekat lagi."Seranglah aku jika kau perempuan yang gemar bercinta."Sang Ratu bagai ditantang kemesraannya. Untuk membuktikan kehebatan bercintanya, sang Ratu segera melepaskan serangan lebih dulu dengan satu lompatan kecil yang mencapai tanah depan Baraka"Hiiaah...!"Jleeeg ..! Lalu mereka beradu kecepatan tangan dalam memukul dan menangkis.Plak, plak, plak, plak, plak....Zlaaab...! Baraka bergerak melingkar hingga berada di belakang sang Ratu. Gerakan itu tak diketahui oleh sang Ratu karena Baraka menggunakan Jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan'-nya.Ketika perempuan itu
Perempuan yang kini menjadi wanita paling kerempeng seistana itu segera turun dari tandu. Dua pengawal mendampinginya di kanan-kiri. Kepalanya yang gundul tanpa selembar rambut dipayungi oleh seorang pembawa payung dari belakang. Ratu Sukma Semimpi segera mendekati Baraka dengan pandangan mata yang berbinar-binar. Semakin dekat semakin mekar senyumnya menandakan kegembiraan hatinya saat itu."Selamat datang di Tanah Ratu, Pendekar Kera Sakti; Baraka!" sapa sang Ratu dengan penuh wibawa.Baraka membungkuk, memberikan hormat ala kadarnya. Karena ia diberi tahu oleh Putri Malu bahwa sang Ratu suka dengan hormat dan sanjungan."Salam hormatku untukmu, Gusti Ratu.""Terima kasih. Kau benar-benar lelaki yang pandai membuat hatiku bangga dan gembira."Baraka segera sunggingkan senyum. Hati sang Ratu bergetar melihat senyuman itu. Ia tak tahu bahwa Baraka telah gunakan jurus 'Penakluk Hawa' yang mampu membuat lawan kasmaran dan mau tak mau pasrah
Hal itulah yang dikhawatirkan oleh Putri Malu. Karenanya, Baraka mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kekuatan aji pemikat sang Ratu. Pendekar Kera Sakti juga punya cara sendiri untuk membebaskan Tabib Getar Hati, ibu dari Putri Malu yang menjadi kambing hitam sang Ratu itu."Bagaimana hasilnya, Putri Malu!" sapa sang Ratu dalam pertemuan yang diadakan secara mendadak karena Putri Malu pulang dari tugasnya."Mana pemuda tampan yang bergelar Pendekar Kera Sakti itu! Mengapa kau datang tidak membawa Baraka? Apakah kau tak ingin Ibumu selamat? Ingat tujuh hari lagi purnama tiba. Jika kau belum bisa membawa Pendekar Kera Sakti kemari, maka Ibumu akan kugantung di depan umum!""Gusti Ratu," kata Putri Malu sambil menahan kegeraman dalam hatinya. "Saya sudah bertemu dengan Pendekar Kera Sakti.""Bagus!" sahut sang Ratu dengan wajah mulai berseri-seri. "Lalu bagaimana?""Baraka ada di luar, Gusti!""Hah...! Mengapa tidak kau bawa masuk? Lek
"Hmmm... ya, ya... aku tahu, Suling ini awalnya adalah Suling Krishna dan setelah Mustika Naga Bumi menyatu padanya dan menjadi Suling Naga Krishna, suling ini memiliki nyawa sendiri dan berjalan sendiri menemuiku walau disembunyikan orang di tempat serapi apa pun!"Baraka manggut-manggut dan membayangkan peristiwa hilangnya Suling Naga Krishna saat dibuang ke jurang oleh Putri Kunang, murid Dewa Sengat yang kini menjadi penguasa di Pulau Dadap.Putri Malu terbangun dengan sendirinya tanpa dibangunkan oleh Pendekar Kera Sakti, ia terpekik kaget melihat kaki Baraka sudah pulih seperti sediakala. Bahkan wajah cantik itu sempat menjadi pucat karena kekagetannya. Semakin kaget lagi melihat suling mustika sudah ada di samping Pendekar Kera Sakti, ia nyaris tak bisa berkata apa-apa. Lalu, Pendekar Kera Sakti menjelaskan tentang kesaktian Suling Naga Krishnanya yang sejak kemarin dilupakan itu."Kalau begitu kita tak perlu melanjutkan perjalanan ke Bukit Wangi!" kata P
“Emang mau kering?" canda Baraka sekenanya.Gemas, Putri Malu mencubiti pinggang Baraka, yang hanya bisa mengaduh. Baraka hanya pasrah diserang demikian rupa. Maklum, sakit-sakit nikmat!“Maaf atas yang terjadi tadi Putri Malu” ucap Baraka akhirnya.“Tidak apa-apa, bukan kau yang salah”Sesaat keduanya terdiam dan saling pandang satu sama lain, entah apa yang ada dibenak keduanya, tapi tatapan keduanya terlihat penuh arti.“Apakah kau belum pernah merasakan yang seperti tadi, Putri Malu?” tanya Baraka hingga membuat raut paras jelita Putri Malu berubah, hingga akhirnya menggeleng.“Apa kau mau merasakan ke tingkat yang lebih tinggi.. jauh lebih nikmat dari yang tadi?”Putri Malu bisa merasakan desiran darah di wajahnya. Tentu Putri Malu tau apa maksud ucapan Baraka itu. Walau ingin menjawab tidak, tapi dalam benaknya mendorong untuk menerima tawaran itu. Putri Malu terdiam be
"Nah, kenapa masih tanya juga!" ketus sang Ratu, dan Rembulan Pantai diam menunduk, tapi hatinya membatin, "Memang kita nggak punya kuda betina, habis elu takut bersaing sih!"Rembulan Pantai segera perintahkan salah seorang prajurit untuk siapkan kuda tunggangannya sang Ratu. Langkah sang
"Hanya ada enam jebakan di lorong itu. Semua jebakan bisa dihindari dengan tidak menginjak lantai berhias bunga putih. Karena lantai berhias bunga putih itu adalah kunci pembuka jebakan maut. Jangan diinjak, ya!" ujar Ki Parma Tumpeng kepada Baraka.Pesan itu diingat betul oleh Baraka. Maka
"Dari mana gurumu dapat kabar tentang kematian Ki Mangut Pedas? Karena akulah orang yang menguburkan jenazah Ki Mangut Pedas! Beliau ditemukan terkapar sendirian dalam keadaan sekarat. Masa' gurumu bisa tahu kalau Ki Mangut Pedas tewas? Padahal aku belum bicara kepada siapa pun sebelum aku tiba d
Ratu Cadar Jenazah mendenguskan napas kesalnya. Ia maju dalam kepungan dan berseru, "Ada apa ini! Minggir, minggir, minggir...!"Para pengepung melebarkan jarak membuka jalan, Ratu Cadar Jenazah masuk ke tengah lingkaran mereka, berhadapan dengan perempuan sebayanya yang tampak sedikit bung







