LOGINSementara Baraka melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang.
Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tiap sisi kanan-kirinya, tinggal bagian tengahnya yang keras, tapi di tiap sisa daun kanan-kiri itu tidak dihabiskan belahannya. Helai daun di kanan-kiri itu diselipkan di antara jari telunjuk dan jari
"Ya, aku yakin begitu. Seroja Putih terlibat bentrokan dengan Demit Lanang, hingga Demit Lanang keluarkan jurus andalannya. Sebab, Seroja Putih memang ilmunya lumayan tinggi. Hanya saja, apakah pertarungan itu dilakukan setelah Demit Lanang pergi dari Bukit Ranjang Setan tadi, atau sebelumnya, yaitu saat ia menuju ke Bukit Ranjang Setan untuk bertarung melawan adiknya sendiri."Rona duka terlihat jelas di wajah Kinanti. Baraka tak berani main-main. Bahkan sang Pendekar Kera Sakti menampakkan raut wajahnya yang ikut berduka atas kematian Seroja Putih itu.Kinanti segera mengambil pakaian tersebut bersama pedangnya. "Akan kutunjukkan kepada sang Ratu mengenai kekejaman Demit Lanang ini!" ucapnya lirih dan bergetar karena membendung tangis."Aku setuju dengan rencana itu. Nanti aku akan ikut memperkuat laporanmu kepada sang Ratu," kala Baraka dengan sikap tenang tapi dalam suasana hati ikut berkabung.Langkah mereka mulai dipercepat, karena nanti tak sabar i
"Ratu Jiwandani adalah perawan suci yang tak pernah dijamah oleh lelaki mana pun juga. Beliau mempunyai perjanjian dengan leluhurnya, bahwa apabila Lembah Birawa masih dalam ancaman bahaya orang-orang Pulau Teluh, sang Ratu tidak ingin menikah dengan pria mana pun. Hati Ratu Jiwandani akan terbuka untuk seorang pria jika Lembah Birawa tidak diganggu lagi oleh orang-orang Pulau Teluh. Sebab orang-orang Pulau Teluh selalu bermusuhan sejak Lembah Birawa dipegang oleh nenek buyutnya sang Ratu."Kinanti bicara dengan sungguh-sungguh, kedua tanganya ikut bergerak-gerak memperjelas keterangannya. Pendekar Kera Sakti tampak berminat sekali mengikuti cerita itu, hingga lebih banyak diam daripada mengajukan beberapa pertanyaan."Mulia Guru Teja Biru mempunyai syarat, apabila mereka berhasil menumbangkan Penguasa Pulau Teluh dan membebaskan Lembah Birawa dari gangguan orangorang pulau itu, maka sang Ratu harus bersedia dinikahi oleh Maha Guru Perguruan Darah Surga. Sang Ratu pun
"Hmmm... aku tahu, anak muda itu punya jurus lain dari yang lain!" gumam Hantu Sesat. "Jika dia yang kupukul, maka kau yang kesakitan, Setan Bejat. Jadi jika kau yang kupukul, maka dia yang akan kesakitan! Nih, rasakan pembalasanku, Pemuda pongah! Haaahh...! Heeeaahh...!"Plak, brrukk...! Prak, prak, plok, buk, buuhg...!"Aaauuuh...! Hentikan! Hentikan!" teriak Setan Bejat yang semakin kesakitan dihajar Hantu Sesat."Aku tahu yang berteriak kesakitan bukan kau, Setan Bejat, tapi si pongah itu! Rasakan pembalasan ini! Haaaeh...! Hiaaah...! Modar kau!"Wuuss...!Tubuh Setan Bejat akhirnya terlempar karena pukulan bertenaga dalam dari teman sendiri. Rahangnya retak dan pelipisnya memar membuat telinganya berdarah. Hantu Sesat kerutkan dahi pandangi Setan Bejat yang terkapar tak berdaya itu."Celaka! Aku hampir membunuh teman sendiri! Anak muda itu masih tetap tenang-tenang saja?"Hantu Sesat serba salah, tak tahu harus bagaimana melawan
Blluukkk...!"Aaaoou...!" ia memekik keras dalam keadaan jungkir balik. Anehnya dalam satu kejap ia sudah mampu bangkit dan berdiri tegak di depan Kinanti. Kedua tangannya merentang membentuk cakar. Matanya mendelik dengan amat gusar."Heaahh...!" Lalu, tiba-tiba tubuhnya memutar dan kakinya berkelebat menyampar wajah cantik itu.Plaakk...! Kinanti terpental ke samping dan jatuh berguling-guling. Gerakan tubuhnya yang berguling itu berhenti tepat di depan Hantu Sesat. Kesadaran yang belum sepenuhnya dikuasai oleh Kinanti membuatnya tak bisa hindari tendangan kaki Hantu Sesat yang menggeram penuh dendam itu."Heeaah...! Modar kau, Bangsat!"Plook...! Wajah cantik itu menjadi sasaran kaki kasar kembali. Tubuh yang sekal itu terbuang ke belakang dan terguling-guling membentur batu besar."Habisi dia!" teriak Hantu Sesat kepada Setan Bejat, karena keadaan Kinanti lebih dekat dengan si Setan Bejat. Orang berkumis tebal itu segera mencabut cambukn
Claaapp...!Tiba-tiba tubuh kurus itu lenyap dari atas gundukan batu. Kinanti yang ingin ucapkan kata menjadi batal dan mulutnya hanya bisa ternganga tanpa suara. Matanya memandang mencari Demit Lanang. Ternyata yang dicari sudah ada di kaki bukit. Kinanti ingin menyusulnya, namun Demit Lanang sudah lenyap lagi dan pindah tempat semakin jauh."Aku harus mengabarkan peristiwa ini kepada Gusti Ratu Jiwandani!" pikir Kinanti, kemudian ia segera melesat pergi dengan satu lompatan yang tergolong cepat. Pendekar Kera Sakti tidak mau tinggal di persembunyian terus, ia pun segera melesat pergi mengikuti Kinanti. Karena gadis itu diharapkan bisa memberikan penjelasan tentang persoalan yang sebenarnya. Pendekar Kera Sakti sempat kehilangan jejak lagi karena Kinanti melesat dengan berbelok-belok arah. Tak aneh lagi jika Pendekar Kera Sakti keluarkan gerutuan karena merasa gagal mengikuti gadis cantik tadi.Namun ketika tiba di atas tanggul sebuah sungai lebar berair deras,
Traang...!Batu itu menghantam mata kapak yang lebar dan masih membekas merah karena darah. Hening segera tercipta setelah kejadian itu.Kejap berikutnya Ladang Bangkai mulai bicara. "Wasiat lisan dari Maha Guru Teja Biru sebelum beliau wafat mengatakan, bahwa akulah orang yang pantas menyandang gelar Maha Guru dalam perguruan kita. Dengan begitu maka aku berhak mengawini Ratu Jiwandani.""Wasiat palsu!" ucap Demit Lanang bernada tajam. "Maha Guru Teja Biru tidak pernah keluarkan wasiat lisan seperti itu kepada siapa pun. Tapi dalam peraturan yang tertulis pada Kitab Serat Merah, yang berisi peraturan bagi anggota Perguruan Darah Surga, bahwa orang yang berhak menyandang gelar Maha Guru adalah orang pertama yang menjadi murid Perguruan Darah Surga. Sedangkan orang pertama yang masuk dalam Perguruan Darah Surga adalah aku! Mengapa kau berani merencanakan penobatan gelar Maha Guru untuk dirimu sendiri, Ladang Bangkai! Itu sama saja kau ingin mati di tanganku!"
Gadis itu menarik napas dan penuhi rongga dadanya dengan udara. Kejap berikut itu lepaskan napas itu bagai ingin melegakan sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya, ia lemparkan pandang matanya kepada Baraka beberapa saat lamanya, ia biarkan Pendekar Kera Sakti pun menatapnya dalam jarak tiga lan
Jika benar Sambar Jantung yang bikin ulah seperti ini, lantas apa maksudnya? Apa pula maksud Sambar Jantung dua kali melepaskan pisau beracun untuk membunuh Intan? Atau, jangan-jangan yang jadi sasaran adalah Gincu Mayat? Bukan Intan Selaksa? Rasa-rasanya sangat aneh sekali dan tak mudah dipercay
Anak buah Tua Rakus bermaksud menghancurkan perahu layar hijau, tetapi usaha mereka selalu dapat digagalkan. Dan satu hal yang membuat Dewa Racun, Hantu Laut, serta Baraka terheran-heran adalah kemunculan lawan Tua Rakus dari perahu layar hijau.Ternyata bukan sosok Dadung Amuk seperti duga
"Hi hi hi...! Kau memang murid yang patuh, Intan Selaksa, tapi kau juga murid yang bodoh! Kepatuhanmu itu memang berharga jika gurumu masih hidup. Tapi sekarang gurumu sudah wafat, kepatuhan itu tak perlu ada lagi! Justru gurumu itu sangat berharap kau bisa mengambil gagasan sendiri untuk bertind







