MasukCatra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.
Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis te"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad
Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya
Catra mulai menelusuri jalanan kota Teja saat dirinya sudah berpisah dengan kakek yang ditemuinya di hutan. Ia merasa takjub saat menemukan bangunan-bangunan mewah yang berdiri di sepanjang jalan. Meskipun bangunan tersebut masih terbuat dari papan, namun kualitas kayunya cukup langka.Memang, pada zaman tersebut rumah-rumah mewah sekalipun masih dibangun menggunakan kayu, hanya yang membedakannya ada pada kualitas setiap kayu yang digunakan.Catra menjadi teringat pada rumah mereka dahulu yang memiliki halaman luas dan terdiri dari dua lantai. Pada masanya, rumah tersebut sudah termasuk besar dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya saja.Pemuda itu terus melangkah sambil mencoba mengingat kembali letak kediaman kakek-neneknya 13 tahun silam. Namun, sebelum Catra menemukannya, perutnya mulai keroncongan. Untungnya setelah berjalan sekitar lima menit, ia bisa menemukan sebuah warung makan."Silahkan masuk, tuan." Kedatangan Catra disambut senyuman hangat oleh seorang gadis muda y







