Share

851. Part 23

last update Petsa ng paglalathala: 2025-01-03 01:03:12

Tombak tersebut diambil oleh Cambuk Guntur, lalu dihujamkan langsung ke dada Macan Bangkai. Tentu saja Macan Bangkai tak mampu menghindar lagi karena hal itu terjadi sangat di luar dugaan dan tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya. Akibatnya, ia terpaksa menerima ajal di ujung tombak senjatanya sendiri. Dan itulah yang dikatakan senjata makan tuan.

Macan Bangkai sempat mengerang ketika napasnya belum lepas dari raga. Bahkan ia masih berusaha ingin mencabut tombak mata tiga yang men

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Kera Sakti   1578. Part 4

    "Jika aku berhasil menemukan, maukah memberiku hadiah?"Pendekar Kera Sakti memandang Putri Malu dengan berkerut dahi. Pandangan matanya sedikit menyipit karena ia mulai menaruh curiga."Maukah kau memberiku hadiah?" tanya Putri Malu lagi sambil tersenyum dan melirik nakal."Hadiah apa yang kau inginkan?""Hmmm...." senyumnya semakin berkesan nakal. "Tidak berat, juga tidak mahal.""Sebutkan! Jangan bertele-tele!" sahut Baraka agak keras karena penasaran dan tak sabar ingin segera mendapatkan Suling Naga Krishnanya."Aku minta hadiah segumpal kehangatan.""Maksudmu, singkong bakar atau ubi rebus?""Uuuh...!" Putri Malu cemberut jengkel. "Bukan kehangatan berupa makanan!""Jadi kehangatan apa yang kau inginkan?""Kemesraan...," jawabnya sambil mendekat dan berlagak manja. Bibirnya mulai tampak merekah mengundang selera. Matanya memandang sayu bagai ingin dicumbu. Jantung Baraka seperti mengalami gempa setempat. Ber

  • Pendekar Kera Sakti   1577. Part 3

    "Tapi perlu kau ketahui, Nona... bahwa aku tidur di atas daun bukan dengan maksud pamer ilmu padamu. Aku tak tahu kalau kau ada di sekitar hutan sini. Kupikir tak ada orang, jadi aku berani melakukan hal itu. Kalau kutahu ada orang di hutan ini, aku tak berani lakukan hal itu, sebab takut dianggap pamer ilmu. Padahal ilmuku sangat rendah. Tidak ada sekuku hitamnya dibandingkan ilmu yang kau miliki, Nona. Aku ini manusia biasa, pengembara yang tidak punya bekal apa pun kecuali seutas nyawa dan sejengkal mahkota bagi seorang lelaki...."Sambil berbicara panjang begitu, diam-diam tubuh Baraka terangkat sendiri secara pelan-pelan. Telapak kakinya mulai tidak menyentuh tanah. Semakin lama bicara semakin naik, hingga sang gadis membelalak melihat Baraka bisa melayang-layang di udara tanpa alas berpijak apa pun."Waah.. Ini sudah pamer ilmu namanya. Kata-katanya merendah tapi tindakannya meninggikan diri." Si gadis menjadi kagum dan mengakui kehebatan Pendekar Kera Sakti seca

  • Pendekar Kera Sakti   1576. Part 2

    "O, iya, ya! Kalau begitu, mari kita cepat pergi dari sini. Jangan mengganggu tidurnya. Nanti kalau kita berisik di sini tidurnya terganggu dan dia bisa marah kepada kita."Kedua orang itu segera pergi, tapi masing-masing berceloteh tentang kabar yang mereka dengar dari mulut ke kuping tentang kesaktian Pendekar Kera Sakti. Bahkan yang bertubuh pendek mempunyai pendapat, jika Baraka tidak sedang kelelahan, tentunya tak akan mau tidur di atas dedaunan sekecil itu.Mendung menyingkir dengan penuh kesadaran. Sang matahari menerobos celah dedaunan. Matahari sudah mulai bergeser ke barat. Cahayanya masih menyengat dan membuat Pendekar Kera Sakti terbangun dari tidurnya.Wuuuut...! Ia sentakkan pinggulnya dan turun dari atas dedaunan. Badannya menggeliat dengan otot dikeraskan. Mulutnya sempat menguap sebagai sisa kantuknya. Baraka sedikit terkejut saat meraba sabuk pinggangnya."Mana sulingku!"Jantungnya berdebar-debar karena tegang. Suling Naga Krishn

  • Pendekar Kera Sakti   1575. SULING NAGA KRISHNA

    ANGIN bertiup semilir sejuk. Barangkali karena mendung menggantung di langit dan hujan sedang berkemas untuk turun, maka angin pun membawa kelembaban udara yang sejuk. Cuaca seperti itu enak untuk tidur. Maka bersiaplah pemuda tampan berambut poni itu untuk mencari tempat buat baringkan badan. Setidaknya dengan duduk bersandar pun jadilah, yang penting bisa untuk pejamkan mata dan terlena tidur. Pemuda berpakaian rompi tanpa lengan itu tak lain adalah Pendekar Kera Sakti: Baraka.Karena tak ada tempat yang enak untuk baringkan badan, Baraka akhirnya berbaring di atas dedaunan semak tak berduri. Tempat yang sepi dan sangat kecil kemungkinannya dijamah manusia itu membuat Baraka tak segan-segan berbaring di atas dedaunan semak. Daun-daun itu tidak patah, bahkan tidak melengkung terlalu banyak. Padahal daun dan ranting kecil-kecil itu menyangga tubuh Pendekar Kera Sakti. Tentu saja hal itu dilakukan oleh Baraka dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang bekerja dengan sendiriny

  • Pendekar Kera Sakti   1574. Part 23

    Trabb...! Zlapp...!Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat kehebatan suling mustika itu, sehingga ia sudah menduga akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu.Blegarrr...!Sinar itu menghantam pohon besar. Dua pohon lenyap berubah menjadi debu."Kau boleh bangga dengan suling mustikamu, tapi tak akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"Claappp...!Sinar merah besar terlepas dari tangan Aswarani. Baraka menghadangnya lagi dengan suling mustika, namun kali ini sinar tidak membalik arah melainkan meledak di depan Baraka.Blegarrr....Pendekar Kera Sakti terbang melambung ke udara. Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Baraka terkapar dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi tegang d

  • Pendekar Kera Sakti   1573. Part 22

    "Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Baraka!""Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Kera Sakti! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pem

  • Pendekar Kera Sakti   761. Part 12

    Tetapi kali ini Intan Selaksa punya rasa atas pembelaan diri Gincu Mayat terhadap dirinya. Jika waktu tadi Gincu Mayat tak muncul, mungkin Intan Selaksa sudah tak bernyawa lagi dihantam habis oleh Barong Geni, orang yang sering menghalalkan cara demi mencapai kebutuhan pribadinya. Intan Selaksa m

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Pendekar Kera Sakti   864. Part 36

    "Mau lali ke mana kau, Tikus Busuk!" seru Dayang Selatan dengan suara cadelnya yang tidak bisa sebutkan huruf 'R', ia berdiri dalam jarak tujuh langkah dari tempat Wilduto."Mengapa kau masih mengejarku terus, Dayang Selatan! Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak punya salah apa-apa pad

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Pendekar Kera Sakti   782. Part 13

    Berdebar-debar Pendekar Kera Sakti melihat pedang itu. Ternyata di situlah, di perairan telaga itulah pedang itu disimpan oleh Begawan Sangga Mega. Jelas tak akan mudah ditemukan atau dilihat orang, karena pedang itu ada di antara lapisan alam nyata dan alam gaib. Hanya orang-orang yang bisa meli

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Pendekar Kera Sakti   826. Part 17

    Kali ini kedatangan Pendekar Kera Sakti ke Tanjung Keramat untuk membicarakan masalah Bunga Bernyawa. Perempuan cantik yang pernah menjadi sandera dan sekaligus gundik Laksamana Cho itu adalah putri seorang kaisar di negeri Cina. Sudah cukup lama Pendekar Kera Sakti meninggalkan Bunga Bernyawa di

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status