LOGIN"Dalam keadaan seperti itu, dia tidak mempan diserang dengan senjata apa pun! Jangan lakukan lagi, nanti malah mencelakai diri kita sendiri, Dewa Racun!" bisik Badai Kelabu.
Sementara itu, kulit tubuh Pendekar Kera Sakti semakin memerah. Urat-uratnya kian bertonjolan. Kedua tangannya telah menggenggam kuat-kuat di kanan kiri. Tapi kakinya masih tegar berdiri dan kokoh menahan daya sedot dari lawannya. Namun beberapa saat kemudian, Pendekar Kera Sakti itu menyentakkan kedua tangannya ke
Kemudian gadis berkulit kuning langsat itu maju selangkah dan berseru tertuju pada tandu hitam yang masih tertutup kain hitam tak bergerak sedikit pun sejak tadi. Tandu itu diletakkan di tanah pada tempat yang terbuka tanpa pelindung pohon ataupun semak. Keberadaannya seakan persis di tengah arena pertarungan. "Gundik Sakti, keluar kau dari tandumu! Kita masih punya perkara yang belum selesai!" sentak Tembang Selayang.Setelah ditunggu dua helaan napas tak ada jawaban dan tak ada gerakan apa pun dari tandu hitam itu, Tembang Selayang serukan kata kembali dengan nada marah."Sejak kapan kau jadi pengecut, Gundik Sakti! Keluarlah sekarang juga, kita selesaikan urusan lama kita di sini juga! Kita tentukan siapa yang berhak pergi ke neraka lebih dulu! Cepat keluar!"Tandu hitam tetap tak bergeming. Namun Tembang Selayang makin menjaga kewaspadaannya, karena ia tak ingin terjebak oleh serangan yang bisa muncul sewaktu-waktu dari dalam tandu. Sementara itu, Pendekar K
Gadis itu menatap mata Kadal Ginting dengan tak berkedip. Darah Kadal Ginting bagaikan mengalir cepat, jantung berdetak lamban, nyawanya terasa sedang disedot melalui tatapan mata itu. Rasa takut dan pasrah membuat bagian bawah Kadal Ginting menjadi basah; seluruh keringat mengalir ke paha dan betis bagai diperas dari pori-pori tubuhnya."Jangan main curang kau!" hardik gadis berjubah ungu yang usianya sekitar dua puluh empat tahun itu."Oh, hmmm... eeh... tid... tidak. Aku... aakk... aku tidak bermain curang. Aaaku... aku hanya bermain mata. Eh, bukan... maksudku... aku hanya mengintai pertarungan tuanku itu dari sini. Aku tidak bermaksud curang. Sungguh. Berani sumpah disambar kacang rebus, aku tidak bermaksud jahat, Nona... eh, Dewi..., eh, Bibi... eh, Nyai... eh, eh, eh, eh...." Kadal Ginting terengah-engah diburu rasa takut.Gadis berjubah ungu memandang ke pertarungan. Ternyata pertarungan telah berhenti, entah hanya sementara atau selamanya. Yang jelas, o
LANGIT yang semula cerah mulai dilapisi gumpalan awan hitam. Sinar mentari tak bisa menembus pancarkan suryanya ke bumi. Akibatnya alam bagaikan dirundung duka dan bumi seakan tak lagi punya daya. Dalam gugusan awan hitam itu sesekali tampak percikan cahaya biru yang berkerilap menghantam awan tanpa mega. Kilatan cahaya biru sering kelihatan berusaha menjilat pucuk-pucuk cemara bagai mencari kesempatan untuk menghantam ujung sebuah gunung. Gelegar suara petir pun menggema serasa ingin menelan seluruh suara yang ada di permukaan bumi. Namun pekik pertarungan di kaki gunung itu masih saja tak mau kalah dengan suara petir yang mengguntur di sana-sini.Pekik pertarungan itu terlontar dari mulut orang-orang pengusung tandu ber warna hitam. Empat pengawal utamanya maju serentak menyerang tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun lebih, mengenakan pakaian model biksu ber warna abu-abu, rambutnya beruban tipis berkesan botak bagian tengahnya. Tokoh tua yang berjenggot dan berkumi
Baraka tak mau buang-buang waktu lagi. Ia segera lepaskan pukulan ‘Tapak Dewa Kayangan’ dari telapak tangannya. Sinar putih perak menghantam lapisan sinar hijau bening.Claaap...! Blegaaar...!Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja mengguncang bumi namun membuat langit menjadi mendung seakan ingin runtuh. Baraka terlempar dalam satu sentakan gelombang ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya bergulingguling dan hidung serta telinganya melelehkan darah kental. Ia segera bangkit bersama murkanya."Hiaaat...!" Pendekar Kera Sakti melompat ke udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia yang sudah termakan nafsu amarah pun tak ingin tanggung-tanggung lagi. Maka Pemuda dari lembah kera tak ingin membuang-buang waktu, segera dikerahkannya pukulan andalan Eyang Jaya Dwipa, Ilmu ‘Angin Es dan Api’.Maka begitu tenaga dalamnya dikerahkan, kedua telapak tangannya berubah menjadi berk
Selama ini Baraka selalu gagal menumbangkan Siluman Selaksa Nyawa, karena tokoh yang tak pernah punya perubahan air muka itu bukan saja keji tapi juga licik dan licin bagaikan belut. Kesaktiannya sangat tinggi, namun jika berhadapan dengan Baraka selalu melarikan diri sebelum berhasil ditumbangkan.Dengan Sabuk Gempur Jagat di tangan kirinya, apakah kali ini ia akan lolos dari incaran Baraka"Pantas kalau si Tulang Naga mampus, ternyata orang yang merebut sabuk itu adalah Siluman Selaksa Nyawa!" gumam Resi Pakar Pantun tepat di seberang telinga Kinanti. Gadis itu hanya diam dan tak berani berbuat banyak karena ia pernah mendengar kekejaman dan kesaktian Siluman Selaksa Nyawa."Jubah Kapur, kita selesaikan persoalan lama sekarang juga!" ujar Siluman Selaksa Nyawa dengan suara datar berkesan dingin. "Kelancanganmu tak bisa kuampuni lagi, dan sekarang kau harus menebusnya! Jika tadi aku hanya menguji kesaktianmu, sekarang aku ingin mencopot nyawamu!"S
"Tapi, mengapa bisa ada di sini?""Jangan-jangan dibuang oleh si Tulang Naga karena ia sudah tidak membutuhkan senjata itu lagi. Sabuk Gempur Jagat lebih dahsyat dari senjata itu," ucap Kinanti sambil pandangi tetesan darah dan mulai melangkah lagi mengikuti tetesan darah yang ada di rerumputan.Langkah gadis berjubah kuning gading itu mendahului mereka sejauh lima tindak. Lalu terdengar suaranya berseru dengan nada terkejut, "Ada mayat!""Hahh... mayat...! Hiii...!" Kadal Ginting merapatkan tubuh ke badan sang Resi."Apa-apaan kau ini!" sang Resi mendorong tubuh Kadal Ginting hingga jatuh terduduk."Kasar sekali Eyang padaku.""Keringatmu bau bangkai. Aku tak mau pakaianku terkena aroma bangkai seperti keringatmu!" sang Resi menggerutu sambil melangkah dekati Kinanti.Baraka berdiri di dekat mayat seorang lelaki berbadan kurus, berjubah abu-abu, rambut putih panjang tanpa ikat kepala. Orang itu terluka parah bagian punggungnya. Berlu
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







