เข้าสู่ระบบTiba-tiba, Dewi Pedang Halilintar menerjang. Ketajaman pedangnya benar-benar hendak memenggal leher Ksatria Seribu Syair!
Tentu saja lelaki yang tak tahu kesalahannya itu tak mau mati konyol. Dua jempol kakinya menotol lempengan batu. Dan, ringan sekali tubuhnya melayang lalu mendarat di tanah dalam keadaan berdiri. Sambaran pedang Dewi Pedang Halilintar hanya mengenai angin kosong.
"Tahan amarah mu dulu, Nini Kembangsari!" seru Ksatria Seribu Syair, menyebut nama kecil Dewi Ped
Bleggaar...!Sinar biru yang berbalik arah itu menghantam dinding batu besar. Batu itu meledak dan hancur menjadi bongkahan sebesar kepalan tangan.Brrruus...!Pecahan batu besar itu menjatuhi tubuh Jejak Setan. Sebagian pecahan itu ada yang menuju ke tempat Baraka, dan hampir kenai kepala Kinanti. Namun sebagian besar pecahan batu itu menghambur ke arah tubuh Jejak Setan. Tak ayal lagi Jejak Setan berteriak kesakitan karena dihujani batu dalam keadaan terkapar akibat terbanting tadi."Kau pikir enak dapat hujan batu!" seru Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria, lalu ia terkekeh-kekeh sendiri.Jejak Setan mengerang kesakitan dan berusaha untuk bangkit. Tapi hatinya sempat berkecamuk sendiri bernada penuh gerutu."Iblis dari mana anak muda itu! Pukulanku bisa dibuat seperti ini! Bangsat! Pakar Pantun mendapat dukungan setangguh ini, bisa-bisa aku mati tanpa hasil jika nekat melawan anak muda itu! Sebaiknya aku melarikan diri dulu, sembuhkan lu
"Bangsat!" geramnya sambil berusaha bangkit. Hatinya pun berkata, "Siapa yang ikut campur ini! Tenaganya luar biasa besarnya. Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin bisa melemparkan tubuhku sekeras tadi!"Ternyata terjangan itu dilakukan oleh Pendekar Kera Sakti yang menggunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan'. Kecepatan geraknya tak bisa dilihat mata lagi, dan berkekuatan melebihi angin badai. Jika Baraka tidak lekas bergerak maka leher Resi Pakar Pantun akan patah dan nyawa sang Resi pun akan melambai-lambai di udara, di luar raganya.Kinanti ikut tampil menghadang Jejak Setan ketika Baraka mengobati sang Resi. Melihat kecantikan Kinanti, mata Jejak Setan jadi melebar dan berusaha untuk bangkit tegak, seakan ingin tunjukkan keperkasaan dan kegagahannya. Ia mencoba menghardik Kinanti dengan suara serak."Siapa kau, Manis! Apa perlumu ikut campur urusan ini dengan pemuda gelandangan itu, hah!""Aku tidak ikut campur urusanmu," ujar Kinant
Resi Pakar Pantun terperanjat melihat kedatangan dua sinar tersebut, ia segera merentangkan kedua tangannya dalam keadaan masing-masing jari tengah menuding ke depan.Suuut...! Clap, clap...!Dua sinar hijau lurus tanpa putus keluar dari masing-masing jari tengah sang Resi. Sinar hijau itu menghantam masing-masing sinar merah secara telak.Des, des...!Blegaaarrr...! Ledakan dahsyat terjadi begitu mengagetkan satwa di sekitar tempat itu. Bumi terasa berguncang, beberapa pohon ikut bergetar, bahkan ada yang tumbang dalam keadaan akarnya mencuat keluar dari tanah.Ledakan bergelombang besar itu membuat Resi Pakar Pantun terlempar dan menabrak batu sebesar rumah.Beeehg...!"Iaauh...!" pekik sang Resi dengan wajah menyeringai kesakitan. Batu itu sampai bergetar dan serpihannya berhamburan karena kerasnya benturan tubuh sang Resi. Lawan sang Resi terlempar juga dan sempat berguling-guling di udara bagai tak bisa kendalikan keseimbangan tu
JALAN pintas menuju Bukit Wangi yang paling aman dan cepat adalah melalui pantai. Kinanti menjadi pemandu perjalanan itu, karena Pendekar Kera Sakti belum pernah datang ke Bukit Wangi dan tidak tahu di mana letak bukit tersebut. Namun ketika mereka melalui jalan pantai, tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh suara dentuman yang cukup mengelegar dari arah kedalaman hutan. Pendekar Kera Sakti yang punya sifat selalu ingin melihat pertarungan itu segera mengajak Kinanti untuk menengok keadaan di dalam hutan."Aku hanya ingin tahu, siapa yang bertarung di sana. Siapa tahu Tulang Naga sedang lakukan pertarungan dengan seseorang yang perlu kita tolong," kata Baraka.Walaupun sebenarnya Kinanti merasa jengkel dengan ajakan itu, namun dalam hati kecilnya sendiri ia terusik oleh rasa ingin tahu dan berharap Tulang Naga ada dalam pertarungan tersebut. Maka mau tak mau ia pun mengikuti langkah Baraka untuk kembali masuk ke hutan. Sasaran mereka adalah tempat datangnya suara den
"Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu. Aku keluar dari pengasinganku, karena tak tahan mendengar sepak terjang cucuku yang kelewat sesat. Aku tak rela jika cucuku dibunuh orang lain. Maka sebelum orang lain membunuhnya, aku lebih dahulu melakukannya. Kukorbankan perasaan kasih sayangku kepada Merak Cabul untuk selamatkan isi dunia dari kecabulannya.""Aku... aku kagum pada sikapmu, Dewa Putih," ucap Kinanti lirih, namun jelas terdengar oleh yang bersangkutan."Tak ada yang perlu dikagumi dariku, Nona. Aku bertindak sebagaimana harusnya manusia bertindak. Kau pun bisa berbuat seperti apa yang kuperbuat jika kau mengerti bagaimana seharusnya manusia berbuat di alam kehidupannya ini.""Wah, kalau sudah bicara soal begini, puyeng juga kepalaku mengartikannya," pikir Baraka.Pada saat itu ia segera dipandang oleh Dewa Putih. "Nak Mas tidak perlu puyeng. Kata-kataku ini bukan untuk dipikirkan tapi untuk dicerna dan dipahami."Pen
Sedangkan para tokoh sakti mana pun paling sungkan jika berurusan dengan orang-orangnya Ratu Hyun Ayu Kartika Wangi, karena ilmu mereka jauh lebih tinggi dari para tokoh di rimba persilatan di alam kasatmata."Damai hidupmu, panjanglah umurmu, Ki Dewa Putih."Begitulah sapaan keselamatan dari Baraka jika mendapat hormat dari seseorang yang menganggapnya sebagai Manggala Yudha dari Puri Gerbang Kayangan. Ucapan selamat itu bagai berkah seorang raja kepada hambanya."Rupanya aku datang terlambat," ujar Dewa Putih. "Seharusnya aku datang sebelum cucuku termakan oleh tingkahnya sendiri.""Mengapa kau bunuh cucumu sendiri, Ki Dewa Putih?""Terlalu sesat, memalukan nama keluarga. Namaku sendiri menjadi tercoreng karena tingkahnya yang tak tahu susila itu!"Dewa Putih bicara dengan tegas dan penuh wibawa. Kinanti memandanginya dengan rasa sungkan. Namun akhirnya ia pun mencoba bicara kepada kakek yang usianya sekitar seratus tahun itu, "Apaka
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







