LOGIN"Tentu saja aku bukan anak nelayan tua itu! Dia dan istrinya sudah begitu uzur. Bagaimana mungkin mereka punya anak seusia ku! Usiaku baru tujuh belas tahun! Kau harus tahu itu!"
"Eh! Kalau begitu, kenapa Kakaroto dan istrinya menyebut mu sebagai putri mereka. Apakah kau putri angkat mereka?"
"Hmmm.... Rupanya, otakmu bisa juga digunakan untuk berpikir. Mulai hari ini, kau harus membantuku, Baraka. Harus!"
"Kalau aku tak mau?" goda Baraka.
"Karena kau sudah mengeta
Wuuut...!Sanjung Rumpi menghindar dengan memiringkan tubuh dan membungkuk. Kakinya menyapu kaki Kinanti.Weess...!Tapi Kinanti lompat ke atas dan segeramenghujamkan pedang ke punggung SanjungRumpi yang membungkuk. Suuut...!"Heeaat...!"Sanjung Rumpi berguling di tanah. Kakinya berkelebat ke atas dan tubuhnya terpental bangkit dalam satu sentakan manakala pedang itu menancap di tanah. Lalu kaki itu berkelebat menendang rusuk Kinanti dengan cepat.Deeg...!"Uuhg...!" Kinanti terguling-guling. Pedangnya tertinggal dalam keadaan menancap di tanah. Sanjung Rumpi bermaksud mencabut pedang itu, tapi tangan Kinanti segera lepaskan pukulan bersinar merah bagaikan besi membara yang memancar lurus ke arah Sanjung Rumpl.Claaap...!Sinar tanpa putus itu kenai tangan Sanjung Rumpi yang ingin memegang gagang pedang.Cras...!"Aaauh...!" Sanjung Rumpi memekik kesakitan, lalu melompat mundur dalam keadaa
"Apa-apaan kau ini! Mau bertindak kurang ajar padaku, hah!"Baraka tidak menjawab selain hanya sunggingkan senyum dan lepaskan pelukan. Tapi tangan kirinya yang menggenggam segera disodorkan. Tangan itu membuka genggamannya, dan mata Kinanti terbelalak melihat sekeping logam bergerigi tajam ada di tangan Baraka."Senjata rahasia milik siapa itu!"Baraka hanya angkat bahu, "Yang jelas jika tidak segera kutangkap dan dirimu kutarik dalam pelukan, benda ini sudah menembus kulit tubuhmu yang mulus itu, Kinanti."Gadis berjubah kuning gading itu kulit wajahnya berubah merah. Bukan karena malu dipuji kemulusan kulitnya, tapi marah karena ada seseorang yang ingin membunuhnya dengan licik, ia segera pandangi keadaan sekeliling dengan mata tampak berang.Akhirnya ia pun berseru, "Jika kau ingin unjuk kesaktian, keluarlah dari persembunyianmu dan hadapilah aku! Jika kau masih bersembunyi, kuanggap kau seorang pengecut yang masih perlu berguru lagi atau pulan
"Uuuhh...!" Kinanti menghempaskan napas menahan rasa kesal. "Kalau begitu sekalian saja kau selesaikan urusan itu.""Mana mungkin bisa kuselesaikan?""Apakah kau tak becus menghitung jumlah biaya makan kita!""Soal menghitung, becus saja. Tapi apa kau sangka aku sekarang punya uang? Aku sedang tak mempunyai uang sepeser pun, Kinanti!""Ya, ampuun... jadi siapa yang mau bayar biaya makan, minum, dan bermalam kita itu?""Tentu saja kau yang harus bayar, karena kau yang mendesak untuk bermalam di situ.""Kau pikir sekarang aku pegang uang? Sepeser pun aku tak pegang uang, Baraka.""Mampuslah kalau begini! Kasihan Ki Punjul, dagangan habis tapi uang tak dapat," Baraka garuk-garuk kepala. "Baiklah, kita kembali ke kedai dan bicara apa adanya kepada KI Punjul. Kurasa dia tidak keberatan kalau kita menghutang kepadanya."Malu tak malu mereka berdua menemui KI Punjul lagi dan mengatakan keadaan sebenarnya. Untung Ki Punjul orang yang b
"Seseorang... seseorang telah mengamuk di perguruanku, ia hanya seorang diri, tapi... tapi ia mampu membuat perguruanku rata dengan tanah. Sebagian besar teman-temanku mati di tangannya. Bahkan... bahkan Eyang Guruku sendiri tak tertolong jiwanya. Beliau tewas dalam keadaan hancur dihantam memakai sabuk... sabuk yang mempunyai kekuatan dahsyat...."Kinanti berbisik kepada Baraka, "Kalau orang itu tidak dalam keadaan terluka parah, ia akan mampu menceritakan ciri-ciri orang yang menyerangnya memakai sabuk dahsyat itu."Baraka paham maksud Kinanti. Gadis itu secara tak langsung menyuruh Baraka segera menyembuhkan orang tersebut. Maka tanpa bicara lagi Pendekar Kera Sakti segera dekati Bagor dan mengobatinya dengan hawa ‘Kristal Bening’-nya.Kinanti memperhatikan dari tempat duduknya. Saat itu kedai belum terlalu ramai. Hanya ada empat orang pembeli selain Baraka dan Kinanti. Keempat orang itu juga memperhatikan keadaan Bagor dengan tegang dan perasaan
Tamparan tangan kanan Sabrawi ditangkap oleh Kinanti. Pergelangan tangan itu diremasnya kuat-kuat dengan curahan tenaga dalam, hingga beberapa orang yang ada di dekat mereka mendengar suara tulang diremukkan.Krraaaak...!"Aaauh...!" Sabrawi menjerit kesakitan, sedangkan Kinanti segera melepaskan. Wajahnya tetap memandang lurus, seakan tidak melirik ke arah lawannya sedikit pun. Tangan yang meremas tulang pergelangan Sabrawi itu segera menyentak dan tubuh Sabrawi bagaikan didorong oleh tenaga kuda dengan cepat.Wuuut...! Buuurkk...!"Heegh...!"Kali ini yang terpekik tertahan adalah Polang, karena tubuhnya tertabrak badan Sabrawi. Ia jatuh terkapar dan tubuh Sabrawi menjatuhinya dengan telak."Anjing kurapan!" sentak Sabrawi sambil bangkit sempoyongan. "Heeeaat...!"Sabrawi hendak menyerang dengan satu tendangan yang disertai lompatan pendek. Tetapi jari tangan Baraka segera melepaskan jurus 'Jari Guntur' berupa sentilan kecil ke arah
"Biarlah kita satu kamar, tapi kau tidur di lantai dan jangan seranjang denganku!" ujar Kinanti agak ketus."Kenapa begitu? Kau takut aku kurang ajar padamu?""Kau nakal," jawabnya sambil melengos ke arah lain. Ia biarkan senyum pemuda tampan itu mengembang makin mekar dengan suara tawa yang mengikik lirih.Tiba-tiba pandangan mata Kinanti tertuju ke arah pintu masuk kedai. Dua orang lelaki berbadan besar baru saja memasuki kedai tersebut dan segera mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Kinanti. Kedua lelaki itu berwajah buas, penuh dengan cambang dan kumis. Dari caranya memandang dapat diketahui sifatnya yang kasar dan urakan. Rambut mereka sama-sama panjang selewat pundak, tapi yang satu diikat dengan ikat kepala dari kulit macan tutul, yang satu lepas tanpa ikat kepala.Orang yang berikat kepala kulit macan tutul itu mengenakan celana hitam dan baju merah tua tak dikancingkan bagian depannya, sehingga sebilah golok besar yang terselip di sabuk hit
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruli
Jleeg...!"Untung aku cepat pejamkan mata," katanya dalam hati. "Kalau tidak segera pejamkan mata, bisa buta mataku terkena sinar merah itu. Aku tahu letak kekuatan kipasnya itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau saja saat ini Cambuk Getar Bumi ada di tanganku, pasti tubuh si Muk
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu







