MasukBocah berkulit hitam itu berkata-kata seakan Putri Budukan masih berada di hadapannya. Setelah tertawa mengikik, dia berkelebat mengikuti jejak Putri Budukan! Dewi Pedang Halilintar yang masih berdiri di tempatnya tampak geleng-geleng kepala melihat kecepatan gerak Dewa Geli.
Teringat akan Iblis Pemetik Bunga yang telah mempecundanginya dengan Cambuk Api Neraka, dia bergegas berkelebat pergi pula. Dengan Cambuk Api Neraka yang telah berada di tangannya, Dewi Pedang Halilintar yakin bil
Plaaaak...!Kinanti menampar keras-keras wajah orang kurus itu hingga orang tersebut terpelanting berputar empat kali dengan cepat. Kejap berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah pekikan kecil sempat didengar oleh mereka sebelum orang itu roboh.Pendekar Kera Sakti segera mendekati orang tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi berkerut. Kinanti menyusul mendekati Baraka. Wajah orang kurus itu telah memucat, mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang bernapas."Dia tewas!" ujar Baraka sambil pegangi urat leher orang itu dan matanya memandang Kinanti. Gadis berjubah kuning gading itu setengah tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada denyut nadi lagi. Itu tandanya orang ter
"Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?""Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia tidak sebut-sebut nama Tulang Naga.""Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga, berarti orang yang membumihanguskan Lembah Birawa bukan dia."Kinanti segera berpaling menatap Pendekar Kera Sakti. Dahinya berkerut, pandangan matanya tajam penuh tanda tanya."Jika bukan Tulang Naga, lalu siapa orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang olehnya.""Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum pernah melihat bentuknya.""Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya mendengar pengaduan dari anak buahku. Api telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut.""Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang Sabuk Gempur Jagat?
Plaaak...!Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedangsedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah."Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Baraka menghentikan gerak tangan tersebut."Cukup!" Baraka kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"Mata gadis cantik it
Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut. Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Kera Sakti. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak mudah itu. Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."Pendekar Kera Sakti semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?""Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.Baraka
SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan sara. Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini, siapa pun yang lewat di hamparan puing-puing hitam itu akan merinding bulu kuduknya. Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda tampan berambut poni tanpa ikat kepala. Pemuda yang kenakan rompi tanpa lengan itu pandangi tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas kekejian yang telah melanda tempat tersebut.Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu mempunyai sepasang mata tajam berwarna biru yang kala itu tak mampu berkedip karena terperangah menyaksikan keadaan sekitarnya. Pemuda yang dikenal dengan nama Baraka alias si Pendekar Kera Sakti."Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Kera Sakti membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan sekali. Di sana-sini bergelimpan
Dua penjaga sedang bicara dengan kelengahan yang menguntungkan Salju Kelana. Perempuan berjubah putih itu segera lepaskan jurus 'Darah Beku' berupa sinar bintik-bintik putih seperti serbuk beling yang melesat dari ujung jari telunjuk dan jari tengah yang merapat.Class...! Srrubb...!Kedua penjaga itu tetap berdiri dengan keadaan saat bicara. Tapi mereka sudah tidak bisa bergerak lagi. Bahkan berkedip pun tak bisa. Darahnya membeku dan lama-lama kulit tubuhnya mengeluarkan busa salju. Seorang penjaga lain menghampiri orang yang telah dibungkus salju samar-samar itu. Ia menyangka kedua temannya masih bisa diajak bicara."Hei, kalian ini jaga kok malah ngobrol? Kalau ada bahaya bagaimana! Lho...! Lho...".!"Saat orang itu bingung melihat keadaan kedua temannya, Salju Kelana cepat lepaskan jurus 'Darah Beku' kembali.Class...! Maka orang itu pun bernasib sama dengan kedua temannya.Sementara itu, Kinanti bergerak makin mendekati pintu belakang
Jleeg...!"Untung aku cepat pejamkan mata," katanya dalam hati. "Kalau tidak segera pejamkan mata, bisa buta mataku terkena sinar merah itu. Aku tahu letak kekuatan kipasnya itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau saja saat ini Cambuk Getar Bumi ada di tanganku, pasti tubuh si Muk
Kini pedang emas sudah ada di tangan Baraka. Dan tubuh Rangka Cula yang terkena jurus 'Yudha' itu menjadi terpotong-potong dengan sendirinya setiap ruasnya, sampai terakhir kepalanya jatuh ke tanah dalam keadaan sudah tidak sempurna lagi.Brukk...!Tubuh Rangka Cula rubuh dalam kead
"Menurutmu, apa yang dicari gurumu di petilasan tempat tinggalnya dulu itu!""Sudah kubilang, aku tak tahu!" sentak Kirana. "Tapi sebelum guruku pergi, sudah pamit kepada salah satu temanku bahwa dia mau ke Cemara Tunggal. Lalu aku menyusulnya kemari dan menemukan Guru sudah terkapar di ba
"Aha...! Pedang Wukir Kencana ada di tanganmu, Baraka! Oooh...ho ho ho...! Pucuk dicinta ulam tiba! Itu yang kucari-cari!""Barangkali kematian yang kau cari, bukan pedang ini, Nini!""Dengar Cah bagus kayak tikus...! Pedang itu adalah milik guruku, dan hanya murid-muridnya yang ber







