MasukMENYUSURI sungai bening merupakan salah satu dari beberapa kegemaran Baraka. Pendekar Kera Sakti sangat menyukai dengan kebeningan, terlebih kebeningan yang mengandung ketenangan. Karena jiwanya senantiasa merindukan sebentuk kehidupan yang tenang, damai, dan menyegarkan di antara sesama. Tetapi kali ini Baraka menyusuri sungai bening bukan dengan maksud semata-mata ingin menikmati kegemarannya saja, melainkan punya tujuan tertentu, yaitu mencari pondok Ki Darma Paksi. Karena setelah Baraka m
"Oo... pantas," Baraka manggut-manggut.Claaap...! Blegaar...!Dua orang itu gagal lagi menyerang dari jarak jauh. Akhirnya mereka bosan dan salah seorang berkata, "Sudah, tinggalkan saja dia! Kalau yang lain bertanya, bilang saja ia pergi entah ke mana. Larinya sangat cepat!"Baraka tersenyum mendengar ucapan lirih orang itu. Tapi ia segera memperhatikan Tua Bangka dan berkata, "Sebenarnya apa yang membuat Adipati Janarsuma bernafsu sekali ingin mendapatkan pusaka Kapak Kubur itu?""Dia ingin balas dendam kepada Gandapura, karena anak angkatnya yang tunggal itu diculik oleh orangnya Gandapura dan dimakannya. Kepalanya dipulangkan ke istana kadipaten. Jadi ia bernafsu sekali ingin dapatkan senjata yang dapat untuk melawan titisan raksasa itu, tanpa ia bercermin diri bahwa banyak kepala orang yang dipenggalnya pada saat ia melebarkan wilayah merebut kekuasaan para tumenggung. Kupikir anak angkatnya yang disantap Gandapura merupakan upah perbuatan kejinya s
Pendekar Kera Sakti diliputi kebimbangan yang meresahkan, sambil tetap membiarkan tubuhnya berdiri tegak diguyur air pancuran dengan segarnya. Sementara itu, Salju Kelana seakan ingin mendekat, ingin memandanginya lekat-lekat, namun gadis itu tak berani lakukan untuk melompat turun ke sungai. Barangkali takut terpeleset, atau ia merasa lebih suka duduk sambil membayangkan Baraka mandi.Yang jelas gadis itu segera berkata, "Sepertinya kau masih menuduhku sebagai pembunuh para tabib itu, Baraka. Setega itukah kau mencurigaiku!""Dari mana kau tahu kalau aku masih mencurigaimu?""Detak jantungmu sedikit lebih cepat dari biasanya. Benar, bukan?"Baraka tak berani menjawab. Ia bahkan semakin resah.-o0o-SEORANG lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar biru yang melingkar-lingkar. Pukulan itu terlepas dari telapak tangan kirinya dan menerjang dua orang penunggang kuda yang bersebelahan.S
"Bertahanlan sampai kita mencari daratan, Baraka ""Sekarang sudah sampai di darat. Aku jangan diseret terus!" geram Baraka bernada jengkel sambil menahan sakit."O, maaf. Aku tidak tahu kalau sudah sampai di darat. Kau sendiri mengapa masih memegangi tongkatku terus sehingga terseret-seret!"Baraka menggerutu tak jelas. Badannya terbungkus lumpur hitam berbau rumput. Namun ia tidak peduli dan segera menggulingkan tubuh beberapa kali dengan susah payah, lalu mencapai suling mustikanya.Baraka segera menyalurkan hawa ‘Kristal Bening’-nya tanpa mempedulikan dirinya tubuhnya yang masih diselimuti lumpur hitam. Ia tetap tidak peduli, yang penting mengobati luka dalamnya dulu dan rasa sakit di dada mulai berkurang.Baraka duduk di tanah bersandarkan pohon. Napasnya masih terengah-engah, walau rasa sakitnya semakin ringan. Ia tertegun membayangkan hampir mati terhisap lumpur hidup kalau tak ditolong oleh Salju Kelana.Gadis itu mencoba
Di luar dugaan, dari kedua mata Nyai Sumbar Keramat keluar dua baris sinar merah sebesar lidi, lurus tanpa putus. Baraka sempat terperanjat, lalu cepat-cepat menyilangkan suling mustikanya ke arah depan mata, sebab kedua sinar merah itu ingin menembus mata Baraka.Dengan menyilangnya suling mustika yang digenggam dengan kedua tangan itu, maka kedua sinar merah pun kembali menghantam suling mustika secara bersamaan.Jgaaarrr...!Sinar biru lebar melesat dari suling mustika itu. Sinar biru lebar itu merupakan percikan dari perpaduan tenaga sakti dalam suling mustika dengan dua sinar merah. Sinar biru lebar melesat ke depan dan di luar dugaan menghantam tubuh Nyai Sumbar Keramat.Zrruuub...!"Aaaahg...!" Nyai Sumbar Keramat terpental terbang sambil memekik. Tubuhnya berasap dan jatuh di semak-semak."Guruuu...!" teriak Anggani dengan tegang sekali. Ia berlari menghampiri gurunya yang terperosok di semak-semak. Bahkan sebagian semak-semak itu te
Pendekar Kera Sakti cemaskan jiwa Salju Kelana, sebab gadis itu terdesak sampai di dekat rawa. Padahal Baraka tahu rawa itu adalah genangan lumpur hidup yang mampu menyedot manusia yang jatuh ke dalamnya. Jika sampai Salju Kelana jatuh ke lumpur hidup, habislah riwayatnya. Pasti ia akan semakin ditenggelamkan oleh Nyai Sumbar Keramat dengan caranya sendiri.Tak ada pilihan lain bagi Baraka selain menghambur dalam pertarungan itu demi menyelamatkan Salju Kelana. Dengan gerakan yang amat cepat melebihi anak panah, Baraka berhasil melesat dan dalam sekejap tiba di samping Salju Kelana.Zlapp...! Jleeg...!"Hentikan, Nyai!" sentak Baraka dengan suara menggelegar. Sentakan suara itu membuat jantung Sang Guru terhentak pula dan gerakannya pun terhenti. Baraka segera meraih tangan Salju Kelana dan menariknya."Diam di belakangku!" perintah Baraka dengan mata tetap memandang ke arah Nyai Sumbat Keramat."O, rupanya apa kata muridku memang benar. Pendekar K
"Selain berwajah cantik dan mengenakan jubah putih, perempuan itu mempunyai mata yang cacat! Begitulah menurut keterangan saksi mata kami.""Mata yang cacat!" Pendekar Kera Sakti menggumam dalam hati, dahinya berkerut dengan sendirinya. Tapi ia berkata kepada tiga orang itu,"Dengarlah kalian, kalau memang Salju Kelana terbukti bersalah, aku yang akan mengadili dan menghukumnya!""Siapa kau, sehingga berani bertindak sebagai sang pengadilan!""Aku adalah Pendekar Kera Sakti; Baraka. Dan tugasku menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan!""Ooh...!" mereka bertiga saling terperangah.Ternyata sejak tadi mereka belum sadar bahwa yang dihadapi adalah seorang pendekar yang namanya sedang kondang dan menjadi bahan sanjungan beberapa tokoh silat aliran putih. Mendengar nama Pendekar Kera Sakti, mereka bertiga menjadi ciut nyali, dan merasa sangat menyesal telah berani melakukan pertarungan dengan sang pendekar itu. Akhirnya, mereka bertiga pun seg
Tanpa sadar, Kemuning memeluk tubuh Baraka."Kemuning... Kemuning...!" sebut Baraka, kaget melihat perubahan sikap si gadis."Kau tampan dan sangat gagah, Baraka..." desis Kemuning. "Aku... aku ingin kau memeluk ku, Baraka...." Dia tengadahkan wajahnya, mengharap ciuman si pemuda....
Dari balik topeng baja putihnya, lelaki yang sengaja menyembunyikan jatidirinya itu menatap mentari yang tengah memayung di atas kepala. Merasakan jalannya waktu yang berputar cepat, dia menarik napas panjang seraya melanjutkan gumamannya. "Aku harus segera menemui Pendekar Kera Sakti. Katak
Terlebih ketika Wasesa menghajarnya dengan pukulan maut 'Pasir Baja'nya yang mengandung racun jahat."Yudha, terimalah kematianmu. Hiaaa...!"Deggg!"Aaakh..." Yudha menjerit sejadi-jadinya, ketika pukulan Wasesa menghantam tubuhnya. Matanya mendelik, memandang ke arah Wasesa da
"Batu mustika?" ujar Baraka, semakin tak mengerti. "Aku tidak membawa batu mustika! Aku memegangi perutku karena aku merasa lapar....""Jahanam!" geram Iblis Perenggut Roh. "Kau pasti menyimpan batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' karena kau terus menyebut-nyebut nama batu milik







