MasukHARI telah lewat tengah malam ketika tiba-tiba air hujan mengguyur hebat. Berkali-kali kilatan petir menyambar. Ledakan guntur kerap menimpali, menambah suasana makin menggiriskan. Badai pun datang mendadak! Tiupan angin mengencang garang. Suara keretak ranting patah mulai terdengar, dan semakin kerap terdengar seiring tiupan angin yang makin menggila. Titik-titik air hujan menghempas keras, mampu menggelincirkan sebongkah batu sebesar kerbau. Didahului gumpalan tanah yang menjadi longsor, ba
Dengan sikap baik, Baraka mengembalikan ikat kepala mereka. Permusuhan pun mereda, bahkan Brada bertanya kepada Pendekar Kera Sakti,"Urusan apa kau ada di sini bersama dua kekasihmu itu?"Salju Kelana dan Kinanti tersenyum masam. Baraka justru tertawa tanpa suara. Tapi ia segera menjelaskan perkara sebenarnya, dituturkan dengan sejelas-jelasnya, sehingga ketiga orang yang berjuluk Tiga Malaikat Batu itu menggumam lirih."Kami pun ada persoalan dengan Demit Lanang. Delapan murid kami dilenyapkan dengan sinar 'Bintara Jingga'-nya itu. Terlepas dia tahu itu murid kami atau tidak, tapi kami akan menuntut balas atas kematian delapan murid kami.""Kita sama-sama kehilangan buronan," kata Baraka. "Tapi aku yakin dalam waktu tak lama dapat menemukan di mana Demit Lanang bersembunyi.""Kita berlomba," kata Brada. "Siapa yang menemukan Demit Lanang lebih dulu, dia yang berhak membunuhnya!""Asal Ratu Jiwandani jangan sampai cedera oleh serangan
Mereka sama-sama memakai ikat kepala dari kain merah. Pakaian mereka rata-rata berwarna gelap. Satu orang memakai jubah berlengan panjang warna abu-abu, satu lagi mengenakan jubah tak berlengan warna hitam, dan yang satu lagi mengenakan jubah belahan samping warna hijau tua. Jubah belahan samping itu seperti kain yang dilubangi untuk masuk kepala, tanpa ada bentuk dan potongan model apa pun."Celaka! Rupanya mereka yang membuat Demit Lanang buru-buru pindah dari tempat ini!" bisik Kinanti kepada Pendekar Kera Sakti. Bisikan itu juga didengar oleh Salju Kelana."Siapa mereka itu, Kinanti?""Mereka musuh utama Maha Guru Teja Biru yang dikenal dengan nama: Tiga Malaikat Batu.""Aku baru mendengar julukan itu," bisik Salju Kelana."Mereka adalah; Denawa, Sogar, dan Brada. Mereka orang-orang Teluk Sangar, ilmunya tinggi-tinggi, kebal senjata dan tak mampu ditembus sinar apa pun. Barangkali Demit Lanang sudah mengetahui rencana kedatangan mereka, sehingg
Kinanti melangkah maju lebih dulu. Tapi tiba-tiba tangan Baraka segera menyambarnya dengan memeluk pinggang Kinanti dan membawanya melompat ke belakang."Mundur...!" sentak suara Baraka yang membuat Salju Kelana ikut-ikutan menyentak ke belakang. Ternyata Kinanti telah menginjak pasangan batu yang ditanam dalam tanah. Pasangan itu membuat munculnya jebakan berupa papan-papan berbesi runcing yang menghantam ke arah pintu gerbang dari bagian dalam.Wuusss...! Prakkk...!Sebagian papan ada yang menancap di pintu sebelahnya, sebagian lagi mengenai tempat kosong. Kinanti berdebar-debar memandang keadaan tersebut. Terbayang kengerian yang nyaris membuatnya mati terpaku besi-besi runcing pada papan-papan tersebut. Kalau saja Baraka tidak segera menyambarnya, ia akan mati dihujam puluhan besi runcing yang menyerupai paku-paku di papan itu.Salju Kelana berkata, "Agaknya tempat ini sengaja dipenuhi jebakan maut. Kita harus lebih hati-hati lagi, Baraka.""Ya
Baru menginap semalam di Lembah Birawa, esoknya Baraka sudah dihadapkan dengan dua masalah besar; penyerbuan Lodang Balak dan menghadapi hilangnya sang Ratu sendiri, ini sebuah tantangan bagi Pendekar Kera Sakti untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatasi berbagai kesulitan. Karenanya semangat Baraka dalam mengejar Demit Lanang cukup tinggi. Apalagi ia didampingi Salju Kelana, serasa didampingi Hyun Jelita yang amat dirindukan itu. Tak heran lagi jika Baraka cukup menggebu-gebu untuk segera sampai di Perguruan Darah Surga.Perguruan itu terletak di dekat pantai, sebuah bukit yang cukup luas, sebagian lerengnya dibangun benteng kayu sebagai tempat menempa murid-murid perguruan tersebut. Tetapi ketika mereka sampai di benteng perguruan tersebut, ternyata keadaannya sangat sepi. Tak satu pun murid Perguruan Darah Surga yang terlihat mondar-mandir di depan pintu gerbang.Kinanti mengajak mereka untuk mengintai dari kejauhan, dan Kinanti pula yang berbisik kepada Salju
Lodang Balak kian garang. Pedangnya ditusukkan di depan, dan mata Baraka yang masih terpejam itu berhasil merasakan angin padat menghampirinya. Dengan cepat ia melompat bersalto ke udara.Wuuss...! Lalu dalam keadaan berjungkir balik di udara pedangnya berkelebat membabat lawan.Wuuuttt...! Craasss...!"Aahg...!" terdengar pekik tertahan si Lodang Balak.Punggungnya robek digores ujung pedang. Baraka berdiri tegak, kini ia membuka mata memandang lawannya yang menyeringai dengan berang. Sekalipun dada Baraka tampak membiru bekas pukulan tadi, namun ia masih kelihatan gagah, mampu berdiri dengan tegar."Kau sudah terluka, Lodang Balak! Kau harus mundur sesuai peraturan yang kita sepakati tadi.""Setan bangsat...! Tak ada kata mundur selama aku masih mampu berdiri! Heaaatt...!"Baraka memegang pedang dengan kedua tangan. Salah satu jurus ‘Pedang Kilat Buana’ dipergunakan. ‘Kilat Pembawa Maut’Zlaapp...!
Lodang Balak semakin kaget melihat kenyataan itu. Akhirnya ia melompat turun dari atas kudanya dan berseru dengan suara serak. "Bangsat! Kau telah bunuh murid andalanku, Perempuan lacur! Kuhancurkan pula ragamu sekarang juga, heeeaaahhh...!"Tangan kanannya menyentak ke depan. Tak ada sinar yang keluar, tapi tiba-tiba tubuh Salju Kelana sudah dibungkus oleh kilatan-kilatan cahaya biru yang mengelilinginya. Semakin lama semakin rapat hingga tubuh Salju Kelana nyaris terjerat kilatan-kilatan sinar biru yang saling memercikkan api dan letupan kecil itu.Claappp...!Sinar berwarna kebiru-biruan keluar dari tangan Baraka yang saling merapat dan disentakkan ke depan. Sinar berwarna kebiru-biruan itu berkelok-kelok bagai lidah petir menghantam kilatan-kilatan cahaya biru yang hampir menjerat dan menghancurkan tubuh Salju Kelana.Blaarr...!Salju Kelana terlempar melambung ke udara dan jatuh dalam keadaan tak bisa menjaga keseimbangan.Buuuhgg...!
"Aku harus ganti pakaian perang. Sasaran utamaku adalah ke kaki Bukit Kayangan. Karena kudengar Baraka itu berasal dari puncak Bukit Kayangan. Dan.. o, ya.. sebaiknya aku pakai pakaian yang belahan dadanya agak lebar, ah! Siapa tahu pemuda itu benar-benar tampan dan menawan seperti omongan orang-
"Katanya ada kelemahannya ya, Paduka?""Ada. Kelemahannya di pusar, karena darah campuran itu nggak bisa sampai di pusar. Sebab di pusar ada ruang kosong yang hanya terisi cairan pada saat manusia belum lahir dari rahim sang Ibu. Kalau sudah lahir, cairan itu habis dan ruang itu jadi kosong
Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.Dalam terpaan lembut hawa pagi,
"Hari sudah hampir sore. Apakah kau berani pulang sendiri?""Berani, Kang. Pokoknya asal jangan ketemu orang berpakaian hitam dengan rambut dikuncir. Aku takut kalau lihat orang itu, Kang.""Mengapa takut?""Soalnya tadi malam aku lihat dia lari di kaki bukit ini dan bertarung d







