LOGIN"Berarti! Berarti kita masih jauh dari Pulau Beliung!"
"Kalau begitu, kita temui penduduk pulau ini dan minta bantuannya. Kita pinjam peralatan untuk menambal perahu ini!"
Pulau kecil itu memang penuh dikelilingi oleh karang. Pantainya sangat dangkal. Semestinya perahu tak bisa masuk ke celah di tengah pulau berbentuk garpu mata dua atau berbentuk huruf U itu. Hanya saja, semalam agaknya air laut pasang, sehingga perahu bisa masuk ke relung itu, ketika air laut surut, perahu dal
Setelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Kera Sakti sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya Pemuda dari lembah kera itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.Esoknya, ketika Baraka terbangun, ia menjadi sangat terkejut melihat Salju Kelana sudah tidak ada disampingnya. Bahkan di sekitar dalam gua itu pun tidak ada. Baraka cemaskan diri gadis cantik itu. Ia bergegas keluar dari gua."Kemana dia...! Sekadar buang air di tempat tersembunyi atau memang sengaja meninggalkan diriku!" pikir Baraka sambil-matanya memandang ke sana-sini.Wuuut, wuuuut...!Baraka melompat dari batu ke batu mencapai tempat yang lebih tinggi. Mata pun menyapu seluruh alam sekelilingnya."I
"Bagaimana kalau ternyata di perjalanan aku bertemu dengan utusan itu?""Jangan ganggu dia, nanti kau mati di tangannya!""Sebaiknya aku tak perlu mengganggu dia saja, ya? Biar aku tak mati di tangannya. Soalnya kalau mati di tangan orang seperti itu tidak terhormat.""Memang yang kukatakan tadi begitu! Kau jangan ganggu dia biar kau tak mati!" tegas Baraka agak menyentak-nyentak karena jengkel dengan ketulian Hantu Laut."Kita berpisah dulu, Hantu Laut.""Baraka, kusarankan kita berpisah saja sekarang.""Baru saja aku bilang begitu, Budeg!" bentak Baraka makin jengkel. Hantu Laut hanya mengguman dan manggut-manggut tanpa raut muka orang bersalah.Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hampir sehari semalam. Pendekar Kera Sakti sengaja tidak gunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan' yang mampu mempercepat perjalanan, karena takut kalau Salju Kelana tertinggal dan tak mengerti arah. Sebab itu mereka terpaksa bermalam di
"Hei, hei... orangnya sudah pergi dari tadi kok masih tuding-tuding terus!" tegur Baraka sambil mencolek pundak gadis buta itu."Aku tahu kalau dia sudah pergi. Aku memaki bekas tempatnya jatuh tadi!" Salju Kelana tak mau disalahkan agar tak terlihat kebutaannya."Siapa nenek itu tadi?""Nyai Bantat Maki, bibinya Calo Mayat.""Ia juga tokoh sesat, tukang teluh upahan!" kata Hantu Laut yang sudah mulai segar kembali itu. "Dulu aku dan Tapak Baja pernah menghajarnya sampai hampir mati. Sekarang dia mau balas dendam padaku. Padahal yang banyak menghajarnya adalah mendiang si Tapak Baja!""Sekarang dia sudah pergi, takut dengan sahabat cantikku ini, Hantu Laut," Baraka membanggakan kecantikan Salju Kelana dengan suara agak keras. Hantu Laut hanya menyeringai dengan mata menatap gadis itu tanpa mau berkedip lagi."Kudengar kau sahabat Pendekar Kera Sakti, Hantu Laut. Berarti kau sahabatku juga."Hantu Laut menjawab, "Tidak. Aku tidak seheb
Percakapan tersebut sebenarnya ingin dilanjutkan, namun Baraka melihat Hantu Laut terkena pukulan tenaga dalam sang nenek melalui tongkatnya. Tubuh besar itu tumbang terjungkal dan tak mampu bangkit lagi. Hantu Laut mengerang kesakitan sambil pegangi dadanya yang membiru legam itu. Sang nenek semakin buas, ia segera menghantamkan kepala tongkatnya untuk memecahkan kepala gundul si Hantu Laut."Sekaranglah saatnya kubalas dendamku padamu, murid orang sesat! Heeeaaaah...!"Pendekar Kera Sakti cepat sentakkan tangan, dan nyala sinar biru berkelok-kelok bagai lidah petir melesat dari telapak tangan itu, Pukulan 'Cahaya Kilat Biru' menghantam tongkat sang nenek dari kejauhan.Wuuus...!Duaaarrr...! Sang nenek berjubah merah terpental berjungkir balik di udara. Tongkatnya terlepas dari genggamannya. Ia jatuh setelah membentur pohon.Pendekar Kera Sakti segera melesat ke pertengahan jarak antara sang nenek dan Hantu Laut.Zlaaap...! Jleeg...!
ATAS saran dan bujukan Baraka, Salju Kelana tak jadi menghadiri undangan pertemuan di Kadipaten Balungan. Ia diminta ikut membantu menyelesaikan perkara kematian Tabib Getar Hati. Ternyata Salju Kelana bersedia membantu menyingkapkan tabir misteri pembunuhan sang tabib itu."Tapi benar bukan kau pelakunya!""Aku berani sumpah, biar cacat seumur hidup jika aku membunuh Tabib Getar Hati," ujar Salju Kelana."Aku datang untuk minta disembuhkan dari pengaruh Racun Hitam ini. Tapi setelah dilakukan penyembuhan, Tabib Getar Hati menyatakan tidak sanggup menangkal racun dalam tubuhku ini. Aku disarankan untuk mencari tabib lain. Salah satu nama yang disebutkan adalah namamu: Tabib Suling Dewa. Setelah itu aku pamit pergi mencari Tabib Suling Dewa.""Kapan hal itu terjadi?" potong Baraka."Lima hari yang lalu," jawab Salju Kelana tak ada kesan berbohong sedikit pun. Pendekar Kera Sakti manggut-manggut. Ia mengenang saat-saat lima hari yang lalu, di mana ka
"Jangan menyentuhnya, Putri Malu!" sentak Salju Kelana."Ak... aku... aku tidak sengaja melukainya. Aku... oh, semua ini gara-gara kau, Setan!" pekik Anggani dengan gusar sekali, ia merasa menyesal melepaskan pukulan berbahaya itu ke arah Baraka. Pukulan itu mestinya ditujukan untuk Salju Kelana, karena dapat menghancurkan tubuh lawan menjadi serpihan kecil-kecil. Jika ternyata keadaan Baraka masih utuh walau mengalami luka bakar yang amat berbahaya, itu lantaran tenaga dalam yang melapisi tubuh Pendekar Kera Sakti cukup besar dan mampu menahan sinar merahnya Anggani.Sekalipun demikian, Anggani merasa sangat menyesal, karena bagaimanapun juga Baraka pernah berjasa padanya; membebaskan Tabib Getar Hati dari tawanan Ratu Sukma Semimpi. Tak patut rasanya jika ia harus melukai Baraka separah itu."Tinggalkan kami dan jangan kau bertemu denganku lagi kalau ingin umurmu panjang!" kata Salju Kelana dengan nada berat, pertanda ia menahan kemarahannya."Aku harus
KEGELAPAN malam bagaikan selubung kematian warna hitam. Sekalipun langit cerah berbintang tanpa rembulan, tapi tak sedikit pun bias sinar cerah ada yang menerangi jalanan di ujung jembatan bambu. Jembatan itulah yang menghubungkan Tanah Merah dengan Lembah Kabut.Rindangnya dedaunan di sek
Krakk...! Sisa patahannya masih terjepit di kedua jari Pendekar Kera Sakti. Sisa patahan terutama bagian ujung golok itu, segera dilemparkan oleh Baraka dengan tangan berkelebat ke samping.Zingngng...!Jrubb...! Ujung golok itu menancap di sebuah batang pohon, dan bahkan lenyap mas
Pukulan jarak jauh itu hanya membuat nyeri di tulang belakang. Tapi Sedayu cepat mengatasi rata nyeri itu dengan menghirup napas panjang-panjang dan menahannya beberapa saat. Perempuan berpakaian biru muda itu kini tegak di depan lelaki berpakaian kulit bulu beruang putih yang tanpa lengan, menye
Sayangnya ia tidak mau datang, justru malah menyebarkan berita tentang adanya manusia busuk di pinggir pantai. Maka, berbondong-bondong masyarakat desa nelayan itu menghampiri tempat terdapatnya manusia berbau busuk itu. Jumlah mereka lebih dari sepuluh orang. Mulanya mereka hanya ingin melihat d







