INICIAR SESIÓNKesepuluh pelindung langsung menundukkan kepala. Tidak seorang pun berani mengatakan apa-apa.
Mereka tahu, kegagalan tersebut merupakan sesuatu yang sangat memalukan bagi Ragendra. Namun yang lebih menakutkan bukan kemarahan Ragendra, melainkan seseorang yang berada jauh diatas mereka.Seseorang yang mereka sebut ‘Yang Mulia’.Ragendra perlahan kembali menuju kursinya. Namun sebelum duduk, ia berhenti.“Yang Mulia mengetahui semuanya.”“Lingga?”Damar mengulang nama tersebut sambil sedikit mengangkat alis.“Ya.” Catra mengangguk.“Nama yang sederhana.”“Kau kecewa?”“Tidak.” Damar tersenyum tipis. “Hanya saja, aku merasa nama itu tidak terlalu cocok denganmu.”Catra menatapnya. “Lalu nama seperti apa yang cocok?”Damar memperhatikan topeng hitam di wajahnya selama beberapa saat.“Entahlah.”“Pria misterius?”“Itu bukan nama.”“Sayang sekali.”Catra hampir menghela napas. Di sampingnya, wanita petugas memandang keduanya dengan ekspresi tidak sabar.“Apakah kalian sudah selesai?”Damar menoleh.“Belum.”“Damar.”“Ya?”“Kau seharusnya sedang mempersiapkan penyelidikan.”Pria muda itu mengangguk santai.“Aku tahu.”“Lalu kenapa kau masih berdiri di sini?”“Karena aku sedang mencari rekan.”“Apa?” Wanita itu membeku.Damar menunjuk Catra.“Mungkin dia.”“Tidak.” Jawaban wanita tersebut datang begitu cepat hingga Damar sedikit terkejut.“Kenapa?”“Kau bahkan belum mengetahui siapa dia.”“Dia bernama Lingga.”“Damar.”“Bai
Suasana di dalam Rumah Kuda Terbang berubah. Beberapa saat sebelumnya, tempat itu masih dipenuhi percakapan para pendekar dan suara langkah kaki orang-orang yang datang untuk mengambil misi.Namun sekarang, hampir seluruh perhatian tertuju kepada seorang pendekar yang baru saja datang dengan wajah pucat.“Mereka hilang?” Salah seorang petugas kembali bertanya.“Ya.” Pria itu mengangguk.“Semua?”“Semua.”Jawaban itu kembali membuat suasana menjadi hening.Catra berdiri tidak jauh dari meja. Tatapannya tertuju kepada gulungan yang kini berada di tangan petugas.Di sekelilingnya, beberapa pendekar mulai berbicara dengan suara pelan.“Misi tingkat B?”“Bukankah itu misi pengawalan?”“Bagaimana mungkin seluruh rombongan menghilang?”“Apakah mereka diserang?”“Kalau memang diserang, kenapa tidak ada satupun yang kembali?”Suasana berubah menjadi ramai.Catra memperhatikan pria yang baru datang tersebut. Pakainya dipenuhi debu. Ada beberapa sobekan kecil pada bagian lengan. Napasnya juga ma
Catra mengalihkan pandangan, misi-misi tersebut tidak sulit. Bagi pendekar yang memiliki tenaga dalam cukup kuat, semuanya dapat diselesaikan dengan mudah.Namun semakin tinggi tingkat misi, semakin besar pula risikonya.Catra perlahan mengangkat pandangan, hingga akhirnya tatapannya berhenti pada bagian paling atas.TINGKAT SSSJumlah misi yang tersedia jauh lebih sedikit. Bahkan saat ini, hanya ada satu gulungan.Beberapa pendekar berdiri cukup jauh dari papan tersebut. Tidak ada yang berani mengambilnya.Catra sedikit menyipitkan mata, lalu mendekat.Tulisan pada gulungan tersebut berbunyi:MISI TINGKAT SSSMencari keberadaan rombongan ekspedisi Keluarga Wulung.Tiga puluh enam pendekar memasuki Lembah Kematian tujuh hari yang lalu, namun tidak satu pun kembali.Tujuan misi:Temukan keberadaan mereka.
Pagi itu, Kotaraja perlahan terbangun. Kabut tipis masih menggantung di antara atap-atap rumah ketika Catra membuka pintu kediaman kecil Ki Kusumo dan Mbok Darmi. Udara pagi terasa dingin, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan dari malam sebelumnya.Di halaman kecil, Mbok Darmi sedang menyapu daun-daun kering yang jatuh dari pohon.Mendengar suara pintu terbuka, wanita tua itu menoleh.“Kau sudah bangun?”Catra yang masih mengenakan topeng hitamnya mengangguk.“Ya.”“Kau mau pergi?”“Sebentar.”Mbok Darmi menghentikan sapunya.“Pagi-pagi sekali?”Catra terdiam sesaat. Ia tidak ingin berbohong, tetapi juga belum bisa mengatakan alasan sebenarnya.“Ada sesuatu yang harus kuurus.”Mbok Darmi menatapnya beberapa saat. Tatapan wanita tua itu tidak memaksa. Tidak mencoba menggali sesuatu yang tidak ingin Catra katakan. A
Kesepuluh pelindung langsung menundukkan kepala. Tidak seorang pun berani mengatakan apa-apa.Mereka tahu, kegagalan tersebut merupakan sesuatu yang sangat memalukan bagi Ragendra. Namun yang lebih menakutkan bukan kemarahan Ragendra, melainkan seseorang yang berada jauh diatas mereka.Seseorang yang mereka sebut ‘Yang Mulia’.Ragendra perlahan kembali menuju kursinya. Namun sebelum duduk, ia berhenti.“Yang Mulia mengetahui semuanya.”Tubuh beberapa pelindung langsung menegang.“Beliau mengetahui kegagalan Kitab Tribala, kegagalan merebut inti roh, dan beliau...” Ragendra perlahan menoleh.“...juga mengetahui kegagalanku.”Hening, tidak ada yang berani bergerak.Ragendra akhirnya duduk. “Kalian tahu apa yang paling membuatku marah?”Salah seorang pelindung berkata dengan suara gemetar.“Kegagalan kami, Ketua?”Ragend
Di bawah langit malam yang gelap, jauh dari keramaian Kotaraja, terdapat sebuah tempat yang bahkan tidak tercantum dalam peta kerajaan.Sebuah bangunan tua berdiri tersembunyi di antara hutan lebat.Dari luar, bangunan itu tampak seperti reruntuhan yang telah lama ditinggalkan.Dindingnya retak. Atapnya telah dipenuhi lumut. Pintu kayunya bahkan tampak nyaris lapuk. Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa jauh di bawah bangunan tersebut, tersembunyi salah satu tempat paling berbahaya yang pernah ada di wilayah kerajaan.Sebuah lorong panjang menurun jauh ke bawah tanah. Dinding batu di sepanjang lorong itu basah dan dingin. Air menetes perlahan dari celah-celah batu. Sementara di beberapa sudut, lampu minyak menyala redup.Cahayanya tidak cukup untuk mengusir seluruh kegelapan. Justru sebaliknya, cahaya redup itu membuat bayangan di dinding bergerak-gerak seperti makhluk hidup. Di ujung lorongnya terdapat







