Home / Pendekar / Pendekar Kera Sakti / 39. Kau harus membantuku

Share

39. Kau harus membantuku

last update Petsa ng paglalathala: 2024-05-02 01:05:19

"Tentu saja aku bukan anak nelayan tua itu! Dia dan istrinya sudah begitu uzur. Bagaimana mungkin mereka punya anak seusia ku! Usiaku baru tujuh belas tahun! Kau harus tahu itu!"

"Eh! Kalau begitu, kenapa Kakaroto dan istrinya menyebut mu sebagai putri mereka. Apakah kau putri angkat mereka?"

"Hmmm.... Rupanya, otakmu bisa juga digunakan untuk berpikir. Mulai hari ini, kau harus membantuku, Baraka. Harus!"

"Kalau aku tak mau?" goda Baraka.

"Karena kau sudah mengeta

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Kera Sakti   1693. Part 23

    Dua penjaga sedang bicara dengan kelengahan yang menguntungkan Salju Kelana. Perempuan berjubah putih itu segera lepaskan jurus 'Darah Beku' berupa sinar bintik-bintik putih seperti serbuk beling yang melesat dari ujung jari telunjuk dan jari tengah yang merapat.Class...! Srrubb...!Kedua penjaga itu tetap berdiri dengan keadaan saat bicara. Tapi mereka sudah tidak bisa bergerak lagi. Bahkan berkedip pun tak bisa. Darahnya membeku dan lama-lama kulit tubuhnya mengeluarkan busa salju. Seorang penjaga lain menghampiri orang yang telah dibungkus salju samar-samar itu. Ia menyangka kedua temannya masih bisa diajak bicara."Hei, kalian ini jaga kok malah ngobrol? Kalau ada bahaya bagaimana! Lho...! Lho...".!"Saat orang itu bingung melihat keadaan kedua temannya, Salju Kelana cepat lepaskan jurus 'Darah Beku' kembali.Class...! Maka orang itu pun bernasib sama dengan kedua temannya.Sementara itu, Kinanti bergerak makin mendekati pintu belakang

  • Pendekar Kera Sakti   1692. Part 22

    "Calon Istriku," sahut Baraka, kemudian menceritakan secara singkat tentang Hyun Jelita yang merupakan perempuan yang sudah ditakdirkan menjadi istrinya oleh garis perjalanan hidup mereka. Salju Kelana tundukkan kepala dan merasa sedih."Tapi selama kau belum mendapatkan seorang suami, aku tetap akan mendampingimu. Karena wajahmu persis sekali dengan Hyun Jelita. Kita memang bisa bersama-sama, tapi tidak bisa bersatu dalam kemesraan abadi."Salju Kelana menarik napas berusaha menenangkan gemuruh yang ada di hatinya, ia tidak bicara apa pun, sampai Kinanti akhirnya datang sambil menenteng seorang lelaki agak pendek berpakaian biru, badannya agak gemuk dan rambutnya pendek mengenakan ikat kepala biru juga."Aku tak tahu murid siapa dia, tapi kutemukan dalam keadaan mengintip kalian berdua," kata Kinanti sambil melemparkan tubuh itu bagai melemparkan sarung basah.Brruk...!Baraka memandang dengan dahi berkerut heran. "Bagus Sepasar...!" gumamnya liri

  • Pendekar Kera Sakti   1691. Part 21

    Dengan sikap baik, Baraka mengembalikan ikat kepala mereka. Permusuhan pun mereda, bahkan Brada bertanya kepada Pendekar Kera Sakti,"Urusan apa kau ada di sini bersama dua kekasihmu itu?"Salju Kelana dan Kinanti tersenyum masam. Baraka justru tertawa tanpa suara. Tapi ia segera menjelaskan perkara sebenarnya, dituturkan dengan sejelas-jelasnya, sehingga ketiga orang yang berjuluk Tiga Malaikat Batu itu menggumam lirih."Kami pun ada persoalan dengan Demit Lanang. Delapan murid kami dilenyapkan dengan sinar 'Bintara Jingga'-nya itu. Terlepas dia tahu itu murid kami atau tidak, tapi kami akan menuntut balas atas kematian delapan murid kami.""Kita sama-sama kehilangan buronan," kata Baraka. "Tapi aku yakin dalam waktu tak lama dapat menemukan di mana Demit Lanang bersembunyi.""Kita berlomba," kata Brada. "Siapa yang menemukan Demit Lanang lebih dulu, dia yang berhak membunuhnya!""Asal Ratu Jiwandani jangan sampai cedera oleh serangan

  • Pendekar Kera Sakti   1690. Part 20

    Mereka sama-sama memakai ikat kepala dari kain merah. Pakaian mereka rata-rata berwarna gelap. Satu orang memakai jubah berlengan panjang warna abu-abu, satu lagi mengenakan jubah tak berlengan warna hitam, dan yang satu lagi mengenakan jubah belahan samping warna hijau tua. Jubah belahan samping itu seperti kain yang dilubangi untuk masuk kepala, tanpa ada bentuk dan potongan model apa pun."Celaka! Rupanya mereka yang membuat Demit Lanang buru-buru pindah dari tempat ini!" bisik Kinanti kepada Pendekar Kera Sakti. Bisikan itu juga didengar oleh Salju Kelana."Siapa mereka itu, Kinanti?""Mereka musuh utama Maha Guru Teja Biru yang dikenal dengan nama: Tiga Malaikat Batu.""Aku baru mendengar julukan itu," bisik Salju Kelana."Mereka adalah; Denawa, Sogar, dan Brada. Mereka orang-orang Teluk Sangar, ilmunya tinggi-tinggi, kebal senjata dan tak mampu ditembus sinar apa pun. Barangkali Demit Lanang sudah mengetahui rencana kedatangan mereka, sehingg

  • Pendekar Kera Sakti   1689. Part 19

    Kinanti melangkah maju lebih dulu. Tapi tiba-tiba tangan Baraka segera menyambarnya dengan memeluk pinggang Kinanti dan membawanya melompat ke belakang."Mundur...!" sentak suara Baraka yang membuat Salju Kelana ikut-ikutan menyentak ke belakang. Ternyata Kinanti telah menginjak pasangan batu yang ditanam dalam tanah. Pasangan itu membuat munculnya jebakan berupa papan-papan berbesi runcing yang menghantam ke arah pintu gerbang dari bagian dalam.Wuusss...! Prakkk...!Sebagian papan ada yang menancap di pintu sebelahnya, sebagian lagi mengenai tempat kosong. Kinanti berdebar-debar memandang keadaan tersebut. Terbayang kengerian yang nyaris membuatnya mati terpaku besi-besi runcing pada papan-papan tersebut. Kalau saja Baraka tidak segera menyambarnya, ia akan mati dihujam puluhan besi runcing yang menyerupai paku-paku di papan itu.Salju Kelana berkata, "Agaknya tempat ini sengaja dipenuhi jebakan maut. Kita harus lebih hati-hati lagi, Baraka.""Ya

  • Pendekar Kera Sakti   1688. Part 18

    Baru menginap semalam di Lembah Birawa, esoknya Baraka sudah dihadapkan dengan dua masalah besar; penyerbuan Lodang Balak dan menghadapi hilangnya sang Ratu sendiri, ini sebuah tantangan bagi Pendekar Kera Sakti untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatasi berbagai kesulitan. Karenanya semangat Baraka dalam mengejar Demit Lanang cukup tinggi. Apalagi ia didampingi Salju Kelana, serasa didampingi Hyun Jelita yang amat dirindukan itu. Tak heran lagi jika Baraka cukup menggebu-gebu untuk segera sampai di Perguruan Darah Surga.Perguruan itu terletak di dekat pantai, sebuah bukit yang cukup luas, sebagian lerengnya dibangun benteng kayu sebagai tempat menempa murid-murid perguruan tersebut. Tetapi ketika mereka sampai di benteng perguruan tersebut, ternyata keadaannya sangat sepi. Tak satu pun murid Perguruan Darah Surga yang terlihat mondar-mandir di depan pintu gerbang.Kinanti mengajak mereka untuk mengintai dari kejauhan, dan Kinanti pula yang berbisik kepada Salju

  • Pendekar Kera Sakti   1347. Part 2

    Dengan masih belum berani melirik ke arah benda yang dipegangnya, tangan itu bergerak pelan sekali. Seakan meraba untuk menjajagi apa sebenarnya dipegangnya itu. Rabaannya sampai ke lima jari kaki Baraka. Terdengar gadis itu berkata lirih, “Wah, benar... pasti ular! Ular bermata lima, Celak

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • Pendekar Kera Sakti   1298. Part 17

    "Ingin rasanya aku meremukkan mulut dan leher si mata keranjang itul"Rupanya ucapan tersebut didengar oleh Dewa Rayu yang sudah berdiri dan mengendalikan rasa sakit dengan tarikan napasnya beberapa kali. Dewa Rayu pun segera berkata penuh kegeraman dan kejengkelan, "Jangan sesumbar di dep

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • Pendekar Kera Sakti   1552. ANAK PETIR

    TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruli

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Pendekar Kera Sakti   1167. Part 2

    Jleeg...!"Untung aku cepat pejamkan mata," katanya dalam hati. "Kalau tidak segera pejamkan mata, bisa buta mataku terkena sinar merah itu. Aku tahu letak kekuatan kipasnya itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau saja saat ini Cambuk Getar Bumi ada di tanganku, pasti tubuh si Muk

    last updateHuling Na-update : 2026-03-31
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status