LOGINPrakk...! Kepala orang muda itu menghantam dinding candi, langsung pecah tak tertolong lagi.
"Hiiaaat...!" Kini lebih dari sepuluh orang maju serentak menyerang nenek itu. Mereka menyerang secara bersamaan sehingga nenek itu bingung melayaninya. Akhirnya ia hanya sentakkan kaki kurusnya ke tanah dan tiba-tiba tubuhnya melesat naik ke atas dengan cepat. Gerakan menyergap serentak dari berbagai arah itu membuat mereka kecele dan akhirnya saling berbenturan kepala sendiri.
Prokk...
LANGIT yang semula cerah mulai dilapisi gumpalan awan hitam. Sinar mentari tak bisa menembus pancarkan suryanya ke bumi. Akibatnya alam bagaikan dirundung duka dan bumi seakan tak lagi punya daya. Dalam gugusan awan hitam itu sesekali tampak percikan cahaya biru yang berkerilap menghantam awan tanpa mega. Kilatan cahaya biru sering kelihatan berusaha menjilat pucuk-pucuk cemara bagai mencari kesempatan untuk menghantam ujung sebuah gunung. Gelegar suara petir pun menggema serasa ingin menelan seluruh suara yang ada di permukaan bumi. Namun pekik pertarungan di kaki gunung itu masih saja tak mau kalah dengan suara petir yang mengguntur di sana-sini.Pekik pertarungan itu terlontar dari mulut orang-orang pengusung tandu ber warna hitam. Empat pengawal utamanya maju serentak menyerang tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun lebih, mengenakan pakaian model biksu ber warna abu-abu, rambutnya beruban tipis berkesan botak bagian tengahnya. Tokoh tua yang berjenggot dan berkumi
Baraka tak mau buang-buang waktu lagi. Ia segera lepaskan pukulan ‘Tapak Dewa Kayangan’ dari telapak tangannya. Sinar putih perak menghantam lapisan sinar hijau bening.Claaap...! Blegaaar...!Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja mengguncang bumi namun membuat langit menjadi mendung seakan ingin runtuh. Baraka terlempar dalam satu sentakan gelombang ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya bergulingguling dan hidung serta telinganya melelehkan darah kental. Ia segera bangkit bersama murkanya."Hiaaat...!" Pendekar Kera Sakti melompat ke udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia yang sudah termakan nafsu amarah pun tak ingin tanggung-tanggung lagi. Maka Pemuda dari lembah kera tak ingin membuang-buang waktu, segera dikerahkannya pukulan andalan Eyang Jaya Dwipa, Ilmu ‘Angin Es dan Api’.Maka begitu tenaga dalamnya dikerahkan, kedua telapak tangannya berubah menjadi berk
Selama ini Baraka selalu gagal menumbangkan Siluman Selaksa Nyawa, karena tokoh yang tak pernah punya perubahan air muka itu bukan saja keji tapi juga licik dan licin bagaikan belut. Kesaktiannya sangat tinggi, namun jika berhadapan dengan Baraka selalu melarikan diri sebelum berhasil ditumbangkan.Dengan Sabuk Gempur Jagat di tangan kirinya, apakah kali ini ia akan lolos dari incaran Baraka"Pantas kalau si Tulang Naga mampus, ternyata orang yang merebut sabuk itu adalah Siluman Selaksa Nyawa!" gumam Resi Pakar Pantun tepat di seberang telinga Kinanti. Gadis itu hanya diam dan tak berani berbuat banyak karena ia pernah mendengar kekejaman dan kesaktian Siluman Selaksa Nyawa."Jubah Kapur, kita selesaikan persoalan lama sekarang juga!" ujar Siluman Selaksa Nyawa dengan suara datar berkesan dingin. "Kelancanganmu tak bisa kuampuni lagi, dan sekarang kau harus menebusnya! Jika tadi aku hanya menguji kesaktianmu, sekarang aku ingin mencopot nyawamu!"S
"Tapi, mengapa bisa ada di sini?""Jangan-jangan dibuang oleh si Tulang Naga karena ia sudah tidak membutuhkan senjata itu lagi. Sabuk Gempur Jagat lebih dahsyat dari senjata itu," ucap Kinanti sambil pandangi tetesan darah dan mulai melangkah lagi mengikuti tetesan darah yang ada di rerumputan.Langkah gadis berjubah kuning gading itu mendahului mereka sejauh lima tindak. Lalu terdengar suaranya berseru dengan nada terkejut, "Ada mayat!""Hahh... mayat...! Hiii...!" Kadal Ginting merapatkan tubuh ke badan sang Resi."Apa-apaan kau ini!" sang Resi mendorong tubuh Kadal Ginting hingga jatuh terduduk."Kasar sekali Eyang padaku.""Keringatmu bau bangkai. Aku tak mau pakaianku terkena aroma bangkai seperti keringatmu!" sang Resi menggerutu sambil melangkah dekati Kinanti.Baraka berdiri di dekat mayat seorang lelaki berbadan kurus, berjubah abu-abu, rambut putih panjang tanpa ikat kepala. Orang itu terluka parah bagian punggungnya. Berlu
"Benar. Tapi Tulang Naga seorang pendendam dan ia masih punya dendam kesumat kepada Ki Galak Gantung. Bukankah kakaknya dulu dibunuh oleh Ki Galak Gantung?""Aha, pikiran yang bagus itu, Baraka! Baru sekarang terpikirkan olehku tentang dendam si Tulang Naga kepada Galak Gantung, bahkan bisa jadi ia juga mendendam kepada gurumu; Setan Bodong.""Itu yang kucemaskan, Resi. Karena aku harus segera menyusul si Tulang Naga sebelum ia mengamuk di Bukit Wangi.... Sebab ratuku ada di sana!" sahut Kinanti."Kalau begitu....""Sayur lodeh buat rebus angkin, mertua gawat berurat kawat. Perut lapar masih bisa disumpal angin, tapi nyawa sahabat tak bisa dibiarkan lewat."Baraka menimpali dengan pantunnya, "Sayur lodeh di dalam mangkuk, ambil garam sekarung tuang semua...."Baraka diam berpikir, lalu sang Resi bertanya, "Apa artinya?""Artinya, sayur lodeh itu pasti asin sekali!"Kinanti tertawa geli hingga terkikik-kikik. Baru sekarang Barak
Bleggaar...!Sinar biru yang berbalik arah itu menghantam dinding batu besar. Batu itu meledak dan hancur menjadi bongkahan sebesar kepalan tangan.Brrruus...!Pecahan batu besar itu menjatuhi tubuh Jejak Setan. Sebagian pecahan itu ada yang menuju ke tempat Baraka, dan hampir kenai kepala Kinanti. Namun sebagian besar pecahan batu itu menghambur ke arah tubuh Jejak Setan. Tak ayal lagi Jejak Setan berteriak kesakitan karena dihujani batu dalam keadaan terkapar akibat terbanting tadi."Kau pikir enak dapat hujan batu!" seru Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria, lalu ia terkekeh-kekeh sendiri.Jejak Setan mengerang kesakitan dan berusaha untuk bangkit. Tapi hatinya sempat berkecamuk sendiri bernada penuh gerutu."Iblis dari mana anak muda itu! Pukulanku bisa dibuat seperti ini! Bangsat! Pakar Pantun mendapat dukungan setangguh ini, bisa-bisa aku mati tanpa hasil jika nekat melawan anak muda itu! Sebaiknya aku melarikan diri dulu, sembuhkan lu
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







