LOGINKerajaan Kalong Setan tampak sepi malam ini, yang terlihat hanya beberapa pendekar yang tengah berjaga di gerbang depan dan belakang. Selepas kejadian semalam, Totok Surya belum keluar dari tempatnya bersemedi. Di sisi lain, empat anggota Cakar Setan tengah berada di tanah lapang bersama kumpulan bawahan mereka.
“Kita akan berangkat menuju Ledok Beurit sekarang,” ujar Wulung, “anak buahku yang kuperintahkan untuk menjadi penyusup di pasukan Kartasura mengatakan jika Kartasura dan adik
Pertarungan Lingga dengan Maung Jaya terus berlangsung di dalam kurungan gaib. Keduanya berubah menjadi bayangan putih yang saling berkelebat, saling menubruk dan menjauh.Lingga berkali-kali terjatuh dan ambruk di tanah, tetapi ia kembali bangkit untuk menghindar sekaligus membalas serangan.Bangsa siluman harimau putih masih berada di sekeliling kurungan gaib, menyaksikan pertarungan pemimpin mereka dengan Lingga, anak manusia yang ingin menguasai mustika yang mereka jaga selama ini.“Anak manusia bernama Lingga itu memang hebat. Dia mampu bertahan melawan pemimpin meski dia terdesak berkali-kali,” ujar Maung Hideung yang berada di depan barisan bangsa siluman. Kedua matanya tidak beralih dari dua bayangan yang terus bertabrakan.“Aku setuju denganmu, Maung Hideung.” Maung Beureum menyahut. “Dengan dia sampai di Pasir Maung sudah menjadi bukti kalau dia memang pendekar yang hebat.”Maung Koneng mengamati Lingga yang terdesak hingga ke sisi kurungan gaib. “Dia mampu menguasai jurus-j
Bulan masih menggantung gagah di langit.Kedua belah pasukan masih berada dalam pertarungan yang sangat sengit, baik di alam siluman maupun di wilayah Batu Nangkarak. Ledakan terjadi di berbagai tempat, disusul oleh teriakan dan suara-suara benda jatuh.Di tengah malam yang semakin dingin dan menusuk, Lingga baru saja tiba di Pasir Maung.Lingga mengamati kawanan harimau putih di depannya, mengendalikan napas yang terengah-engah. Ia sudah sangat kelelahan setelah menghadapi berbagai macam pertarungan sejak pagi tadi. Luka-luka kecil terlihat di tangan, leher, wajah, dan kakinya.Kawanan harimau putih itu seketika terbagi menjadi dua bagian, membuka sebuah jalan untuk seekor harimau besar.“Harimau itu ... pasti adalah pemimpin bangsa siluman harimau putih.” Lingga mundur selangkah, mengepalkan tangan erat-erat. “Hanya dengan bertatapan saja, aku merasa tekanan yang sangat luar biasa.”Kawanan harimau putih mulai mengelilingi Lingga dari berbagai arah. Ketika harimau putih yang berukur
Bayangan-bayangan hitam terus berputar-putar di sekeliling tempat pertarungan. Kemunculan mereka mengundang angin kencang dan ombak ganas.Para pendekar golongan putih terpaksa mundur hingga ke pantai. Ombak semakin mengganas, mengguncang jembatan sulur tanaman yang terhubung dengan Batu Nangkarak.Di waktu yang sama, cahaya merah kehitaman muncul dari gerbang tengkorak. Wira, Danuseka, Darmasena, dan pasukan hitam yang berada di dekat gerbang itu terdorong mundur cukup kuat hingga menabrak pendekar dan siluman yang lain.“Gerbang ini menekanku sangat kuat,” gumam Wira di saat embusan angin semakin kencang. “Tapi, aku bisa merasakan kekuatan yang begitu besar dari sana.”Wira menoleh saat bayangan-bayangan hitam mengelilinginya sesekali. “Bayangan-bayangan hitam itu juga membuatku merinding.”“Jangan mati, Wira,” ujar Danuseka sembari menepis bayangan-bayangan hitam yang mendekatinya. “Aku tidak akan menolongmu.”“Siapa yang butuh pertolonganmu, Danuseka? Aku bisa melindungi diriku se
Pelindung merah seketika hancur berkeping-keping karena dorongan batu berapi. Angin panas berembus sangat kencang, menekan para golongan hitam ke tanah dengan sangat kuat.“Terkutuk!” Wira memaki dalam hati saat tubuhnya menempel di tanah. Pemuda itu kesulitan untuk sekadar menggerakkan jari-jarinya.Para Jurig Lolos seketika mengambil palu godam mereka, lantas menahan batu berapi sekuat tenaga. Teriakan dan jeritan mereka berubah menjadi gelombang kejut yang berembus ke segala arah.Tarusbawa berada di atas batu berapi, menatap tajam Nyi Genit yang masih menyempurnakan ajian jurusnya. Gerbang tengkorak mulai terbuka secara perlahan.Nyi Genit tersenyum bengis. “Hanya sedikit lagi sampai aku pergi ke Lemah Kayas untuk membangunkan siluman Tangkurak Hideung.”Tarusbawa menghantam batu berapi dengan sebuah pukulan kuat. Batu berapi seketika terbelah menjadi ribuan potongan kecil batu berapi yang meluncur sangat cepat ke arah musuh.Jeritan terdengar berkali-kali dari pendekar golongan h
Darmasena menghimpun kekuatan di tangan silumannya, melesat menuju arah datangnya serangan pasukan pendekar golongan putih. Cakar siluman berukuran besar seketika meluncur dari tangannya, menghantam satu per satu serangan.Gelombang angin panas dan berdebu seketika tercipta, mengembus ke sekeliling arah. Darmasena terdorong mundur.Pepohonan tampak berguncang saat terkena angin. Sebuah pelindung melindungi para pendekar golongan putih dari serangan itu.Nyi Genit tersenyum tipis, menoleh pada Wira, Danuseka, dan para bawahan lainnya. “Kita pergi ke Lemah Kayas sekarang juga. Ikuti aku.”Nyi Genit menghimpun kekuatan, bersiap untuk membuka sebuah gerbang gaib. Sesaat setelah gerbang muncul, serangan-serangan kuat mendadak muncul.“Terkutuk! Hadang serangan itu agar aku bisa memanggil gerbang gaib!” perintah Nyi Genit sembari melompat mundur.Wira dan Danuseka segera bergerak maju, menghantam serangan dengan kuku-kuku tajam mereka. Saat ledakan terjadi, dua sosok pendekar golongan putih
Nyi Genit menghimpun kekuatan hingga tubuhnya diselimuti oleh cahaya kuning kemerahan. Selendang-selendang kuningnya bergerak sangat cepat, melesat menuju Wira, Danuseka, Darmasena, setengah dari pendekar golongan hitam, dan juga bangsa siluman.Saat cahaya kuning kemerahan itu bersinar semakin terang, Nyi Genit dan para bawahannya yang sudah terikat oleh selendang kuningnya mendadak menghilang hingga hanya menyisakan Jatna, Ratih Ningsih, dan setengah dari pasukan.“Mereka menghilang,” ujar Ekawira sembari menangkis serangan musuh yang berdatangan dari sekelilingnya.Wirayuda dan para petinggi golongan putih mengibaskan serangan musuh dengan senjata-senjata mereka. Setelah mengentakkan kaki, mereka berkumpul di dekat Wirayuda.Wirayuda mengamati keadaan sekeliling. “Nyi Genit dan setengah dari pasukannya pasti pergi ke Batu Nangkarak untuk membangunkan siluman Tangkurak Hideung. Kita harus segera mencegahnya.”Wirayuda menatap satu per satu petinggi golongan putih di sekelilingnya.“







