首頁 / Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 115. Navigasi Ala Rangga

分享

115. Navigasi Ala Rangga

作者: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-18 08:00:03

Pagi datang bersama kabut tipis dan udara dingin sisa hujan semalam. Tenda sudah dibongkar, carrier kembali dipasang rapi, dan mereka baru selesai sarapan mie plus kopi sachet yang rasanya jauh lebih enak di gunung.

Rangga berdiri sambil masang carrier ke punggungnya.

“Oke.”

“Kita balik ke jalur sebelumnya.”

“Terus lanjut ngikutin arah sungai.”

Agung yang lagi ngencengin tali tas nengok.

“Lu inget sebelah mana?”

Rangga langsung ja
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pendekar Salah Zaman   117. Mampus Ada Macan Gede

    Semakin dekat ke arah air terjun, suara air mulai terdengar makin keras memenuhi hutan. Kabut tipis juga mulai muncul di sela pohon, bikin suasana sekitar jadi lebih dingin dan lembab.Langkah mereka otomatis melambat.Rangga yang paling depan akhirnya berhenti lalu nengok ke belakang.“Oke.”“Kayaknya udah deket.”Nada suaranya sekarang gak sesantai tadi.“Siap-siap aja.”Agung langsung refleks megang carrier.“Hah?”Rangga nyodorin tombak Nagasyama ke dia.“Nih.”“Lu pegang.”Agung langsung melongo.“Lah kok gue?”“Karena gue mau pake ini.”Rangga ngeluarin brass knuckle pemberian Kael dari tas samping lalu mulai masang ke kedua tangannya.Logam hitam itu langsung terasa berat dan dingin di tangan.Rendi ngeliat sambil nyengir.“Nah.”“Baru keliatan pendekar.”Rangga malah masih nyoba buka tutup tanganny

  • Pendekar Salah Zaman   116. Baru Kali Ini Gue Diserang Musang

    Mereka akhirnya duduk santai sambil ngopi depan tanah lapang itu. Setelah muter gak jelas seharian dan hampir nyasar permanen, suasana sekarang jauh lebih enak karena tujuan mereka akhirnya kelihatan jelas.Agung duduk selonjor sambil nyeruput kopi.“Beuh…”“Ini baru healing.”Rendi langsung nyaut.“Healing pala lu.”“Kaki gue mau copot.”Putra malah lagi buka cemilan sambil ngeliat air terjun di bawah.“Untung ketemu.”“Kalau enggak kita mungkin udah jalan ke Jawa Barat.”Rangga langsung ketawa kecil sambil ngaduk kopi.“Makanya percaya sama leader.”“LEADER PALSU.”Agung langsung teriak.Tidak lama kemudian Agung berdiri sambil garuk perut.“Bentar gue kencing dulu.”“Jangan jauh-jauh.”“Iya emak.”Agung jalan santai ke pinggir area hutan dekat tebing kecil sambil masih nyeruput kopi.Beberapa detik sunyi lalu ti

  • Pendekar Salah Zaman   115. Navigasi Ala Rangga

    Pagi datang bersama kabut tipis dan udara dingin sisa hujan semalam. Tenda sudah dibongkar, carrier kembali dipasang rapi, dan mereka baru selesai sarapan mie plus kopi sachet yang rasanya jauh lebih enak di gunung.Rangga berdiri sambil masang carrier ke punggungnya.“Oke.”“Kita balik ke jalur sebelumnya.”“Terus lanjut ngikutin arah sungai.”Agung yang lagi ngencengin tali tas nengok.“Lu inget sebelah mana?”Rangga langsung jawab pede.“Ya sebelah sana lah.”Dia nunjuk satu arah.Lalu diem.Matanya muter lihat sekitar.Kabut.Pohon.Semak.Semuanya keliatan mirip.Rangga perlahan nurunin tangannya.“…bentar.”Putra langsung curiga.“Bang?”Rangga garuk kepala pelan.Karena dia baru sadar sesuatu.Kemarin habis bikin tenda dan makan, mereka langsung masuk gara-gara hujan deras. Dia bel

  • Pendekar Salah Zaman   114. Hujan dan Kentut Si Bangsat

    Mereka terus berjalan mendaki mengikuti arah sungai yang makin lama makin sempit dan berbatu. Langkah mereka sekarang jauh lebih pelan dibanding pagi tadi karena sejak kejadian ular itu, semua otomatis jadi sering nengok ke atas pohon.Agung bahkan jalan sambil sesekali megang kepala sendiri.“Nyet…”“Gue jadi trauma.”“Dikit-dikit liat dahan gue kira ular.”Putra masih memperhatikan sekitar dengan serius.“Yang tadi emang serem sih.”Rendi yang awalnya paling santai sekarang juga mulai lebih hati-hati waktu lewat akar pohon besar.Sementara Rangga tetap paling depan sambil sesekali nengok ke atas pohon.“Makanya jangan jalan mepet pohon gede.”“Kalau ada yang jatoh lagi males gue nusuk-nusuk.”Waktu terus jalan, matahari mulai turun lagi dan mereka masih belum sampai mana-mana.Rendi akhirnya mulai protes.“Anjir.”“Kita gak nyampe-nyampe.”Rangga l

  • Pendekar Salah Zaman   113. Mandala Gupta

    Jauh di depan jalur yang dilewati Rangga dan yang lain, suara air terjun menggema keras memenuhi hutan.Kabut tipis bercampur cipratan air menutupi area batu besar di sekitar sana.Dan di tempat itu—mayat bergelimpangan.Tubuh manusia berserakan di antara batu dan akar pohon. Ada yang tercabik, ada yang lehernya hampir putus, ada juga yang seperti dihantam sesuatu dengan kekuatan brutal.Bau darah memenuhi udara.Di tengah area itu berdiri seekor harimau besar dengan bulu loreng hitam keemasan dan mata merah menyala.Tubuhnya jauh lebih besar dari harimau biasa.Prananya menekan area sekitar seperti binatang buas purba.Siluman itu menggeram rendah sambil berdiri tepat di depan sebuah gua kecil dekat air terjun.Seolah menjaga sesuatu.“Grrrrrrr…”Sisa orang-orang yang tadi mencoba mendekat langsung mundur dengan wajah pucat.Salah satu dari mereka bahkan gemetar.

  • Pendekar Salah Zaman   112. Nah Kan Ada Ular

    Menjelang siang langkah mereka mulai melambat. Jalur makin gak jelas, akar pohon makin banyak melintang, dan carrier di punggung mulai terasa berat walaupun udara hutan masih cukup dingin.Lalu suara air mulai terdengar.“Eh.”Agung langsung nengok.“Denger gak?”Beberapa langkah kemudian mereka akhirnya menemukan aliran sungai kecil di sela pepohonan. Airnya jernih, mengalir deras turun melewati batu-batu besar dan akar pohon.Rangga langsung berhenti sambil ngelap keringat.“Nah.”“Kalau tujuannya air terjun…”Dia nunjuk arah aliran sungai.“…berarti tinggal ngikutin ini ke atas.”Rendi langsung semangat.“Lah gampang dong berarti.”Dia mau jalan mendekati sungai. Tapi belum sempat turun ke pinggir—“WOI JANGAN DEKET-DEKET.”Rangga langsung narik carrier Rendi dari belakang.“Apaan sih.”“Wilayah beginian banyak ular goblok.”

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status