LOGINSiang itu teras rumah kembali ramai. Kardus dan bungkusan dari Rendi masih berserakan di dekat meja, sementara Agung sibuk membongkar satu per satu isinya dengan mata berbinar seperti anak kecil dapat hadiah.“ANJIR.”Dia ngangkat satu kotak makanan.“Ini mahal banget nyet.”Putra langsung nengok.“Jangan diabisin sendiri lu.”“Ya kagak lah.”Agung buru-buru naruh agak jauh dari Putra.“Ini gue amankan.”“WOI.”Rendi yang lihat langsung ketawa.Sementara itu Rangga duduk santai sambil ngopi seperti biasa.“Serius lu bawa beginian banyak banget.”Rendi nyender pelan.“Lah gue bilang kan, buat makasih.”“Bisnis keluarga gue lagi naik banget sekarang.”Dia geleng kecil sambil nyengir.“Bokap gue bahkan nanya itu mutiara dapet dari mana.”Rangga refleks nengok ke arah dalam rumah.“…gue juga gak ngerti itu barang apaan
Malam itu mereka kembali ke ruangan VIP yang tadi sempat dipakai makan siang. Bedanya sekarang suasananya jauh lebih santai. Jas beberapa orang sudah dilepas, makanan terus berdatangan ke meja, dan obrolan mulai berantakan ke mana-mana.Agung masih paling heboh.“Anjir serius taruhan gue tadi naik segitu?”Dia nengok ke Putra dengan mata berbinar.“Kalau tiap hari begini gue bisa kaya nyet.”Putra langsung geleng.“Lu fokusnya duit mulu.”Rangga yang lagi makan malah sibuk cerita sendiri sambil nunjuk dadanya.“Tapi serius, yang solar plexus tadi ngaruh banget ternyata.”Dia nengok ke Kael.“Itu gara-gara lu kan?”Kael langsung ngakak sambil senderan.“HAHAHA.”“Nah mulai ketagihan tuh.”“Lu tadi udah mulai nikmatin mukul orang.”“Ogah anjir.”“Tapi seru kan?”Rangga diem sebentar.Lalu nyengir kecil.“…iya sih.”
Lampu arena langsung berubah lebih terang saat dua nama muncul di layar besar atas arena.“PERTANDINGAN SELANJUTNYA—!”Suara MC menggema keras ke seluruh ruangan.“RASKA!”Sorakan muncul lebih dulu dari beberapa sudut penonton yang jelas mengenal nama itu.“Tapi lawannya kali ini…”MC sengaja berhenti sebentar.“Adalah nama yang sedang ramai dibicarakan belakangan ini!”“RANGGAAAA!”Seketika ruangan langsung heboh.Orang-orang yang tadi santai langsung mulai ngobrol sendiri, beberapa berdiri sedikit buat melihat lebih jelas, bahkan ada yang langsung buka ponsel dan mengirim pesan.“Serius itu Rangga?”“Yang rumor Wening Jagad itu?”“Yang bikin Krisnapati mundur?”Rangga sendiri malah nengok bingung ke sekitar.“Lah?”“Ini kenapa pada heboh dah?”Kael di bawah arena langsung ngakak kecil.“Popularitas lu naik cepet banget.”
Setelah makan mulai habis dan suasana meja jauh lebih santai, Asturi kembali menyandarkan tubuhnya perlahan sambil memutar gelas tehnya pelan di atas meja.“Ngomong-ngomong soal rumor tadi…”Nada suaranya tetap lembut, tapi kali ini semua otomatis mendengarkan.“Informasi tentang anda sekarang sudah mulai dicari.”Rangga yang lagi minum langsung berhenti.“Hah?”“Dicari?”Asturi mengangguk kecil.“Sudah ada yang ingin membeli informasi awal.”Rangga langsung bingung.“Buat apa orang beli informasi gue?”Kael yang jawab duluan sambil nyender santai.“Ya buat data awal lah.”“Kalau mau nantangin lu masa dateng buta.”Rangga langsung nengok.“Nantangin lagi?”Kael malah ketawa kecil.“Lah iya.”Asturi ikut mengangguk.“Informasi adalah mata uang di dunia saya.”Dia melanjutkan dengan tenang.“Semakin
Asturi tersenyum kecil melihat reaksi Putra tadi.“Kurang lebih begitu.”Nada bicaranya lembut dan santai, tapi entah kenapa tetap membuat Agung otomatis duduk sedikit lebih rapi. Kael yang melihat itu malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Dia emang serem.”Asturi melirik sekilas ke arahnya.“Dan anda masih datang makan gratis di sini.”“Kan akrab.”“Tidak.”Jawab Asturi cepat.Agung langsung menutup mulut menahan tawa.Sementara itu beberapa staf masuk diam-diam membawa makanan dan mulai menyusunnya satu per satu di meja dengan gerakan cepat dan rapi. Asturi sendiri tidak langsung pergi. Dia berdiri beberapa saat sambil memperhatikan mereka semua, tatapannya bergantian ke Agung, Putra, lalu berhenti sedikit lebih lama di Rangga seperti seseorang yang sedang mencocokkan potongan puzzle di kepalanya.Akhirnya dia kembali bicara.“Jujur saja… saya cukup pen
Malam itu rumah sudah jauh lebih sepi. Agung, Putra, bahkan Rangga sudah tidur setelah latihan dan makan malam panjang tadi. Hanya beberapa lampu yang masih menyala redup di halaman.Di bawah pohon Kael duduk santai sambil melempar batu kecil ke atas lalu nangkep lagi.Sena berdiri tidak jauh, tangannya terlipat sementara Wira masih seperti biasa.Tenang.Kael akhirnya buka suara.“Bayaran gue mana?”Dia nengok ke Wira sambil nyengir.“Gue udah bantu beresin masalah lu tuh.”Wira hanya menatap sebentar lalu berdiri.“Ikut saya.”Tidak banyak bicara dan Kael langsung bangkit semangat.“Nah gitu dong.”Sena menghela napas kecil.“…kenapa jadi gue ikut juga.”Beberapa detik kemudian tiga sosok itu sudah melesat menembus malam dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Atap rumah, kabel listrik, gang sempit—semuanya hanya lewat sekilas di bawah mereka.Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gudang tua yang sudah lama kosong.Cat dindingnya mengelupas, besi-besi berkarat, dan suasana di da







